KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 167


__ADS_3

Abi menggenggam tangan Quin yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tak sedetik pun Abi meninggalkan Quin, padahal ini sudah larut malam dan Abi belum makan apapun.


"Abi, biar gantian Mama yang jagain Quin, Abi istirahat aja ya, makan dulu, kamu juga butuh tenaga untuk menemani Quin." ujar Mama Kesya.


"Abi masih kenyang, Ma."


"Jangan keras kepala, kalau kamu sakit! Siapa yang akan menguatkan Quin?"


Abi terlihat berpikir, namun beberapa detik kemudian Abi menganggukkan kepalanya saat Mama Kesya kembali menyuruhnya untuk makan.


"Kalau Quin bangun, kabari Abi, ya Ma."


"Iya, pasti Mama akan langsung mengabari kamu."


Abi pun keluar dari kamar inap Quin, di luar kamar sudah ada Veer dan juga Papa Arka yang sedang berbincang.


"Ayo," ajak Veer.


Abi menurut dan mengikuti Veer dari belakang. Mereka berjalan menuju kantin rumah sakit. Untungnya, malam-malam begini kantin rumah sakit massih buka, ada banyak orang juga yang berada di sana. Kebanyakan keluarga yang menemani pasien.


"Mau pesan apa?" tanya Veer.


"Apa aja, lagian gue juga gak yakin bisa makan apa gak," ujar Abi dengan lesu.


"Lo harus kuat, Quin butuh Lo berada di sisinya. Kalau Lo lemah, itu sama aja membuat Quin kepikiran dan membahayakan anak yang ada di kandungan Quin."


"Gue harus apa? Semua salah gue, karena gue Quin dan anak kami terluka."


"Ini bukans alah lo, emang udah jadi suratan takdir yang hrus lo jalanin. Kehamilan Quin berbeda dari umumnya. Di dalam perut Quin, ada dua nyawa, bukan satu, jadi Quin harus ektra kuat. Lo tau, kekuatan itu bisa di dapat dari orang sekitarnya. Kalau lo lemah, Quin juga akan ikut lemah, maka dari itu, lo harus semangat. Lagian, darah gue akan selalu ada Quin, di saat di akembali membutuhkan donor darah," ujar Veer menyemangati Abi.


Abi menghela napasnya pelan, apa yang di katakan oleh Veer memang ada benarnya. Dia harus kuat, agar bisa menjadi pelindung bagi Quin.


Veer memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk Abi. Tak ada percakapan apapun di antara Abi dan veer, karena saat ini Veer sedang berbicara dengan Nafi di telpon.


Pesanan makanan pun tiba, Abi langsung menyantap makananya tanpa menunggu Veer yang masih bertelpon ria bersama sang istri.


Dalam hati, Abi terus menyemangati dirinya untuk bisa menghabiskan makanan yang sedang di santapnya saat ini.


"Udah habis? cepet banget?" ujar Veer saat setelah selesai bertelpon dengan sang istri.


Sebenarnya bukan Abi yang makannya cepat, melainkan Veer yang berbicara dengan sang istri terllau lama. Bahkan, Veer menghabiskan waktu 45 menit untuk mengobrol bersama sang istri tercinta.


"Bukan gue yang cepat makannya, tapi lo aja yang nelponnya kelamaan," gerutu Abi.


Veer terkekeh dan mengangguk setuju dengan apa yang Abi katakan. Memang, dirinya tak bisa berbicara dalam waktu sebentar jika bersama sang istri. Veer ini mengikuti perkembangan kehamilan sang istri yang tengah hamil tua.


"Kita balik ke kamar sekarang?" tanya Abi.

__ADS_1


"Yuk lah,"


Saat mereka hampir sampai di kamar Quin, Papa Arka keluar dengan tersenyum. Sebenarnya Papa Arka sudah menghubungi Veer, namun ponsel Veer sedang sibuk. Dan Abi? Ponselnya telah habis baterai.


"Quin sudah sadar," ujar Papa Arka saat melihat anak dan menantunya datang.


Abi langsung bergegas dan menghampiri istri tercinta.


"Quin..." uajr Abi sambil berlari dan memegang tangan Quin.


Abi mengecup punggung tanagn Quin berkali-kali.


"Aku kenapa?" tanya Quin pada Abi.


"Kamu hanya kelelahan," ujar Abi.


"Perutku, tadi perutku sakit sekali," ujar Quin sambil memegangi perutnya.


"Apa sekarang masih sakit?" tanya Abi.


"Tidak."


Abi menahan tangan Quin di atas perut ratanya. "Kamu tahu, di dalam sini sekarang sudah ada anak kita. Buah hati kita," ujar ABi.


"Ma-maksud kamu?"


Mata Quin langsung berkaca-kaca mendengarkan ucapan Abi.


"A-apa? Aku hamil?"


"Iya, Kamu hamil,"


"Ta-tapi? bagaimana mungkin? Selama ini, aku mendapatkan menstruasiku. Bahkan, tai pagi aku mendapatkannya." cicit Quin.


"Itu bukan dara menstruasi kamu, Quin." ujar Mami Anggun yang telah masuk kedalam ruangan untuk memeriksakan keadaan Quin.


"Jadi?"


"Itu tanda-tanda jika kandungan kamu lemah. Kamu gak menyadarinya sama sekali, karena yang mengalami ngidam adalah Abi." ujar Mami Anggun.


"Abi?" tanya Quin.


"Hmm, Abi yang mengalami gelaja ibu hami. Itu biasanya di sebut dengan sindrom kehamilan simpatik," jelas Mami Anggun.


"kamu tau kenapa itu terjadi? Biasanya kata orang tua dulu, artinya suami kamu sangat menyayangi kamu." ujar Mama kesya.


"Kamu mual? Muntah? Kapan?" tanya Quin.

__ADS_1


"Jika aku jauh dari kamu, aku langsung merasa pusing dan muntah-muntah." ujar Abi.


"Persis seperti Papa dulu," ujar Mama Kesya kepada Quin dan Abi.


Quin benar-benar harus istirahat total. Sedikit pun Quin tak boleh mengerjakan pekerjaan berat. Bahkan, untu berjalan pun Quin di larang.


Keadaan kakek Farel sedikit membaik saat mendengar Quin telah hamil. Quin yang duduk di kursi roda pun menghampiri sang kakek yang juga di rawat di rumah sakit yang sama dengannya.


Ya iyalah rumah sakitnya sama, kan milik perusahaan Moza juga.


"Kakek, gimana keadaan kakek?" tanya Quin dengan sendu.


"Kakek baik, kakek senang mendengar kamu telah hamil. Jaga kandungan kamu, ya," lirihnya.


"Iya Kek, Kakek juga ya, harus jaga kesehatan. Kakek harus sehat sampai Quin melahirkan." lirih Quin sambil menahan air matana.


Kakek membelai wajah Quin, seketika tangis Quin pun pecah. Quin mencium punggung tangan Kakek Farel sambil menangis tersedu-sedu.


*


"Kamu yakin? Pulang sendiri?" tanya Lana.


"Iya, Aku gak papa kok, lagian kamu juga sudah kasih pengawal untuk aku."


"Atau aku alihin kerjaan aku sama yang lain aja? Aku gak tega membiarkan kamu balik sendirian dalam keadaan seperti ini," ujar Lana dengan rasa bersalah.


"Kamu tenang aja, lagian dokter udah bilang kan? Kalau kandunganku baik-baik saja dan aman untuk naik pesawat."


Kabar yang menimpa Quin, membuat Lana merasa khawatri dan belum bisa melepaskan Anggel kembali ke tanah air sendirian. Lana tak ingin terjadi sesuatu kepada Anggel di saat dirinya tak bisa menemani.


Proyek yang sedang di tanganinya tak bisa di alihkan, jika di alihkan, Lana harus membayar denda yang lumayan besar, karena melepas tanggung jawabnya sebagai sutradara dan juga produser.


"AKu baik-baik aja, kamu tenang aja ya,"


Lagi, Lana menghela napasnya dengan berat. Dengan terpaksa, Lana menganggukkan kepalanya untuk melepas kepergian Anggel.


** Yukk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF

__ADS_1


__ADS_2