
Kesya sangat senang, Bisa membantu Vina memandikan Baby Zein, setidaknya rasa rindunya terhadap anaknya tergantikan.
" Kamu belum melihat anak Gilang?" Tanya Vina, saat ini kesya sedang menaburi minyak telon dan babu oil, untuk memijat lembut tubuh baby Zein.
" Belum, Rencana hari ini kami akan pergi"
Oh ya, selama Vina menginap di rumah Mami Shella, Kesya juga meminta kepada Arka untuk menginap di rumah Mami Shella. Arka? Tentu saja dia ikut menginap, mana bisa Arka jauh dari istrinya yang menggemaskan itu. Dan satu lagi, Kesya saat ini lagi mogok bicara dengan Bara, karena tidak memberikan kabar kepadanya jika dia sudah di pindah tugaskan ke Jakarta.
" Masih ngambek sama Mas Bara?"
" Hmm, nyebelin. Hal penting begini bisa-bisa nya dia menyembunyikannya dari ku"
Vina terkekeh, bukan menyembunyikan, tapi dia tidak ingin mengganggu waktu mu bersama Arka.
" Wah, Nona Kesya sangat lihai ya dalam memijit tubuh Bayi. Sudah bisa atuh Non kasih Tuan Muda keturunan." Ujar Baby sister Zein.
Kesya tersenyum kecut, sedangkan Vina sudah melayangkan tatapan tajam kepada Baby sister yang bernama Ratna itu.
" Maaf Non, Apa saya salah bicara?" Tanya Ratna tanpa dosa.
" Gak kok, saya dan Mas Arka sedang berusaha. Mbak Ratna doakan saja ya, semoga kami cepat di beri keturunan kembali"
" Aminn"
Baby Zein terlihat nyaman di pangkuan Kesya. Lihat saja, bahkan di tangan Mami nya sendiri Baby Zein tidur tidak senyaman di gendongan Kesya.
" Sayang, Ada Jodi di luar" Ujar Mami Shella saat masuk kedalam kamar Vina.
Kesya mencium wajah baby Zein, kemudian memberikannya kepada Vina. Kesya mengamb tasnya dan bersiap untuk pergi ke Toko kue. Ya, Kesya juga sudah rindu dengan suasana toko kue miliknya, sekalian Kesya juga ingin memberikan oleh-oleh kepada pekerjanya.
Sesampainya di Toko kue, Kesya langsung di sambut hangat oleh Pegawainya, terutama Sasa.
" Wah, 2 bulan gak ketemu Mbak Kesya, makin cantik aja"
" Iih, kamu Sa. apanya yang cantik, gosong iya kulitnya."
Mereka pun tertawa. Pandangan Kesya tertuju kepada sepasang sejoli yang sedang bergandengan tangan masuk kedalam toko.
" Duh, penganten baru. Oleh-oleh buat gue udah jadi belum?" Ujar Puput ikut menggoda Kesya.
" Doa kan saja ya."
Puput dan Kesya pun duduk di salah satu bangku cafe, Fadil sedang menerima panggilan telepon. Tak berapa lama Ando datang dengan seorang wanita yang terlihat masih snagat cantik. Ya, Ando datang bersama Tante Ana.
" Kesya, apa kabar? Tante dengar kamu baru pulang dari honeymoon?" Ujar Tante Ana sambil cipika cipiki kepada Kesya.
" Iya Tante, Tante apa kabar?"
" Tante baik. Eh, ada Puput. Aduh, Tante udah lama sekali ingin ngajak Puput makan bersama. Siang ini mau ya makan bersama Tante. Tante mohon.." Ujar Tante Ana sambil memelas, " Kamu juga ikut ya Kesya"
" Maaf Tante, saya sudah janji dengan Mas Arka."
" Kalo gitu kamu ya put, temenin Tante. Tante bosan di temenin sama Ando terus."
" Ma" Tegur Ando.
Karena paksaan yang membuat Puput terpojok, dan tidka punya pilihan, akhirnya Puput menyetujuinya.
" Oh ya, Tante boleh gabung kan? Tante rindu dengan cake yang pernah Puput pilihin dulu"
Tante Ana memesan beberapa potong Cake, dan itu juga termasuk untuk Puput. Kesya permisi meninggalkan meja karena Sasa ingin menjelaskan laporan selama Kesya tidak berada di toko. Tinggallah Puput, Andi, dan Tante Ana.
Fadil tadinya ingin bergabung menghampiri Puput, namun Fadil merasa segan karena ada nyonya besar yang duduk bersama Puput. Puput mengirimkan pesan kepada Fadil, mengatakan jika Tante Ana memaksanya untuk ikut makan siang bersama mereka. Fadil menghela napas kasar, mau taknmau dia memberikan Puput izin, karena tidak enak juga menolak permintaan dari Nyonya besar seperti Tante Ana. Jika hanya Ando saja, sudah pasti Fadil menolaknya dengan keras.
Kesya mendengarkan dengan serius penjelasan dari Sasa. Dalam hati Kesya bangga, Sasa ternyata bisa di andalkan. Kesya dan Sasa keluar dari ruangan kerja Kesya yang berada di lantai 2. Kesya langsung memasang wajah cemberuy saat mendapati wajah Baranyang tersenyum sumringah.
__ADS_1
" Gak usah senyum-senyum"
" Iih, adek Mas masih ngambek aja. Nih, Mas ada sesuatu untuk kamu"
Kesya dengan wajah cemberut mengikuti bara duduk di cafe. Kesya mengedarkan pandangannya, sudah tidak da lagi Puput, Ando dan Tante Ana. Lalu Fadil ke mana?
" Sa, tolong bantuin gue" Teriak Fadil yang kesusahan membuka pintu karena membawa 1 karung tepung.
Dengan gerak cepat Sasa membantu Fadil. "Ada lagi?" Tanya Sasa.
"Banyak tu di mobil"
Sasa keluar dan membantu mengangkat barang belanjaan yang dikirimkan oleh toko langganan Kesya. Jadi sekarang, Kesya atau Sasa tidak perlu lagi repot-repot jika ingin memesan bahan baku. Cukup mengetik pesan, transfer, tunggu deh sampai pesanannya di antar.
Kesya terkejut karena melihat Bara yanh tiba-tiba saja berdiri, dan mengambil alih semua barang yang berada di tangan Sasa.
" Kamu itu udah mungil, Jangan bawa yang berat-berat, nanti makin mungil"
Kesya melihat kearah Bara yang memandang Sasa dengan berbeda. Tapi tidak dengan Sasa, yang terlihat ada rasa tidak suka dan tidak nyaman berada di dekat Bara.
Tidak ingin memancing keributan, Sasa kembali keluar dan mengangkat barang bawaan yang terakhir.
" Bandel banget sih dibilangin, Sini" Bara merampas barang yang ada di tangan Sasa.
" Aduh, usah deh. Gak usah sok baik sama gue. Gue udah biasa bawa barang berat. Jadi Lo gak usah sok kasihan" Kesal Sasa. dan berjalan sambil menubruk lengan Bara.
" Aww"
Sasa berbalik, dan meraih tangan Bara. " Masih sakit?" Ujar Sasa yang tersirat rasa khawatir.
Bara tersenyum jahil.
Bukkk..
"Aw, itu beneran sakit."
Semua tingkah mereka tidak luput dari pandangan Kesya.
" Ada apa Mas Bara dengan Sasa?" Tanya Kesya entah kepada siapa, yang jelas saat ini ada Fadil yang baru duduk di dekatnya.
" Ntah, kayaknya Bara suka deh sama Sasa."
Kesya melihat kearah Fadil. " Mas Bara itu orangnya setia, gak mungkin Mas Bara dengan mudah bisa berpaling"
Sebenarnya hati Kesya membenarkan perkataan Fadil, namun otaknya berkata jika Bara adalah orang yang setia. Kesya tau seberapa besar perjuangan Bara menaklukkan hati Lia, tunangan Bara. Dan tidak mungkin semudah itu Bara bisa berpindah kelain hati.
Lamunan Kesya buyar karena mendapatkan ciuman di keningnya dari Arka. Kesya sampai tidak sadar akan kehadiran suaminya.
" Mas"
" Ngelamunin apa?"
" Hah, oh itu__"
" Ar, kapan sampai"
" Saat Mas gombalin karyawan terbaik di sini"
Tawa Bara seketika pecah. " Bisa aja Lo Ar"
Tak berapa lama wanita cantik yang menjadi tunangan sang Kakak pun datang dengan menggunakan baju dinasnya. Terlihat berwibawa dan sangat cantik.
" Kesya"
" Mbak Lia"
__ADS_1
Mereka pun bercipika cipiki. Oh ya, waktu pernikahan Kesya dan Bara, Lia tidak bisa datang karena orang tua Lia yang kebetulan juga berada di rumah sakit. Jadi Lia tidak pernah bertemu dengan Arka. Dan ini kali pertama Lia bertemu Arka.
" Kenalin Mbak, ini suami aku"
" Hai, aku Lia, tunangannya Bara"
" Arka"
Arka mengerutkan keningnya, sepertinya dia tidak asing dengan wajah Lia. Tapi di mana? Ah mungkin pernah liat di salah satu album foto milik Kesya dan Bara.
Arka dan Kesya pamit undur diri, karena mereka sudah janji akan makan siang di rumah Gilang. Dan ini sudah terlambat untuk makan siang. Semoga saja Gilang tidak marah karena keterlambatan mereka
Hanya butuh 25 menit Duda mengendarai mobil untuk sampai di rumah Gilang. Maksudnya rumah orang tua Gilang. Ya karena Gilang anak satu-satunya, jadi Gilang tidak diizinkan pergi dari rumah oleh orang tuanya. Dan untungnya Mili setuju untuk tetap tinggal di rumah orang tua Gilang.
" Wah, lihat siapa yang datang" Ujar Gilang dengan wajah cemberut.
" Sorry deh sorry. Tadi gue__"
Iya... iya.. Nyony Arka yang sibuknya melebihi suami." Ujar Gilang yang mana membuat Kesya terkekeh.
Kesya dan Arka masuk kedalam rumah Gilang, dan di sambut hangat oleh Mama Gilang. Pertama kali yang Kesya rasakan saat masuk adalah, ruangan yang penuh wewangian jamu melahirkan. Dan benar saja, Kesya melihat Mili yang di keningnya masih menggunakan Pilis. Yang biasa di pakai oleh orang habis melahirkan. Dan Kesya, sangat suka. Sama seperti rumah Mami Shella, karena Mami Shella juga masih menerapkan tradisi orang tua dulu.
Kesya sangat gemes dengan Bayi lucu milik Gilang dan Mili. Wajahnya benar-benar mengikuti wajah Gilang yang kebulek-bulekan. Maklum, Gilang keturunan German.
" Siapa namanya sih cantik?" Ujar Kesya sambil menoel-noel pipi gemes tembemnya.
" Fatih Tante" Ujar Mili dengan suara yang di buat seperti anak-anak.
" Wah, bagus banget namanya. Fatih sama Tante yukk"
Kesya pun meraih Fatih dari gendongan Mili. Fatih terlihat sangat tenang, namun tiba-tiba Kesya merasa tangannya basah.
" Fatih ngompol ya" Ujar Kesya.
" Itu tandanya dia sayang sama kamu" Ujar Mama Gilang.
Kesya memberikan Fatih kepada Mili. Mili tidak menggunakan Baby sister, karena dia ingin menjaga anaknya sendiri, lagian Mama Gilang sangat banyak membantunya.
" Mbak, ganti baju dengan baju ku aja ya"
Kesya pun menganggukkan kepalanya, Fatih sudah berada di dalam gendongan Mama Gilang. Sedangkan Mili membawa Kesya ke kamar mereka, untuk Kesya mengganti bajunya.
Kesya kembali dengan keadaan dengan menggunakan baju Mili. Mama Gilang langsung saja mempersilahkan Kesya dan Arka untuk makan siang yang sudah terlambat. Kesya, Arka, Gilang, dan Mama Gilang menikmati makanan dari masakan Mama Gilang yang tak kalah enaknya. Sedangkan Mili bersama Fatih di ruang keluarga.
Mama Gilang merasa tidak enak dengan hadiah yang diberikan oleh Kesya dan Arka untuk Fatih. Mereka memberikan cincin Emas putih untuk Fatih, serta beberapa perlengkapan bayi dan mainannya.
" Aduh, jadi repotin kamu dan suami mu Key"
" Gak kok Ma, anak Gilang anak key juga"
Mama gialng sangat beruntung, anaknya memiliki sahabat yang baik seperti Kesya dan Puput. Dan beruntung juga bahwa Mili menjadi menantunya, karena Mili sangat perhatian dan sangat apik dalam mengurus perlengkapan Gilang.
Bahagia itu sebenarnya sederhana, hanya perlu saling mengisi setiap kekosongan yang ada, bukannya saling menyalahi.
.
.
.
.
.
Dukung terus ya cerita author.
__ADS_1
LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..
Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..