
Quin menatap tajam kepada pria yang duduk dihadapannya. Saat ini Quin berada dalam ruangan Anggel.
" Qila.." Panggil Anggel.
" Ughhh, nyebelin banget sih.. Oke, gue maafin."
Anggel tersenyum kepada Quin dan pria yang bernama?? Emm...
" Qila, ayo kamu minta maaf, karena sudah menyerang dokter Abi.." Anggel mengeculkan volume suaranya.
" Ogaahh..." Quin melipat kedua tangannya di dada.
" Ah ya, Dokter Abi. Maafin temen saya."
" It's oke"
Quin menatap sinis kearah Anggel, ' Ngapain minta maaf? Gue gak salah' sorot mata Quin berkata seperti.
Tak berapa lama pintu terbuka, dan menampilkan Lana.
" Qila, kamu baik-baik aja?" Lana meneliti seluruh penampilan Quin..
" Apaan sih, gue gak pa-pa kali.. "
" Terus, kenapa bisa sampai berkelahi?"
" Ekheemm" Anggel berdehem mengambil perhatian Lana. " Begini, eem, semua ini hanya salah paham. Dan sudah di selesaikan dengan baik."
" Salah paham? Salah paham kenapa? Tadi aku tanya dengan orang yang berada di luar, kalo ada kejadian pelecehan sama Qila." Lana sedikit tersulut emosi.
" Eemm, aku jelasin pelan-pelan yaa. Kamu tenang dulu.." Anggel mencoba menenangkan Lana yang sudah tersulut emosi.
" Tenang gimana? Qila?? " Lana menatap kearah Quin, meminta penjelasan.
" Huff, kamu jelasin deh An sama Lana. Males aku jelasin lagi. Aku keluar ya , liat berbi."
" Qila.." Anggel berusaha menahan Quin, karena merasa tidak enak dengan Dokter Abi, karena Quin belum meminta maaf dengannya.
Kedatangan Dokter Abi ke Indonesia salah satunya karena Anggel yang memberi saran untuk membuka praktek di sini. Maka dari itu, Anggel merasa dokter Abi masih tanggung jawabnya. karena hari ini adalah hari pertama dokter Abi menginjak kaki di Indonesia, setelah 10 tahun tak kembali ke tanah air.
" An, Jelasin ke aku!" Lana menahan tangan Anggel.
" Eeh, eem.. Sebelumnya kenalin, Ini dokter Abi."
Anggel menceritakan bagaimana kehadian yang terjadi antara Dokter Abi dan Quin. Apa penyebab terjadinya pertengkaran di antara mereka.
" Jadi, Dokter Abi memegang payudara Qila?" Ujar Lana histeris sambil mencontohkan ke dadanya, seolah-olah sedang memegang payudara Quin.
" Gak gitu juga Na, pake meragain segala.. Udah ah, aku malu tau liatnya."
' Menang banyak nih dokter, udah pegang payudara Quin, pake acara meluk dari belakang lagi. Waaah, gue yang cinta ama Quin aja belum pernah. ' Batin Lana.
Di halaman kampus, Quin sedang memperhatikan berbagai jenis ular, dari yang kecil, sampai yang besar, dari yang gelap, sampai yang berwarna. Bahkan, dari yang tidak berbisa, sampai berbisa. Quin pun berjalan melihat hewan yang lain.
" Hai, kamu Qila kan?" Seorang pria berpakaian jas dokter menghampiri Qila.
" Eeh, iyaa.."
" Kenalin, aku Diki." Diki mengulurkan tangannya.
" Oh, iyaa.. Aku Qila." Qila mengerutkan keningnya, dari mana pria bernama Diki ini mengenalnya?
" Eem, aku tau kamu dari Anggel."
Quin pun membulatkan bibirnya, berseru oo secara ria.
" Kamu suka kucing?"
Saat ini mereka memang berada di STAN kucing, setelah Quin melihat-lihat berbagai macam ular, termasuk ular miliknya.
" Iyaa, aku punya 4 di rumah, satu yang paling besar."
" Oh yaa? Apa sebesar ini?" Diki mengelus seekor kucing berjenis Maine Coon. Kucing terbesar yang beratnya mencapai 6 hingga 12 kg.
Quin menggeleng. " Bukan, lebih besar dari ini."
" Oh yaa, kenapa tidak di bawa?"
" Aku akan kerepotan jika membawanya, dan semua orang akan lari ketakutan, termasuk kamu mungkin."
" Ha..ha.., kamu lucu, hewan menggemaskan begini mana mungkin aku lari.."
Quin hanya menanggapinya dengan tersenyum miring. " Kamu suka singa?"
" Singa? ha..ha.., kenapa?"
" Bagaimana jika aku katakan jika kucingku sebesar singa?"
" Kamu bercanda,"
" Aku serius.."
__ADS_1
" Jika kucing kamu sebesar singa, kucing mu pasti akan mendapatkan recor muri."
" Benarkah? lain kali aku akan membawanya, jika ada kontes singa di sini."
Diki hanya menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan Qila. Sepertinya Diki merasa cocok dengan Qila yang suka bercanda.
" Qila.." Lana dan Anggel menghampiri.
" Hai Malaikat.." Sapa Diki.
" Waah, sepertinya kamu gak sabaran buat kenalan sama teman aku.."
Diki hanya tersenyum malu, Quin dan Lana yang melihat itu merasa mual. Quin melihat kearah belakang Anggel, pria yang bernama Abi itu tidak terlihat. Bagus lah, setidaknya mood Quin yang sudah membaik tidak kembali rusak karena melihat wajahnya.
" Gimana berbi? "
" Ohh, tadi sedang di nilai. Jadi aku lihat-lihat yang lain."
" Berbi? Kamu bawa kucing kamu?"
" Bukan kucing, tapi hanya seekor ulat."
" Ulat?"
" Hmm, ulat yang sangat cantik dan menggemaskan."
" Ah.. maksud kamu ulat bulu?"
Quin mengerjapkan matanya, kemudian dia tersenyum menanggapi ucapan Diki. Lana dan Anggel sudah menahan tawanya. Aura Quin mengatakan jika tidak ada yang boleh mengatakan hewan apa yang Quin bawa untuk kontes.
" Mau aku kenalin ke berbi?"
" Sepertinya seru."
" Baiklah, tunggu di sini.." Quin dan Anggel menghampiri STAN berbi.
" Gimana Diki?"
" Apanya yang gimana? "
" Kamu suka gak?"
" Tergantung Berbi.. Jika berbi suka, maka aku bisa pertimbangkan untuk mengenalnya."
" Tentu suka, dia dokter hewan loh. Seperti perkataan kamu malam itu, kamu ingin punya suami dokter hewan."
" Oh yaa??, kita lihat aja dulu, sehebat apa Diki mengambil hati Berbi."
Diki sedang menerima panggilan telpon saat Quin dan Anggel tiba di dekat dirinya dan Lana.
" Berbi tinggal di mana ntar? Dokter Rafa denger-denger mau pindah ke Medan."
" Tu dia, aku bingung nih.."
" Coba tanya Diki aja, mungkin di kliniknya terima Berbi." usul Anggel.
Diki mengakhiri panggilannya, dan berbalik badan..
" Aaaaa....U-ulaarr....." Diki berteriak histeris hingga dirinya terjungkal kebelakang.
Quin dan Anggel mengerjapkan matanya. Masa iya Dokter hewan takut ular?.
" Diki, kamu baik-baik aja?" Anggel mencoba membantu Diki berdiri.
" Menjauh, geli aku.. iih...." Diki langsung kabur tanpa kata..
" Bwaahahaha...." Tawa Quin langsung membahana sehingga menarik semua perhatian semua orang.
" Masa iya dokter hewan takut ular.. Ha..ha..ha.." Quin tidak sanggung menahan tawanya, hingga dia terduduk karena sakit perut.
" Lucu banget kayaknya.." Dokter Rafa menghampiri Quin yang terduduk di atas rumput. " Hai Berbi.."
" Itu Dok, masa dokter hewan takut ular. Kan lucu ya.. ha..ha..ha.." Quin tidak berhenti tertawa, sehingga dia tidak menyadari kehadiran Abi di sana.
" Gak semua orang suka ular Qila.." Ujar Dokter Rafa.
Quin langsung menoleh dan memberikan anggukan kepada Dokter Rafa. Quin berusaha meredakan tawanya.
" Huuff..huff..huff.. Tapi , lucu aja gitu Dok, emangnya saat praktek dulu gak ada bedah-bedah ular yaa?" Quin masih menyisakan tawanya.
" Ada sih, tapi gak tau kalo dia kabur saat praktek.."
" Aneeh bin ajaib. hi..hi..hi.."
" Tawa kamu Qila, jangan sampai terbang ke pohon." Ujar Lana.
Quin memegangi kepalanya. " Tenang, udah dipaku, gak bakal terbang kok.." Quin menyengir, kemudian senyumnya luntur saat mendapati Abi berada di samping Lana.
' Ngapain dia kesini coba. Bikin badmood aja.'
" Qila, kamu udah ada tempat untuk nyimpan Berbi?"
__ADS_1
Suara Dokter Rafa mengambil kembali perhatian Quin.
" Belum Dok, tempat dokter aja yaa, selagi cari klinik yang baru. "
" Klinik saya lagi banyak kucing Qila."
Qila memanyunkan bibirnya, dan memberikan puppy eyes kepada dokter Rafa.
" Oh ya, kenalin, ini Dokter Abimana. Beliau berprofesi sebagai dokter hewan juga, tadi saya sudah tanya dengan beliau tentang Berbi, dan beliau bersedia."
Quin mengerjapkan matanya. ' akhh, masa iya gue harus berhubungan dengan pria brengsek bernama Abi itu..'
" Qilaa.."
" Eehh, yaa Dok?"
" Kenalin, ini Dokter Abi.." Dokter Rafa kembali memperkenalkan Abi kepada Qila.
" Abi.." Abi mengulurkan tangannya.
Quin hanya menatap uluran tangan Abi, hingga Anggel menyenggol lengannya.
" Ehh,.. Emm Qila.." Qila menyambut uluran tangan Abi, tapi hanya sebentar, bahkan secepat kilat.
' Ni cowok bener-bener brengsek yaa.. Masa iya sih bisa-bisanya dia biasa aja gitu, kayak gak ada masalah.. Nyebelin banget..'
" Qila, gimana? "
" Eeh, eem.. "
" Dokter Abi ini juga bisa sekalian periksa Empus, kamu tau kan, gak semua dokter hewan mau terima Empus di kliniknya.."
Quin terlihat berfikir. Kemudian pandangannya terarah kepada Lana, bertanya dari sorot matanya kepada Lana. Lana hanya mengangkat kedua bahunya.
' Sialan si Lana, ditanyain malah diam aja.'
" Udah Quin, terima aja.. Dokter Abi ini, salah satu dokter hebat. Beliau dari Australia khusus pindah ke indo, karena kurangnya dokter yang menerima hewan buas. seperti perliharaan kamu" Bisik Anggel.
" Tapi aku masih sebel An dengan dia, lihat deh tampang polosnya, nyebelin kan.. Seolah-olah gak ada Masalah gitu.." Quin membalas bisikan Anggel.
" Apaan sih, nimbrung aja.." Quin mendolak kepala Lana, karena ikut mendengarkan pembicaraan dirinya dengan Anggel.
" Aku kan pingin denger juga Quin.." Bisik Lana.
" Kepo.."
" Jadi gimana Qila?"
" Eehh, itu..".
" Maaf Dokter Rafa, jika Nona Qila keberatan, jangan dipaksa."
" Siapa yang keberatan? saya gak bilang gitu kok.." Quin langsung menyambar ucapan Abi.
" Tapi saya merasa jika Nona sepetinya keberatan dengan usul Dokter Rafa.?"
" Itu.. Saya lagi mikir aja, d mana klinik Anda? Takutnya jauh dari daerah sini. Makanya saya berfikir." Ujar Quin memelankan suaranya di akhir kalimat.
Dokter Rafa terkekeh. " Tenang aja Qila, klinik Dokter Abi, berada dekat toko kue kok.. "
Quin membelalakkan matanya. " Klinik? bukannya market makanan hewan yaa?"
" Sekalian Qila, di belakang gedung itu ada halamannya, jadi Kliniknya ada di belakang market."
" Waah, marketingnya hebat banget.." Quin salut, pasalnya market makanan hewan milik Abi itu, adalah market makanan terlengkap. Quin perna kali membeli makanan Empus, Popo, burung, dan berbi di sana. Pokonya beberapa makanan hewan peliharaan Quin laah. Dan di sana, makanannya bermutu, serta lengkap dari kualitas rendah, sampai yang tinggi sekalipun..
" Nona tenang aja, karena klinik saya baru buka, jadi saya bisa kasih diskon ke Nona, kalo perlu di tambah lagi discon nya karena Nona Qila adalah temannya Dokter Anggel."
" Baiklah, saya setuju." Quin tersenyum lebar.
Lihat, kekesalan Quin menguap saat mendengarkan kata Discoun. Dasar, sultan kere.
.
.
.
Hai, perkenalkan.. Nama aku Abimana Setyo Subekti. Berprofesi sebagai Dokter hewan, Umurku 30 tahun, dan sebentar lagi akan menginjak 31 tahun.. Jika kalian bertanya kenapa aku belum menikah?.. Eemm, itu karena... Aahh, sudahlah.. biarkan waktu yang menjawab..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
Jangan lupa komennya yaa.. Biar makin semangat..
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.