KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 127 " Kamu harta paling berharga milikku"


__ADS_3

Kesya dan Arka tengah menikmati sarapan pagi, Setelah sarapan, Arka mengajak kesya shopping sambil berjalan kaki menikmati suasana di kota Paris tersebut. Hingga menjelang malam, Arka mengajak Kesya berfoto di Arc The Triomphe. Mereka selalu mengabadikan apapun kegiatan mereka dan jika menemukan tempat yang unik untuk berfoto.


Yang membuat Kesya takjub, ada saja tempat singgahan yang menarik untuk mereka beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan ke Arc The Triomphe.


" Jadi kamu belum pernah ke sini?"


" Bukannya belum, pernah lewat aja, tapi gak sempat foto-foto. Mas tau sendiri lah. Ayah tu sibuk, dan aku gak punya teman di sini."


" Trus, ada gak tempat yang mau kamu kunjungi?"


" Emm, ada sih Mas, waktu itu gak sempat pergi karena aku nya demam."


" Kemana?"


Kesya tersenyum dan mengecup pipi sang suami.


" Baiklah, Kita kesana besok"


Setelah melewati hari yang melelahkan tetapi sangat menyenangkan. Kesya dan Arka kembali ke hotel dan beristirahat mengumpulkan tenaga untuk hari esok.


Di Toko kue milik Kesya, Sasa sedang bad mood karena toko nya hari ini di penuhi oleh aparat kepolisian. Bukannya menggebrek atau apa, tapi polisi-polisi tersebut sedang beristirahat dan menikmati manisnya cake di toko tersebut.


"Wah, benar-benar enak" Puji salah satu polisi, dan di sambung pujian oleh polisi yang lain.


Sasa benar-benar kesal melihat polisi-polisi tersebut, masa lalunya yang selalu tak jauh dari kantor polisi membuat dia geram dan muak dengan polisi.


" Kak Sasa gak papa? Pucat banget?" Tanya Lena, salah satu karyawan di toko kue.


" Lo jaga kasir ya, mual gue liat tu polisi" Ujar Sasa sambil meninggalkan meja kasir.


Tanpa Sasa sadari, ada seorang pria yang memakai jaket kulit, yang mendengar pembicaraannya. Pria itu mengerutkan keningnya, melihat Sasa yang begitu benci dengan polisi.


" Sasa mana?" Tanya Fadil saat mendapati bukan Sasa yang menjaga meja kasir.


" Di dalam pak, kayaknya lagi kurang enak badan."


Fadil mengangguk-anggukkan kepalanya, dan melihat kesekeliling toko. Fadil tersenyum melihat banyak aparat kepolisian yang tengah menikmati waktu istirahatnya sambil menikmati manisnya kue.


" Pantes aja kabur, rame polisi" Gumam Fadil


Ah, hanya sekedar informasi. Sasa ini orang kepercayaan Fadil, yang sengaja Fadil pekerjakan di toko Kesya untuk menjaga keamanan Kesya di toko. Yaa walaupun sudah ada bodyguard yang menjaga Kesya dari jauh, tetapi tetap aja Arka merasa ada yang perlu menjaga Kesya dari dekat.


Sasa ini jago bela diri, walaupun badannya kecil, tapi dia mampu mengalahkan preman pasar yang berbadan besar dan bertato. Bahkan Sasa pernah melawan mereka menggunakan tangan kosong, sedangkan preman tersebut menggunakan pisau. Sasa ini sebenarnya salah satu preman pasar juga. Eits, jangan negatif thinking dulu, Sasa ini preman baik-baik, suka menolong dan tidak rajin menabung. Karena dia tidak punya uang untuk menabung. Hehehe.. Jadi karena sering nya dia berkelahi, Sasa ini sering di bawa ke kantor polisi, dan karena Sasa juga terkenal salah satu preman pasar, para polisi suka menafsirkan jika Sasa ini juga salah satu pencopet. Padahal mah Sasa di pasar cuma bantu ibu-ibu belanja dan mengangkat belanjaannya. selebihnya Sasa kadang menjadi penjaga parkir liar, atau pun menangkap pencopet yang lewat di depannya.


Yah, maklumlah, orang selalu melihat dari penampilannya, dan menilai sesuai pemikiran mereka.


Jika kalian bertanya bagaimana Sasa bisa bertemu Fadil. Tentu saja saat Sasa membantu Fadil menghajar para preman pasar. Dan saat itu Fadil sering beberapa kali bertemu dengan sasa, bahkan Fadil pernah membantu Sasa keluar dari penjara karena di tuduh sebagai pencopet. Dari situ lah Fadil memberikan pekerjaan kepada Sasa. Awalnya Sasa bekerja di cafe Fadil, namun karena Arka menyuruh Fadil mencari orang yang bisa di percayai untuk menjaga Kesya di toko, Fadil memilih Sasa untuk bekerja di toko kue milik Kesya. Lumayan lah, Double gajinya. hi..hii.hi..


" Mas Bara?" tegur Puput saat melihat ada Bara bersama teman-temannya di cafe cake milik Kesya.


" Puput?"


Puput pun mencium tangan Bara, layaknya seorang adik.


Puput juga dekat dengan bara, karena lamanya Puput berteman dengan Kesya, jadi Puput juga sudah di anggap adik oleh Bara.


" Pacar kamu?" Tanya Bara kepada pria yang berada di sebelah Puput.


" Bukan Mas, teman aku. Oh ya, kenalin, ini Ando. Ando, ini Mas Bara. Abangnya Kesya."


"Ando"


" Bara"


Mereka pun bersalaman sambil menyebutkan nama mereka masing-masing. Fadil yang baru keluar dari ruangan peristirahatan karyawan toko pun langsung menghampiri Bara. Tadi dia


tidak melihat Bara saat masuk kedalam toko.


"Hai Bar, Apa kabar? kapan Sampek?" Tanya Fadil dan bersalaman ala pria.


" Baik, tadi pagi Sampek"


" Acara apa nih?, Rame banget?"

__ADS_1


" Oh, pelantikan. Soalnya gue di pindah tugaskan di sini mulai sekarang."


"Wah, selamat ya mas" Ujar Puput dan kembali menyalami Bara.


" Makasih. Btw, Lo Fadil kayaknya ada saingan nich?" Goda Bara.


" Biar pun banyak kumbang yang mendekati Puput, tetap aja Hati Puput gak akan berpindah Bar" Ujar Fadil sambil mengerlingkan matanya ke arah Puput.


" Geer banget sih" Jawab Puput, dan mempersilahkan Ando untuk duduk di meja yang biasa mereka duduki.


Sedangkan Fadil memilih duduk di dekat jendela, hanya berselang 1 meja dengan meja Bara, kemudian membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa pekerjaan, Dan Bara kembali bergabung bersama teman-temannya. Tak berapa lama Sasa datang dengan membawa Map dan menghampiri Fadil.


" Nih"


" Jutek amat sih, duduk sini Napa?".


"Males gue, banyak coklat pait"


" Kalo Lo gak duduk sini, yang jelasin laporannya sapa?"


Sasa mencebikkan bibirnya. " Lagian Napa gak di ruangan dalam aja sih?"


" Menghindari fitnah"


" Gaya Lo, Eh Lo gak cemburu gitu Mbak Puput sama Mas ganteng itu? Kayaknya sering banget mereka ketemuan di sini"


Emang Sasa bakal ngomong Lo gue kalo hanya sudah berdua dengan Fadil.


" Biarin aja, gue percaya sama dia. Lagian kalo jodoh gak kemana kan?" Jawab Fadil santai.


"Ya sih"


Tak berapa lama kumpulan para polisi pun pergi meninggalkan cafe cake milik Kesya. Dan salah satu pria yang menggunakan jaket kulit menghampiri meja Fadil.


" Gue ganggu?"


" Ya gak lah, duduk aja"


Pria itu pun mendudukkan dirinya di sebelah Fadil. Dan otomatis berhadapan dengan Sasa. Sasa yang mengetahui pria yang berada didepannya ini adalah seorang polisi, langsung menatap Fadil sinis.


Fadil sudah ingin tertawa melihat wajah Sasa yang langsung berubah jutek.


" Sa, kenalkan ini Bara, Abangnya Kesya"


Sasa langsung melototkan matanya, gak nyangka jika Bos nya itu memiliki Abang seorang polisi.


" Bar, kenalin ini Sasa, tangan kanannya Kesya"


"Bara" Ujar Bara sambil menjulurkan tangannya.


Sasa hanya memandang tangan Bara tanpa niat membalas uluran tangan Bara.


" Sa" Tegur Fadil.


" Hmm, Sasa" Ujar Sasa dan menyambut tangan Bara dengan cepat kilat, Bisa di katakan hanya menempel diujung jari.


" Jutek amat Sih Lo"


" Bapak tau alasannya, saya permisi" Ujar Sasa dan meninggalkan Bara dan Fadil.


Bara menyunggingkan sudut bibirnya.


" Awas Naksir Bar, tu cewek galaknya minta Ampun"


Bara melirik kearah Fadil, kemudian kembali menatap Sasa.


" Napa tu cewek? Jutek amat?"


" Dia punya masa lalu yang tidak menyenangkan dengan polisi, makanya dia benci banget dengan yang berbau polisi"


Bara pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Bara masih menatap Sasa yang tengah berbicara di telepon, tiba-tiba wajah Sasa berubah menjadi tegang. Setelah mengakhiri panggilannya, Sasa berjalan ke arah Fadil.


" Lo yakin Puput garis hijau?"

__ADS_1


Fadil yang merasa pertanyaannya di tujukan olehnya pun menengadahkan kepalanya, " Iya, kenapa?"


Sasa langsung saja memberikan ponselnya kepada Fadil. " Dia masih di awasi, dan setau gue ini bukan preman yang kayak anak buah Lo sampein, gue udah tanya sama teman gue. "


"Puput kenapa?" Tanya Bara.


" Oh, waktu itu dia nolongin orang, trus dia sekarang yang di kejar."


" Bisa saya liat?" Tanya Bara kepada Sasa sambil menunjuk ponsel Sasa.


Sasa memberikan ponselnya. " Anda yakin ini bukan preman?"


" Ntah, gak tau. Situ kan polisi, nilai aja sendiri" Ujar Sasa dan mengambil kembali ponselnya lalu meninggalkan Fadil dan Bara.


" Salah gue apa?" Tanya Bara entah kepada siapa.


Di Negara lain, Kesya dan Arka tengah bersiap-siap untuk menikmati makan siang mereka, setelah berjalan-jalan menikmati pameran lukisan yang kebetulan sedang di selenggarakan di sana.


" Oh ya Mas, kita bawa apa ya untuk Ayah dan Mama?"


" Emm, gimana kalo satu set perhiasan?"


Kesya membelalakkan matanya. " Mas yakin? Di sini kan Mahal-mahal"


" Gak ada kata Mahal kalo untuk kamu dan keluarga kamu. Ayah kamu kan Ayah Mas juga sekarang."


Kesya tersenyum dan mengecup pipi Arka. "Makasih ya Mas"


Setelah beranjak sore, Arka mengajak Kesya ke tempat yang sangat ingin sekali Kesya datangi. Place De La Concorde, di mana terdapat kincir angin raksasa, yang mana dari ketinggiannya mampu menampilkan keindahan kota Paris. Lampu-lampu yang berkelap kelip membuat mereka terlihat seperti bintang dari atas sana.


" Makasih banget ya Mas" Ujar Kesya sambil memeluk lengan sang suami.


Arka menarik dagu Kesya dengan lembut hingga wajah mereka saling berhadapan. Perlahan Arka mendekatkan wajahnya, hingga bibir mereka kembali bertemu.


Keesokan hari nya, Arka dan Kesya kembali mencari hadiah untuk Sang Mama dan Ayah. Karena siang ini mereka rencananya akan makan siang bersama di rumah Ayah Nazar.


" Yang ini kayaknya bagus dech" Ujar Kesya, menunjuk satu set perhiasan yang simple tapi terlihat elegan.


" Iya, Cocok buat Mama"


Setelah Deal dengan perhiasan, mereka mencari jam tangan untuk Ayah Nazar.


" Yang ini gimana? Lebih modis." Ujar Arka.


" Hmm, kayaknya cocok sama Ayah. Biar nampak lebih muda"


Kesya membelalakkan matanya saat melihat struk pembayaran. 1 Jam tangan seharga 150jt. Kesya hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Di pandangnya wajah arka yang dengan santainya tersenyum kepada Kesya.


"Emang beda ya kalo sultan" Gumam Kesya sambil bergidik ngeri.


Kepala Kesya rasanya sudah berdenyut nyeri, Mampukah dia membalas kebaikan Arka?


" Jangan difikirkan, Kamu harus ingat. Orang tua kamu, berarti orang tua Aku. Jadi berapapun yang yang aku keluarkan, semua itu juga uang milik kamu. Harta ku, harta mu juga" Bisik Arka.


" Mas, Harta yang paling berharga untukku adalah kamu. aku udah sangat bersyukur karena kamu memaksa aku menikah dengan mu"


" Jadi ceritanya terpaksa nih"


" Iih, nyebelin deh" Ujar Kesya sambil mencubit pinggang Arka.


"Aawws" Ringis Arka sambil mengelus pinggangnya yang di cubit oleh Kesya.


.


.


.


.


.


Dukung terus ya cerita author.

__ADS_1


LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..


Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..


__ADS_2