
Sudah 2 hari Kesya di rawat di rumah sakit, karena kondisinya yang belum stabil. Kesya selalu menyalahkan dirinya atas kematian sang bayi. Bahkan Kesya sampai di berikan obat penenang oleh dokter.
" Sayang, Kamu jangan gini. Ini semua salah aku, seharusnya aku tetap berada di samping kamu" Lirih Arka dengan air mata yang mengalir dan menggenggam tangan sang istri.
Kesya melihat sang suami yang juga terluka. Kesya baru menyadari jika sang suami tidak Serapi biasanya, wajahnya lusuh, lingkar hitam terdapat di bawah matanya, bibirnya yang pucat dan kering. Bahkan rambut dan bajunya tidak Serapi biasa nya. Suaminya benar-benar bukan pada jati dirinya.
Kesya perlahan membalas genggaman tangan sang suami, dengan air mata yang masih mengalir dipelupuk matanya.
" Kamu jangan salahi diri kamu Mas, aku yang salah hiks.."
" Enggak sayang, Aku yang salah. jika saja aku bisa lebih cepat menemukan siapa orang yang ingin mencelakakan kamu, mungkin ini gak akan pernah terjadi. Aku terlalu lama mengumpulkan bukti. Maafin aku.. Maafin aku hikk.." Tangis Arka kembali pecah dengan bersimpuh di tangan Kesya.
Kesya menarik suaminya, dan memeluknya erat. Mereka menangis bersama, meluapkan kesedihan mereka bersama. Dan saling menyalahkan diri masing-masing.
" Baiklah, Kalo kamu merasa ini semua bukan kesalahan Mas, Kamu juga harus merasa jika ini juga bukan kesalahan mu, sayang. Anggap saja semua ini ujian kita. Dan Allah lebih sayang dengan anak kita, Allah punya rencana lain yang lebih indah untuk kita. Kamu percaya kan?"
Kesya menganggukkan kepalanya, mereka kembali berpelukan.
Kesya dan Arka sudah berjanji, tidak ada yang akan menyalahkan diri mereka masing-masing. Semua sudah menjadi rahasia Allah.
Sudah seminggu Kesya di rumah sakit, dan keadaannya pun sudah mulai membaik. Kesya juga sudah di nyatakan oleh dokter untuk boleh pulang.
Dan di sinilah dia. Kesya menaburi bunga bunga di tanah kuburan yang masih basah, air matanya kembali mengalir. "Maafin Mama yaa sayang". Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Kesya. Setelah membaca doa, Arka membantu Kesya berdiri, dan kembali ke dalam mobil.
Kesya menatap nanar kuburan yang masih merah itu. Air matanya kembali jatuh, semoga saja kelak sang anak yang duluan di panggil oleh Allah, menjadi penyelamatnya di akhirat.
setelah Sebulan pasca kejadian tersebut, Kesya mulai menyibukkan dirinya dengan memilih perabot serta asesoris untuk hiasan dinding toko kue nya. Dengan di bantu Puput, Kesya berbelanja ke salah satu Mall.
" Ini bagus gak Put?"
Puput mengalihkan perhatiannya yang sedang melihat-lihat lampu hias.
"Keren banget deh emang pilihan Lo" Ujar Puput sambil mengacungkan kedua jempol nya. Tanpa Puput sadari jika tasnya mengenai sebuah rak, dan tak tersebut goyang hingga miring ke arah Puput.
"Awaasss" Teriak pelayan toko.
Praakkk...
Puput sudah memejamkan matanya sambil melindungi wajahnya dan berharap rasa sakit yang di deritanya tidak akan parah.
Satu detik..
dua detik ..
tiga detik..
Puput tidak merasakan apapun. Yang Puput rasakan adalah sebuah sesuatu yang melingkar di tangannya, dengan wangi maskulin yang menusuk hidung. Perlahan Puput membuka matanya sebelah, seolah mengintip. Mata Puput sontak langsung terbelalak saat melihat seorang pria tampan yang sedang memeluknya, dengan tubuh yang tertimpa rak kayu tersebut.
" Nona baik-baik saja?"
__ADS_1
Puput mengerjapkan matanya. Apa dia sudah di surga?
Terdengar suara Kesya yang memanggil namanya
"Puput, Lo gak papa?" Tanya Kesya khawatir.
Pria tersebut langsung menegakkan tubuhnya setelah pengawal Kesya mengawasi rak tersebut dari punggung sang pria penyelamat Puput.
"Ehh, Iyaa. Gue belum mati kan?"
Perkataan konyol keluar dari mulut Puput, membuat sang pria tersenyum miring. 'Gilaa, manis banget tu senyum?' Batin Puput sambil menatap memuja kepada sang pria tampan.
"Awww" Puput meringis saat Kesya mencubit lengannya.
" Sakit? Berarti Lo masih hidup" Ujar Kesya.
" Apa kabar Nyonya Muda Moza" Tegur sang pria.
Kesya yang hanya terpaku oleh keadaan Puput, baru menyadari siapa pria yang menyelamatkan Puput barusan.
" Tuan An- Tuan Ando?" Ujar Kesya ragu, yang terdengar seperti pertanyaan.
Ando tersenyum dan menganggukka. kepalanya sekilas.
" Ah, Nona baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Tanya Ando.
"Ehh.. i-iiya" Jawab Puput gugup.
Puput menatap sang pelayan yang wajahnya sudah memucat dan menatap Puput dengan emosi. Seolah dari matanya berkata, 'Maaf, mbak harus ganti semua kerusakannya'.
Puput menelan ludah ya, dan memberanikan diri menatap sang pelayan. "Mbak, saya bakal ganti rugi semuanya. emm, tapi... apa saya boleh nyicil bayar nya?"
Terdengar kekehan di belakang Puput. Puput menatap si sumber suara dengan bingung. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya yang Puput tebak itu adalah sebuah kartu yang berwarna hitam. Sang pelayan dengan tersenyum sumringah menerima kartu tersebut.
"Makasih, Nanti saya akan ganti semua biayanya" Ujar Puput sambil menundukkan kepalanya.
Kesya mendekati Puput, dan memanggil pelayan tadi. " Maaf mbak, pakai kartu ini saja"
Puput melirik kearah kartu yang dipegang Kesya. Kartu berwarna hitam, sama seperti yang diberikan oleh sang pria tampan di depannya. Siapa ya namanya? lupa gue.
"Tidak pa-pa Nyonya Muda, biar saya yang membayarnya"
"Tapi ini semua kesalahan teman saya, biar saya yang membayarnya"
Pria itu tersenyum, " Begini saja, bagaimana jika Nona muda ini menggantinya dengan cara lain?"
Puput dan Kesya sudah memasang mata lasernya mendengar tuturan kata dari pria tampan bernama Ando.
"Maaf, saya tidak bermaksud negatif. Saya hanya merasa bersalah kepada Nyonya muda, atas kejadian di rumah saya waktu itu. Jadi saya ingin membalasnya dengan mengajak Nyonya muda dan Nona cantim ini makan siang. Hanya itu."
__ADS_1
Puput melirik kearah Kesya, begitupun dengan Kesya.
" Ah, sebenarnya saya tadi tidak sengaja muhat Nyonya, saat saya ingin menyapa, ternyata teman nyonya menyenggol rak tersebut. Kebetulan saya berada didekat situ"
Puput seakan teringat sesuatu. " Punggung Tuan baik-baik aja?"
Mendengar pertanyaan Puput, Kesya juga baru teringat jika punggung Ando tadi menahan rak yang akan menimpa puput.
"Tidak apa-apa, Bagaimana? Mau menerima tawaran saya untuk makan siang? Ah, bagaimana jika tawaran saya, emm .. anggap saja ucapan terima kasih dari Nona??" Ando mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan puput.
Puput menatap tangan Ando, dan dengan perlahan menerima uluran tangan Ando.
"Puput"
" Ah ya, Nona Puput. perkenalkan Saya Ando" Ujarnya.
Setelah berbincang sambil menunggu kartu Ando kembali, akhirnya mereka menerima tawaran Ando untuk makan siang bersama. Siapa sangka ternyata Ando adalah pria yang sangat ramah, dan baik. Tanpa Kesya dan Puput sadari, jika Ando berharap bisa bertemu dengan wanita yang telah membuatnya tertarik itu.
Tak terasa kehamilan Mili sudah memasuki 7 bulan. Perut Mili sudah sangat terlihat besar, sempat terfikir jika Mili hamil anak kembar, tetapi setelah d USG, ternyata hanya satu bayi yang berada di dalam perut Mili, dan berjenis kelamin perempuan.
Wajah Mili yang cantik dan tirus, sekarang terlihat lebih berisi, dan semakin menambah kesan cantik. Acara tujuh bulanan pun hanya di hadiri oleh keluarga, karena mengingat kehamilan Mili yang di luar nikah. Tidak ingin ada gosip yang menerpa, apalagi saat ini Gilang mulai terkenal di dunia arsitektur pembangunan yang menangani klien kelas kakap. Bagaimana tidak, semenjak menikah dengan Mili, perusahan Gilang banyak di lirik oleh perusahaan besar yang ingin bangunannya terkena sentuhan tangan Gilang yang terdengar luar biasa. Suatu keberuntungan bagi Gilang yang menikahi Mili. Gadis Manis yang cantik, yang tengah menganduk anaknya, dan saat ini menjadi istri yang sangat di cintainya.
Tau kah kalian, saat Mili mengungkapkan cintanya kepada Gilang. Gilang menangis bagaikan bayi, Bagaimana tidak, Mili mengungkapkan cintanya saat pembukaan toko kue milik Kesya. Di mana Mili menyatakan cintanya dengan miniatur bangunan, boneka, dan bunga. Serta kue spesial buatan Mili yang Pedana sekali di buat olehnya atas bantuan Kesya. Kesya mengajari Mili membuat kue spesial hanya untuk Gilang. Kalian tau, Gilang menghabiskan sendiri kue tersebut saat mengetahui sang istrilah yang membuatnya, walaupun kata Kesya, kue tersebut Over cook, tetapi Gilang tetap menghabiskan kue tersebut dengan penuh cinta.
"Hati-hati jalannya sayang" Ujar Gilang sambil menuntun istrinya.
" Waah, cantik banget sih Bumil." Puji Puput.
Kesya melihat perut Mili yang membesar, airmatanya kembali jatuh. Arka langsung merengkuh tubuh sang istri, dan memberikannya kekuatan dan ketenangan. Kesya tersenyum kepada sang suami.
Setelah pasca keguguran, Kesya dan Arka memang di larang untuk berhubungan dulu selama 3 bulan. Dan sebulan pasca operasi, Kesya melakukan pemeriksaan, dan syukur Alhamdulillah rahim Kesya baik-baik saja. Semoga Kesya dan Arka cepat mendapatkan keturunan kembali.
Fadil menatap Mili, tatapan yang tidak bisa di artikan. Mungkinkah cinta itu benar adanya untuk Mili? Lalu bagaimana perasaannya selama ini dengan Puput? Bahkan dia tidak ingin kehilangan Puput. Sang pacar paksaan sekaligus sekretaris paksaannya.
Puput bukan cewek bodoh yang tidak mengerti tatapan Fadil selama ini kepada Mili. Hanya saja dia tidak ingin mengambil pusing, Toh perasaannya terhadap Fadil, dia juga tidak tau sepeti apa. Di bilang cinta, Gak. Di bilang gak, entah lah. Hanya Tuhan yang tahu akan berlabuh kemana hati mereka.
.
.
.
.
.
.
Dukung terus ya cerita author.
__ADS_1
LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..
Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..