KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 72


__ADS_3

Quin berdecak kesal, Karena Veer benar-benar akan pergi bersama Nafi ke Korea.


" Kenapa sekarang sih berangkatnya?"


" Kerjaan Nafi sudah menunggu, Quin"


Quin menghela napasnya. Quin gundah, ada yang ingin ia sampaikan kepada Veer, namun ia bingung bagaimana menyampaikannya.


" Ada yang mau kamu sampaikan?"


Ini lah Veer, ia selalu tau apa yang Quin fikirkan. Quin melirik kearah Nafi, kemudian ia kembali menatap kearah Veer. Nafi yang merasa jika si kembar ini perlu waktu berdua pun memberikan mereka waktu.


" Veer, kamu udah tau kan penyebab Nafi trauma?" Tanya Quin dengan sedikit takut.


" Hmm, iyaa... Aku tau."


" Bagaimana Nafi? apa sekarang ia baik-baik aja? Kalian pergi tanpa membawa Tata dan Dedi, jadi aku merasa khawatir."


" Kamu mengkhawatirkan Nafi?"


" Bukan hanya Nafi, tapi juga keselamatan kamu." Quin terdiam, mau tak mau Quin harus mengatakannya kepada Veer, demi keselamatan sang kembaran.


" Ada apa?"


" Emm, beberapa hari lalu aku melihat pria yang pernah melakukan pelecahan terhadap Nafi."


Veer langsung menatap Quin dengan intens.


" Kamu yakin?"


" Aku gak terlalu yakin, tapi aku sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahu."


" Apa sudah ada kabar?"


" Belum, aku juga bingung, kenapa lama banget yaa.."


" Bentar, coba aku cari tau.."


Veer meraih ponselnya, kemudian ia tempelkan benda pipih itu ke telinga.


" Halo, ada pekerjaan untuk mu, aku mau kabarnya satu jam lagi."


Veer mematikan ponselnya, dan meletakkan ponsel itu kembali di tempat semula.


" Sejam lagi kita akan mendapatkan kabarnya."


Quin menghela napasnya pelan, seharusnya ia lebih cepat mengatakannya kepada Veer, namun kesibukan dalam mempersiapkan pesta pernikahan Veer dan Nafi membuat Quin melupakan masalah itu.


*


Veer langsung memesankan tiket untuk Tata dan Dedi saat mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya. Quin meremas jari jemari nya karena ikut panik dalam situasi ini.


" Kenapa mendadak Tata ikut?" Nafi terlihat kebingungan.


Veer menggenggam tangan Nafi, memberikan ketenangan di sana.


" Aku tak ingin kamu kelelahan, setelah rapat, kita bisa menikmati waktu berdua."


" Semua pekerjaan di limpahkan ke Tata?"


" Kamu tak percaya pada Tata?"


" Emmm.. bukan gitu.." Pipi Nafi terlihat merona, Veer tersenyum geli, ia tahu apa yang Nafi fikirkan saat ini.


" Kita hampir berhasil malam itu, jika tamu bulanan kamu tak datang." Bisik Nafi yang langsung membuat seluruh wajah Nafi memerah.


" Veer, bi-bisakah kamu tak mengingatkan malam itu?" Nafi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Gak janji, karena kesabaran aku untuk memiliki kamu seutuhnya tinggal sedikit."


Nafi memukul dada Veer, Veer terkekeh dan menarik Nafi kedalam pelukannya.

__ADS_1


' Aku akan melindungi kamu Naf, kamu jangan khawatir, aku akan menyingkirkan laki-laki biadap itu.' Batin Veer.


*


Quin ikut mengantarkan Nafi dan Veer ke bandara.


" Aku akan merindukan kamu." Quin memeluk Veer.


" Kurangi manjanya dengan aku, kamu harus lebih banyak bermanja dengan Abi."


Quin berdecak, bagaimana ia bisa bermanja jika hati nya saja masih ragu kepada Abi, walaupun Quin masih menyangkal perasaan yang perlahan mulai hadir untuk Abi.


Quin pun memeluk Nafi juga, tak lupa Quin menggodak Nafi untuk memberikan keponakan yang lucu kepada nya.


" Hati-hati Veer, tolong jaga Nafi." Nasehat Papa Danu.


" Iya Pa."


Mama Ayu memeluk Nafi sambil terisak, Nafi sampai mengernyitkan keningnya. Tak biasanya sang Mama mengantar kepergiannya dengan menangis, apa sesuatu akan terjadi? atau sedang terjadi?


Setelah berpamitan kepada seluruh keluarga, Veer dan Nafi pun masuk kedalam bandara, dengan diikuti oleh Dedi dan Tata.


Oh ya, hanya sekedar informasi, Jika di waktu senggang, Dedi mengajarkan Tata untuk bela diri, dan sepertinya di antara mereka sedang terjalin satu hubungan yang masih di rahasiakan.


*


" Kenapa murung?" Tanya Papa Arka kepada Quin, saat ini mereka sedang di jalan pulang kembali ke aktifitas masing-masing.


" Apa mereka akan baik-baik aja?"


" Kamu mengkhawatirkan Veer atau Nafi?"


" Dua-dua nya Pa."


" Mereka akan baik-baik aja, kamu tau sendiri gimana jago nya Veer dalam bela diri."


" Hmmm, Andai saja Abi seperti Veer." Gumam Quin.


Papa Arka tersenyum, tak tau saja Quin jika Abi sudah melatih dirinya sehingga bisa sekuat Veer. Bahkan Veer pernah menantang Abi untuk berduel dengannya, dan perkelahian mereka imbang. Bahkan Abi mampu melawan serangan Veer dan Lana sekaligus. Dan itu di saksikan oleh Papa Arka.


*


Abi tadi gak ikut mengantar Veer dan Nafi, karena ada pasien yang harus di operasi. Yaa, maksdunya ada hewan yang harus menjalankan pengobatan yang lebih intensif.


" Belum, nunggu kamu "


" Lebay deh.."


Quin mengeluarkan dua bungkus nasi Padang, beserta daun ubi rebus dan juga sambal hijau nya.


" Woow, " Abi berseru menatap nasi Padang tersebut.


" Aku ambilkan minum dulu yaa.."


" Eeh, Quin di kulkas ada___"


Quin beranjak dari kursi nya tanpa mendengarkan kalimat yang ingin Abi ucapkan, kemudian ia mengambil air minum yang ada di luar ruangan Abi.


" Aaaaaaa....."


Klaang...


Abi langsung bergegas mendatangi Quin. Saat Abi sudah berada di dekat Qun, Bainterkejut karena Quin yang langsung melompat keatas tubuhnya dan memeluknya, Kaki Quin sudah melingkar di pinggang Abi, untungnya Abi sigap menangkap tubuh Quin.


" Ci-cicaak.. Abi, ada cicaak.. hikkss.." Quin sudah menyembunyikan wajahnya di leher Abi.


Abi mengerjapkan matanya, yang benar saja? Quin takut sama cicak? Apa gak salah?


" Quin, tenang lah.. Itu hanya cicak."


" Aku takut Abi. cicak nya melototi aku. hikkss..."

__ADS_1


Abi ingin menyemburkan tawanya, namun ia tahan.


" Tenanglah, Ada aku di sini "


Abi memang melihat jika di belakang dispenser ada cicak yang sedang nangkring di sana, mungkin baru siap buat kopi atau gimana, Abi pun mengusir cicak tersebut.


" Lihat, sudah tak ada lagi."


Quin melirik kearah di mana cicak itu berada, dan ternyata Abi benar, tidak ada lagi cicak di sana. Tiba-tiba saja Quin sadar dengan posisi mereka, dimana Quin berada dalam gendongan Abi dengan kaki Quin melingkar sempurna di pinggang Abi.


" Eem, aku sudah tak apa, turunkan aku."


Abi pun perlahan menurunkan Quin, terlihat Quin bergidik geli dan berjalan cepat kedalam ruangan Abi. Abi menggelengkan kepalanya.


Abi melihat cangkir yang tergeletak di lantai, ia raih cangkir tersebut dan meletakkan nya di tempat piring kotor.


Abi berjalan memasuki ruangannya, dilihatnya wajah Quin yang masih terlihat pucat.


" Hei, kenapa?" Abi duduk di sebelah Quin dan menggenggam tangan Quin.


" Pasti kamu mau ketawain aku kan? Karena aku takut cicak?" Terlihat mata Quin sudah berkaca-kaca.


" Setiap orang pasti memiliki trauma tersendiri, katakan, kenapa kamu takut cicak? sedangkan ular saja kamu tak takut."


" Tu kan, kamu mau ketawain aku.. Hikks.."


" Maaf, aku hanya ingin tahu saja. Apa gak boleh? jika kamu tak ingin menceritakannya sekarang, gak papa kok." Abi meraih tubuh Quin, menyandarkan kepalanya di dada bidang Abi.


" Aku akan bilang, tapi kamu jangan ketawa.." Rengek Quin seperti anak kecil.


" Iya, aku janji, aku gak akan ketawa."


" Beneran?"


" Iyaa sayang.." Abi mengecup pucuk kepala Quin.


Quin menelan ludahnya, tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat.


" Eemm, i-itu.. waktu kecil, aku suka sembunyi di gudang, trus di sana aku lihat cicak, matanya besar menatap aku terus, aku udah usir, tapi cicaknya malah deketin aku. Sejak itu aku takut takut cicak."


Abi menahan semburan tawanya, Quin berdecak kesal mendengarnya.


" Tuu kan, kamu ketawa.. iihh, nyebelin deh." Quin memukul dada bidang Abi, kemudian ia mencebikkan bibirnya dan memanyunkannya.


Abi yang melihat bibir Quin pun langsung menelan ludah nya.


" Eem, maaf.. Aku hanya hmppff.." Abi kembali menahan tawanya.


" Tuhh kaan.. Iihh nyebelin deh.." Quin memukul-mukul dada bidang Abi, hingga Abi tak sanggup lagi menahan tawanya..


" Abi nyebelin iih.. diam gak?" Kesal nya.


" Iya..iyaa.. haa..ha.. akud diam.. hahaa.." Abi tak bisa menghentikan tawanya.


" Abiii..." geram Quin dan menutup mulut Abi, namun Abi menghindar agar Quin tak bisa menutup mulutnya.


Quin terus berusaha untuk menutup mulut Abi, hingga Quin tanpa sadar sudah naik keatas sofa dan duduk diatas pangkuan Abi. Abi masih terus menghindar, dengan memegang pergelangan tangan Quin, namun Quin berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Abi yang memang tak terasa kuat. Hingga tubuh Abi sudah bersandar ke sofa dengan tangan Quin menangkup wajah Abi. Mata mereka bertemu, tawa Abi pun perlahan memudar, di gantikan dengan deru napas yang memburu, dada Abi mulai naik turun dengan cepat.


Perlahan, tangan Abi naik keatas menahan tengkuk Quin, perlahan di dorongnya kepala Quin untuk mendekat kewajahnya, tidak ada perlawanan dari Quin, bahan Quin mengikuti gerak tangan Abi..


" Uppss, maaf dokter.. Saya kira gak ada Nona Quin." Asisten Dokter Abi menyengir dan menutup kembali pintu yang memang tak tertutup tadi.


Abi dan Quin langsung menjauhkan tubuh mereka, bahkan Quin sudah berdiri dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2