KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2- SULTAN KHILAF 121


__ADS_3

Anggel tak fokus dengan pekerjaannya hari ini, ia banyak melamun memikirkan Lana yang tak memberikan kabar keapdanya. Bahkan Lana telah memblokir semua akses yang bisa Anggel hubungi.


"Kamu jahat banget sih, Na."


Anggel mantap ponselnya yang mana wallpapernya adalah foto Lana dan dirinya. Air mata Anggel pun jatuh membasahi pipi nya. Anggel menarik napasnya dalam-dalam, mengeluarkan nya seacara perlahan. Namun sesak yang ada di dadanya masih saja terasa. Anggel pun menangis di dalam ruangan prakteknya.


Pintu terbuka dan menampilkan asisten Anggel.


"Maaf Dokter," Ujarnya merasa bersalah.


Anggel menghapus air mata nya dengan cepat.


"Tak apa."


"Dokter gak papa? jika Dokter masih kurang enak badan, Dokter bisa mengalihkan pasien ke dokter siska."


"Apa Dokter siska mau?"


"Akan saya tanyakan."


"Tolong kamu alihkan ya, saya masih kurang enak badan."


"Baik dok."


"Terima kasih ya."


Anggel membereskan semua barangnya setelah asistennya meninggalkan ruangan praktiknya. Anggel merapikan riasan nya yang luntur karena diri nya menangis tadi. Anggel keluar dari ruangannya dan langsung menunduk memohon maaf kepada para pasiennya.


"Maafin saya ya ibu-ibu, saya lagi kurang enak badan." ujarnya kepada ibu-ibu hamil yang tengah mengantri untu di periksa olehnya.


"Iya buk Dokter, semoga cepat sembuh ya." ujar beberapa pasien Anggel yang memang sudah menjadi pasien tetapnya setiap berobat.


Anggel memesan taksi online dan memberikan alamat rumah Mama Puput.


*


"Anggel? sama siapa sayang? Ayo masuk."


Anggel langsung memeluk Mama Puput dan dan menangis.


"Loh, kenapa sayang?"


Mama Puput pun membiarkan Anggel menumpahkan air matanya di dalam pelukan nya.


Seorang Art memberikan minuman segar kepada Anggel dan Mama Puput.


"Udah tenang?" Tanya Mama Puput. Saat ini mereka sudah berada di ruang keluarga.


Anggel menganggukkan kepalanya.


"Kamu kenapa nangis? Mau cerita ke Mama?"


"Ma, Hiks ... Anggel cinta Lana, tapi Lana tinggalin Anggel Ma, hiks ..."


Mama Puput merasa sedih mendengar curhatan dari Anggel tentang perasaaan nya. Tapi inilah yang di inginkan Mama Puput, bukan hanya Oma Mega yang ingin mengetahui seberapa besar cinta Lana kepada Anggel, akan tetapi Mama Puput juga ingin mengetahui berapa besar perjuangan Anggel untuk meluluhkan hati Lana.


"Lana pergi karena Mama yang minta. Lana gak tinggalin Anggel."


Anggel menghentikan isak tangisnya, ia menatap wajah Mama Puput dengan Nanar.


"Tamu kamu terlambat sayang, Mama sudah melamar seorang wanita untuk Lana, di saat Mama mendengar kamu akan di nikahkan dengan Martin."


Anggel merasa dada nya semakin bergemuruh.


"Kamu tahu, Lana sudah seperti orang gila karena kehilangan kamu. Mama yang meminta dia untuk melepaskan kamu. Maafin Mama. Mama berfikir, dengan adanya wanita lain mungkin Lana akan bisa melupakan kesedihannya."


"Mama bohong kan?"


"Tidak sayang, Mama berkata jujur. Bahkan malam ini kami berencana untuk melamarnya."


"Ma, jangan ... hiks ..."


"Jangan bagaimana sayang? Mama ingin sekali menjadikan kamu menantu Mama, Tapi kamu sudah di lamar oleh lain. Bahkan kamu akan menikah bulan depan."


"Hiks, Anggel gak cinta Martin, Ma. Hikks ... Anggel cintanya Lana."


"Mama tau, tapi mau bagaimana lagi? Kamu tau kan Martin itu dari keluarga terhormat dan terpandang. Lagian katanya kamu yang menyetujui untuk menikah dengan Martin."


Anggel terkejut mendengar perkataan Mama Puput. Anggel pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Gak Ma, Anggel gak pernah minta untuk di jodohkan dengan Martin, Anggel juga gak pernah minta untuk menikah dengan Martin."


"Tapi Mama dengarnya begitu sayang."


"Hiks, Ma, tolongin Anggel."


"Hmm ... Apa yang harus Mama lakukan?"


"Tolong batalin perjodohan Anggel, Ma."


"Bagaimana caranya? Kamu tau kan kalo hubungan Mama dengan Mami kamu sedang tidak baik?"


"HIks, Apa yang harus Anggel lakukan Ma. Hiks ... Anggel gak mau menikah dengan Martin."


"Hmm, baiklah, nanti Mama akan mencoba berbicara dengan Mama Kesya ya."


Anggel pun menganggukkan kepalanya.


Dalam hati, Mama Puput sudah bersorak gembira karena Anggel mendatanginya dan mengungkapkan perasaannya kepada Lana.


Setelah menghabiskan waktunya hampir sehatian di rumah Mama Puput. Bahkan Anggek meminta izin untuk tidur di kamarnya Lana, Mama Puput pun memberikannya Izin. Hanya agar Anggel bisa melepaskan rindunya kepada Lana.


*


"Ma, Anggel pamit pulang ya ..."


"Loh, kamu pulang sama siapa? Di antar supir ya,"


"Gak usah Ma, Angeel bisa pulang naik taksi kok."


"Kalo begitu biar Papa dan Mama yang antar, ya."


"Gak usah Ma, Anggel beneran bisa pulang sendiri."


"No bantahan."


Anggel pun terdiam dan menghela napasnya.


"Tunggu sebentar ya, Mama bilang sama Papa dulu."


Mama Puput pun pergi dari hadapan Angel untuk menemui sang suami yang berada di dalam ruangannya. ATk berapa lama Mama Puput dan Papa Fadil pun sudah siap dengan pakaian yang rapi.


"Makasih ya Ma, Pa. udah repot-repot mau antar Anggel."


"Iya Sayang, gak repot kok."


Anggel pun turun dari mobil setelah mencium punggung tangan Mama Puput dan Papa Fadil.


Sepeninggalan Anggel, Papa Fadil mengungkapkan isi hati nya.


"Papa gak tega lihat Anggel seperti itu."


"Hmm, Mama uga, tapi ini semua ulah anak kita Pa, ya mau gimana lagi."


"Hmm, cinta tapi permintaannya aneh-aneh aja."


"Pusing Mama Pa melihat percintaan anak-anak kita. Gampang sebenarnya, tapi kok jadi rumit ya?"


"Biar kerasa kali perjuangannya."


"Mau bilang kayak Papa gitu? yang nyusuli Mama ke pulau?"


"Siapa suruh melarikan diri."


"Tapi kalo Mama gak melarikan diri, mungkin kita gak akan pernah memiliki Lana."


"Iya, dia adalah anugerah terbesar dalam hidup kita."


"Iya, karena dia kita bisa lebih saling mencintai satu sama lain."


"Semoga Lana bisa menjadi jmebatan kita ke surga."


"Amin .."


Mama Puput dan Papa Fadil pun turun dan memasuki rumah Oma Shella. Ada sesuatu hal yang harus mereka bicarakan.


*


Tok ... tok ... tok ...

__ADS_1


"Quin," panggil Veer dari luar kamarnya.


Abi yang merasa terganggu tidurnya pun mengerjapkan matanya. Ia menoleh kearah jam yang ada di dinding, sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari.


"Quin,' panggil Veer lagi sambil menetuk pintu kamar Quin dengan pelan.


Sebenarnya Veer segan mengetuk pintu kamar Quin dan Abi, namun ia terpaksa karena merengek ingin cake ynag di buat oleh Quin saat di toko tadi.


Quin merengganggangkan tubuhnya du saat merasakan goncangan pelan di tubuhnya yang memaksanya untuk membuka mata.


Perlahan Quin pun membuka matanya, "Ada apa Abi?" tanyanya dengan suara yang serak.


"Veer sepertinya memanggil kamu."


"Benarkah?"


Quin memandang ke arah jam dinding, jika bukan hal yang penting, Veer tak akan mungkin membangunkannya. Quin pun turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya. MAsih ada Veer di sana dengan wajah cemasnya.


"Kenapa?"


"Maaf aku ganggu kamu malam-malam, ajarin aku buat cake diagonal coffe."


"Hah? Sekarang?"


"Hmm, Nafi tiba-tiba ingin memakannya."


"Baiklah. tunggu sebentar."


Quin kembali masuk kedalam kamar dan berbicara kepada Abi.


"Kenapa?"


"Veer minta di ajarkan membuat cake."


"Malam-malam begini?"


"Untuk Nafi."


"Oh, aku temenin ya!"


"Iya."


Quin dan Abi pun turun berbarengan menuju dapur. Di sana sudah ada Veer dan Nafi. Tapi Nafi sudah tertidur dengan kepala yang bersandar di atas meja.


"Kenapa Nafi di biarin tidur di situ?"


"Aku udah suruh dia nunggu di kamar, tapi katanya mau lihat proses pembuatannya."


"Hmm, di bangunin sayang, kamu angkat ke sofa aja deh Veer."


"Ya udah, bentar ya."


Veer pun menggendong Nafi berpindah ke sofa. Sedangkan Quin langsung mengeksekusi bahan yang ada, tak lupa mencatat apa-apa saja bahannya dan bagaimana cara pembuatannya. Cake diagonal coffe ini bukan cake yang sulit, karena cara pembuatanny sangat mudah sekali. Tak butuh waktu lama dalam pembuatannya, cake diagonal coffe pun sudah siap dalam waktu 45 menit.


Quin pun membawakan hasil yang sudah masak ke dekat Nafi, di mana Veer juga ikut berbaring di sana karena Nafi yang memeluknya erat.


"Masih tidur?" Ujar Quin dengan berbisik.


Namun aroma cake yang baru matang membuat Nafi membuka matanya, dan menatap cake tersebut yang kasih menggepul asapnya dengan binar.


"Maafin aku ya udah ganggu tidurnya." ujar Nafi merasa bersalah.


"Gak masalah, yang penting kamu dan adik bayi nya sehat."


 


Yuukkk..


follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF

__ADS_1


__ADS_2