
" Jangan pernah berani menyentuhnya."
Quin dan Jamal serentak menoleh kearah sumber suara. Abi dengan langkaj besar menghampiri Quin dan merangkul pinggangnya.
Ya, pria itu adalah Abi. Abi mencari Quin saat menyadari Quin tidak lagi berada di dalam pesta.
Jamal tersenyum miring saat melihat Abi merangkul pinggang Quin, dan Quin terlihat nyaman akan perlakuan Abi.
Ada rasa tertusuk di hatinya saat melihat pemandangan itu. Apa Jamal cemburu? Gak mungkin kan? secara Jamal memiliki dendam pribadi kepada Quin. Tepatnya kepada keluarga Quin.
" Aku hanya ingin mengobrol dengan mantan kekasih ku. Apa tidak boleh?"
" Jelas.. Karena Quin tak Sudi berbicara dengan orang seperti mu." Jawab Abi.
" Benarkah? atau karena Quin masih mencintaiku?"
Quin menatap Jamal dengan geram, namun ekspresi nya sangat datar.
" Kau terlalu yakin bung." Ujar Abi dengan smrik mengejek.
Jamal terkekeh dengan kepala yang digeleng pelan.
" Aku adalah cinta pertamanya Quin. Tentu saja aku sangat yakin. Quin hanya mencintai aku.." Ucap Jamal dengan yakin.
" Benarkah?"
Abi yang ingin menjawab perkataan Jamal pun kembali menelan kata-katanya saat mendengar suara Quin.
" Apa aku pernah melakukan hal ini kepada mu?"
Quin menolehkan kepalanya kewajah Abi, dan menangkup wajah Abi. Quin berjinjit dan mengecup bibir Abi. Quin menempelkan bibirnya lama, membuat agar Jamal yakin jika Quin tak mencintainya lagi. Abi yang mendapat ciuman mendadak dari Quin pun terkejut dan dengan cepat merubah ekspresinya. Ada sesuatu yang menggelitik perutnya saat Quin menciumnya duluan.
Quin menjauhkan wajahnya, namun Abi dengan cepat menahan kepala Quin dan merengkuh pinggangnya hingga mengikis jarak di antara mereka.
Quin membelalakkan matanya saat merasakan Abi melu**at bibirnya dengan lembut. Ingin memberontak, tapi fikiran dan hati Quin seolah tak sejalan. Hatinya menyuruh untuk mendorong tubuh Abi, namun fikirannya mengatakan untuk membiarkan Abi menciumnya.
Entah apa yang ada di fikiran Quin, yang jelas Abi membiarkan Abi mencium bibirnya dengan lembut di hadapan Jamal. Quin dengan refleks mengalungkan tangannya di leher Abi, perlahan mata Quin tertutup dan menikmati apa yang Abi lakukan kepadanya.
__ADS_1
Jamal terlihat kesal dan mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras beserta matanya yang memerah. Jamal merasa dada nya terbakar melihat Quin menikmati dan membiarkan Abi, pria yang saat ini resmi menjadi tunangannya mencium dirinya. Jamal tak sanggup melihat pemandangan tersebut, dan memilih pergi meninggalkan dua sejoli yang tengah berciuman itu.
Di sisi lain, sepasang mata biru juga menyaksikan adegan tersebut. Satu bulir bening jatuh membasahi pipinya.
" Aku harap kamu bahagia."
Pria bermata biru itu pun membalikkan tubuhnya meninggalkan hotel M Moza, di mana tempat berlangsungnya acara pertunangan Quin dan Abi.
Lana ...
Pria bermata biru itu melajukan mobilnya yang juga berwarna biru gelap dengan kecepatan tinggi. Air matanya terus mengalir tanpa izin dari nya. Lana memarkirkan mobilnya di salah satu club terkenal di sana. Lana masuk dengan mudah, karena pemilik club' ini adalah salah satu artis dari manajemen nya.
" Bos.." Tegur seorang bartender yang juga di kenal oleh Lana.
" Buatkan aku satu kinuman terbaik." ucap Lana dengan tatapan kosong.
" Bos yakin?" Bartender tersebut terlihat ragu, karena Lana sekalipun tak pernah menyentuh minuman haram tersebut.
" Lakukan saja pekerjaan mu." Ujar Lana menatapnya tajam.
Bartender tersebut membuatkan satu gelas vodka, yang langsung di terima oleh Lana dan meneguknya. Lana meringis saat merasakan lidah dan tenggorokannya seakan terbakar.
" Apa?" Ujar Lana galak.
" Bos ... Bos ... Gak gitu cara minumnya." Ujar pria tampan yang bernama Marcel itu.
" Minumnya secara perlahan, seperti ini." Marcel pun memperagakan cara meminum Vodka.
" Bukan urusan mu."
Marcel tertawa, sehingga membuat ketampanannya menjadi sorotan.
" Jika tak bisa minum, sebaiknya jangan minum. Aku takut kau akan khilaf bos."
" Shut up"
Marcel kembali terkekeh.
__ADS_1
" Aku tau ini yang pertama, Apa ini soal cinta?"
Lana tak menggubris ucapan Marcel, dan memilih memesan satu gelas Vodka lagi. Malam ini Lana ingin melupakan ingatannya tentang Quin yang tengah berciuman mesra dengan Abi.
Marcel tersenyum miring, dan meminta bartendernya yang juga tangan kanannya untuk menjaga Lana.
Marcel yang juga seorang DJ pun meninggalkan Lana sendirian, sebelum berlalu, Marcel sempat menepuk bahu Lana, memberitahunya jika ia meninggalkan meja.
Sudah 3 gelas Vodka, kesadaran Lana pun mulai berkurang. Lana mulai meracau. Setiap wanita yang ingin mendekati Lana, selalu di usir oleh bartender tersebut.
Lana meraih ponselnya, dan membuat panggilan.
Terdengar suara sambungan hingga berganti dengan suara seorang wanita.
" Quin, kau membuat ku gila. hiikkss... Quin.. hikkss.... "
Kepala Lana terjatuh di atas meja, dengan ponsel yang masih menempel di pipinya. Bartender tersebut meraih ponsel Lana, dan mengatakan jika saat ini Lana sudah mabuk berat. Wanita itu meminta alamat di mana Lana berada saat ini. Bartender itu menyebutkan alamat club' milik Bos nya yang tengah bermain DJ.
" Lana Bodoh.." Umpat wanita itu dan bergegas mendatangi lokasi di mana Lana berada.
Assalamualaikum..
maaf ya, aku up nya lama..
karena ada musibah di dunia nyata ku..
Ibunda tercinta ku sudah berpulang ke Rahmatullah..
mohon doa teman2 semua agar beliau di terima di sisi Allah, dan di lapangan kuburnya..
Amin..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.