KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 74


__ADS_3

Abi dan Quin baru saja pulang dari aktifitas mereka. Beruntungnya Abi karena memiliki istri yang tempat bekerja Quin tak jauh dari tempat bekerjanya.


" Abi ... Kamu benar-benar aneh ... "


" Aku serius, bahkan aku sampai minta di buatkan kandang kelinci yang besar agar aku dapat tidur bersama kelinci-kelinci imut itu."


Quin tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita masa kecil Abi yang ternyata sangat keras kepala, jahil, serta manja, namun enggan untuk berteman dengan orang yang diluar lingkarannya. Abi punya alasan untuk satu hal itu.


Abi kecil adalah anak yang gendut dan doyan makan, hingga teman-teman Abi selalu mengejeknya dengan panggilan ****gendut. Dan Abi selalu menjadi sasaran empuk para teman-temannya untuk di kerjai. Jika Abi ingin selamat dari cengkraman teman-temannya, maka Abi harus memberikan mereka uang. Hingga Abi berfikir bahwa di dunia ini tak ada seorang pun yang tulus berteman dengannya.


Bahkan Anita pun meninggalkannya demi karir. Andai saja waktu itu Abi mengatakan kepada Anita, bahwa dirinya adalah salah satu pewaris terkaya di Eropa, mungkin Abi tak akan kehilangan Anita. Tapi, semua sudah menjadi suratan takdir. Pertemuan Abi dengan Quin, menyadarkan Abi bahwa masih ada di dunia ini orang yang tulus. Untuk itulah Abi dengan mudahnya jatuh cinta kepada Quin.


Kalian tau, Anita sebenarnya tak mengetahui jika Abi seorang yang sangat kaya raya. Anita hanya tau jika Abi adalah anak dari pengusaha biasa. Itu lah Abi, sepercaya apapun ia kepada orang, ia tetap tak mengungkap identitas aslinya, seperti Quin.


Dan jika kalian bertanya bagaimana Nafi mengetahui tentang Abi, Karena Nafi pernah bertemu Abi di suatu pesta, dan Abi dikenal sebagai pewaris tunggal keluarga Setyo. Yang kekayaannya sudah tak bisa di hitung dengan kalkulator lagi.


" Haa ... Ha ... Ha ... Kamu lucu Abi ..."


Mata Quin menangkap mobil yang menyelip mobil yang sedang di kendarai oleh Abi.


" Abii..."


Abi dengan sigap langsung menginjak rem, tangan kirinya menahan tubuh Quin agar tak terbentur dengan dashboard.


Dada Quin naik turun, Jantung Quin berdetak cepat saat melihat 4 pria berbadan besar turun dari mobil dan menggedor pintu mobil mereka. Quin sudah meremas lengan Abi karena takut.


Kaca mobil terus saja di gedor oleh pria berbadan besar tersebut.


"Quin, tenanglah ..."


" Abii ... Jangan ..." Ujar Quin saat Abi melepaskan genggaman tangan Quin di lengannya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik aja."


Quin dengan cepat menekan sedikit mata cincin yang diberikan oleh Abash beberapa Minggu lalu. Cincin yang sudah terhubung dengan sistem alarm keamanan milik Abash dan otomatis memanggil Polisi.


Abi membuka pintu mobil setelah berhasil menenangkan Quin dan mengatakan jika tak akan terjadi apa-apa.


Mata Quin langsung membola saat melihat pria berbadan besar itu membungkukkan tubuhnya kepada Abi. Quin mengerjapkan matanya, dengan mulut yang terbuka.


Abi memberikan isyarat kepada Quin untuk keluar dari mobil. Dengan cepat Quin melangkahkan kakinya dan memeluk lengan Abi.


"Tenanglah, mereka anak buah ku."


Bleeng..


Quin refleks membuka mulutnya dan menatap Abi tak percaya. Abi mempersilahkan salah satu anak buahnya untuk memeriksa keadaan mobil. Selagi mereka memeriksa mobil yang Abi gunakan, Abi mengajak Quin untuk sedikit menjauh dari mereka, namun tetap dalam penjagaan 2 pria berbadan besar tersebut.


"Abi, apa yang terjadi?"

__ADS_1


" Tenanglah. Tak ada terjadi apapun."


"Bagaimana aku bisa tenang jika mereka sangat menakutkan, dan ... dan ... " Quin melirik kearah pria berbadan besar yang berdiri 5 langkah dari mereka.


"Dan kenapa mobil kamu harus diperiksa?"


" Ada seseorang yang memasang pelacak di mobil ku."


"Benarkah? Dari mana mereka tau?"


" Ada sensor yang terdeteksi Quin. Tenanglah, tak akan terjadi apapun."


Tak berapa lama polisi dan beberapa pengawal yang diutus oleh Papa Arka pun tiba, bersama dengan si kembar Arash dan Abash. Para pengawal awal langsung melumpuhkan pria berbadan besar tersebut, sehingga Abi terpaksa memeluk Quin agar tak melihat adegan kekerasan di depannya.


"Quin ... " Seru Abash dan Arash berbarengan, dan berlari langsung kearah Quin.


Abash memeluk Quin dan memeriksa tubuh Quin.


"Kamu gak papa?" Tanya nya.


"Aku gak papa."


Abi mengernyitkan keningnya, dari mana Abash dan Arash tau jika mereka di sini?


"Kalian gak papa?" Ulang Abash sambil melihat kearah Quin dan Abi bergantian.


"Kami gak papa, tapi, darimana kalian tau jika__"


Abi dan Quin langsung menoleh ke sumber suara.


"Arash, mereka anak buah ku " Ujar Abi yang mana membuat Arash dan Abash mengernyitkan kening.


"Quin ..." Seru Abash, tatapan matanya seolah bertanya apa yang terjadi sebenarnya.


Quin menyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"I-itu ... sebenarnya aku terlalu panik saat mereka berhenti mendadak di hadapan kami. Jadi aku langsung menekan alarm yang kamu berikan." Quin menunjukkan cincin yang selalu dipakainya, yang sudah di rombak oleh Abash untuk menanam alat pelacak.


"Alarm?" Tanya Abi sambil menatap wajah Quin dengan kening berkerut.


Abash menghela napas pelan. Ia menyuruh pengawalnya untuk melepaskan orang-orang Abi.


Tak berapa lama salah satu pengawal Abi menghampiri mereka dengan membawa benda kecil di tangannya.


Abash langsung mengernyit dan memandang alat tersebut.


"Tunggu ... " Ujar Abash sambil meraih benda kecil berwarna hitam tersebut.


"Apa itu?" Tanya Quin tak sabar.

__ADS_1


"Alat penyadap suara."


" Penyadap? Sadap? maksud kamu pembicaraan kami udah di sadap orang gitu?"


Abash hanya memberikan gumaman sebagai jawaban.


"Sebaiknya kita bicarakan ini di tempat aman." Usul Arash dan di angguki oleh Abi.


*


Quin tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Jika semua ini adalah ulah Jamal, kenapa harus sampai sejauh ini ia bertindak.?


"Sejak kapan kamu menaruh alarm di cincin Quin?" Tanya Abi kepada Arash.


"Hmm? Aku? bukan aku pelakunya, tapi dia." Tunjuk Arash kepada Abash.


"Ah ... Ya ... sampai sekarang aku masih terbalik menyebut nama kalian." Abi menggaruk alisnya yang tak gatal.


"Ada deh ... Rahasia ..." Ujar Abash dengan tersenyum.


Sepertinya Abi harus sabar dan mulai terbiasa dengan kedua adik Quin yang sangat unik. Tidak, bukan hanya Arash dan Abash, terkadang Veer juga bertindak diluar dugaan, termasuk Shaka yang paling kecil. Mereka memiliki sifat yang mendadak bisa berubah dalam hitungan detik.


Tak berapa lama Papa Arka datang bersama mama Kesya, di mana Mama Kesya langsung memeluk Quin dan menangis.


"Hikks ... Quin, kamu baik-baik aja kan sayang? hikss ..."


" Ma, Quin baik-baik aja, Jangan nangis ya ..."


Abash sudah mengulum senyumnya, tidak hanya mereka berdua, ternyata Quin membuat heboh hingga sampai kepada Veer yang sedang menemani Nafi di Korea.


Lihat, Ponsel Abash sudah berkedap-kedip menandakan ada panggilan masuk.


"Kamu membuat semua orang heboh, Quin." Seru Abash dan terkekeh.


Mama Kesya mengernyitkan keningnya, begitupun dengan Papa Arka.


"Ini hanya kesalahpahaman, akan Abash jelaskan semuanya."


Abash pun menceritakan detail kejadian seperti yang Abi ceritakan. Mobil Abi memang sudah dipasangi pelacak, sehingga sensor apapun yang terdapat didalam mobil Abi, bisa terdeteksi.


"Jamal sialan." Geram Papa Arka.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2