
Abi meraup wajah nya, ucapan Daddy Bara membuatnya frustasi.
" Abi, apa kamu mencintai Quin?"
" Ya Om, Abi mencintai Quin."
" Cinta yang tulus, atau cinta pelarian?"
Abi terdiam, Abi sendiri bingung dengan perasaannya. Bersama Quin, Abi dapat melupakan Anita, bahkan Abi merasa sangat nyaman berada di samping Quin, apa rasa nyaman itu yang membuat Abi memaksakan hati nya untuk mencintai Quin?
" Kamu tau, Saat Daddy bertemu dengan Bunda, Daddy merasakan getaran yang berbeda. Daddy merasa tertarik untuk mengenal Bunda, awalnya Daddy fikir Bunda adalah pelarian Daddy, namun Daddy salah, perasaan Daddy ke Bunda murni benar-benar perasaan cinta." Daddy Bara menjeda ucapannya.
" Kamu tau, pada saat Daddy bertemu dengan Bunda, Daddy memiliki seorang tunangan, yang pada saat itu sangat Daddy cintai. Daddy fikir, Daddy tidak bisa melihat ke wanita lain, karena Daddy pernah mencobanya." Daddy Roy meraih tangan Bunda Sasa, dan mengecupnya.
" Daddy memastikan perasaan Daddy kepada Bunda, perasaan yang muncul di saat Daddy tak bertemu dengan Bunda, perasaan yang selalu membayangkan Bunda di mana pun Daddy berada. Dan saat Daddy telah memastikan perasaan itu adalah nyata untuk Bunda, Daddy menyatakan perasaan cinta kepada Bunda." Daddy Bara Diam, dan menatap Abi dalam.
" Kamu tau apa yang Bunda katakan?"
" Tante menolak Om?"
" Yaah, kamu benar, Tante menolak Om. Kamu tau kenapa?"
Abi menggeleng.
" Saat itu Om masih berstatus tunangan seseorang. Setelah om memutuskan pertunangan, Bunda tetap menolak Om, kamu tau kenapa?"
" Karena Tante tak ingin menjadi orang ketiga?"
" Itu benar, tapi sebenarnya ada alasan lain di balik semua itu. " Daddy Bara memandang wajah sang istri.
" Karena Bunda jatuh cinta kepada Daddy, dan mencintai Daddy sangat dalam. Kamu tau kenapa Bunda takut jatuh cinta kepada Daddy?"
Abi kembali menggeleng.
" Karena Bunda takut kecewa dengan harapan yang sudah di mimpikannya. "
Abi lagi-lagi mengusap wajahnya kasar. pembicaraan dirinya dan Daddy Bara meninggalkan kesan bahwa Abi harus meyakinkan perasaannya dulu, jangan cintai Quin karena ingin melupakan masa lalu, karena itu akan menyakitkan bagi Quin.
Abi meraih album fotonya dan Anita. Di pandanginya satu-satu foto itu, wajah Abi masih datar, tak ada senyuman di sana, lalu Abi melirik kearah ponselnya, di mana terdapat foto Quin yang menjadi wallpaper nya. Foto Quin yang sedang tersenyum di saat bermain bersama Empus. Sudut bibir Abi terangkat, begitu juga dengan debaran jantungnya.
" Quin, aku jatuh cinta kepada mu. Percayalah." Monolog Abi sambil mengelus ponselnya yang masih menampilkan foto Quin.
.
.
" An, aku mau bicara." Lana terpaksa menghampiri Anggel hingga ke rumahnya.
" Lana, aku ngantuk. Besok aku ada operasi pagi."
" Pliiss, sebentar saja.."
" Besok, oke. " Anggel ingin masuk, kemudian langkahnya terhenti.
" Apa kamu menghindar karena ciuman itu?"
Anggel berbalik, menatap Lana dengan tatapan tak suka.
" Oke, kita bahas besok. Aku akan menjemput mu."
Setelah mengatakan itu, Lana pun pergi meninggalkan Anggel yang masih membeku di teras.
"Dasar Gila." Anggel ingin berbalik, namun langkahnya kembali terhenti karena melihat siluet Zein dan Kayla.
" Ngapain mereka?"
Anggel pun mendekat, agar melihat lebih jelas.
Kayla turun dari mobil dengan tergesa-gesa, begitu pun dengan Zein yang mengejar Kayla.
" Aku mohon, dengarkan Ila."
" Aku gak mau dengar apa-apa lagi. Aku mohon sama kakak, lebih baik lupain perasaan kakak ke aku. Hubungan kita gak boleh terjalin kak. Aku gak mau memiliki hubungan yang rumit."
" Aku cinta kamu, aku cuma mau sama kamu."
__ADS_1
" Tapi kakak udah mau di jodohi kan? ya udah, kakak terima aja."
" Itu bukan perjodohan, kamu salah paham Ila."
" Udah lah kak, aku lelah, aku capek." Kayla melepaskan tangannya dari cengkraman Zein.
Kayla berbalik membelakangi Zein, namun detik selanjutnya ia kembali berbalik dan terkejut di saat Zein menciumnya tiba-tiba. Mata Kayla membesar, tubuhnya membeku, hingga kesadarannya kembali, Kayla mendorong tubuh Zein kuat.
Plaakk...
Kayla menampar pipi Zein, matanya berkabut dengan air bening yang siap jatuh.
" Ila benci kakak." Kayla berlari masuk kedalam rumahnya.
Kayla bernapas lega, saat menemukan Mama dan Ayah nya berada di taman belakang yang sudah menjadi satu dengan halaman Opa Roy dan Daddy Bara.
"Kayla dan Kak Zein?" Gumam Anggel yang melihat adegan itu dengan mata kepalanya sendiri.
.
.
Quin mengetuk pintu kamar Veer, di mana Veer dan Nafi sedang berciuman.
" Veeerr..." Teriak Quin dari luar dengan suara yang lemah..
" Buka aja, mana tau ada hal penting yang mau Quin bicarain."
Veer mengusap bibir Nafi yang masih meninggalkan jejak salivanya. Veer mengecup kening Nafi sebelum beranjak membukakan pintu untuk Quin.
" Veer." Quin langsung memeluk tubuh Veer saat pintu terbuka.
" Ada masalah?"
Tak ada jawaban, Veer pun membawa Quin kedalam kamarnya. Veer mendudukkan Quin di antara dirinya dan Nafi.
" Apa yang terjadi?"
Quin menarik napasnya. " Apa kamu mencintai Nafi?"
" Tentu, aku sangat mencintainya."
Quin tersneyum. " Kalo begitu, kamu pasti ingat dengan janji mu."
" Janji?"
" Heum.. Lebih tepatnya 3 permintaan ku."
" Yaa, aku ingat. Apa kamu akan memintanya sekarang?"
Quin mengangguk.
" Apa yang kamu inginkan?"
Quin menatap Veer dengan dalam. " Bantu aku batalkan pernikahan ini."
Veer menaikkan alisnya sebelah. Nafi juga terkejut dengan permintaan Quin. Setau Nafi, Quin sendiri yang setuju untuk menikah dengan Abi, lalu kenapa tiba-tiba ia meminta di batalkan pernikahannya.
" Apa yang terjadi?"
" Aku tak mencintai nya, aku tak ingin menikah dengannya."
" Abi mencintai kamu, dan aku yakin suatu saat kamu juga akan mencintai Abi, seperti aku mencintai Nafi."
" Kasus kita berbeda, sebelumnya di hati kamu tak ada wanita manapun, maka dari itu Nafi masuk dengan mudah. Tapi Abi? aku rasa kamu udah tau masa lalu nya."
" Abi mencintai kamu, percaya sama aku."
" Cinta yang seperti apa? Apa cinta karena ia kesepian? atau aku hanya pelariannya saja? Kamu tau Veer, itu lebih menyakitkan dari pada di selingkuhi."
" aku kan memastikannha sendiri. Jika Abi hanya menjadikan mu pelarian, maka aku orang pertama yang akan memukulnya."
" Aku harap kamu membantu ku, hanya kamu yang bisa aku andalkan."
" Tapi, akan sulit menemukan pasangan yang pantas untuk kamu, Quin."
__ADS_1
" Pantas atau tidaknya, aku yang menjalaninya, jadi aku tau pria seperti apa yang pantas untuk aku."
" Baiklah.. Sekarang, pergilah kekamar mu. Beristirahatlah.."
" Apa kamu mengusir ku?"
" Bukan begitu, tapi.." Veer kikuk..
" Apa kalian akan membuatkan keponakan untuk ku?"
" Tidak, Em, maksudku belum saatnya. Mungkin tidak dalam waktu dekat ini." Veer melirik kearah Nafi yang sudah salah tingkah dan juga merona.
" Baiklah, aku akan tidur." Quin berdiri, dan Veer tersenyum. Namun senyum Veer memudar di saat melihat Quin malah naik ke atas tempat tidurnya.
" Kakak ipar, apa kamu keberatan jika aku tidur di sini? perasaanku saat Ini sedang tidak baik, aku butuh teman tidur."
" Jika kamu butuh teman tidur, menikah saja dengan Abi." kesal Veer.
" Kakak ipar, apa kamu keberatan?" Quin mengabaikan ucapan Veer.
Veer melirik Nafi, dan memberikan gelengan di saat Nafi juga melihat kearahnya. Nafi tersenyum.
" Tidur lah, aku tidak keberatan." Nafi dengan cepat menyusul Quin naik ke atas tempat tidur.
" Terima kasih kakak ipar." Quin menjulurkan lidahnya kepada sang kembaran.
Veer kesal dengan dua wanita yang saat ini sudah berada di dalam selimut. Di tambah lagi Quin berada di posisi tengab tempat tidur, yang mana hanya ada ruang kosong di sebelah Quin. Veer pun terpaksa ikut naik ke atas tempat tidur dan membaringkan dirinya di sebelah Quin dengan perasaan kesal.
Hening, tak ada suara, hingga Quin membuka mulutnya.
" Apa hati ku sudah mati? kenapa sulit sekali untuk kembali jatuh cinta?"
Nafi dan Veer serentak menoleh memandang Quin yang tengah menatap langit-langit kamar Veer dan Nafi.
" Aku pernah mencintai seseorang, namun rasa sakitnya meninggalkan luka yang teramat dalam. Bukan karena ia menikah dengan sahabatku, melainkan kebohongan yang selama ini diciptakannya. " Quin menarik napasnya dalam.
" 4 tahun, dan selama itu aku tertipu oleh cinta yang ia berikan. Aku tak tau apa tujuannya, sampai saat ini juga gak ada yang tau apa tujuannya menyakiti ku. Apa aku pernah berbuat salah kepadanya? tapi kenapa? kenapa sampai bertahun-tahun ia memberikan cinta palsunya? hingga aku tak mampu lagi membedakan mana itu yang tulus, dan yang palsu. Bagiku, mereka semua sama. Hingga sampai detik ini, aku belum juga menemukan pria yang mampu menghancurkan benteng itu. Benteng yang entah kapan terbangun, dan semakin lama semakin meninggi."
" Apa Tak ada celah untuk Abi masuk?" Tanya Nafi yang memberanikan diri membuka suaranya.
" Entahlah, aku menolaknya bukan karena aku tak memberikan izin untuk Abi menghancurkan benteng itu, tapi aku takut jika cinta yang Abi berikan, juga sama palsunya dengan pria itu."
" Bagaimana jika aku mengatakan Abi berbeda?"
Quin menoleh kearah Nafi. " Bagaimana jika Anita kembali? apa kamu bisa yakin jika Abi tak akan kembali dengannya? Sedangkan selama ini Abi menunggu kehadiran Anita untuk kembali. Aku di sini hanya menjadi ujian kesetiaannya kepada Anita, dan itu akan sangat menyedihkan."
Mata Nafi berkaca-kaca, ia tak menyangka jika Quin serapuh ini. Selama ini, Nafi mengenal Quin sebagai gadis periang dan kuat. Walaupun Quin manja, Quin sangat mandiri.
Veer memperhatikan dua wanita yang berada di atas kasurnya saat ini.
" Jangan menangis kamu membuatku terlihat semakin menyedihkan." Ujar Quin sambil menghapus air mata Nafi.
" Maaf, aku hanya tak menyangka kamu serapuh ini. hikkss.."
" Aku bukan kerupuk, jadi aku tak rapuh " Quin memberikan leluconnya agar Nafi tertawa, dan itu berhasil..
" Hiikss.. gak lucu.."
" Gak lucu tapi ketawa dia.." Quin memeluk Nafi, dan Veer juga ikut memeluk mereka berdua.
" Boleh aku yang di tengah?" Ujar Veer.
" Tidak.."
" Tidak.."
Jawab Quin dan Nafi serentak.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.