
Mama Puput dan Papa Fadil berjalan sambil bergandengan tangan menuju kamar inap Anggel. Sedangkan Lana berada tepat di balakang mereka. Entah kenapa, Lana merasa perasaannya sangat tidak enak. Lana takut jika kedatangannya kali ini kembali di usir dan membuat Papa Fadil serta Mama Puput merasa terhina karena dirinya.
"Mama yakin jika Lana benar-benar mencintai Anggel?" Bisik Papa Fadil.
Padahal pembahasan ini sudah di bahas tadi malam, berkali-kali di bahas bersamaan berkali-kali Papa Fadil mengambil jatah nya.
"Ck, iya ... Lagian Mbak Sasa juga udah cerita kan tadi pagi sama kita. Lana itu suka sama Anggel sejak lama. Tapi ya gitu, obsesi nya kepada Quin lebih mendominan."
"Papa punya perasaan gak enak Ma, gimana kalo Tante Mega gak terima dengan hubungan mereka?"
"Itu udah pasti Pa, di lihat cara Tante Mega melarang Lana bertemu dengan Anggel."
"Kita harus siap dengan segala bentuk yang terburuk ya, Ma."
"Iya, Pa."
Sampailah Papa Fadil, Mama Puput, dan Lana di depan ruangan Anggel. Terlihat pengawal menundukkan kepalanya kepada orang kepercayaan Bos besar mereka. Salah satu pengawal langsung membuka pintu untuk mempersilahkan Papa Fadil, Mama Puput, dan Lana untuk masuk.
Sebenarnya para pengawal sudah berkode dengan mata nya, namun yang di hadapan mereka adalah orang kepercayaan nomor satu dari Bos besar Arka. Mana berani mereka melawannya.
Seorang pengawal mengirim pesan kepada Oma Mega, bahwa Lana berhasil masuk kedalam kamar inap Anggel.
*
"Gimana kabarnya, sayang?" Tanya Mama Puput.
"Alhamdulillah, Ma. Anggel udah baikan."
Tentu saja baikan, sang pujaan hati berada di dalam kamar nya saat ini. Dan itu terlihat jelas di pandangan Mama Puput dan Papa Fadil jika Lana dan Anggel saling mencintai.
"Haruskah Mama dan Papa memberi kalian waktu?" Ujar Mama Puput dengan senyum mengembang.
Lana terlihat kikuk dna tersenyum malu. Lihat lah, Lana sangat menggemaskan sekali.
Mama Puput dan Papa Fadil pun duduk di meja makan Yang ada di kamar Anggel, memberi jarak dan waktu untuk muda-mudi yang tengah di mabuk cinta itu.
10 menit sudah berlalu, Anggel dan Lana masih seru mengobrol dan melepas rindu mereka, hingga akhirnya terdengar suara ribut dari luar kamar inap Anggel, berbarengan dengan pintu yang terbuka.
Oma Mega menatap tangan Lana yang menggenggam tangan putri nya itu dengan tak suka. Oma Mega melangkah besar dan cepat kearah Lana dan Anggel, kemudian.
__ADS_1
Plaaak ...
Mama Puput yang melihat itu sampai menutup mulutnya. Segitu tak restu nya kah Oma Mega terhadap hubungan Anggel dan Lana?
Papa Fadil menggenggam erat tangan Mama Puput, agar tak terpancing emosi. Ini lah yang sudah di wanti-wanti oleh Papa Fadil, dan pasti nya juga Lana.
"Mami ...." lirih Anggel.
"Sudah berapa kali Oma bilang sama kamu Lana? jangan pernah mendekati Anggel lagi."
"Oma, Lana cinta sama Anggel."
Oma Mega tak menyadari ada nya orang lain di dalam ruangan tersebut, sehingga emosi yang menguasainya saat ini membuatnya mengatakan hal yang paling di benci oleh Mama Puput.
"Cinta? apa yang kamu tau dari cinta? Oma curiga, kamu selama ini mengincar Quin hanya untuk menguasai hartanya, tapi setelah Quin menikah, kamu mengejar Anggel agar bisa menguasai harta nya juga. Iya kan?"
"Mami ...." lirih Anggel untuk menghentikan Mami nya, bahkan Anggel sudha meneteskan air mata nya.
Lana tak terpercaya, jika Oma Mega bisa sampai tega berkata seperti itu. Menganggap dirinya hanya menginginkan harta milik keluarga Moza. Lana sudah cukup puas dengan usahanya selama ini.
"Oma, Lana gak ada kefikiran untuk mengincar harta Anggel. Lana benar-benar cinta sama Anggel."
"CUKUP TANTE ...." teriak Mama Puput dengan mata dan wajah yang sudah memerah menahan amarah.
Mama Puput tidak pernah sekalipun mengungkit asal usul Lana. Bahkan bagi Mama Puput Lana adalah putra nya. Putra yang juga ikut lahir dari rahimnya.
Oma Mega terkejut saat melihat ada Papa Fadil dan Mama Puput yang sudah menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.
Dan, saat itu seluruh keluarga yang berada di rumah sakit juga ikut mendengar apa yang di katakan oleh Oma Mega kepada Lana.
"Mi, apa yang Mami lakukan?" Opa Bram memegang kedua lengan Oma Mega.
Bagi Oma Mega, sudha terlanjur semuanya. Ia sudah salah, dan ia sudah tak bisa menahan uneg-uneg nya terhadap hubungan Lana dan Anggel.
"Mami gak mau anak perempuan kita satu-satu nya jatuh ketangan orang yang gak jelas asal usulnya. Mami gak mau, Mami gak mau keturunan Kita hanya di manfaatkan dan di jadikan pelarian, Mami gak mau." Ujar Oma Mega sambil menatap Lana dengan Tajam.
"CUKUP TANTE, CUKUPP ...." Teriak Mama Puput dengan air mata yang berderai, sehingga membuat Oma Mega kembali tersentak dan kembali sadar dengan kehadiran Mama Puput dan Papa Fadil.
"Lana memang bukan darah daging aku sama Kak Fadil. Tapi Lana tetap anak aku. Lana udah aku anggap sebagai darah daging aku. Aku membesarkannya penuh cinta, dan saat itu aku menerima Lana tanpa menyandang status seorang istri. Bahkan jika Kak Fadil saat itu tak bersedi menikah dengan ku, Aku rela menyandang status janda demi Lana, walaupun aku belum pernah menikah. hikks ...."
__ADS_1
Papa Fadil merengkuh tubuh Mama Puput, namun Mama Puput memberontak dan kembali menatap nyalang kepada Oma Mega.
"Tante adalah orang yang puput hormati sebagai orang tua, Puput banyak belajar dari kesederhanaan Tante, hikss ... tapi apa? hiks ... hanya sebuah status Tante memperkirakan nya hingga menyakiti hati orang lain. Hikks ..."
"Lana memang Brengsek, Puput akui itu, Lana jatuh cinta kepada dua wanita dalam satu waktu. hikks .... Lana mencintai Quin, dan juga mencintai Anggel. Salah kah Lana Tante? Jia Lana salah, hukum dia dengan benar, tapi bukan dengan cara menghina nya. hikks ...
Mama Puput menghapus air matanya dengan kasar.
"Dan Kamu Lana, hiks ... Jika kamu masih menganggap Mama ini Mama kamu, maka kamu pulang sekarang, dan jangan pernah menemui Anggel lagi. Atau Mama tidak akan pernah menganggap kamu sebagai anak."
Mama Puput pun keluar dari ruangan Anggel, dan tak memperdulikan panggilan dari Anggel.
"Ma, jangan pergi ... hiks ... jangan pisahi Anggel, Anggel cinta Lana ... Ma ..."
Anggel turun dari tempat tidur, ia ingin menghentikan Lana, tapi Lana juga pergi mengikuti langkah Mama Puput keluar dari kamar tersebut.
"Mi, hiks ... Anggel cinta Lana ... Hikss ... Mami, Anggel Mohon, restu Anggel dan Lana ... hiks .. Papi ... hikss ..." Anggel sudah bersimpuh di kaki sang Mami, namun Sang Mami sedikit pun tak membuka suaranya, hingga suara Anggel perlahan menelan dan Anggel jatuh tak sadarkan diri.
Lucas yang juga berada di depan pintu kamar, menyaksikan semua kejadian tersebut pun langsung berlari kearah Anggel dan membopong tubuh Anggel dan di baringkan ke atas brankar.
Quin meremas jas Abi, ia menahan tangisnya sehingga membuat dada nya sedikit sesak. Abi pun membawa Quin keluar dari ruangan tersebut.
Kayla dan Fatih yang juga berencana ingin menjenguk Anggel, dan juga ikut mendengarkan apa yang di katakan oleh Oma Mega, juga ikut merasakan sakit yang teramat sangat.
Tanpa siapapun sadari, ucapan Oma Mega membuat Fatih dan Kayla merasa ikut tersindir. Siapa lah mereka, Kayla bukan terlahir dari keluarga kaya, dan Fatih terlahir dari sebuah kecelakaan.
Fatih menggenggam tangan Kayla, dan membawanya ikut keluar dari ruangan tersebut.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1