KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 198


__ADS_3

Sudah sebulan kepergian Kakek Farel, tetapi rasa kehilangan itu masih juga dapat di rasakan.


Rumah utama yang di tempati oleh Kakek Farel dan juga Oma Laura pun, akhirnya di tempati oleh Mami Anggun dan Papi Leo. Bahkan, Lucas selama sebulan ini, juga ikut tinggal di rumah tersebut.


"Oma, gimana kalau kita jalan-jalan?" ajak Lucas.


"Mau ke mana? Oma belum boleh keluar rumah, Lucas," ujar Oma Laura.


"Ke taman saja. Ayo," ajak Lucas dan menggandeng tangan Oma Laura.


Lucas dan Oma Laura pun duduk di bangku yang ada di taman bunga tersebut.


"Haaah, udaranya segar sekali," seru Oma Laura sambil menghirup aroma bunga yang memang sedang bermekaran.


"Lucas," panggil Oma Laura.


"Ya, Oma."


"Menikahlah, karena keinginan terlahir kakek adalah melihat kamu menikah," ujar Oma Laura.


Lucas terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Kakek sebenarnya sangat khawatir dengan kamu, bukannya kakek tak tahu, jika kamu adalah orang yang sulit untuk di sentuh," lirih Oma Laura.


"Mungkin, jika kamu sudah menikah, Oma yakin, jika kamu perlahan akan bisa merasakan bagaimana nikmatnya surga dunia." Oma Laura menyentuh tangan Lucas dan mengusap punggung tangan cicitnya itu.


"Oma yakin, Kamu tidak akan lagi merasa jijik untuk bersentuhhan dengan orang asing. Karena wanita itu adalah istrimu," lirih Oma Laura dengan tersenyum.


Lucas menatap dalam ke arah mata Oma Laura, di dalam keluarga mereka, hanya dirinya lah yang berbeda dari yang lain. Lucas memang enggan di sentuh oleh orang asing. Bahkan, saat dirinya menyentuh pasien pun, pria itu selalu membersihkan tangannya dengan handsanitizer, setelah memeriksa pasiennya, pria itu kembali membersihkan tangannya kembali dengan handsanitizer.


Lucas putus dengan pacarnya, Stella, karena pria itu enggan untuk melakukan kontak fisik, seperti pegangan tangan atau pun berciuman. Stella merasa jika Lucas bukanlah pria normal, karena wanita itu juga menginginkan menjalin hubungan layaknya pasangan normal lainnya yang dapat berpegangan tangan, berpelukan, dan juga berciuman. Maka dari itu, walaupun masih ada rasa cinta di antara mereka berdua, hubungan mereka berakhir karena Stella yang lebih memilih kehidupan yang lebih normal dalam menjalin hubungan asmara.


Beberapa Minggu pun berlalu dengan cepat, tiba-tiba saja keluarga Moza di gemparkan dengan kabar tentang Lucas. Ya, pria itu di kabarkan telah tidur dengan seorang model cantik yang sedang naik daun, saat mereka berada di kapal pesiar.


Kedua belah pihak keluarga pun sepakat untuk menikahkan mereka berdua untuk menjaga nama baik pada kedua belah pihak keluarga.


"Gak nyangka jika Lucas akan menikah dengan cara seperti ini," lirih Quin kepada kepada Anggel sambil menatap sepupunya itu yang baru saja menyelesaikan ijab kabul.


Tak ada pesta meriah yang mengundang para kerabat dan sahabat, hanya keluarga besar pada kedua belah pihak saja yang hadir sebagai saksi sahnya pernikahan Lucas dan sang istri.


"Hmm, semoga saja pernikahan mereka bisa langgeng," sambung Anggel yang juga merasa iba dengan nasib Lucas dan juga iparnya itu kedepan.


Beberapa bulan kemudian.


Quin yang sedang berjalan-jalan pagi pun bersama sang suami tercinta, tiba-tiba saja merasakan ada cairan yang mengalir dari pangkal pahanya.

__ADS_1


"M-mas Abi," lirih Quin dengan jantung yang berdebar.


Abi yang sedang melakukan perenggangan otot pun menoleh ke arah sang istri. Pria itu sudah mengambil cuti untuk menjadi suami siaga di saat sang istri sudah memasuki hari perkiraan lahiran.


"Ya?"


Mata Abi langsung melotot di saat Quin menunjukkan kakinya yang sudah di aliri oleh air yang berwarna bening bercampur darah.


"Quin, ka-kamu mau lahiran," panik Baik dan langsung menggendong Quin ke dalam gendongannya.


"A-abi, aku takut jatuh. Jangan berlari," lirih Quin sambil merasakan sesuatu yang mulai mengaduk perutnya.


"Iya sayang," jawab Abi dan memelankan langkahnya.


"Veer, siapkan mobil!" pekik Abi saat melihat iparnya itu ingin masuk ke dalam rumah.


"A-abi, pelankan suaramu, telingaku sakit," lirih Quin.


"Maaf sayang,"


Veer yang melihat Abi sedang menggendong Quin pun langsung bergegas menghampiri ipar dan kembarannya itu.


"Ada apa dengan Quin?" tanya Veer dengan sedikit panik.


"Sepertinya Quin mau melahirkan," ujar Abi.


"Ve-veer, pelankan suaramu, telinga ku sakit." lirih Quin sambil menjambak rambut Abi.


Pria itu pun meringis kesakitan, tetapi dia menahannya.


"Ada apa ini teriak-teriak?" tanya Papa Arka dan menghampiri Quin, Abi, dan juga Veer.


"Pa-papa, sakit," lirih Quin.


Papa Arka langsung menarik kerah baju Abi. "Kamu apakah anak saya, hah? Sampai dia kesakitan?" tanya Papa Arka.


"Pa, tenang. Quin mau melahirkan," ujar Veer.


"Apa? Quin mau melahirkan?" tanya Papa Arka dan melihat jika kaki Quin sudah basah dengan Ari ketuban.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat bawa Quin ke rumah sakit," pekik Papa Arka dan dengan panik ingin mengambil Quin dari gendongan Abi.


"Pa, Maaf," lirih Abi sambil menahan Quin tetap pada gendongannya.


"Kenapa?" tanya Papa Arka.

__ADS_1


"Buk-bukannya ingin meremehkan Papa. Tapi, apa Papa yakin jika Quin berada di gendongan Papa?" tanya Abi.


Papa Arka menggerutu kesal, pria paruh baya itu hampir memarahi sang menantu jika sang istri tidak datang.


"Cepat, ayo masukkan Quin ke dalam mobil. Jangan berdebat di sini," ujar Mama Kesya.


Ya, saat Abi berteriak memanggil Veer, Mama Kesya juga ikut mendengarnya dan langsung menyiapkan perlengkapan bayi dan juga Quin untuk di bawa ke rumah sakit.


Abi pun berjalan mengikuti Veer menuju mobil, sedangkan Papa Arka masih kesal dengan ucapan sang menantu.


"udah, Abi ada benarnya kok. Papa itu udah tua, jadi otomatis tenaganya tak sekuat dulu," ujar Mama Kesya.


"Sayang, kamu---"


"Udah, nanti aja melow-melownya. ayo kita susul Quin ke rumah sakit.


Di tempat lain, Lana juga sedang panik karena Anggel merasakan kontraksi. Untungnya saat ini mereka tinggal bersama Oma Mega, jadi banyak sang ahli yang membantu mereka sehingga tak membuat Lana begitu panik.


Sesampainya di rumah sakit, mobil yang di kendarai oleh Veer dan juga Zein pun tiba berbarengan. Mereka bergegas menurunkan pasien dari mobil masing-masing.


"Anggel mau lahiran sekarang juga?" tanya Mama Kesya kepada Mami Vina.


"Iya, Quin juga?"


"Iya, ya udah, yuk kita masuk ke dalam." ajak Mama Kesya.


Abi dan Lana sudah seperti setrikaan tak panas, yang mondar mandir di depan pintu bersalin.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Mama Kesya yang mana membuat Lana dan Abi menghentikan langkahnya.


"Menunggu," jawab keduanya secara bersamaan.


"Cepat masuk ke sana, Quin dan Anggel membutuhkan kalian," kesal Mama Kesya yang mana membuat Abi dan Lana pun bergegas masuk ke dalam ruang bersalin.


"Key," panggil Mama Puput.


"Put," Mama Kesya dan Mama Puput pun saling berpelukan. Karena sebentar lagi mereka akan menantikan kehadiran cucu mereka.


"Ar," sapa Papa Fadil.


"Dil, gimana kabar Lo?" tanya Papa Arka.


"Baik. Sebenatr lagi gue bakal jadi kakek," ujar Papa Fadil dengan bangga.


"Gue juga. Hahhaa.." keduanya pun tertawa dengan lantang tanpa melihat sekeliling.

__ADS_1


"Papa, bisakah kalian diam?" pekik Mama Kesya dan Mama Puput bersamaan.


__ADS_2