
Arka tengah termenung memandangi langit gelap berkelioan bintang-bintang.
" Sayang, udah malam, masuk yukk" Ajak Kesya.
Arka menoleh kearah Kesya, kemudian dia mengulurkan tangannya, dan Kesya pun meraihnya. Arka menarik pelan tangan Kesya untuk duduk di atas pangkuannya.
" Sayang, masa kecil kamu gimana?"
" Masa kecil?"
" Hmmm"
" Emm, seperti anak-anak lain pada umumnya."
" Maksud Mas, apa kamu pernah manjat pohon, atau permainan apa aja yang pernah kamu mainkan?"
Kesya mengerutkan keningnya, kenapa suami tercintanya ini tiba-tiba bertanya masa kecilnya.
" Dulu aku, Mbak Vina, Mas Bara, suka main kejar-kejatan, sembunyikan, galah panjang, kasti, dan kalo hujan, kami suka keliling kampung bersama anak yang lain untuk mandi hujan. Sepulang dari itu, kami bertiga kena hukum dengan Mami. Kalo manjat pohon, jelas pernah dong. D rumah dulu ada pohon jambu, kamu sering berlomba untuk memanjatnya siapa yang duluan. Tapi aku selalu kalah, karena aku yang paling kecil." Kesya bercerita dengan sangat antusias, sedangkan Arka tidak kalah antusiasnya mendengar ceritanya.
Arka membatin, ternyata kehidupan masa kecil orang biasa lebih menyenangkan walaupun mereka tidak memiliki fasilitas permainan canggih sepertinya. Bermain dengan alam ternyata lebih menyenangkan, Arka berjanji jika anaknya lahir, Arka akan mengajaknya bermain dengan alam seperti anak-anak yang lain pada umumnya.
Sudah sebulan Kesya mengikuti Arka ke kantor. Ya walaupun tragedi saat para pemegang saham memergoki mereka sedang bermain lempar-lemparan tepung, Kesya menolak untuk mengikuti Arka kembali ke kantor, namun Arka dan Papi Farel meyakinkan Kesya, jika semua bukanlah masalah besar.
Sedangkan di sebuah rumah megah yang lain, Ando tengah memaki anak buahnya yang gagal membuat Fadil sibuk dengan usaha kecil-kecilannya itu. Rencana Ando untuk memperistri Puput sepertinya harus di tunda agak lebih lama. Dan harus menggunakan Plan B untuk menjebak Puput, karena melihat betapa Puput dan Fadil semakin nempel harinke harinya. Bahkan mereka juga sudah mulai mempersiapkan pernikahan mereka.
" Ma, Ando tidak mau tau, pokonya Mama harus tetap membantu Ando"
__ADS_1
" Sayang, Puput anak yang baik, Mama tidak tega melihat dia mende__"
" Menderita? Apa maksud Mama Ando tidak pantas mendampingi Puput? atau Mama ragu jika Ando mampu membahagiakan Puput?" Ujar Ando dengan sedikit berteriak.
" Maafin Mama sayang, Mama tidak bermaksud berkata seperti itu" Ujar Tante Ana dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
" Alah, sudah lah Ma, intinya Mama harus bantu Ando mendapatkan Puput. Hanya Mama satu-satu nya harapan Puput. Andi mencintainya Ma, sangat mencintainya. Ando mau Puput menemani Ando hingga Ando tiada nanti Ma" Ujar Ando dengan mata yang berkaca-kaca dan sudah berlutut di hadapan Tante Ana.
Tante Ana tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa juga menolak keinginan Ando, anak semata wayangnya. Satu-satunya keturunan keluarganya. Andai saja Ando bisa memiliki keturunan, mungkin tidak akan semenyedihkan ini kehidupan Ando. Ando pasti sudah bahagia dengan pernikahannya dulu.
Di sisi lain, Puput dan Fadil tengah melihat-lihat undangan pernikahan. Mereka memilih undangan yang terlihat sederhana tetapi elegan. Kemudian mereka juga melakukan fitting baju. Fadil sangat bahagia melihat kebahagian Puput. Bahkan saat Fadil sedang mempersiapkan pernikahannya bersama Renata, Fadil tidak merasakan sebahagia dan seantusias ini. Fadil bersyukur, mendapatkan Puput yang mau menerima keadaan dirinya, dan tidak mempermasalahkan masa lalu kedua orang tuanya.
Semenjak usaha Fadil ada yang mengerjai, Arka menyuruh anak buah nya untuk memantau keadaan di setiap sudut. Sedangkan pekerjaan kantor Arka yang mengambil alih, agar Fadil bisa fokus membenahi usahanya, dan fokus dengan persiapan pernikahannya. Keinginan Arka untuk pulang ke kampung Duda pun harus di tahannya.
" Sayang, bagaimana kalo weekend ini kita ke kampungnya Duda?" Ujar Arka.
Arka pun menceritakan alasan dia ingin ke kampung Duda. Arka bertanya kepada Duda, bagaimana masa kecilnya, dan apa saja yang dia lakukan. Arka ingin merasakan apa yang pernah di rasakan Duda saat kecil. Terutama memakan Mie instan di atas pohon dan mandi sungai serta pulang basah-basah.
" Hmm, kamu ini ada- ada aja deh Mas. Aku terserah kamu aja, yang penting selalu bersama kamu"
Arka berjalan kearah sang istri, kemudian memeluknya. " Makasih sayang, semoga si twin sehat selalu ya."
Ya, Alhamdulillah kandungan Kesya yang sudah masuk 20 Minggu itu sangat kuat. Bahkam Dokter tidak mempermasalahkan jika Kesya melakukan perjalanan keluar kota. Karena kondisi ibu dan bayi yang terbilang sangat sehat. Hanya saja saran Dokter untuk tidak terlalu mendapatkan goncangan yang teramat kuat.
Kesya mengambil potongan cake dan menyuapkannya kemulut Arka. Arka terlihat sangat menikmati cake buatan Kesya.
" Cake kamu memang sangat nikmat sayang, sama seperti kamu" Ujar Arka dan mencium bibir Kesya.
__ADS_1
Apa kalian tau? Jika sudah begini mereka akan melakukan adegan panas di ruangan Arka, dengan semua fantasi liar Arka yang yang semakin menjadi-jadi. Arka mengunci pintu dengan remote, kemudian menggendong Kesya dan mendudukkan Kesya di atas mejanya. Dan mereka akan melakukannya di sana. Seperti apa yang terlintas di fikiran Arka. Kesya? apa boleh buat, dia akan menerima perlakuan Arka dengan senang hati. Semenjak kehamikannya ini, hormon seksualnya sepertinya semakin bertambah.
Duda mengerjapkan matanya berkali-kali saat mendengar permintaan Arka untuk pulang ke kampung halamannya yang berada di Malang, dan tujuan Arka untuk pulang ke kampungnya.
" Bos yakin? rumah saya itu kecil, gak ada AC, banyak nyamuk, panas, dan saya takutnya Bos tidak nyaman"
Ya, Arka menolak untuk tidur di hotel, karena Arka ingin menikmati bagaimana rasanya kehidupan menjadi orang biasa. Dan kehidupan Duda di masa kecil menjadi daya tariknya.
" Kamu gak mau terima saya di rumah kamu?"
" Buk-bukan gitu Bos. Tapi.."
" Sudahlah, jangan banyak bantah, buat persiapan untuk keberangkatan besok"
Duda hanya menganggukkan kepalanya, Dia tidak bisa membantah sang Bos. Bukannya Duda tidak senang jika Bosnya itu mampir ke rumahnya di kampung, namun Duda ragu apa Bosnya itu bisa nyaman dengan keadaan rumahnya yang kecil dan masih belum ada renovasi. Bukannya gaji yang Duda dapatkan kecil dan tidak mampu merenovasi rumahnya yang dikampung. Namun Duda lebih memilih membeli sawah, Agar orang tuanya tidak perlu menyewa sawah orang lain untuk menanam padi, dan Duda juga membiayai 2 adiknya yang masih kuliah. Salah satu adiknya kuliah di kedokteran. Dan itu atas permintaan Duda, untuk membantu warga sekitar yang ingin berobat.
" Udah, Lo ikuti aja kemauan si Bos. Nasehat Jodi.
" Gue cuma takut kalo si Bos bukannya menikmati suasana yang di inginkan ya, melainkan malah susah untuk tidur."
Jodi hanya mengangkat bahunya. Sebagai anak buah mereka hanya bisa mengikuti keinginan Bosnya itu. Seperti kemarin, Jodi harus memakai pakaian layaknya Bruce Lee, dan menirukan beberapa adegan yang menarik bagi Arka. Hingga Jodi menjadi pusat perhatian dari semua orang, karena dia yang biasanya menggunakan pakaian formal berwarna hitam, berubah menjadi pakaian ketat berwarna kuning terang. Dan Jodi harus sabar akan hal itu. Di mana dia harus menjadi bahan tertawaan dari seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan M-company.
** Hai readers...
Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...
Terima kasih. Salam KesAr.
__ADS_1