KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 61


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Quin selalu di kawal ketat ke mana pun ia pergi. Sebenarnya Quin tak nyaman dengan situasi saat ini, Quin merasa seakan tak bisa bernapas dengan lega. Walaupun toko kue tetap ramai dan semakin ramai karena ingin melihat senyuman Quin yang ramah, namun tetap saja pintu masuk toko terasa sangat mengerikan. Bahkan setiap pengunjung harus melalui pemeriksaan ketat.


" Walaupun pemeriksaannya udah kayak mau ketemu presiden, tetap aja ramai yaa.." ujar Cici, salah satu karyawan di toko.


" Iyaa, karisma Mbak Qila semakin bersinar. Siapa sangka kita bisa sedekat ini dengan mbak Qila, kayak mimpi tau gak.."


" Heum.. Mana orangnya baik banget. Gak kayak anak orang-orang kaya pada umumnya. Sombong. Bahkan setelah statusnya sebagai keturunan Moza terungkap pun, Mbak Qila masih bersedia melayani pelanggan."


" Iyaa bener, salut gue sama sama didikan Bos Nyonya."


" Tapi siapa yang sangka, jika jodohnya Mbak Qila dengan pak dokter hewan. Dokter tampan.. Aaaahhh... putus harapanku."


" Makanya, sebelum jatuh cinta, sadar diri aja dulu. Mana mungkin orang setampan Dojter Abi mau sama Lo."


" Yaa kan siapa tau jodoh. Eli Sugigi aja suami nya tampan-tampan."


" Ya beda, dia artis yang banyak duitnya. kalo Lo? hahaha ...."


" Aww..." Quin meringis saat tangannya terkena pecahan kaca yang tanpa sengaja Quin pecahkan.


Pengawal yang berjaga langsung melindungi Quin, serta memeriksa keadaan Quin. Lala dan karyawan lain sampai berdebar saat mereka langsung di suruh mundur memberi jarak dari Quin dan berkumpul.


" Aku gak papa kok." Ujar Quin saat pengawal pribadinya melihat kondisi tangannya.


" Maaf Nina, ini harus segera di obati."


Quin hanya menghela napas, inilah salah satu alasan Quin tak ingin memiliki pengawal. Kondisi toko pun menjadi sedikit tegang, karena pintu langsung di tutup dan semua pelanggan di jaga ketat dengan tatapan mata yang tajam dari para pengawal.


Tangan Quin sudah selesai di obati, tak berapa lama terdengar suara grusuk dari depan, sehingga Quin pun menoleh.


" Abi?" Gumamnya saat melihat Abi datang dengan langkah besar dan terlihat tergesa.


Quin terkejut saat Abi langsung memeluknya, seolah menyalurkan rasa syukur di saat melihat Quin baik-baik saja. Abi pun merelaikan pelukannya.


" Kamu gak papa?" Tanya Abi sambil menangkup wajah Quin..


" Aku gak papa, Hanya terkena serpihan kaca aja."


" Kenapa bisa sampai kenapa?" Abi menatap seluruh karyawan dan pengawal Quin.


" Apa yang kalian lakukan sehingga Quin bisa terluka?" Ujar Abi dingin dengan tatapan mata yang tajam.


Seketika semua orang langsung menundukkan wajahnya karena takut.


"Abi.." Quin menyentuh lengan Abi, sehingga Abi menoleh kepada nya.


" Aku gak papa, aku tadi gak sengaja menyenggol gelas hingga gelas tersebut pecah dan mengenai tangan ku. Dan jangan marah sama mereka, mereka gak salah kok."


Abi menghela napasnya, " Beneran kamu gak papa?" Tanya Abi dengan lembut.


" Iyaa, aku gak papa. Lagian udah di obati kok sama Desi."


Desi adalah anak kedua dari Duda dan Lena. Di mana Desi sedari kecil sudah di latih dan di bekali dengan ilmu beladiri serta ilmu kesehatan. Bukan atas perintah Duda, namun Desi sendirilah yang meminta untuk menjadi pengawal pribadi Quin. Desi dan Quin memang sering bermain bersama sedari kecil, sehingga Desi yang menyadari posisinya pun membuat permintaan kepada sang ayah, untuk menjadikan dirinya kuat agar bisa melindungi Quin saat dirinya besar nanti. Dan cita-cita Desi pun tercapai, yaitu menjadi pengawal pribadi Quin.

__ADS_1


" Lain kali___"


" Abi.." Quin memotong ucapan Abi dengan meremas lengan Abi dengan lembut, sehingga Abi kembali menoleh kepada Quin.


" Aku gak papa, lagi pula ini bukan salah mereka. Jangan marahi mereka yaa.." Ratu Quin.


Abi menghela kembali napasnya, kemudian mengangguk. Abi sadar, jika Quin benar-benar berbeda dari wanita manapun. Quin tak ingin orang lain menerima amarah orang lain karena kesalahan Quin sendiri.


" Ayoo.."


" Kemana?"


" Ke klinik."


"Ngapain?"


" Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik aja."


" Bilang aja mau dua-duan." Gumam Quin yang masih terdengar oleh Abi.


" Tau aja.. Yuukk.."


" Gak mau ah di klinik, Di rooftop aja yuuk.."


" Rooftop?"


" Iyaa, yuukk.." Quin pun menarik Abi untuk ke atas tangga menuju Rooftop toko miliknya. Dan ini, untuk pertama kalinya Quin mengajak Abi ke tempat favorit nya bersama Veer.


Abi terperangah saat melihat atap gedung toko kue. Sebelumnya Abi pernah melihat dari gedungnya, tapi Abi tidak terlalu memperhatikannya, dan ini.. Ini adalah kali pertama Abi ke sini, dan ini sungguh indah.


" Veer... " Quin duduk di atas bantal dan me-relaks kan dirinya. Abi pun duduk di dekat Quin.


Abi meraih tangan Quin yang udah terbalut sama perban.


" Apa sakit?" Tanyanya dengan tatapan sendu.


" Enggak."


Namun Quin mengernyit di saat melihat jari jemari Abi terlihat memar. Quin pun meraih tangan Abi dan menyentuh memar-memar tersebut.


" Ini kenapa?" Tanya Quin terlihat khawatir.


" Terjatuh, di kamar mandi."


Bohong, tentu saja Abi berbohong. Karena Abi tak ingin membuat Quin merasa bersalah karena dirinya yang terlalu memfostir tubuhnya untuk belajar bela diri demi melindungi Quin.


" Abi, jangan bohong." Ujar Quin.


" Aku serius." Ujar Abi dengan menatap Quin dan tersenyum.


Quin menghela napasnya pelan. " Aku tau kamu bohong Bi."


Quin menekan Bahu Abi sehingga membuat Abi meringis. Quin menatap Abi dengan kesal, sedangkan Abi hanya menyengir kuda.

__ADS_1


" Apa yang terjadi dengan tubuh mu? Apa luka saat pengeroyokan saat itu masih terasa sakit?"


" Tidak, bukan karena itu."


" Lalu?"


" Quin, Aku benarkan jatuh di kamar mandi. Percaya lah.."


Quin menghela napasnya, kemudian ia menyembunyikan wajahnya di atas sela lututnya.


" Quin.." Abi menyentuh bahu Quin.


" Aku lelah Bi, "


" Kenapa?"


" Aku hanya ingin bebas seperti dulu, tanpa ingin ada nya penjagaan ketat seperti ini."


Abi meraih tubuh Quin, Dan membawa Quin kedalam pelukannya.


" Sebentar lagi, sebentar lagi semua akan kembali normal."


" Seberapa lama Bi? Aku lelah, aku hanya ingin hidup layaknya orang normal lainnya. " Quin memposisikan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Abi.


" Aku juga rindu jajanan pinggir jalan. " Quin memainkan jarinya, " Kamu tau sendiri kan, selera ku merakyat, Lidah ku Indonesia banget."


" Emangnya kamu pingin apa?" Abi memainkan rambut Quin, sedangkan Quin memainkan kancing lengan panjang baju Abi.


" Aku pingin mie balap!!"


" Mie balap? emang ada?"


Quin menengadah dan memandang wajah Abi.


" Dasar om-om tajir, kelamaan di luar negri sih.."


" Makanya, kamu cepet-cepet nikah sama aku, biar aku tinggal di sini untuk selamanya."


Quin menatap dalam ke mata Abi, tak ada kebohongan, bahkan Quin melihat Abi mengatakannya dengan serius.


" Aku serius Quin. Menikah lah dengan ku secepatnya.."


Abi mengelus pipi Quin, mata mereka bertemu dan saling mengunci, hingga Abi mendekatkan wajahnya. Perlahan Abi semakin mendekatkan wajahnya, hingga hembusan napas Quin terasa di kulit wajah Abi.


" Eh, maaf Mbak... Aku gak liat.."


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2