
Arka sangat antusias untuk keberangkatannya menuju kampung halaman Duda, Bahkan Arka sampai menggunakan jet pribadinya.
Sepanjang perjalanan, Arka menikmati pemandangan yang masih asri dan belum tersentuh tangan-tangan penguasa. Dari kota memang butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai di rumah Duda. Rumah Duda memang masih sangat pedalaman di desa. Bahkan sinyal ponsel saja terkadang sulit didapat.
Ayah, Ibu, dan kedua adik Duda sudah berdiri di depan rumah mereka, untuk menyambut kedatangan Arka dan istrinya, Kesya.
" Bos si Abang ganteng ya kak" Bisik adik bungsu Duda. " Istrinya juga cakep bener, cocok banget yaa. Yang satu ganteng, dan yang satu lagi Cantik"
" Iyaa, Bang Duda juga penampilannya udah ikut-ikutan keren. Bakal kleper-kleper deh cewek-cewek kampung sama Dia. Pasti nyesal tu mantan istri Bang Duda. Lihat penampilan si abang makin keceh" Tambah Adik Duda yang nomor dua.
" Huss, jangan bergosip" Tegur Ibu Duda.
" Mari Tuan Bos, dan Nyonya Bos. Maaf, rumah kami kecil." Ujar Ayah Duda sambil menundukkan sedikit badannya dan mengarahkan jalan dengan jempolnya.
Arka mengulurkan tangannya kepada Ayah Duda. Ayah Duda menatap Bos sang anak, kemudian menatap anaknya. Duda menganggukkan kepalanya. Dengan ragu ayah Duda menerima uluran tangan Arka yang mana langsung di cium punggung tangannya oleh Arka.
" Bapak panggil saya Arka, jangan Tuan Bos. saya datang ke sini sebagai anak Bapak. dan saya mau bapak memperlakukan saya seperti bapak memperlakukan Duda."
Ayah Duda menatap Duda, Duda hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan kemudian menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan apa yann di katakan oleh Bos nya itu.
" Kalo begitu, mari masuk Tuan Bos" Ujar Ayah Duda.
" Arka, panggil saya dengan nama saya. Arka. Seperti yang saya katakan tadi, anggap saya sebagai anak Bapak."
" Yah, ikuti aja yaa" Bisik Duda.
" Kamu bilang apa?" Tanya Arka.
" Oh, saya hanya menyuruh Ayah saya mengikuti kemauan Bos"
" Oh, jadi kamu memanggil beliau dengan sebutan Ayah?"
Duda menganggukkan kepalanya,
" Kalo begitu saya juga akan memanggil beliau Ayah"
" Ayah, anggap saya sebagai anak Ayah" Ujar Arka sekali lagi.
" I-Iiya Nak Arka. " Ucap Ayah Duda.
" Oh ya, ini istri saya, Kesya. "
Kesya mengambil punggung tangan ayah Duda, kemudian menciumnya. Begitupun dengan Ibu nya Duda, Kesya juga melakukan hal yang sama.
" Kamu manggil ibu kamu apa?" Tanya Arka kepada Duda.
" Ibuk"
" Ibuk, anggap saya sebagai anak Ibuk. " Ujar Arka dan mencium punggung tangan ibu Duda.
" Oh ya, saya belum tau nama orang tua baru saya"
Duda langsung saja memperkenalkan keluarganya. Ayahnya bernama Rojak, Ibu nya bernama Siti, adik perempuannya yang pertama bernama Aminah, dan yang bungsu bernama Solehah.
" Sekarang anggap saja saya Abang kalian, dan kalian boleh memanggil saya Abang Arka, dan istri saya kakak Kesya"
Aminah dan Solehah pun mencium punggung tangan Arka dan Kesya.
__ADS_1
" Wangi banget" Ujar Solehah saat mencium punggung tangan Kesya.
" Makasih Solehah"
" Panggil Lehah aja kak,"
" Dan panggil saya Ami" Ujar keduanya.
" Baiklah, Lehah, dan Ami."
" Ayo masuk kak" Ajak Lehah. Mereka langsung akrab dengan Kesya.
Sedangkan Ayah Rojak masih kikuk dengan perkataan Arka yang harus menganggapnya sebagai anak. Jika dia menyuruh Duda untuk mengerjakan sesuatu, Ayah Rojak juga harus menyuruh Arka melakukan apa yang Duda lakukan. Jodi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah si Bos nya. Ternyata ngidam bisa seunik ini. Jodi ikut masuk dengan membawa barang bawaan milik Bos nya.
" Ini kamar Bos, semoga Bos bisa nyaman" Ujar Duda.
" Makasih"
" Silahkan istirahat dulu Bos, saya permisi kebelakang"
" Mau ngapain?"
Mau Sumedi Bos, Mah ikut?"
" Sumedi?"
" Boker Bos" Bisik Duda.
" Sialan kamu. pergi sana"
Duda pun tertawa dan kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.
Masalahnya tempat tidur yang tersedia bukan springebad, melainkan masih tikam yang terbuat dari kapas/kapuk.
" Kenapa? kamu meragukan Mas?"
" Gak sih, ya udah. Semoga Mas nyaman ya"
Arka membuka bajunya, kemudian menggantinya dengan baju kaos. Kesya juga sudah menggunakan baju daster model kekinian. Daster model arabian, tidak terlihat seperti dslaster, lebih ke baju gamis. Karena panjang lengan yang sampai siku, dan oanjang baju yang hingga menyentuh mata kaki.
Kesya yang merasa lelah karena melakukan perjalanan jauh pun akhirnya memilih istirahat, sedangkan Arka, setelah memastikan sang istri tertidur, Arka keluar kamar dan melihat keadaan rumah Duda.
Arka melihat Duda dan Jodi yang sedang tertidur di bale rotan yang berada didepan rumah. Udara perdesaan yang terasa sangat sejuk. Arka pun ikut duduk di sebelah Duda. Karena merasa ada pergerakan, Duda terbangun dan melihat Bos nya sudah berada di bawah kakinya.
" Bos" Sontak Duda langsung terduduk. Sedangkan Jodi masih terlelap dalam tidurnya dengan di sapu dengan angin sepoi-sepoi yang membelai wajahnya.
" Geser, saya juga mau tidur di sini"
Dengan kikuk Duda menggeser tubuhnya, memberikan ruang kepada Arka. Arka pun membaringkan tubuhnya, dan merasakan nikmat yang luar biasa. Arka memerintahkan Duda untuk kembali berbaring. Tak berapa lama Arka terlelap, menyisakan Dudanyang sedang memandang wajah Bos nya.
" Tenang banget ni wajah kalo tidur" Gumam Duda, dan tak berapa lama ikut kembali terlelap.
Kesya bangun dari tidurnya, merenggangkan sedikit tubuhnya, dan keluar kamar. Kesya langsung kekamar mandi yang berada di dapur.
" Masak apa Buk?" Tanya Kesya kepada ibuk Siti yang sedang sibuk di dapur.
" Ini, rebus daun singkong, sama buat sayur asem. Nak Arka dan Nak Kesya bisa kan makan sambel terasi dan ikan Asin?"
__ADS_1
" Bisa buk, kami gak pilih-pilih makanan kok. Sini saya bantu buk"
" Eh, jangan, nanti baju dan tangan nak Kesya bauk bawang"
Kesya tertawa kecil, " Saya sudah biasa kok di dapur."
" Aduh ibuk jadi gak enak"
Kesya pun membantu buk Siti memasak, tak berapa lama Lehah datang dengan membawa gula.
" Buk, ini gula nya"
" Ya udah, kamu tarok di situ ya"
" Ami mana?" Tanya Kesya.
" Oh, Kak Ami sudah kembali ke Pustu."
" Ami kerjanya apa?"
" Dokter di Pustu. Duda ingin salah satu adik nya menjadi dokter, karena di desa ini jika ada yang sakit, maka mereka harus ke kota. tak jarang sering sekali ibu hamil mengalami pendarahan dan meninggal dunia dalam perjalanan menuju puskesmas."
Buk Siti menceritakan betapa Duda memperjuangkan sekolah adiknya. Ami kuliah di kedokteran, tetapi Ami juga mengambil jurusan Bidan secara bersamaan. Ami sengaja mengambil dua jurusan tersebut, agar setelah dia mendapatkan gelar dokter, Ami bisa menangani segala kondisi penyakit umum, termasuk melahirkan. Awalnya Pustu tidak berada di desa ini, namun Duda memperjuangkannya dengan mengirim proposal, dan syukurlah di terima. Namun mereka tidak memiliki gaji. Gaji mereka sengaja di relakan agar Pustu memiliki fasilitas kesehatan yang memadai, namun hanya satu orang yang mau bekerja membantu Ami tanpa berharap imbalan. Namanya Nur, dia hanya tamatan SMA, dan tidak memiliki pengetahuan tentang kesehatan. Namun Ami dengan sabar mau mengajarkannya, sehingga saat ini Nur sudah cekatan dengan peralatan medis.
Kesya tersenyum bangga mendengar cerita Buk Siti, ternyata Ami dan Nur memiliki jiwa yang sangat mulia.
" Kalau Lehah?"
" Lehah kuliah di jurusan pertanian, Katanya dia ingin membuat desa ini semakin maju dengan ilmu pengetahuannya tentang pertanian."
" Luar biasa, sungguh mulia sekali cita-citankamu Lehah!!"
" Terima kasih Kak Kesya"
" Oh ya, kamu kuliah di mana?"
" Di Universitas Negri, jadi biayanya tidak terlalu mahal."
" Kebetulan Lehah lagi liburan, jadi dia pulang kampung dan membantu kakaknya Ami di Pustu."
" Lehah kuliah di kota? tinggal sama siapa?"
" Kos, tapi Lehah juga punya usaha online, lumayan untuk lepas uang jajan" Ujar Lehah dengan tersenyum lebar.
" Wah, ternyata kamu pintar juga ya. Kakak dulu juga jualan online, tapi sering Open Order. Karena kakak bisa membuat kue"
" Iya, Kata Bang Duda kue buatan Kak Kesya sangat enak"
" Emm, gimana kalo kita buat kue untuk cemilan nanti malam? Kakakk akan ajarin Lehah, mana tau Lehah bisa terima orderan kue"
" Serius? Wah.. Lehah mau banget, terima kasih kak Kesya". Lehah refleks memeluk Kesya, dan Kesya dengan senanh hati membalas pelukan Lehah.
Hah, ternyata seperti ini rasanya menjadi kakak dan memiliki adik perempuan, selama ini kesya selalu di perlakukan sebagai adik. Mau itu dengan Gilang ataupun Puput, mereka selalu saja bertindak seperti seorang kakak, dan melindungi Kesya. Kiki? Tentu saja beda rasanya jika memiliki seorang adik laki-laki dan perempuan.
Kesya memberikan catatan kepada Duda untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Untungnya di dekat sini ada grosir yang menjual lengkap segala bahan. Termasuk bahan kue.
** Hai readers...
__ADS_1
Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...
Terima kasih. Salam KesAr.