
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah sebulan Quin berada di Indonesia.
"Kondisi Quin sudah mulai membaik, tapi tetap gak boleh capek ya," Ujar Mami Anggun.
"Iya, Mi." jawab Abi.
"Mi, kalau jalan udah boleh kan?" tanya Quin yang mulai bosan duduk di kursi roda.
"Jangan dulu, tunggu beberapa bulan lagi ya, kandungan kamu kuat, tapi kondisi tubuh kamu yang lemah, sayang. Itu bisa membahayakan diri kamu dan janin." ujar Mami Anggun.
Quin menghela napasnya pelan mendengar ucapan Mami Anggun. Tentu saja, Quin tak ingin membahayakan bayi yang ada di dalam perutnya saat ini.
"Hanya beberapa bulan saja, lagian di kamar kan kamu bisa jalan, sayang," bisik Abi menenangkan sang istri yang sering mengeluh bosan terus duduk di kursi roda dan harus mengandalkan bantuan orang lain. Bahkan untuk ke kamar mandi pun, Quin harus meminta bantuan sang suami.
"Hmm, baiklah. Demi anak kita," lirih Quin dan mencoba tersenyum.
Quin sebenarnya merasa menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, bisa-bisanya dia tak tahu jika sedang hamil. Padahal, Quin pernah belajar di kedokteran, setidaknya Quin paham sedikit tentang hal tersebut. Tapi, nyatanya?
Quin menghela kembali napasnya, mengingat jika dirinya tak veh berpikiran negatif. Quin butuh pemikiran yang positif dan suasana yang baik untuk kesehatan dirinya dan juga anaknya.
Setelah keluar dari ruangan Mami Anggun, Quin meminta kepada Abi untuk membawanya ke taman rumah sakit, selagi menunggu obat yang sedang di tebus oleh Desi.
"Kenapa?" tanya Abi yang sudah berjongkok di hadapan Quin.
"Ternyata begini, ya, rasanya orang-orang yang tak bisa menggunakan kakinya sendiri? Bahkan, selalu membutuhkan orang lain untuk membantunya," lirih Quin.
Abi mengusap punggung tangan Quin. "Maka dari itu, kita harus bersyukur saat di berikan segala kesempurnaan oleh Allah."
"Kamu benar, mungkin aku kurang bersyukur ya kemarin-marin," cicit Quin sambil menatap kosong kearah lain.
"Bukan kurang bersyukur! tapi, memang Allah saat ini sedang menguji kesabaran kita. Allah gak akan menguji hambanya melebihi kemampuannya, kan?" ujar Abi.
"Kamu udah pinter agama, ya, sekarang. Aku senang." ujar Quin sambil tersenyum.
"Sering dengar ceramah," ujar Abi sambil terkekeh.
"Tapi, aku bersyukur karena memiliki orang-orang yang peduli dan sayang kepadaku, apa lagi memiliki seorang suami yang sangaaaat mencintai aku, seperti kamu." ujar Quin sambil mencuil hidung Abi.
Abi tersenyum dan mengecup punggung tangan Quin. "Terima kasih, karena telah mau menerimaju menjadi suami kamu, walaupun aku tau, kamu terpaksa. Sangat terpaksa."
"Makasih juga, udah maksa aku buat nikah sama kamu, hingga aku kembali merasakan jatuh cinta. Bahkan, jatuh cinta yang paling terindah yang pernah aku rasakan." ujar Quin sambil membalas genggaman tangan Abi yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Semoga kita bisa mengikuti jejak Mama dan Papa, ya, Bersama selamanya, penuh cinta setiap harinya, hidup dalam kehangatan sepanjang hidupnya. Aku selalu melihat, jika Mama dan Papa selalu seperti pengantin baru," ujar Abi sambil terkekeh.
"Itu karena mereka mampu membangun perasaan mereka tetap terus tumbuh dan tak menjadikannya hampa dan bosan."
"Kita harus contohi mereka," ujar Abi.
"Aku setuju."
"Gue senang, akhirnya dalam perut gue tumbuh sebuah kehidupan. Akhirnya, gue bahagia banget rasanya."
Quin dan Abi serentak menoleh kearah sepasang kekasih yang tengah berbincang sambil menggenggam tangan satu sama lainnya.
"Gue juga ikut senang, tapi, bolehkah Gue minta satu permintaan?" ujar si pria.
"Apa?"
"Kita menikah, karena terpaksa. Lo yang selalu tak pernah merasa nyaman dengan pacar-pacar lo, begitu pun dengan gue yang tak pernah bisa memahami pikiran wanita, selain lo. Sekarang kita akan menjadi orang tua, boleh gak kalau kita merubah panggilan masing-masing?"
"Maksud lo?" tanya si cewek.
"Umur kita kan terpaut tiga tahun, Gue mau, lo panggil gue dengan sebutan 'Abang', dan gue panggil Lo dengan sebutan 'sayang', gimana? Baik kayak pasanvan normal lainnya gitu," ujar si pria.
cewek tersebut tersenyum malu, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
Pria itu pun mengulum senyumnya dengan malu. "Boleh juga, terdengar manis banget rasanya."
Quin dan Abi ikut tersenyum mendengar pasangan yang sepertinya pengantin baru itu. Abi dan Quin saling memandang hingga manik mata mereka pun terkunci.
"Quin, boleh aku meminta sesuatu?" ujar Abi setelah di hening kediaman beberapa saat.
"Hmm, apa pun," ujar Quin.
"Aku ingin kamu memanggil aku dengan sebutan 'Mas'? Boleh?" pinta Abi dengan senyum malu-malu.
Quin terkekeh, kemudian menganggukkan kepalanya. "Mas Abi?" panggil Quin dengan lembut.
"Aah, manis banget terdengar. Lagi dong," pinta Abi.
"Mas Abi, Mas Abi-ku tersayang," ujar Quin sambil menangkup pipi Abi.
"Duh, kalau gak di rame orang, sudah bisa di pastikan jika aku bakal cium kamu saat ini juga," lirih Abi.
__ADS_1
Quin pun terkekeh mendengar rengekan Abi, yang menanyakan kabar Desi, karen terlalu lama mengambil obatnya.
"Haruskah aku menghubungi Desi? Menyuruhnya untuk cepat?" ujar Abi dengan tak sabarannya.
Quin terkekeh sambil menutup mulutnya. "sabarlah, sebentar lagi juga Desi selesai."
Abi pun menundukkan wajahnya dengan lesu.
"Mas Abi, sabar ya," ujar Quin sambil mengulum senyumnya."
*
Panggilan 'Mas' untuk Abi pun sudah berlalu selama seminggu. Namun, Abi masih saja merasa jika panggilan itu sangat manis, dan bagi Quin, memanggil Abi dengan sebutan 'Mas' pun masih terasa janggal dan malunjkka di hadapan orang lain.
Lihat saja, saat Quin memanggil Abi dengan sebutan 'Mas', Fatih dan Lucas langsung tertawa dan meledek keduanya. Bukan Abi namanya jika tak peduli dengan ledekan dari Lucas dan Fatih. Berbeda dengan Quin, bumil satu ini merasa kesal hingga menangis.
Papa Arka yang mengetahui penyebab Quin menangis pun, langsung menghukum Fatih dan Lucas, agar tak mengulangi keslahanya lagi.
"Lana kapan sampai?" tanya Quin kepada Anggel.
Saat ini, di rumah kakek Farel seluruh keluarga sedang berkumpul.
"Mungkin sebulan lagi, kehamilan kamu gimana?" tanya Anggel kepada Quin.
"Alhamdulillah, kamu?"
"Alhamdulillah, tapi berat badan aku naik drastis nih," gerutu Anggel. "Sebentar-sebentar bawaannya Laper, semua di embat. Mungkin, musang lewat pun juga bakal aku embat," ujar Anggel sambil mencomot buah yang ada di hadapan mereka.
Quin terkekeh mendengar perumpamaan yang digunakan oleh Anggel, benar-benar sungguh menggemaskan auntynya ini. Mana pipinya mulai terlihat chuby. Hal yang paling di benci Anggel saat muda dulu.
"Kangen Lana, pingin di belai, hiks .. jablay dah aku... " rengek Anggel yg mana membuat semua orang tertawa.
** Yukk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF