
Mata Zein membola saat melihat betapa seksinya Kayla saat ini. Kemeja warna biru yang melekat pada tubuh Kayla pun, terlihat sangat menggoda. Tubuh kayla yang kecil dan ramping, tenggelam di dalam kemeja Zein.
"Kak, tadi aku pesan makanan sama Raysa, mungkin sebentar lagi dia akan datang," ujar Kayla sambil mengancingkan baju kemejanya.
Zein tak mendengar apa yang Kayla katakan, matanya fokus menatap paha putih Kayla yang terekpos, di tambah lagi gerakan Kaki Kayla yang tak sakit membuat sesuatu di bawah sana bergerak gelisah.
"Kak," panggil Kayla saat tak mendapatkan jawaban dari Zein.
"Hah?" Zein pun menatap Kayla dengan tatapan dan wajah yang tak bisa di artikan normal. Katakan saja, jika saat ini Zein terlihat seperti orang bengong yang sedang menatap ke arah makanan yang sangat lezat akan tetapi tak dapat izin dari orang tuanya untuk menyentuh makanan tersebut.
"Kakak lihat apa?" tanya Kayla dan mengikuti arah pandang Zein.
Kayla membolakan matanya saat sudah mengetahui ke mana arah mata sang suami, yang mana sedang tertuju ke arah pahanya yang terekspos.
Dengan cepat, Kayla menarik selimut dan menutupi pahanya.
"Yah, kok di tutup?" tanya Zein dengan lesu.
"Eng, itu..."
"Kan udah muhrim," ujar Zein masih dengan wajah memelas.
"A-aku takut kalau lama-lama lihatnya, kakak bisa khilaf."
Zein menghela napasnya pelan, apa yang di katakan oleh Kayla ada benarnya. Tak berapa lama bel pintu kamar mereka pun berbunyi.
"Siapa yang malam-malam gini ganggu?" tanya Zein kepada Kayla.
"Mungkin Ica, tadi aku titip makanan dengannya."
"Kamu lapar?"
"Heum, tadi kan aku makannya cuma dikit."
"Iya sih, ya udah aku buka pintu dulu yaa," ujar Zein dan beranjak menuju pintu.
"Hai pengantin baru?" sapa Fatih dan Jo, yang mana membuat Zein memutar bola matanya malas.
"Ngapain ke sini?" tanya Zein galak.
"Lah, tadi binik Lo pesan makanansama calon binik gue. Nih, gue yang beliin, secara gue gak mau kalau calon binik gue kelelahan harus naik ke lantai ini dan menyaksikan kesedihan Lo. Mending kami kan yang menyaksikannya," ujar Fatih sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Zein sudah menggerutu kesal. Bagaimana tidak, Fatih dan Jo sengaja datang hanya untuk melihat penderitaan dirinya saja yang tak bisa menikmati malam pertamanya.
"Udah sana, pergi Lo pada. Bosan gue lihat muka Lo," gerutu Zein sambil menyambar kantong plastik yang di bawa oleh Fatih.
"Selamat bersolo ria yaa, ha..ha.." tawa Fatih dan Jo pun pecah.
Zein langsung menutup pintu dengan kasar dan tak menghiraukan ejekan sang sahabat.
'Bersolo ria? Tentu saja, Sepertinya Zein akan bersolo ria malam ini, secara sejak melihat paha Kayla tadi, adik Zein yang selalu bersembunyi di dalam sarangnya, sudah bergerak gelisah.
"Kok di banting pintunya? Emangnya siapa yang antar makanan?" tanya Kayla yang menebak jika bukan Raysa yang mengantar. Karena, jika Raysa, tak mungkin Zein akan berlaku kasar seperti tadi.
"Si Fatih sama Jo," ujar Zein sambil berjalan ke arah meja yang ada di dalam kamar.
"Kamu pesan martabak?"
"Iya," Kayla yang memang terkadang menggunakan tingkat pun, berjalan pelan ke arah Zein.
"Eh, ngapain samperin ke sini? Kalau mau ke sini bilang aja, kan bisa aku gendong."
"Gak papa, lagian kaki aku yang satu lagi kan harus di gerakin juga."
Zein membantu Kayla berjalan, memegangi lengannya agar Kayla tak terjatuh saat berjalan menggunakan tongkat.
Kayla mendudukkan dirinya di kursi, Zein membuka bungkusan plastik dan mengeluarkan martabak manis super jumbo dengan isi yang lumer dan melimpah.
"Wow, Abang Fatih emang tau banget selera aku," seru Kayla dengan wajah yang sumringah saat melihat keju dan coklat yang sangat banyak.
"Aku juga tau kesukaan kamu, bahkan aku juga tau berapa ukuran kamu," Ujar Zein yang mana membuat Kayla menatapnya dengan satu alis terangkat.
Perlahan, Kayla mengangkat kedua tangannya membentuk menyilang di depan dadanya. seketika senyum Zein pun mengembang saat melihat reaksi Kayla. Zein mencondongkan tubuhnya ke arah Kayla dan menopang dirinya di setiap sisi meja dan kursi.
"Kenapa? Malu? Kan aku pernah temani kamu beli Bra, ingat gak? Bahkan waktu di luar negri, aku pernah beliin kamu celanadalam, saat kamu lagi datang bulan. Ingat gak?" goda Zein dengan wajah mesumnya.
"A-apaan sih. Gak jelas banget," ujar Kayla dengan wajah memerah.
Tangan nakal Zein pun turun untuk menyentuh paha Kayla yang mulus.
"Hmmppp..." Kayla menahan rasa geli yang tiba-tiba saja menjalar ke seluruh tubuh ha bagaikan sebuah sengatan listrik.
Kayla menutup matanya untuk menahan rasa geli yang membuat jantung serta bulu kuduknya meremang.
__ADS_1
"Kok tutup mata? Katanya lapar?" Goda Zein yang masih meraba paha Kayla dengan halus.
"Ka-kakak jatuhan dikit, aku gak bisa napas" ujar Kayla akhirnya.
Zein mengulum senyumnya dan menjauh dari Kayla. Wanita itu pun menghembuskan napasnya yang sedari dia tahan saat Zein menyentuh kulit pahanya.
"Ayo makan," ujar Zein tanpa dosa.
Dalam hati, Kayla hanya mampu menggerutu kesal karena ulah Zein yang membuatnya salah tingkah. Sedangkan Zein, sudah mengulum bibirnya, menahan senyum dan tawa saat melihat wajah Kayla memerah merona, persis seperti kepiting rebus dan tomat yang sudah masak dengan matang.
Kayla menyuapkan satu potong martabak ke dalam mulutnya, rasa manis, gurih, dan asin yang menyatu menjadi satu, membuat dirinya rileks dan melupakan kejadian yang baru saja dia alami.
" Enak banget," ujar Kayla dengan mulut yang penuh.
"Pelan-pelan makannya, sayang."
Zein memperhatikan sang istri yang tengah menikmati martabak dengan toping kesukaannya itu.
Setelah makan, Zein menggendong Kayla ke dalam kamar mandi untuk menyikat giginya. setelah itu, Zein kembali menggendong Kayla dan membawanya ke tempat tidur.
"Kakak mau ke mana?" tanya Kayla saat melihat Zein tak membaringkan tubuhnya di sebelah dirinya.
"Mau ke kamar mandi. aku kan belum bersihin diri."
"Oh, iya. Kakak mau aku tungguin?" tanya Kayla.
"Gak usah, kamu tidur aja. Perut kakak juga rasanya tak enak, mungkin akan lama di dalam kamar mandi," ujar Zein.
Ya, sakit perut adalah alasan yang tepat untuk mengelabui Kayla, agar tak bertanya kenala dirinya lama di dalam kamar mandi.
"Mau aku ambilin minya kayu putih? Kebetulan aku ada bawa"
"Gak usah, kamu tidur aja ya." Zein mengusap kepala Kayla dan mengecup keningnya dengan sayang.
"Selamat malam istriku."
setelah mengatakan kata manis itu, Zein berlalu ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan apa yang membuatnya sesak di bawah sana.
...Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa......
...Jangan lupa, Follow Ig authornya juga ya.....
__ADS_1
...Rira_Syaqila...