
Pagi ini Empus sengaja tidak di kasih masuk kedalam rumah oleh Papa Arka. Terpaksa Quin harus menengok anaknya itu di rumahnya Empus.
" Gimana tidur nya? Nyenyak?" Mama Kesya menyapa Nafi yang baru saja bergabung.
" Eh, i-iya Ma."
" Bagus deh. Mulai hari ini dan seterusnya, kamu tetap tidur di kamar Veer ya.."
" Eemm, itu.."
" Kenapa? Kamu takut jatuh cinta dengan Veer?" Goda Quin.
" Quin.." Tegur Mama Kesya.
" Hi..hi.. abisnya mereka lucu Ma. Seru kali yaa kalo mereka tiba-tiba benci, lalu bisa jatuh cinta. "
Mama Kesya terbatuk mendengar ucapan Quin. Papa Arka langsung dengan sigap menberikan air kepada Mama Kesya.
" Siapa yang jatuh cinta?" Veer datang dengan tampilan formalnya.
Nafi sempat terpana, namun dia cepat membuang pandangan matanya kearah lain.
" Tidak ada. " Quin menyengir licik.
" Papi.." Papa Arka bangkit saat melihat kedatangan kakek Farel dan Oma Laura.
" Kakek tidak terlambat kan untuk ikut sarapan bareng."
" Tidak kakek, bahkan jika kakek ingin sarapan di jam 10 pun, kami juga akan ikut " Quin menghampiri sang kakek, dan menuntun kakek kekursinya.
Kakek Farel mengelus kepala Quin. Mereka sarapan dengan mendengar celotehannya Quin. Nafi tersenyum dan tertawa sepanjang sarapan. Dia tidak menyangka jika makan sambil mendengar cerita sangat lah mengasyikan. Eeitsa, tenang saja. Quin berbicara setelah dirinya mengunyah makanannya. jika tidak, maka Mama Kesya, papa Arka, kakek Farel, dan Oma Laura akan seharian menceramahi nya.
Kebiasaan jelek Quin, suka makan sambil berbicara.
" Dasar radio rusak, bising tau.." Veer mencubit pipi Quin..
" Iih, nyebelin banget sih.. gini-gini aku penyiar yaa terkenal ya.."
" Oh yaa? suara mu sangat menggangu saat siaran. Aku berani jamin, jika yang mendengar suaramu langsung mengganti salurannya."
" Veer nyebelin.." Kesal Quin.
Nafi memandang kedua bersaudara itu dengan tersenyum Senyum yang sangat manis sekali. Nafi langsung merubah mimik wajahnya saat matanya dan mata Veer beradu.
' Dasar brengsek, ngapain juga dia senyum begitu' batin Nafi.
" Quin.." Panggil kakek setelah selasai menghabiskan makanannya.
" Ya yang mulia." Quin memamerkan sederet gigi putihnya. jangan lupakan lesung pipi yang menurun dari Papa Arka.
" Apa kamu sudah fikirkan apa yang kakek katakan semalam?"
Quin mengerjap. Kenapa paginya harus dirusak dengan mood yang tidak baik. Hari ini Quin ada kontes ular.
" Kakek , Quin belum kefikiran ke sana. kakek bisa meminta cicit dari Veer."
Quin mengerjap, mengabaikam suara batuk dari Veer, yang sudah menatapnya tajam.
" Kakek mau cicit dari kamu Quin, kakek ingin melihat kamu menikah, sebelum akhirnya kakek menutup mata untuk selamanya "
" Kakek, Quin gak mau bahas ini.." Quin beranjak berdiri.
" Quin.." Tegur Papa Arka. Quin kembali duduk, wajah Quin sudah cemberut dengan bibir yang di Majukan.
" Kakek ingin kamu mengenalkan seorang pria kepada kakek, kakek kasih kami waktu satu bulan ini. jika kamu tidak memperkenalkan seorang pria, maka kami harus terima untuk dijodohkan dengan pilihan Kakek."
" Kakek, Quin belum mau menikah."
" Cukup kenalkan pria yang ingin kamu nikahi, Kakek tidak memaksa kamu untuk menikah dalam dekat ini, sampai kamu siap."
" Kakek.."
" Kamu tau Quin, impian kakek saat ini adalah melihat kamu menikah dengan pria yang pantas." Kakek berdiri, dengan di bantu oleh Mama Kesya.
Kakek menghampiri Quin yang masih tertunduk dengan wajah kesalnya. Kakek membelai kepala Quin. " Kakek menyayanginmu Quin. kamu berbeda dengan yang lain. Kakek tidak ingin kamu salah dalam memilih.."
__ADS_1
Kakek mendaratkan ciuman di pucuk kepala Quin. Satu air mata Quin terjatuh.
Abash yang duduk di sebelah Quin, langsung memeluk Quin. Tangis Quin pecah.
Pagi ini Nafi berangkat kekantor bersama Veer. "Veer, apa Qila secengeng itu?"
" Maksdu kamu?"
" Aku melihat dia sebagai gadis periang, tapi aku juga melihat dia sebagai gadis perasa."
" Kamu tau, Quin bercita-cita ingin menjadi dokter, tapi dia mengubur cita-citanya karena Quin tidak tega karena harus menyakiti seekor binatang pun. "
" Benarkah?"
" Hmm, Quin menangis sampai berhari-hari jika mengingat kejadian itu."
" Aku tidak tau kalo Qila gadis perasa. sangat tidak terlihat dari keceriaannya yang selalu menghibur orang lain."
Veer tersenyum menanggapi ucapan Nafi.
.
.
" Hai.." Quin tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata.
" Ada masalah?"
" Tidak ada, mana ular ku?"
" Ular yang mana? yang ini atau?"
" Kau mau mati? Kau bisa menghubungi Arash dan Abash sekarang."
Lana terkekeh, Quin sangat kesal jika Lana sudah menggodanya.
" Kamu ada kontes di mana?"
" Kampus. Ada kontes hewan di sana, aku ingin ikut."
" Kenapa? Kamu mulai punya hati dengannya?"
" Tidak, aku hanya bertanya."
" Dasar Kadal "
" Kamu pergi naik apa?"
" Naik mobil, kenapa?"
" Aku ikut.."
" Kemana?"
" Kampus.."
" Ngapain?"
" Temenin kamu."
" Bilang aja lihat Anggel."
" Sekalian" Gumam Lana.
" Apa?"
" Tidak ada. Ayoo.."
Lana mengangkat box yang berisi ular itu. Ukhhs, sungguh berat, untung saja ada rodanya.
" Apa kamu sudah memberinya makan?"
" Sudah. "
Mobil yang di kendarai Lana pun tiba di kampus. Quin sangat bersemangat saat melihat betapa banyaknya hewan yang akan ikut kontes.
__ADS_1
" Jika ada kontes Empus, mungkin aku akan mengikutinya."
" Dan penontonnya pada lari." Lana terkekeh.
Lana celingak celinguk mencari seseorang.
" Dia tidak ada."
" Aku tidak mencari Anggel."
" Aku tidak menyebut nama Anggel."
Lana terdiam. Quin memang pintar menyudutkan orang lain. Ponsel Lana bergetar, ada panggilan yang harus di terimanya, setelah berpamitan dengan Quin, Lana menjauh dari Quin.
" Atas nama siapa mbak ularnya?" Tanya panitia kontes.
" Berbi."
" Baiklah." panitia itu tersenyum karena Ular piton itu bernama Berbi.
Quin melihat-lihat hewan yang mengikuti kontes. Ada monyet, Quin gemes dan mendekat.
" Hai cantikk.." Quin ingin mengelus monyet itu.
" Awaas.."
Seorang pria menarik Quin saat melihat monyet itu ingin menyerang Quin.
" Kau tak apa?"
" Hmm.." Quin menganggukkan kepalanya.
Monyet itu kembali ingin menyerang, sang pria dengan sigap menahan tubuh Quin hingga terbentur ke badan mobil.
Quin memandangi tangan pria itu. Yaa, tangan pria itu sedang memegang dadanya. Menangkup satu gunung kembarnya.
Quin mengerjap, sama halnya dengan orianitu. Dia juga mengerjap saat mengetahui jika tangannya memegang benda kenyal yang sangat empuk..
" Kau... Dasar pria mesum.." Quin melayangkan tas nya dan mulai memukuli pria itu..
" Aww.. aku bisa jelaskan.. aw.. aw.."
Pria itu menahan tangan Quin, Quin melototkan matanya dan menendang aset berharga yang bebrbentuk belalai gajah itu dengan lututnya..
" Aww.. shit... kAu.."
" Apa? Dasar pria mesum.."
Quin kembali memukul pria itu. Sehingga mereka menjadi tontonan orang-orang.
" Heeii, aku tidak sengaja. aw.. hentikan.."
" Tidak akan, dasar brengsek, pria mesum. "
Pria itu menahan tas yang digunakan Quin untuk memukul dirinya, dan dalam skwali tarikan pria itu memeluk Quin, membalikkan tubuh Quin, mengunci pergerakan Quin. Sehingga terlihat seakan pria itu memeluk Quin dari belakang.
" Brengsek... lepasiin.."
" Kau salah paham Nona, aku bisa jelaskan.."
" Kau..."
" Ada apa ini?" Suara lembut mengintruksi keduanya. Pria itu terlihat lengan, dan ini kesempatan Quin.
" Anggel. Aaw..." Pria itu melepaskan Quin dan memegang lengannya yang digigit oleh Quin.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
Jangan lupa komennya yaa.. Biar makin semangat..
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.