
Nafi baru saja selesai mandi, Nafi lupa, jika di kamar mandinya tidak tersedia bathroom, jadi dengan terpaksa Nafi melilit tubuhnya dengan handuk.
Nafi berjalan keluar kamar mandi sambil mengintip Veer, dan syukurlah, Veer sedang tertidur. Nafi pun masuk kedalam walk in closet.
" Aaaaa...."
Veer yang mendengar suara teriakan pun terbangun dan menghampiri sumber suara. Veer langsung memalingkan wajahnya saat melihat setengah Tubun telanjang Nafi..
" Kamu baik-baik saja?" Tanya Veer dengan wajah yang masih di palingan.
" Heemm, akkh.." Nafi meringis saat merasakan sakit di kakinya.
" kamu bisa berdiri?" Tanya Veer yang masih memalingkam wajahnya.
" Kaki ku sakit.."
Veer perlahan mendekat, seberusaha mungkin memalingkan wajahnya. Nafi memgang handuk yang sempat terbuka saat dirinya jatuh.
Sial..
siapa yang meletakkan pulpen di sana? sehingga Nafi tergelincir karenanya.
Veer bingung bagaimana cara membantu Nafi berdiri, pasalnya handuk Nafi sangat pendek, dan kaitannya sudah terbuka. Tangan Nafi sudah meremas ujung handuk agar tetap menyatu.
" Aku akan memejamkan mata, kamu tuntun jalannya. Oke.."
" Maksudnya? Aaakkhh.." Nafi terpekik saat Veer sudah membopong tubuhnya.
" Katakan, aku harus melangkah kemana?"
Deg..
Nafi masih terdiam memandang wajah Veer sedekat ini..
" Nafi..."
" Ehh, emm.. langkahkan kaki terus kedepan." Suara Nafi bergetar karena gugup.
Hangat tangan Veer yang menyentuh punggung dan pahanya yang telanjang mengirim sinyal aneh ke tubuh Nafi. Begitupun dengan Veer, rasa dingin yang terasa di telapak tangannya membuat dirinya merasa cemas.
" Belom kanan.."
Veer mengikuti arahan Nafi, Hingga mereka sampai di tepi tempat tidur.
" Tu-turunkan aku perlahan.."
Veer pun menurunkan Nafi secara perlahan, namun gelang Nafi yang tersangkut di kancing kemeja yang Veer pakai membuat Veer tertarik dan terjatuh menimpa Nafi..
Mata Nafi membesar saat melihat wajah Veer hanya berjarak 3 cm dari wajahnya, bahkan hidung Veer menyentuh pipinya. Mata mereka bertemu, saling menatap, hingga akhirnya Nafi memutuskan pandangannya. Veer berusaha melepaskan kaitan gelang Nafi dikancing.
Veer harus menelan ludahnya, saat melihat belahan payudara Nafi yang masih basah. Bagaimana tidak, handuk yang di gunakan Nafi semakin mengendur. Nafi membuang pandangannya, pipinya merasa memanas, nafi pun harus menahan napasnya.
Veer menarik selimut menutupi tubuh Nafi. Jangan di tanya lagi bagaimana detak jantung Nafi saat ini. Nafi memegang selimut untuk menutupi tubuhnya, dan berusaha duduk.
" Ap--apa kaki mu sakit." Veer mencoba memecah kehening, setelah beberapa menit mereka hanya terdiam, dengan Veer berdiri di hadapan Nafi, dan Nafi meremas selimut yang di pakainya. Veer juga bingung, kenapa dia malah berdiri di hadapan Nafi.
" I-iya.. "
Veer berjongkok, dan memeriksa kaki Nafi. "Sepertinya terkilir, sebentar."
Veer mencari baby oil atau minya zaitun di kamar Nafi, tepatnya di meja rias Nafi. Veer yakin, setiap wanita pasti memiliki salah satu minyak tersebut, karena Quin memilikinya. begitulah pemikiran Veer.
" Ketemu.." Veer membawa minyak zaitun tersebut.
" Tahan sedikit, ini sakit.."
" Akh.. pelan-pelan Veer.."
" Tahan sedikit, "
" Aakh.. sakit.. Veer.. aakhhhh... jangan kuat-kuat.. akkh.. aku tidak tahan.. akkh..Veer..."
" Aww, aku juga sakit Nafi.." Veer mengelus kepalanya yang baru saja di Jambak eh Nafi.
" Pelan-pelan Veer..." Suara Nafi terdengar parau dan bergetar karena menahan sakit.
" Iyaa, ini jugaa udah pelan-pelan.. Kamu tahan yaa.."
" Aaakkhh... sakit Veer... "
Di luar kamar Nafi, tepatnya di depan pintu kamar Nafi, Mama Ayu dan Papa Danu sedang tersenyum mendengar teriakan Nafi.
" Sebentar lagi kita bakal ada cucu Pa.." Mama ayu bersorak senang dengan suaranya yang pelan.
" Amiin.. semoga mereka cepat di beri momongan.. Papa gak sabar mau nimang cucu" Papa Danu pun juga ikut memelankan suaranya.
" Udaah, biarin aja dulu mereka Pa.. jadi ingat masa kita pengantin baru dulu.."
" Iyaa.. hhi.. hii.."
Papa Danu dan Mama ayu pun meninggalkan kamar Nafi, namun saat mendengar suara teriakan dari Veer dan Nafi, Papa Danu dan Mama Ayu kembali menempelkan telinganya dipintu..
Di dalam kamar, Nafi menangis tersedu-sedu, kakinya sungguh sangat sakit.
" Hikkss..."
" Udah selesai ini, Masa sih masih nangis?"
" Sakit Veer...hiikkss..."
" iyaa, Sakitnya kan cuma sebentar. entar juga enakan, Cuma sakit di awal."
" Enak aja cuma sakit di awal, aku jadi susah jalan tau.."
" Ya udah, kamu di sini, aku ambilin baju dulu ya.."
Mama Ayu dan Papa Danu tersenyum bahagia di luar kamar Nafi. Papa Danu memberi kode untuk meninggalkan kamar Nafi.
" Nih.. " Veer memberikan baju kepada Nafi..
" Kamu menghadap sana dulu.."
" Iyaa, udah.. " Veer membalikkan tubuhnya membelakangi Nafi.
__ADS_1
" Jangan ngintip." Nafi memakai bajunya dengan cepat.
Sialan, Veer hanya memberikan baju kaos lengan panjang yang besar kepadanya, Sedangkan ********** tidak.. Ugghhh, nyebelin.. untung bajunya panjang hingga ke paha.
" Iyaa, aku gak ngintip. Lagian kecil aja pun, apanya yang mau dilihat?" cibir Veer dan didengar oleh Nafi.
Buug..
Veer terkejut merasakan sakit di tengkuknya, Veer pun berbalik.
" Kamu??"
Buug...
Nafi kembali memukul Veer dengan guling..
" Aww... Nafii.. sakit.."
" Biarin.. Rasain... rasain.. " Nafi terus memukuli Veer, hingga Veer menarik guling dengan kuat dan membuat wajah Nafi membentur dada bidang Veer. "Aaww... Veer, " pekiknya.
" Apa?" Veer sudah memegang kedua tangan Nafi.
" Lepassinn gak?."
" Gaakk..."
" Veer.." Nafi berusaha memberontak, hingga mereka terjatuh, dan Veer berada di atas tubuh Nafi.
Cuupp..
Nafi membelalakkan matanya, begitu pun dengan Nafi..
' ciuman pertama gue..' Seru keduanya dalam hati..
" Kamu sengaja kan?" Nafi mengusap bibirnya dengan kasar.
" Siapa yang sengaja, kamu kali yang sengaja narik aku.."
" Iihh,, dasar pria mesum. Atau jangan-jangan kamu waktu itu udah?"
" Apa? Mau nuduh aku sembarangan?" Potong Veer.
" Dasar pria nyebelin.. Nyebellinn.. " Pekik Nafi, kemudian bersembunyi di bawah selimut.
Veer berjalan ke sofa, dan memainkan ponselnya.
' Perasaan apa ini? ' Veer memegang jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Di tempat lain, Quin berjalan tertatih menuju mobilnya.
" Untung matic" Gumam Quin..
" Mau ke mana?"
" Astaghfirullah.." Quin terkejut Hingga membuat tas dan kunci mobilnya terjatuh. "Kalo datang itu jangan ngagetin Napa Dok?"
" Saya gak bermaksud ngagetin Nona. Cuma Nona aja yang sepertinya melamun."
" Iyaa.. Kenapa bawa mobil? Kaki nya kan masih sakit.."
" Iyaa, saya mau ke rumah Dokter Rafa. Dokter Gak ke sana?"
" Kalo sakit kenapa di paksain pergi? Kan bisa bilang ke Dokter Rafa."
" He..he.. Gak enak sama anak dan istrinya, pasti mereka udah nungguin saya."
" Ya udah, bareng saya aja.."
" Gak usah Dok, nanti ngerepotin."
" Gak pa-pa, lagian saya juga belum hafal jalan di Jakarta. Ayoo.." Abi mengulurkan tangannya untuk membantu Quin.
Dengan ragu Quin menerima uluran tangan Abi. Berhubung waktu menunjukkan jam pulang kantor, jadi jalanan agak macet, sehingga memakan waktu di perjalanan agak terlalu lama.
" Dok, eem.. Berhenti di toko itu dulu bisa? Saya mau beliin mainan untuk anaknya Dokter Rafa."
" Baiklah."
Abi menghentikan mobilnya di parkiran depan toko. " Mau ngapain?"
Quin menghentikan pergerakannya membuka seatbelt saat mendengar suara bariton Abi. "Mau turun."
" Kaki kamu jangan banyak di gerakin, nanti lama sembuhnya. Biar saya aja, kamu mau beliin mainan apa?"
" Gak usah Dok, Jadi ngerepotin Dokter, biar saya aja."
" Gak pa-pa, mau beli apa?"
" Eem, Anak Dokter Rafa ada dua, dan dua-dua nya cowok."
" Oke, Nona Qila tunggu di sini aja yaa.."
Abi keluar dari mobil dan masuk ke toko maina. Quin memainkan ponselnya, dan mengirim pesan ke Veer jika dirinya pergi kerumah Dokter Rafa, dan meminta Veer untuk menjemputnya.
Qila mengernyit saat melihat betapa banyaknya mainan yang dibeli oleh Abi.
" Banyak amat dok?"
" Iyaa, saya bingung harus membeli apa, lagian mainannya bagus-bagus semua."
" Jadi, berapa semuanya?" Quin membuka tas nya dan mengeluarkan dompetnya?.
" Apa nya yang berapa?"
" Itu, mainannya? Berapa semua?"
" Udaah, anggap aja ini permintaan maaf saya.."
" Yaah, di bahas lagi. "
" Eeh, maaf..maaf.. saya gak maksud untuk membahasnya. Eem, anggap aja ini tanda perkenalan kita."
" Gak bisa gitu Dok. Jika seorang pria beristri membelikan sesuatu untuk wanita lain, itu gak baik. Saya gak mau."
__ADS_1
" Pria beristri? Siapa?"
" Dokter. " Quin menunjuk kearah jari Abi yang melingkar sebuah cincin kawin.
" Oh ini, Ini cincin ayah saya, Dan Sebenarnya saya belum menikah."
" Bohong Bangeet.. "
" Serius, Nona Qila bisa tanyakan kepada Dokter Anggel dan Dokter Rafa."
" Baiklah, tapi tetap aja, saya gak mau berhutang Dok. "
" Eem, ya udah gini aja, gimana kalo saya minta di bayar dengan cake dari toko kamu. Yaa, selama seminggu lah kira-kira."
" Yakin cuma cake?"
" Iyaa, cake di toko kamu rasanya enak banget. Saya yang biasa gak suka cake, jadi ketagihan."
" Oke, saya setuju.."
Abi pun melajukan mobilnya setelah kesepakatannya dengan Quin di setujui.
Kedua anak Dokter Rafa sangat senang dengan kedatangan Quin, karena memang Quin menyukai anak-anak, jadi siapapun anak-anak pasti akan senang bersama dengan Quin.
" Dokter Abi dan Qila cocok deh. Semoga berjodoh ya.." Celetuk Mbak Yuna.
Uhuk...uhukk...uhukk...
Abi dan Qila terbatuk bersamaan. Mbak Yuna dengan sigap memberikan air putih kepada Abi dan Qila.
Qila sedari tadi menghubungi Veer, namun panggilannya tidak terhubung.
" Tumben, mentang-mentang udah ada istri." Kesal Quin.
" Mau sekalian?" tawar Abi.
" Eh, enggak usah Dok. Takut merepotkan."
" Udah sana, anak gadis jangan pulang sendirian. " Mbak Yuna mendorong tubuh Quin untuk ikut bersama Abi.
" Tapi Mbak, kalo Veer jempt gimana?"
" Ponsel Veer gak aktif, mau jam brapa kamu tunggu Veer? Udaah, pergi sana.. Kami mau tidur.."
" Yaah, ngusir diaa.."
Yuna tertawa melihat Qila cemberut. Yaa, Keluarga Dokter Rafa mengetahui siapa Qila sebenarnya, karena mereka adalah Dokter keluarga yang memang dapat di percaya, maka dari itu Mereka ikut menyimpan identitas Quin yang sebenarnya.
" Mas, masukin ke Instragram seru kali yaa.." Yuna memperlihatkan beberapa foto Abi dan Quin saat sedang bermain dengan kedua anaknya.
" Coba aja, lagian Mas ngerasa mereka cocok. Yang situ jomblo akut, yang satu gagal move on. Mana tau bisa nyambung."
" Ide bagus.." Dengan kekuatan jari lentik yuna, foto-foto itu pun langsung terposting di story' milik Yuna. Yang mana, seluruh keluarga Quin berteman dengan Yuna.
.
.
" Rumah Nona Qila di mana?"
" Ohh, eem, seb-sebenarnya ini bukan rumah saya, tapi rumah Bos saya. Saya tinggal di sana."
" Gak masalah, yang penting tunggal di rumah kan? Bukan dipohon?" Abi terkekeh saat mendapati wajah kesal Quin.
" Canda Non Qila."
" Eem, bisa gak sih jangan panggil Non gitu. Saya serasa kayak kamu tu supir saya tau gak.."
Abi tertawa, ternyata Qila gak seburuk yang difikirannya. " Oke, jadi mau di panggil apa?"
" Panggil Qila aja, "
" Baiklah, Qila. Sekarang, kasih tau alamat kamu di mana."
Sepanjang perjalanan Abi selalu tertawa dengan lelucon Quin, sehingga Quin kesal karena merasa dirinya ini seperti badut, karena Abi terus mengatainya lucu.
" Wow besar juga rumah Bos Kamu.."
" Yaah, begitulah.. Eem, kalo gitu saya permisi dulu yaa Dok, terima kasih atas tumpangannya."
" Mau saya antar? Takutnya kamu kena marah karena pulang larut malam." Abi menunjukkan Jarum jam di tangannya.
" Gak Pa-pa Dok, udah minta izin tadi sama kepala pelayan."
"Ooh, oke kalo begitu. " Abi membuka seatbel nya.
" Dokter mau ngapain?"
" Mau bukain kamu pintu."
" Eeh, gak usah Dok, saya bisa sendiri."
Abi tidak mendengarkan lagi ucapan Quin. Abi turun dan membukakan pintu untuk Quin. Abi juga menahan tangannya agar kepala Quin tidak terbentur.
" Makasih Dok." Quin membungkukkan sedikit badannya.
" Sama-sama, kalo begitu saya permisi."
" Hati-hati Dok."
Quin melambai saat Abi membunyikan klaksonnya. Quin membalikkan tubuhnya, dan mendapati sang Papa sudah berdiri di depan teras.
" Mampus Gue.."
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.
__ADS_1