
Puput merasa menggeliat dan merasa jika mobil yang di tumpanginga tidak bergerak. Dia mengerjapkan matanya, dan melihat ke kursi kemudi. Tapi Puput tidak menemukan Fadil di sana, Puput ingin keluar, tapi hujan yang lebat menahannya untuk tetap berada di dalam mobil.
Tak berapa lama pintu mobil terbuka dan menampilkan Fadil yang bajunya sedikit kebasahan. Mungkin di karenakan percikan hujan yang terbawa angin, karena payung yang di gunakan fadil kecil.
" Kenapa?"
" Ada kecelakaan di depan, ada pohon tumbang juga, jadi kita terpaksa berhenti di sini"
" Hmm, untung aku beli roti tadi kan, kalo gak bisa kelaperan dan kehausan kita"
Fadil terkekeh mendengar ucapan Puput. Di saat genting seperti ini, dia masih memikirkan perutnya. Tapi tubuhnya Puput tetap aja langsing, mungkin di karenakan Puput yang rajin olah raga, berbeda dengan Kesya yang lebih memilih memeluk guling ketimbang lari pagi"
"Kamu beli apa aja? Kayaknya aku ketularan kamu deh, kelaperan"
" Ih, enak aja bilangin aku kelaperan, aku bukannya kelaperan, cuma masih dalam pertumbuhan aja"
" Apa nya yang mau di tumbuhi?" Goda Fadil.
" Cinta aku ke kamu." Ujar Puput di dalam hatinya.
" Kok diam"
" Nih, makan roti sobek aja," Puput pun menyodori roti sobek yang berisi coklat.
Mereka makan dalam diam di dalam mobil. Hingga tanpa sadar sudah dua bungkus roti yang habis mereka lahap.
Puput bergerak gelisah, karena udara dingin memancing dirinya untuk segera membuang air yang tak terpakai di tubuhnya.
" Kenapa?" Tanya Fadil yang menyadari gerakan Puput.
" Emm, mau pipis, gimana nih?"
Fadil melihat ke luar, untungnya mobil yang di kendarai nya tidak lagi berada di antara pepohonan, melainkan sudah ada kios kecil ataupun rumah warga.
" Itu ada kios, coba aja numpang di situ, Mau?"
" Iya boleh, dari pada pipis di sini"
Fadil memayungi Puput dan berjalan kearah kios pinggir jalan. Untungnya si pemilik kios berbaik hati dan mempersilahkan Puput untuk menggunakan kamar mandinya. Fadil juga tidak ingin kehilangan kesempatan, setelah Puput selesai, dia juga masuk kedalam kamar mandi.
" Ini buk, sebagai ucapan terima kasih dari kami" Ujar Fadil sambil menyodorkan uang seratus ribu kepada sang ibu yang sekaligus pemilik kios kecil tersebut.
" Gak usah pak, saya iklas membantunya"
Puput meraih uang tersebut, dan menambahkan uang tersebut, di dekati anak bayi yang sedang tertidur di dalam ayun, dan di letakkan uang tersebut di bawah selimut sang bayi yang Puput tebak umurnya masih 1 tahun kebawah.
" Untuk beli jajan ya sayang" Ucap nya.
" Ya ampun buk, gak perlu repot-repot"
" Gak repot kok, kebetulan aja ada rezeki sedikit, jadi si adek kebagian rezekinya. Rezeki anak gak boleh di tolak buk"
" Ya ampun buk, terima kasih banyak ya. Saya doakan semoga pernikahan ibu sama bapak langgeng selalu dan selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah." Doa si ibu tulis.
" Eh, it__"
" Terima kasih doa nya buk, semoga di jabah sama Allah" Ujar Fadil memotong kata-kata Puput.
Puput sudah tersenyum kikuk, kemudian berpamitan kepada sang ibu si pemilik kios tersebut.
__ADS_1
Mereka melindungi diri dari hujan yang masih deras dengan menggunakan payung tadi. Otomatis baju Puput yang berwarna cream mencetak pakaian dalam Puput karena terkena basah.
Puput melap bajunya yang basah menggunakan tisu. Untungnya Fadil selalu membawa baju ganti di dalam mobil, dan juga ada jaket.
" Nih, ganti aja bajunya biar gak masuk angin" Ujar Fadil sambil menyodorkan baju kaosnya.
" Baju kamu juga basah kan?"
" Cuma jas aja, kemejanya gak"
Fadil membuka jas yang di pakainya, dan juga melepaskan dasi yang di pakainya. Di letakkan di bangku penumpang di belakang.
" Kenapa belum ganti?" Tanya Fadil yang masih melihat Puput hanya memegang baju yang di berikan nya.
" Emm, kamu bisa tutup mata dulu gak? "
" Oh iya, maaf."
Fadil meraih jaketnya, dan menutup seluruh wajahnya menggunakan jaket tersebut. Dengan gerakan cepat Puput membuka kemeja yang di gunakannya, dan mengganti dengan baju kaos milik Fadil yang berwarna hitam.
" Udah"
Fadil menyingkirkan jaket yang menutupi wajahnya.
" Pake ini, biar gak kedinginan" Ujar Fadil sambil menyodorkan jaket tersebut.
Puput mengambil jaket itu dan memakainya. Memang dia sangat kedinginan saat ini, apa lagi dia bukan tipe orang yang tahan dingin. Bisa di bilang, jika rumah orang lain kamarnya sudah menggunakan AC, Puput masih menggunakan kipas angin, yang kadang arah kipas anginnya di hadapkan ke dinding.
Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya mereka bisa melalui jalan tersebut, karena pohon yang tumbang sudah di pindahkan oleh warga setempat dengan bantuan aparat.
Tapi naasnya ban mobil Fadil tiba-tiba pecah, dan dia sekitat mereka hanya ada perumahan warga, tidak ada tanda-tanda tempat tambal ban ataupun sekedar isi angin. Untungnya hujan juga sudah mulai reda, dan hanya rintik-rintik.
" Ganti sama ban serapnya aja kali ya."
Puput dengan sebungkus jas Fadil yang lembab, dan memegang payung. Dengan setia menemani Fadil yang sedang mengganti ban mobilnya. Setelah 30 menit, akhirnya ban mobil Fadil sudah selesai.
" Huuff, akhirnya selesai juga. Aman tu kan?"
" Kamu ngeremehin aku?"
" Gak sih, cuma kurang yakin aja"
" Tenang aja, kita bakal pulang dengan selamat kok"
Fadil menutup bagasi mobilnya, dan membuka pintu untuk Puput. Setelah memastikan Puput masuk dengan benar, Fadil menutup pintu dan berlari menuju pintu satunya lagi.
Fadil membersihkan tangannya dengan tisu basah yang memang selalu berada di dalam tas Puput. Puput tertawa karena di wajah Fadil terdapat noda hitam.
"Apaan sih"
"Lihat deh" Ujar Puput sambil memutar kaca spion tengah ke arah Fadil.
Fadil melihat wajahnya yang sudah seperti tentara mau perang. Dia pun ikut tertawa. Puput memberikan tisu basah lagi kepada Fadil untuk membersihkan wajahnya. Tapi Puput geram karena Fadil terlalu lama membersihkannya.
" Sini" Puput meraih wajah Fadil, dan membersihkan wajah Fadil dari bisa hitam.
Puput tidak menyadari jika wajahnya dan wajah Fadil sudah sangat dekat, bahkan Fadil sudah menahan napasnya karena wajah Puput yang teramat dekat. Hingga hembusan napas Puput pun terasa di wajah Fadil. Fadil menghentikan gerakan tangan Puput yang ada di wajahnya, hingga mata Puput menatap mata Fadil. Seakan saling mengunci hingga mereka bersitatap dan menyelam dalam mata mereka masing-masing.
Entah Puput sadar atau tidak, akan tetapi Puput mulai memejamkan matanya, seakan memberikan izin untuk Fadil menciumnya. Fadil pun yang melihat mata Puput mulai memejam, perlahan mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Puput. Tidak ada reaksi apapun dari Puput, Fadil melanjutkan dengan menghisap dan ******* bibir Puput. Entah sadar atau tidak, Puput juga membalas ciuman dari Fadil.
__ADS_1
Ciuman yang awalnya pelan dan lembut, perlahan menjadi penuh dengan gairah. Hingga tangan Puput yang satu sudah meremas kerah baju Fadil, dan yang satunya lagi menyusupkan jarinya kerambut Fadil dan meremasnya dengan pelan. Tangan Fadil pun juga sudah memegang pinggang Puput dan menahan tengkuk Puput agar memperdalam ciuman mereka.
Ciuman mereka terlepas karena mereka sama-sama kehabisan pasokan udara. Fadil menyatukan kening mereka, dengan napas yang masih memburu. Hingga Puput sadar dengan apa yang telah di perbuatanya, Puput menjauhkan dirinya dan menatap kearah luar jendela. Fadil mengerti posisi Puput, yang akhirnya Fadil memilih menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankannya.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara di antara mereka, hingga Fadil memberanikan diri untuk membuka suara.
" Maaf"
Puput yang mendengar suara Fadil, menolehkan wajahnya kearah Fadil yang juga sedang melihat kearahnya kemudian kembali melihat kearah depan.
" Maaf karena aku kelepasan menci_"
" Fadil "
Fadil menoleh sekilas kearah Puput dan kembali fokus ke jalanan. Fadil menunggu kata-kata selanjutnya dari Puput, tapi Puput tidak juga melanjutkannya. Akhirnya Fadil memutuskan untuk kembali diam dan tidak membahas tentang kejadian tadi.
Fadil menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Puput. Fadil mengelus wajah Puput yang tertidur. Kemudian seakan tersadar jika dia harus menjaga jarak dengan Puput, Fadil akhirnya membangunkan Puput dengan menepuk bahu Puput pelan.
Puput mengerjapkan matanya, kemudian dia tersenyum kepada Fadil. Puput memasukkan tisu basah yang sempat dia keluarkan dari tasnya, dan memasukkan ponselnya. Dia menghentikan kegiatannya sejenak, seakan sedang memikirkan sesuatu, Fadil hanya menatapnya tanpa ingin menyia-nyiakan waktu yang sedang dilaluinya.
" Fadil, Maukah kamu menunggu ku dan meyakinkan ku?"
Seperti mendengar letusan kembang api, Fadil merasa dadanya sudah sesak dengan ledakan kembang api yang menggebu-gebu menampilkan keindahannya.
Puput memberanikan diri untuk menatap Fadil. "Kamu mau kan? Menunggu aku hingga aku benar-benar yakin sama kamu?"
Fadil langsung meraih tubuh Puput dan memeluknya dengan erat penuh cinta. "Tentu, aku akan meyakinkan kamu jika aku benar-benar sangat mencintai kamu, dan aku akan menunggu kamu sampai kapan pun. Sampai kamu benar-benar siap menerima aku"
"Fadil, Lepasin.. Aku tercekik" Ujar Puput sambil menepuk lengan Fadil.
"Maaf, aku terlalu sangat bahagia."
Fadil mendaratkan ciumannya di kening Puput. Di ciumnya dengan dalam, Puput pun memejamkan matanya meresapi rasa yang seakan tersalurkan dari ciuman Fadil di keningnya.
" Besok aku jemput ya"
Puput menganggukkan kepalanya, " Selamat malam"
Cup
Dengan cepat Puput mengecup pipi Fadil dan buru-buru keluar dari mobil sebelum Fadil menahannya kembali. Fadil memegang pipi yang di cium oleh Puput tadi sambil tersenyum.
Tanpa mereka sadari ada orang lain yang melihat kejadian tersebut.
.
.
.
.
.
.
Dukung terus ya cerita author.
LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..