
Kesya melihat interaksi antara Fadil dan Mili. Kesya curiga jika ada sesuatu di antara mereka, tapi.. Ah sudah lah, itu bukan urusan Kesya. Masa lalu, biarlah menjadi masa lalu yang menjadi buku pelajaran kegagalan atau pun penyemangat dalam hidup. Dan yang sekarang, kita harus menatap masa depan, dan mengukir hari-hari tersebut dengan indah.
" Jangan kebanyakan makan berlemak, nanti gemuk" Ujar Fadil ke Puput.
" Bukan urusan Lo"
Perdebatan yang tiada hentinya. Semua orang yang berada di sana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perdebatan Puput dan Fadil. Yang anehnya terlihat sangat romantis walaupun terdengar kesan jutek yang keluar dari mulut Puput.
Kesya merebahkan dirinya setelah membersihkan diri. Malam ini adalah salah satu malam terbaik dan terindah yang Kesya jalani.
" Mas" Sapa Kesya saat melihat Arka naik ketempat tidur.
Arka memposisikan lengannya sebagai pengganti bantal Kesya. Sedangkan lengan satu lagi di gunakan untuk memeluk tubuh Kesya.
"Hmm"
" Apa Mili dan kak Fadil memiliki hubungan yang spesial?"
Arka menatap sang istri. "Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?"
" Tadi aku tidak sengaja melihat interaksi mereka, dan dari cara mereka saling pandang, sepertinya mereka saling mencintai"
" Fadil sudah menganggap Mili sebagai adik nya sendiri, mana mungkin dia memiliki perasaan?"
" Bagaimana dengan Mili?"
" Hmm, sayang, sudah ya.. Kita tidak usah membahas mereka, biarkan itu menjadi urusan mereka. Mereka sudah besar, dan sudah bisa menilai mana yang baik dan tidak"
Kesya hanya menaikkan alisnya sekilas sebagai jawaban. Kesya memeluk tubuh sang suami, dan menghirup aroma yang selalu menenangkannya. Tak butuh waktu lama, Kesya sudah terlelap kedalam tidurnya.
Usia kandungan Kesya sudah masuk keminggu 12. Perut Kesya pun sudah mulai sedikit terlihat.
" Apa Mami sangat kecewa?" Tanya Kesya kepada Arka.
Pandangan di depan mereka saat ini adalah pandangan yang sangat menyedihkan dan menegangkan. Bagaimana tidak, Mili akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan jika dia telah hamil sebelum menikah. Mili dan Gilang saat ini sedang meminta pengampunan kepada Mami Laura dan Papi Farel.
" Mi, Maafin Mili hiks.. Mili udah buat Mami kecewa hiks... Maafin Mili Mi.. Mili memang tidak pantas menyandang nama Moza hiks.."
" Tidak, jangan bilang seperti itu. Kamu memang buat Mami kecewa, tapi kamu tetap putri Mami. "
" Maafin Mili Mi.. hiksss" Mili menenggelamkan wajahnya di sela lutut Mami Laura.
Mami Laura mengelus rambut Mili dengan sayang, " Mami bakal Maafin kamu, tapi kamu harus janji satu hal kepada Mami"
Mili menengadahkan wajahnya menatao wajah ayu sang Mami.
" Mulai sekarang kamu harus jadi istri yang berkati kepada suami kamu. Menjadi ibu yang terbaik dari ibu yang paling baik."
Mili meneteskan kembali air matanya setelah mendengar perkataan maaf sang Mami. Mili dan Mami Laura pun selain berpelukan.
"Makasih Mi, Mili janji, Mili akan jadi ibu dan istri yang terbaik."
Mami Laura melepaskan pelukannya, dan menatap kearah Gilang. Gilang yang di tatap pun langsung menghampiri Mami Laura dengan berjalan dengan lututnya, dan memegang lutut Mami Laura.
" Dengar, Mami memaafkan kesalahan kalian, tapi kau harus ingat. Tidak ada kata perceraian dalam pernikahan kalian. Mengerti?"
" Iya Mi, tidak akan pernah ada perceraian, karena aku mencintai Milea" Ujar Gilang dengan mantap.
Mami Laura dan Papi Farel tersenyum. Mami Laura memeluk Gilang dan Milea secara bersamaan.
Kesya dan Arka pun ikut berpelukan, ikut merasakan kebahagian yang tengah terasa ditengah mereka.
" Pi, Mi" Sapa Arka.
Arka dan Kesya ikut bergabung bersmaa Mami Laura, Papi farel, Gilang dan Mili.
" Besok kita semua mendapatkan undangan dari Tuan Brian, Mereka sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka.
" Baiklah, besok kita pergi bersama. Kalian juga harus ikut" ujar Papi Farel kepada Gilang dan Mili.
__ADS_1
Kesya sedang mencoba gaun yang akan dipakainya ke acara ulang tahun pernikahan Tuan Brian.
" Sayang, Bagaimana dengan yang ini?" Tanya Kesya kepada Arka.
" Bagus"
"Benarkah? Baiklah, aku akan memakai ini"
Kesya pun meletakkan gaun tersebut di atas tempat tidur dan beralih menuju kamar mandi.
Kesya membersihkan dirinya.
Tok..tok..tok..
" Tuan Muda, Tuan Besar sudah menunggu" Ujar seorang Maid.
"Baik lah, kami segera turun" Ujar Arka sedikit berteriak.
" Sudah selesai?"
Kesya menatap sang suami dan tersenyum. "Ayo"
Kesa mengambil clutch nya dan berjalan menggandeng tangan Arka, sebelumnya dia kembali mematuk dirinya di dalam cermin, melihat penampilannya.
Tuan Brian adalah salah satu Pemegang saham di Group Moza, dan juga sahabat Papi Farel.
" Selamat atas ulang tahun pernikahannya" Ujar Papi Farel kepada Tuan Brian dan berjabat tangan.
"Terima kasih. Ah, apa ini Kesya? Istri Arka?"
Arka tersenyum dan mengenalkan Kesya kepada Tuan Brian.
"Sangat cantik, Kamu pintar memilih istri" Puji Nyonya Brian.
"Terima kasih Nyonya."
Kesya tersenyum. "Terima Kasih Tante Ana"
"Ini Mili kan? Cantik sekali kamu sayang"
Mili tersenyum dan melirik kearah sang suami.
"Ah ya, itu Ando, Ando"
Yang bernama Ando itu pun menghampiri sang Mama.
" Kenalin, ini Kesya istrinya Tuan Muda Arka, dan Ini Mili"
"Ando" Ucap nya kepada Mili dan Kesya.
Awalnya pandangan Ando jatuh kepada Kesya, namun melihat tangan Arka yang selalu bertengger di pinggang Kesya, Andi dengan cepat mengalihkan pandangannya, dan jatuh kepada Mili yang tidak kalah cantik. Melihat itu, Tante Ana tersenyum. Sudah lama sekali dia ingin menjodohkan anaknya dengan Mili.
"Jeng Laura, Mili sangat cantik. Ando juga gak kalah tampan kan dari Arka. Gimana kalo kita jodohi mereka."
Gilang langsung membulatkan matanya. Bagaimana bisa nyonya yang berada didepannya itu mengatakan ingin menjodohkan anaknya dengan istrinya. Gilang dengan posesifnya langsung saja meraih pinggang Mili.
"Hmm, Maaf Jeng. Mili sudah menikah. dan Itu adalah suaminya. Gilang, seorang Arsitek muda" Ujar Mami Laura dengan sedikit tertawa karena melihat keposesifan Gilang yang sepertinya menular dari Arka.
"Ah, Maaf saya tau. Maaf kan saya Nak Gilang"
Gilang tersenyum sangat manis, menunjukkan ketampanan dan kewibawaannya. "Tidak apa-apa Nyonya"
Setelah bercakap-cakap. Kesya merasa perutnya keroncongan, padahal dia sudah makan banyak dirumah, tetapi jika sudah melihat makanan, perutnya terasa kosong kembali.
" Sayang, aku ke meja prasmanan yaa."
"Aku temani"
" Tidak usah, aku akan pergi bersama Mili."
__ADS_1
" Baiklah, hati-hati ya, dan jangan terlalu jauh"
"Iya sayang"
Kesya dan Mili bergandengan menuju meja Prasmanan yang menghidangkan berbagai macam kue dan buah.
Gilang? Oh dia sedang pergi ke kamar mandi, semalam dia kebanyakan minum es karena menemani sang istri yang ngidam es krim. Dan jika sudah kebanyakan minum es, Gilang akan sering absen ke kamar mandi.
"Ini sangat enak" Ujar Kesya kepada Mili.
"Benar"
Mereka pun menikmati makannya saling tertawa dan bercerita. Di ujung sana, ada sepasang mata yang tengah menatap musuh kepada dua wanita itu. " Kali ini kau tidak akan selamat Kesya, Aku yang akan turun tangan untuk membunuh mu. Aku sudah muak dengan drama kebahagiaan mu." Ujar wanita itu.
Dengan Penuh amarah dan dendam yang menyelimuti, wanita itu memegang sebotol minuman dan membawanya kearah Kesya.
"Kesya" Panggil wanita itu.
Kesya yang tengah tertawa dengan Mili, melihat kearah sumber suara. Kesya membelalakkan matanya saat melihat siapa yang memanggilnya. Kejadiannya sangat cepat.
Bukkkk...
"AAAAAA" Teriak Kesya sambil memegang perutnya.
Perlahan darah segar langsung mengalir dari sela kaki Kesya.
Arka yang mendengar suara teriakan, mengalihkan perhatiannya. Arka langsung berlari kearah sang istri.
" Mbak Kesya" Teriak Mili.
Gilang yang kebetulan sedang berjalan kearah Kesya dan Mili, langsung saja menangkap wanita itu.
Kesya memegang perutnya yang dipukuk dengan Botol minuman dengan kuat. Kesya terjatuh tepat saat Arka berada di belakangnya.
"Masss, s-saakitt" Rintih Kesya dengan air mata yang mengalir.
Arka langsung saja membopong tubuh Kesya, dan membawanya lari kedalam mobil.
Gilang menyerahkan wanita yang telah menyelakai Kesya ke pengawal. Gilang ikut bersama Arka menuju rumah sakit. Begitu pun Mami Laura, Papi Farel, dan Mili.
Arka sudah mondar mandir didepan ruang operasi, dan tak berapa lama pintu terbuka memunculkan seorang perawat.
" Dengan keluarga Nyonya Kesya"
" Saya suaminya"
" Keadaan Nyonya Kesya saat Ini sedang kritis, dia membutuhkan donor darah. Kebetulan persediaan darah di rumah sakit kosong. Golongan Darah Nyonya Kesya AB negatif."
Arka sudah meremas rambutnya. Jangan tanya lagi bagaimana penampilan Arka.
" Ambil darah saya Dok, Ambil sebanyak-banyaknya"
.
.
.
.
.
.
Dukung terus ya cerita author.
LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..
Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..
__ADS_1