
Hari ini jadwal Kesya dan Arka adalah jalan-jalan keliling Paris. Yang pertama arka mengajak ke Museum Louvre, dimana Museum ini sangat terkenal akan Piramida kaca nya yang sangat Ikonik. Awalnya berupa benteng dimasa pemerintahan Raja Philliip II, Museum Louvre merupakan rumah bagi ratusan ribu karya seni dunia yang legendaris. Mulai dari koleksi peninggalan Mesir kuno hingga peradaban Yunani. Di tambah lagi dengan bangunannya yang sangat arsitektur yang menawan. Maka dari itu Museum Louvre ini adalah salah satu objek wisata yang akan di tuju oleh para turis.
" Kamu pernah ke sini?" Tanya Arka sambil mengelus jemari sang istri yang mengapit lengannya.
" Hmm, pernah. Waktu aku liburan sekolah."
" Apa setiap liburan kamu ke Paris?"
" Tidak, Hanya dua kali saja. Itu di karenakan Mbak Vina yang selalu demam saat aku tinggal pergi."
" Hubungan kalian sangat kuat, melebihi saudara kandung"
Kesya tersenyum. " Begitulah. Walaupun kami tidak sedarah, tapi ikatan batin kami sangat erat."
Mereka pun berjalan sambil menikmati karya seni yang berada dalam Museum tersebut. Tanpa di sadari waktu sudah tengah hari, Arka mengajak ke suatu tempat, di mana mereka bisa menunaikan sholat Dzuhur dan mengisi perut mereka.
" Mas kenal?" tanya Kesya, karena tempat yang mereka datangi adalah sebuah restoran yang sangat mewah. Dan mereka diberikan Fasilitas untuk menunaikan solat Zuhur, sebelum menyantap menu yang sudah di pesan oleh Arka.
" Iya, Dulu dia pernah kuliah di Jakarta."
Kesya pun ber-Oo ria dengan bibir yang berbentuk huruf o. Kesya dan Arka menikmati makan siang mereka. Menunya sangat pas dengan lidah Kesya.
" Mau lanjut? Atau istirahat?" Tanya Arka setelah mereka selesai makan, dan menikmati dessert penutup.
" Emm, pinginnya sih istirahat, tapi hotel tempat kita menginap kan jauh dari sini."
"Siapa bilang kita akan kembali ke hotel?"
Kesya mengerutkan keningnya. " Lalu?"
" Di dekat sini ada penginapan, tidak besar memang. Hanya kamar biasa tanpa perlengkapan mewah. Tapi tempatnya sangat nyaman"
Kesya tersenyum menatap wajah sang suami. "Aku tidak butuh tempat yang luas atau pun mewah, asalkan selalu bersama mu, Itu sudah cukup untuk ku. Aku tidak perlu bantal yang berbulu angsa, aku hanya perlu lengan kokoh suami ku sebagai penyangga kepala. Aku tidak perlu guling yang empuk, aku hanya perlu tubuh suami ku yang selalu bisa untuk ku peluk, aku tidak butuh selimut hangat, karena pelukan dari suami ku adalah selimut terhangat yang aku miliki." Ujar Kesya sambil menggenggam tangan Arka.
Arka menatap mata sang istri dengan binar cinta yang membuncah.
Cup.
Awalnya Arka hanya ingin mengecup, tetapi bibir sang istri terlalu sulit untuk tidak di nikmati. Arka melepaskan ciumannya, di tatapnya wajah sang istri yang sudah merona.
" Mas, malu tau" Bisiknya sambil memukul bahu Arka.
__ADS_1
Arka terkekeh mendapati pelototan sang istri. Untungnya restoran yang mereka datangi adalah restoran mewah, yang mana jarak antara mejanyang satu dengan meja yang lain cukup jauh. Dan tidak sembarang orang yang datang ke restoran mewah ini, hanya orang-orang yang berdompet tipis namun berisi black card saja yang sanggup membayar tempat tersebut.
Seperti yang Arka katakan tadi, mereka singgah di penginapan yang memang tidak besar, bahkan jauh dari kata mewah. Dan bisa di bilang sangat sederhana. Kamar yang hanya berisikan tempat tidur berukuran 6 kaki, lemari kecil berukuran 2 pintu, dan meja makan, serta sofa panjang tapi berukuran kecil yang terletak di sudut ruangan.
Kesya membuka tirai jendela yang sebenarnya juga berfungsi sebagai pintu penghubung ke balkon kamar, dan mata Kesya langsung terbelalak mendapati pemandangan yang menakjubkan. Menara Eiffel.
"Mas, ini sungguh luar biasa" Ujar Kesya sambil berjalan keluar ke teras balkon.
"Kamu suka" Arka memeluk Kesya dari belakang, dan meletakkan dagunya di atas kepala Kesya.
"Mmm, sangat.. Ini benar-benar tempat sempurna." Ujar Kesya sambil menggenggam tangan sang suami yang melingkar di perutnya.
Perlahan Arka membalikkan tubuh Kesya menghadapnya. " Masih ada waktu untuk tour selanjutnya" Bisik Arka di depan wajah Kesya.
Perlahan tapi pasti, entah siapa yang duluan. Yang pasti bibir mereka sudah menempel dan saling mencec*p satu sama lain. Arka mengangkat sedikit tubuh Kesya, dan mengarahkan kaki Kesya untuk berpijak di kakinya. Kesya mengalungkan tangannya di leher Arka. Seolah lama tak berjumpa, mereka saling melepas rindu dan menunjukkan cinta. Perlahan Arka menuntuk Kesya untuk masuk ke kamar, dan menyelesaikan apa yang baru di mulai.
Di toko kue, Ando sedang menunggu Puput dengan senyum yang terus saja mengembang. Jangan di tanya lagi dengan detak jantungnya terus saja berdetak kencang.
"Maaf, menunggu lama" Ujar Puput dan mendudukkan dirinya di hadapan Ando.
" Gak masalah. "
Puput tersenyum, entah kenapa dia menjadi hilang pembahasan saat ini. Biasanya dia akan langsung mencerocos dan ada saja yang menjadi bahan pembicaraannya.
" Apa kamu sudah makan siang?"
" Ah, belum. Tapi aku masih sangat kenyang." Puput memang belum mkaan siang, akan tetapi saat pulanh dari meeting bersama Fadil, Puput meminta Fadil untuk berhenti di penjual Batagor, dan Puput sudah menghabiskan 2 piring batagor.
" Yah, padahal aku ingin mengajakmu makan siang. Aku tidak sempat sarapan tadi pagi karena terlalu sibuk"
Puput merasa tidak enak hati. " Emm, bagaimana jika aku temani saja"
Terlihat senyum merekah di bibir Ando. Dan tak menunggu waktu lama mereka langsung beranjak menuju tempat favorit bagi Ando.
"Kamu yakin tidak ingin memesan sesuatu?" Tanya Ando yang saat ini sedang memegang buku menu restoran.
" Aku masih kenyang"
" Bagaimana jika memesan dessert?"
" Baiklah"
__ADS_1
Ando pun memesan menu kesukaannya dan memesan beberapa buah potong dan dessert untuk Puput. Puput melihat ke sekelilingnya, tidak banyak orang yang berada di dalam restoran. Tidak, bisa dibilang hanya mereka berdua yang berada di restoran ini. Puput sedikit gugup akan hal itu. Hanya berdua bersama Ando. Dia teringat akan perkataan Fadil.
" *Sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Ando. Dia memang pria baik, tetapi terlalu sempurna hingga tidak memiliki satu kesalahan pun. Dan aku takut itu menjadi masalah kedepannya. Karena dia adalah pria misterius"
"Kau cemburu?"
"Tentu saja aku cemburu, tapi apa yang aku katakan barusan bukan karena aku cemburu, tapi ini semua demi kebaikan mu. Aku tidak akan memaksa mu untuk kembali mencintai ku, kamu berhak untuk bahagia. Jika bahagiamu bersama Ando, aku akan melepaskan mu. Tapi tetap saja, kamu jangan terlalu percaya dengannya*."
"Hai, apa yang kamu fikirkan?" Tanya Ando menyadarkan puput dari lamunannya.
" Hah? Oh, enggak. Tidak ada " Puput tersenyum sangat manis. Membuat Ando semakin terpesona oleh kecantikan Puput.
" Maaf tuan, pesanannya" Ujar pelayan dan meletakkan pesanan mereka di atas meja.
Ando membuka percakapan agar Puput menjadi rileks, karena Ando merasa jika Puput saat itlni merasa gugup bersamanya.
" Kamu memesan semua tempat ini?" Tanya Puput tak percaya.
" Iya, aku hanya ingin memiliki waktu berdua dengan mu. Dan sebenarnya"
Puput menanti kelanjutan ucapan dari Ando.
" Aku tidak biasa makan di tempat yang ramai di kunjungi orang. Itu salah satu alasanku memesan seluruh tempat ini"
Puput menyemburkan tawanya. " Ya ampun Ando, Kamu lucu sekali"
" Kamu suka?"
" Hmm, tentu. Kamu sangat lucu" Ujar Puput sambil masih tertawa kecil.
Ando semakin tertarik kepada Puput. Wanita di depannya ini patut untuk menjadi miliknya. Dan Ando harus pastikan jika tidak ada pria lain yang akan merebut Puput darinya.
.
.
.
.
Dukung terus ya cerita author.
__ADS_1
LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..
Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..