KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 13


__ADS_3

Nafi memandang jarinya yang masih mengenakan cincin yang terbuat dari rumput.


" Susah banget lepasnya?" Nafi berusaha melepas cincin tersebut, namun usahanya sia-sia.


" Hah, sudahlah.. " Nafi beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Mereka akan kembali ke Jakarta sebentar lagi.


Di kamar yang lain, Veer melajukan hal yang sama. Dia memandang jari manisnya yang masih melingkar cincin rumput buatannya.


" Kenapa susah di lepas ya?" Veer berusaha melepas cincin tersebut, namun usahanya juga sia-sia.


" Pakai sabun mungkin bisa."


Veer juga beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Kepulangan Veer dan Nafi langsung di sambut oleh Quin, yang dikenal Qila oleh Nafi. Tadi Quin sempat menghubungi Veer untuk menanyakan kepulangan mereka.


" Kamu sendiri?"


" Heum, aku merindukan kamu." Quin memeluk Veer dan mencari ketenangan di sana.


" Apa sesuati terjadi?"


Quin melirik kearah Nafi setelah merelaikan pelukannya. " Nanti aku ceritakan."


" Hai Nafi, apa kabar? Bagaimana perjalanannya?" Quin menyapa ramah Nafi.


" Baik.." Nafi gugup. Tentu saja dia gugup, secara statusnya saat ini adalah sebagai istri Veer, dan bisa saja dia di sebut pelakor oleh Qila.


" Kamu kenapa? Pucat banget? Kamu sakit? Atau Veer tidak memberimu makan?" Goda Quin.


" Tidak.. Aku hanya..." Nafi melirik kearah Veer. "Aku hanya kelelahan saja."


" Oo, kalo gitu kita pulang sekarang ya.. Kamu ikut mobil kami aja. "


" Gak pa-pa, aku akan menunggu di sini saja sampai supir datang."


" Sudah, jangan segan. Ayoo..." Quin menarik tangan Nafi.


Nafi melirik kearah Veer, namun yang di lirik seakan tidak peduli, bahkan terlihat sangat santai.


Veer duduk di sebelah supir, sedangkan Nafi dan Quin duduk di bangku penumpang. Dedi dan Tata sudah naik ke mobil yang lain.


" Bagaimana perjalanannya?" Tanya Quin.


Quin sebenarnya sangat senang bertemu dengan Nafi, karena mereka memiliki kebiasaan yang sama, dan hobi yang sama. Hanya saja Nafi bukan pecinta binatang, apalagi kucing. Nafi geli merasakan bulu kucing menyentuh kulitnya. Intinya Nafi geli dengan hewan berbulu.


" Menyenangkan. Di sana pemandangannya indah."


" Benarkah? Nanti traktir aku yaa ke sana" Quin tersenyum sangat manis.


Veer sudha menggelengkan kepalanya. Quin selalu berulah seorang dia tidak bisa memiliki apapun yang dia mau.


" Tentu, Nanti saat peresemian penginapan, kamu ikut ke sana."


" Waahh senang banget deh. Bisa jalan-jalan gratis."


Nafi tersenyum lembut dan juga bersyukur, karena bisa mengajak sahabat rahasianya itu menikmati keindahan yang hanya di dapat oleh orang yang bingung menghabiskan uangnya kemana.


Mobil yang di kendarai oleh supir telah sampai di depan rumah Nafi.


" Terima kasih tumpangannya."

__ADS_1


" Sama-sama, jangan pernah sungkan untuk meminta tolong dengan Veer."


Nafi tersenyum, namun jantungnya masih berdebar kencang karena merasa bersalah dengan Quin.


" Qila, sebelumnya tolong maafkan aku." Nafi yang sudah membuka pintu mobil tiba-tiba membalikkan tubuhnya.


" Untuk?" Quin bingung.


" Aku.. aku hanya ingin meminta maaf karena merepotkan kamu"


" Sudahlah, jangan di ambil pusing. Istirahat yang baiknya."


" Terima kasih sekali lagi."


Nafi pun turun, dan diikuti dengan Veer.


" Tunggu."


Nafi membalikkan tubuhnya. " Ada apa? Kenapa kamu turun? Bagaimana jika Quin curiga atau cemburu?"


" Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Aku hanya ingin mengingatkan kamu, jangan lupa nanti malam. Persiapkan diri untuk menjawab segala pertanyaan yang akan di tanyakan."


" Baiklah.. Terima kasih untuk semuanya."


Veer menganggukkan kepalanya dan kembali masuk kedalam mobil. Kali ini Veer duduk di sebelah Quin.


" Apa yang kamu bicarakan? Mencurigakan.."


" Hanya kerjaan. Katakan, apa yang terjadi?"


" Heemm, semua cake buatan ku rasanya tidak enak."


" Apa kamu mengikuti semua saran dari Mama?"


" Apa kamu mau ikut kursus membuat Cake?"


" Apa harus?"


" Tidak ada salahnya untuk mencoba."


" Tapi Mama adalah chef terhandal di dunia."


" Justru itu. Karena kamu anak Mama, terkadang ada naluri kita sebagai seorang anak untuk tidak mendengarkan perkataan mereka."


" Masa sih.!!"


" Iya Quin. Baiklah, sekarang dengarkan aku, apa kamu benar-benar mengikuti semua saran Mama?"


" Tentu.."


" Apa kamu yang mengerjakan semuanya dari awal?"


" Tent... tidak, Mama membantuku.."


" Nah, itu dia. Alam bawah sadar kamu selalu mengatakan bahwa ada Mama yang akan membantu, dan kamu akan selalu bergantungan dengan Mama. Berbeda jika yang mengajari kita adalah orang lain. Maka kamu akan lebih mandiri."


" Masa sih.."


" Quiin..."


" Baiklah, aku akan menuruti apapun perkataan Mas ku yang satu ini."

__ADS_1


" Good, oh yaa. Luangkan waktu kamu untuk nanti malam."


" Untuk?"


" Aku ingin mengumumkan sesuatu hal yang penting."


" Apa? Apa kamu akan melamar Nafi?"


" Ah yaa, bagaimana kamu mengenal Nafi?"


" Ahh, itu. Waktu di kantor kamu.."


Veer menatap Quin tajam. " Baiklah.. baiklah... Aku mengenalnya di panti asuhan."


" Panti asuhan?"


" Hemm. Dia sering berkunjung di panti asuhan yang di bawah kepemimpinan Bunda."


" Kok aku gak tau?"


" Bagaimana kamu akan tahu jika kamu saja jarang datang ke panti."


" Aku sibuk Quin. Tapi kenapa kamu tidak pernah cerita?"


" Karena Nafi tidak ingin ada yang tahu tentang dirinya. Bisa di katakan jika aku dan Nafi memiliki kesamaan yang sama. Kamu tau, kami juga hobi makan."


" Benarkah? Pantes saja ?"


" Kenapa? Sepertinya kalian terlihat mulai akrab, atau jangan-jangan__"


" Lupakan pemikiran kamu itu. Aku tidak mungkin suka dengan gadis angkuh dan seperti dia."


" Menurutku Nafi tidak angkuh dna sombong"


" Yaa, dia angkuh dan sombong."


" Kamu belum mengenalnya, makanya kamu berkata seperti itu. Jika kamu sudah mengenalnya, kami akan jatuh cinta dengannya."


" Apa dia pintar masak?"


" Eh, emm itu... Aku rasa tidak."


" Jadi aku tidak mungkin bisa jatuh cinta dengannya. Kamu tau kan jika garis keturunan kita jatuh cinta dengan indera perasa "


" Ya aku tau. Kakek jatuh cinta dengan Oma karena masakannya. Papa jatuh cinta dengan Mama karena kue buatannya. Bunda jatuh cinta dengan Daddy karena masakannya. Intinya semua di keluarga kita jatuh cinta karena masakan."


" Pinteer.. dan aku tidak mungkin bisa jatuh cinta dengan seorang wanita yang tidak bisa masak."


" Bagaimana jika dia jatuh cinta sama kamu? Karena masakan kamu?"


" Itu urusan dirinya dan perasaannya. Bukan salah ku jika dia jatuh cinta dengan ku."


" Dasar kejam, dan tukang PHP."


Veer mengendikkan bahunya. Males meladenin Quin yang sudah kesal jika dirinya enggan membuka hati kepada wanita. Menurut Veer, cinta cukup di berikan kepada wanita yang tepat. Seperti Papa yang mempertahankan hatinya untuk wanita yang tepat. Veer tidak peduli dengan kapan dia akan menemukan cintanya. Papanya saja menikah saat berumur 30 tahun lebih. Jadi bukan Masalah bagi diri ya untuk memberikan hatinya kepada wanita yang tepat. Yang jelas wanita itu bukan Nafi, Veer yakin itu. Karena Nafi bukan wanita yang selalu menjadi impiannya.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya yaa..


Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2