
Gedung Moza yang di jadikan untuk merayakan pesta pernikahan Veer dan Nafi pun sudah di sulap dengan sedemikian indah. Dekor yang luar biasa dengan hiasan lampu-lampu bergantungan, serta bunga-bunga segar yang mengeluarkan aroma khas nya pun semakin membuat ruangan yang luas itu menjadi semakin indah.
Para pekerja Wedding organizer pun sibuk berlalu lalang ke sana ke sini untuk mempersiapkan segalanya yang masih kurang.
" Huuff..."
Entah yang keberapa kalinya Nafi menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia merasa sangat gugup dan tak percaya diri.
" Anak Mama cantik banget.." Mama Ayu menatap wajah sang putri yang terlihat sangat cantik dengan gaun yang di pakainya.
" Ma, aku takut.."
" Takut kenapa sayang?"
" Bagaimana jika aku mempermalukan Veer dan keluarga Moza di karenakan penampilanku yang jelek?"
" Siapa yang bilang anak Mama jelek? Anak Mama ini cantik. Cantik banget malahan. Ya kan Pa."
" Iya, Anak Mama dan Papa sangat cantik. Sangat serasi dengan Veer."
" Benarkah? apa benar aku sangat serasi dengan Veer?"
" Iya sayang, percaya lah.."
Di kamar lain, Veer sudah terlihat tampan dengan jas formalnya.
" Cari apa Quin?" Tanya Mama Kesya yang melihat Quin memutari tubuh Veer, serta menatap punggung Veer dan merabanya.
" Cari sayap Ma, "
" Sayap?"
" Hmm, mau tau aja pangeran ini simpan sayapnya di mana."
Mama Kesya mengerutkan keningnya, kemudian Mama Kesya tertawa saat melihat Veer menyentil kening Quin.
Quin mengelus keningnya, kemudian Veer menariknya kedalam pelukan.
" Hah, aku kehilangan cinta pertama ku." Air mata Quin mengalir tanpa isakan tangis dari bibirnya.
" Aku akan tetap ada di saat kamu butuh."
" Aku tau. "
Mama Kesya ikut memeluk kedua anaknya.
" Loh, kok Papa gak di ajak?" Papa Arka yang baru masuk kedalam kamar pun juga ikut memeluk Veer, Quin, dan Mama Kesya.
.
.
Abi menatap wanita cantik yang beberapa bulan ini menggetarkan hatinya, yang saat ini telah resmi menjadi tunangannya. Quin saat ini menjadi pendamping Veer saat berjalan menjemput Nafi yang berdiri bersama kedua orang tua nya.
" Sepertinya kamu benar-benar jatuh cinta dengan Quin?" Tebak Aunty Risma.
Abi tersenyum. " Quin berbeda Ty, ia memiliki karakter yang unik. Suka jajan pinggir jalan, bahkan seleranya sangat merakyat. Aunty tau, Abi pernah mengajak Quin jalan-jalan ke mall, Abi ingin membelikan tas limited edition, tapi Quin menolaknya. Quin bilang, dari pada uangnya di buat beli tas mahal yang belum tentu kapan terpakai, dan hanya menjadi hiasan di lemari, mending uangnya buat di sunbangi ke panti asuhan. Percaya gak ty? baru kali ini Abi Nemu cewek kayak Quin."
" Eemm, bagaimana dengan Anita?" Aunty Risma sebenarnya takut untuk bertanya, namun rasa penasarannya ngalah-ngalahin netizen yang lagi datang bulan.
" Anita jauh banget dengan Quin. Dan Anita tak bisa di samakan dengan Quin."
" Kamu masih cinta dengan Anita?" Terdengar rasa kekecewaan dari nada bicara aunty Risma.
Abi menatap aunty nya itu, dan menggenggam tangannya.
" Perasaan Abi ke Anita semakin hari semakin memudar. Rasa yang selalu tak sabar bertemu dengannya juga tak ada lagi. Bahkan Abi sudah memberhentikan pencarian Anita dari saat Abi memutuskan untuk mencintai Quin."
Abi menatap kembali ke arah Quin.
" Abi akan menjadi pria bodoh sedunia, jika Abi sampai melepaskan Quin. Quin berbeda, Quin memiliki segalanya, namun Quin bersikap rendah hati. Bahkan Quin rela menghabiskan waktunya untuk membahagiakan orang lain. "
Abi kembali menatap kearah Aunty Risma.
" Abi ingin memiliki Quin segera Ty, Abi ingin menikahi Quin secepatnya. Abi minta tolong kepada Aunty, untuk membantu Abi mengurus semua keperluan surat-surat untuk pernikahan. Abi ingin dalam beberapa hari ini menikah dengan Quin."
Aunty Risma terkejut mendengar ucapan Qujn, tanpa bisa di cegah, bulir bening pun jatuh membasahi pipi Aunth Risma.
" Kamu serius sayang?"
" Iya Aunty, Abi serius. Abi ingin menjadikan Quin sebagai ratu dari keluarga Subekti."
" Aunty akan menyiapkan segala keperluannya. Tapi, apa Quin setuju? bagaimana dengan Tuan Arka?"
" Abi sudah memikirkan semuanya, Abi memiliki satu rencana yang pasti akan berhasil, yang mana membuat Quin gak bisa menolak, dan Papa Arka membantu Abi mempercepat pernikahan ini."
" Aunty percaya sama kamu, tapi ingat, jangan salah jalan kamu Bi, jangan merusak nama baik kamu sendiri."
" Maksud aunty?"
" Yaa maksud aunty, kamu jangan menjebak Quin dengan tidur bersamanya."
Abi terkekeh. " Tidak aunty, Abi tak akan melakukan hal itu. Aunty tenang aja yaa.."
Aunty Risma hanya menghela napasnya. Ia berharap Abi tak memiliki fikiran buruk untuk menjebak Quin, Atau menculik Quin. Yaa, seperti itu lah kira-kira.
Alunan musik mulai terdengar, Veer dan Nafi sudah berjalan menuju singgah sana mereka. Sungguh pasangan yang serasi.
Abi berjalan mendekat kearah Quin.
" Kamu cantik, aku suka." Quin menoleh.
" Makasih. Kamu juga tampan."
" Kamu suka?" Tanya Abi kembali.
Quin kembali menoleh. " Suka "
" Apa itu artinya kamu mulai tertarik dengan ku?"
__ADS_1
Quin kembali menoleh, kemudian ia tersenyum sambil tertawa kecil. " Suka belum tentu dalam artian cinta."
" Aku akan membuat kamu jatuh cinta kepada ku."
Quin terkekeh. " Mirip lirik lagu tau gak."
" Emang ada?"
" Ada, lain kali aku kasih dengar yaa.."
Quin mengernyitkan keningnya saat mihat Anggel menghindari Lana, sedangkan Lana berusaha untuk mendekati Anggel.
" Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" Gumamnya yang masih di dengar Abi.
" Kenapa?"
" Gak tau, tapi Anggel kayak ngehindar dari Lana."
" Bukan urusan kita."
" Lana Bodoh, apa dia baru menyadari jika dia punya rasa dengan Anggel? Dasar bodoh." Maki Quin dengan kesal.
" Maksud mu?"
" Kamu tau, sebenarnya Lana itu menyukai Anggel, karena terlalu terobsesi dengan ku sedari kecil, Lana tak menyadari perasaannya."
" Bagaiaman kamu tau Lana menyukai Anggel?"
" Lana tak pernah seperhatian itu kepada seorang wanita, bahkan sama pacarnya aja Lana gak perhatian. Lana memperlakukan Aku dan Anggel itu hampir sama. Dan Aku sering mendapati Lana tersenyum ke arah Anggel. Senyum yang sama yang selalu ia berikan kepada ku. Bahkan di ponsel Lana ahanya ada foto ku, dan Anggel."
" Yakin banget kamu?"
" Aku mengenal Lana dari kecil, Jadi aku tau Lana bagaimana. Sebelumnya tak pernah ada foto seorang wanita pun di ponselnya, ke yalj foto ku. Namun beberapa tahun ini, Lana menyimpan foto Anggel."
" Bagaimana dengan ku? Apa kamu gak yakin jika aku beneran udah jatuh cinta sama kamu?"
Quin menoleh kepada Abi, dan menatapnya. Quin menghela napasnya pelan. Entahlah, Quin memang melihat jika ada tatapan memuja di mata Abi, namun Quin ragu, dan Quin takut untuk mengatakan kepada dirinya, jika Abi beneran udah jatuh cinta dengannya. Bisa aja kan, Abi hanya memanfaatkan statusnya saat ini? Siapa yang tau...
Quin kembali menoleh kearah Veer dan Nafi, terlihat mereka sedang tertawa sambil berbisik, entah apa yang mereka obrolkan, yang pasti, Veer dan Nafi terlihat sangat bahagia.
Mungkin saat ini Quin belum mencintai Abi, atau dengan adanya tali pernikahan bisa saja Quin bisa mencintai Abi. Tapi, Apa Abi bisa mencintainya seperti Veer mencintai Nafi? .
Sungguh jelas berbeda bukan, Abi bukan Veer. Abi memiliki masa lalu yang masih melekat kuat di hatinya, berbeda dengan Veer yang sekalipun belum pernah jatuh cinta.
" Quin.."
" Maaf Bi, Aku belum bisa percaya dengan ucapan kamu."
Quin melangkah pergi meninggalkan Abi, Sedangkan Abi hanya menatap punggung Quin.
" Aku akan membuat kamu kembali percaya dengan cinta. Aku akan membuat kamu jatuh cinta kepada ku Quin. Dan kita akan menjadi pasangan yang saling mencintai. Aku janji, Tak akan ada seorang pun yang berani memisahkan kita. Aku janji..." Batin Abi yang masih terus menatap Quin.
Seperti permintaan Veer dan Nafi, mereka hanya ingin pesta pernikahannya di buat sederhana. Namun, bukan Kakek Farel namanya jika mengikuti permintaan Veer dan Nafi yang ingin mengadakan pesta sederhana. Pesta pernikahan Veer adalah salah satu pernikahan termegah tahun ini.
Rencananya Kakek akan membuat pesta pernikahan yang meriah seperti pernikahan Papa Arka dan Mama Kesya, namun Veer menolaknya dengan keras, karena masalah Quin yang belum selesai, Veer tak ingin mereka terlalu lalai dengan pesta, hingga akhirnya keselamatan Quin pun terancam, Dan Kakek Farel menyetujui permintaan Veer.
Satu persatu tamu naik ke atas pelaminan. memberikan selamat kepada pengantin, dan berfoto.
Di sana, Quin sudah berdiri bersama Daddy Bara yang siap dengan drum nya dan Bunda Sasa yang sudah memegang gitar. Tak berapa lama Lana ikut naik keatas panggung dan mengambil gitat Bas. Quin memberikan kode lagu apa yang akan mereka bawakan.
Abi menatap kearah gadis cantik yang sedang bermain bermain keyboard.
Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sungguh tenang kurasa saat bersamamu
Sederhana namun indah kau mencintaiku
Sederhana namun indah kau mencintaiku
Sampai habis umurku
Sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku?
Kaulah satu di hati
Kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku?
Diam-diam aku memandangi wajahnya
Tuhan, kusayang sekali lelaki ini
Tuhan, kusayang sekali wanita ini
Sampai habis nyawaku
Sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku?
Kaulah satu di hati
Kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku?
Sedari tadi Abi tak lepas memandang Quin. Matanya, Bibirnya, Bahkan suara Quin sangat terdengar merdu di telinga Abi. Bolehkah Abi berharap lagu itu untuknya?.
Tapi sayang, Lagu itu ditujukan untuk Veer dan Nafi. Bagi Quin, Veer adalah bidadari tak bersayap, yang selalu melindunginya dan selalu ada untuknya.
Suara tepukan tangan memenuhi indera pendengar. Veer merentangkan tangannya, agar Quin berlari memeluknya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Quin langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Veer, dan menubruk tubuh Veer, serta memeluknya dengan erat.
" Aku mencintai mu, Aku bahagia melihat kamu bahagia, Doa ku akan selalu bersama kalian"
Veer merelai pelukannya, di hapusnya air mata Quin yang membasahi pipi.
" Kamu juga harus bahagia."
" Aku bahagia, asal kalian cepat memberikan Aku keponakan." Quin mengedipkan matanya kepada Nafi, sehingga wajah Nafi merona.
Quin tersenyum dan memeluk Nafi.
" Lupakan semuanya, Karena yang lalua dalah mimpi buruk, dan sekarang adalah kenyataannya. Kamu bisa, aku percaya."
" Makasih Quin, Aku akan berusaha."
" Harus, jangan buat Abang ku satu ini menunggu lama. Atau dia akan masuk angin karena sering keramas sendirian tengah malam."
" Quin.." Tegur Veer dengan wajah merona.
" Aku suka wajah kamu begitu. Semoga berhasil" Quin mengedipkan matanya, kemudian ia mencium pipi Veer dan juga Nafi. Quin pun turun dari pelaminan.
Di sana, di bawah tangga, sudah ada Abi yang menunggunya. Abi memberikan tangannya, dan di sambut oleh Quin.
" Terima kasih."
" Sama-sama "
tak berapa Lama MC memberikan arahan untuk Veer dan Nafi berdansa. Veer meraih jari jemari Nafi, dan membawanya ke lantai dansa.
Veer memegang pinggang Nafi, merapatkan tubuh mereka, dan mulai bergerak ke kiri dan ke kanan, mengikuti alunan musik yang di putar.
" I love you Fi."
" Love you to."
Veer mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Nafi tiba-tiba. Nafi terkejut hingga membelalakkan matanya, namun perlahan mata Nafi tertutup, menikmati sapuan bibir Veer, hingga Nafi ikut membalasnya.
Suara teriakan dan sorakan pun terdengar, dan Quin yang paling heboh.
" Waaah... mentang-mentang udah Sah..." Teriak Quin dengan wajah yang ikut merona.
" Aku juga bisa melakukannya jika kamu mau." Bisik Abi.
Quin menoleh dan memberikan tatapan tajam kepada Abi. Namun warna merah di pipi Quin semakin terlihat jelas. Kali ini Abi berhasil membuat Quin gugup dan merona.
Quin dan Abi masih bersitatap, hingga terdengar suara sorakan kembali, di mana Daddy Bara juga ikut mencium Bunda Sasa, yang di susul oleh Papa Arka dan juga Papi Vano.
" Papa, Papi, Daddy, Quin masih kecil. Jangan nodai mata Quin." Teriak Quin yang mana malah menjadi Boomerang untuknya.
" Kamu sebentar lagi akan menikah, apanya yang masih kecil?" Goda Mama Kesya dan juga Mami Vina.
Quin mengerucutkan bibirnya, dengan wajah yang di buat merajuk.
" Jangan lakukan itu Quin, Atau aku tak akan bisa menahan hasrat ku untuk tak mencium mu." Bisik Abi.
Quin menutup mulutnya. " Dasar om-om mesum."
Abi hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Quin. " Dan om-om mesum ini akan menjadi suami mu."
" Dasar pemaksa, sok yakin banget sih jadi suami aku."
" Mau taruhan?"
" Males."
" Oke, aku akan bilang ke kamu, dalam Minggu ini aku akan buktikan bahwa kamu akan menjadi istri ku."
" Oh ya? Aku akan menolaknya. Ingat, setelah pernikahan Veer dan Nafi, masih ada 1 bulan lagi untuk aku membatalkan pernikahan kita."
" Aku tak akan membiarkannya."
" Kita lihat saja, siapa yang akan menang."
" Baiklah, dan jika aku menang, maka kamu harus jatuh cinta ke aku."
" Gak mau."
" Aku akan membuat kamu jatuh cinta ke aku, seperti aku mencintai kamu."
" Dasar pembohong."
" Aku serius Quin."
" Udah bubar."
" Apanya?"
" Band serius."
" Itu Seurieus, Quin."
" Kok tau? kamu kan lama di luar negri?"
" Jaman udah canggih Quin, dan aku menyukai lagu Indonesia."
" Benarkah? salah satunya?"
" Menikahi mu, Kahitna."
Quin mencebikkan bibirnya. Namun rona merah di pipinya terlihat jelas di mata Abi. Abi tersenyum lembut, kemudian ia meremas jari jemari Quin, dan menariknya untuk ke lantai Dansa.
Abi ingin memandang wajah Quin, terus memandang wajahnya, wajah yang beberapa bulan ini membuat Abi senyum-senyum sendiri.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.