KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 48


__ADS_3

" Quin, menikahlah dengan ku, Hikkss.."


Quin meringis saat Lana memeluknya. Quin hanya bisa menepuk punggung Lana dan menyemangatinya.


" Saatnya untuk kamu buka lembaran baru Na." Ujar Quin sambil menepuk pelan punggung Lana.


" Aku gak iklas lepas kamu Quin, karena pria yang akan kamu nikahi, tidak mencintai kamu dengan tulus, dan kamu juga tidak mencintai dia..hiks.." Lana menghusap hidungnya yang berair di bahu Quin.


Quin meringis sambil memejamkan matanya, itu lebih baik dari pada Lana harus menjilat ingusnya sendiri.


Abi merasa Lana terlalu kekanakan, tapi tak bisa Abi pungkiri, jika Lana terlihat tulus mencintai Quin, dan apa yang di katakan juga tidak salah. Memang saat ini mereka menikah karena dijodohkan, bukan karena mereka saling mencintai. Tapi, saat ini Abi sedang belajar untuk memenuhi hatinya dengan kehadiran Quin, dan Abi rasa itu bukan hal yang sulit, karena Quin berbeda dari gadis lainnya. Quin memiliki karisma tersendiri, yang tidak di miliki oleh siapa pun, termasuk Anita. Itu yang membuat Quin berbeda dari Anita, dan itu juga yang membuat Abi jatuh hati dengan sosok Quin yang tidak pernah di jumpai di wanita mana pun.


Quin memberikan teh hangat kepada Lana dan Abi. Lana sudah lebih tenang dari sebelumnya. Quin masuk kedalam kamar Lana, dan mengganti bajunya dengan kaos Lana yang pastinya kebesaran di tubuhnya.


Abi terpana dengan penampilan Quin yang sangat cute, menurutnya. Baju kaos milik Lana yang sangat kebesaran di tubuhnya, bahkan bagian lehernya sampai mengekspos satu bahu Quin yang mulus. Di tambah lagi Quin mencepol rambutnya hingga menampilkan leher jenjangnya yang dihiasi dengan rambut-rambut halus yang tidak ikut terikat.


Abi membuka jaket bomber nya, dan langusng memakaikan kepada Quin, saat Quin sudah duduk di dekatnya.


" Apa yang kamu lakukan?" Ujar Quin setengah berbisik.


" A-aku hanya tidak ingin dia melihat kulit mulus mu."


Quin memutar bola matanya.


" Bahkan aku pernah mandi bareng Lana." Ujar Quin dengan mengulum senyumnya saat melihat Mata Abi melebar dan menatap Lana dengan musuh.


" Itu saat kami masih kecil. Ha...ha...ha.." Tawa Quin pun pecah seketika.


" Aku serius Quin."


" Aku juga, mana mau aku mandi dengan Lana jika sudha besar, bisa hamil aku d buatnya." Quin masih terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


" Aku tidak akan menghamili mu Quin, aku mau kita nikah dulu, baru melakukannya. Aku masih sayang dengan nyawaku." Jawab Lana dengan kesal.


" Yaa, sudah berapa kali kamu melamar ku? Mama Puput sampai geleng-geleng kepala karena kau terus saja di tolak dengan orang yang sama "


" Itu karena alasan mu yang tak masuk akal. Siapapun pasti jika menangis akan mengeluarkan ingus."


" Yaa, tapi bayangan mu waktu itu sangat teringat jelas di fikiran ku."


" Sudahlah, apa kamu akan membuat ku malu di depan Calon Suami mu ini?" Kesal Lana yang menekan kata 'calon suami.'


" Tidak, tapi kamu tetap yang terbaik." Quin memeluk Lana.


Selama ini Lana selalu bersikap sopan kepada Quin. Walaupun Quin selalu mengerjainya, dan mengatainya agar Lana ilfill dengan nya, tapi tetap saja perasaan Lana tak mudah di goyah.


" Bisakah kalian berhenti berpelukan?" Tanya Abi yang merasa tak suka dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


" Dasar iri, gak bisa liat orang senang." kesal Lana yang di tanggapi cengiran oleh Quin.


" Kamu sudah lebih baik kan? " Tanya Abi kepada Lana.


"Kenapa? Aku tak menyuruh mu datang, aku menyuruh Quin."


" Quin bersama ku, dan dia tanggung jawab ku saat Mama Kesya mengizinkan kami pergi tadi."


" Ya kalo kamu mau pulang, ya pulang aja sana."

__ADS_1


" Baiklah, aku rasa kamu sudah lebih baik. Ayo.." Ajak Abi kepada Quin.


" Quin tinggal." Lana menahan tangan Quin.


" Quin ikut aku."


" Tinggal "


" Ikut Aku."


Tatapan tajam Lana dan Abi saling bersibobrok, setiap sisi tangan Quin, dipegangi oleh mereka.


" Bisa kalian lepaskan? Kalian menyakiti lengan ku."


Lana langsung melepaskan tangan Quin, begitu pun dengan Abi.


" Apa sakit?"


" Sakit?"


Tanya Abi dan Lana bersamaan.


Quin memutar bola matanya malas. Kemudian mengambil tas nya dan bangkit.


" Aku harus pulang, Kakek pasti akan bertanya tentang cincin yang kami pilih hari ini. Dan kamu, jangan menangis lagi, atau aku beneran akan menelpon Anggel."


" Jangan, setidaknya jangan sampai Anggel tahu jika aku menangis."


" Dasar cengeng. Ya sudah, aku kembali. Aku sudah pesankan makanan untuk mu, jangan sampai lupa di makan."


" Makasih Quin."


keinginan Lana untuk menikahi Quin adalah, bukan hanya karena Lana sangat mencintai Quin, melainkan Lana tak ingin Quin jatuh kepada orang yang salah dna memghancurkan perasaan Quin. Lana bersedia menikah dengan Quin, walaupun Quin tak ingin di sentuh olehnya. Bagi Lana, perasaan Quin adalah segalanya.


Masih teringat jelas di ingatan Lana, saat mereka masih berada di taman kanak-kanak, orang-orang mengatainya anak haram. Quin dengan berani berada di depan Lana dan menarik kerah baju anak laki-laki yang mengatai Lana. Sejak saat itu, Lana bertekad menjadi lelaki kuat yang harus melindungi Quin, bukan Quin yang melindungi nya.


" Aku akan tetap menunggu sampai kamu bahagia, Quin. Aku di sini, sampai kamu benar-benar menemukan cinta sejati mu." Monolog Lana yang menatap kepergian Abi dan Quin.


.


.


" Lana orang yang baik."


" Aku tau."


" Kamu seperti tak menyukainya."


" Entahlah, Aku tak suka cara dia memandang kamu."


" Mungkin karena dia mencintaiku."


Abi membukakan pintu untuk Quin, Quin masuk , namun dirinya terkejut saat Abi mencondongkan tubuh kearahnya, dengan tangan yang menampung tubuhnya yang berada di setiap sisi kepala Quin. sehingga membuat Quin harus memundurkan tubuhnya hingga sampai bersandar di sandaran kursi.


" Abi, apa yang kamu lakukan?"


" Aku tak suka kamu memuji pria lain di depan ku." Bisik Abi tepat di depan bibir Quin.

__ADS_1


Quin mengerjapkan matanya.


" Akan aku pastikan, jika hanya aku yang akan berada di hati kamu." Abi terus menatap jauh kedalam mata Quin. Seolah terhanyut, Abi mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Quin.


Cup..


Quin melototkan matanya. Abi nerhatap, jika Quin tak marah dengan apa yang di lakukan nya, Abi sendiri tak tahu kenapa ia ingin sekali mencium bibir Quin. Namun Tak seperti yang Abi bayangkan atau harapkan.


" Aww... Quin sakit.. ampun... Aww... Aww.."


" Rasain, siapa suruh main cium-cium aku hah." Kesal Quin dan terus memukili Abi dengan tasnya.


" Maaf Quin, Maaf... "


Quin sudah kembali berada di luar mobil.


" Aku pulang sendiri." Kesal Quin.


Abi menahan lengan Quin.


" Lepas."


"Maaf Quin, Maaf. Aku akan mengantar mu pulang. Aku janji, gak akan melakukan nya lagi, kecuali jika kamu yang meminta nya."


" Dasar om-om mesum." Kesal Quin.


Abi tercengang mendengar julukan yang di berikan Quin untuknya.


" Aku belum setua itu Quin."


" Oh yaa? Umur mu 32 kan? dan sebentar lagi menginjak 33. " Quin tertawa mengejek.


" Dasar Om-om mesum, jablay." Kesal Quin.


" Quin...."


" Apa? Awas kalo berani macam-macam. Aku laporin Veer kamu." Ancam Quin.


Abi mundur sambil mengangkat kedua tangannya.


" Oke, tapi jangan panggil aku dengan sebutan om-om. Aku belum setua itu."


" Iih, dasar gak sadar diri." Quin kembali masuk kedalam mobil dan menutup pintunya.


Quin tersenyum saat melihat wajah kesal Abi, ketika dirinya memanggil Abi dengan sebutan Om.


" Om, kita pulang sekarang?" Ujar Quin dengan nada jutek.


Abi menghela napasnya, kemudian ia menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankannya.


Quin tersenyum dalam hati, karena berhasil mengerjai Abi. Tak tahu saja Abi, jika saat ini Quin tengah gugup karena Abi telah berani mencuri ciumannya.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2