KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 122


__ADS_3

Quin dan Abilagi ke dalam kamar. Sebelumnya Quin sudah menjelaskan cara pembuatan cake diagonal coffe nya kepada Veer.


"Seru ya kalo lagi ngidam gitu." Ujar Abi yang mana membuat Quin menghentikan gerakannya untuk menarik selimut. Quin mengerjapkan matanya menatap Abi. Abi terkekeh melihat reaksi Quin yang sangat lucu.


"Aku tau kamu belum siap dan yakin sama aku, dan aku gak akan maksa kamu kalo kamu belum siap, aku akan menunggu hingga kamu ssiap." Ujar ABi sambil membelai kepala Quin dengan sayang.


"Maaf." gumam Quin.


"Gak masalah, kita tidur lagi yuk ..."


Quin menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam pelukan Abi. Tak butuh waktu lama untuk Quin kembali terlelap. Quin benar-benar merasa lelah hari ini.


*


"Veer, kamu mau pergi kek kantor?" tanya Nafi yang sedang melihat Veer memakai jam tangannya.


"Hmm, ada rapat penting yang harus aku hadiri."


"Apa aku boleh ikut?" ujar Nafi takut-takut.


Semenjak mengetahui kehamilannya, Nafi semakin manja dan tak ingin jauh dari Veer. Bahkan Nafi kerap sekali cemburu dengan karyawan Veer yang menyapa Veer dengan ramah dan dibalas ramah oleh Veer.


Yah, memang begitulah Veer sebenarnya. Veer memang selalu ramah kepada siapa saja, termasuk OB sekalipun. Walaupn begitu, Nafi tetap saja merasa cemburu, padahal sebelum ia hamil, Nafi sedikitpun tak mempermasalahkan hal tersebut. Rasanya ingin menangis di saat melihat ataupun mengingat Veer tersenyum ramah kepada wanita lain. Nafi gak rela membagi senyuman manis sang suami kepada wanita lain. Bagaimana jika ada yang salah paham?


Tuh kan, baru memikirkannya saja Nafi sudah merasakan panas di dada, bahkan air mata Nafi sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Loh, kok kamu nangis? Kenapa?" Tanya Veer yang melihat Nafi menghapus air matanya dengan cepat.


"Akugak nangis kok." bohong Nafi dengan suaranya yang parau.


"Jangan bohong, bilang sama aku, kamu kenapa nangis?"


"Hiks, aku ingin ikut kamu. hiks ..."


"Iya, boleh. Tapi kenapa kamu nangis?"


"Hiks, aku takut kamu marah saat aku minta ikut." ujar Nafi dengan wajah tertunduk.


Veer merasa gemas dengan Nafi yang bertingkah seperti anak kecil. Veer mengecup hidung dan bibir Nafi, kemudian memeluknya dengan sayang.


"Aku gak akan marah kok. Aku bahkan senang jika kamu selalu nempel sama aku.'


"Ntar aku ganggu kamu lagi."


"Aku percaya, kamu psti bisa mengkondisikan diri di saat aku sibuk bekerja, kamu hanya memandang wajah aku dengan penuh kekaguman."


"Aku gak masalah kok nungguin kamu setiap hari di kantor."


"Oke, berarti kamu setuju ya sama keputusan aku untuk tidak bekerja lagi diperusahaan kamu. Aku cuma mau kamu fokus dengan kehamilan kamu dan merawat anak-anak kita nanti. Tapi kalo kamu merasa bosan, kamu boleh kok melihat-lihat kantor."


"Iya, aku bakal nurut apa kata kamu. Aku ingin menjadi istri yang baik."


Veer mengelus rambut Nafi dengan sayang.


"Ya udah, kamu siap-siap terus ya. Aku bantuin mau?"


"Aku bisa sendiri." Ujar Nafi dengan wajah merona.


*


Abi sedang fokus kepada Mac nya. Ada email yang baru saja di kirim oleh asistennya dan harus segera Abi pelajari. Abi mendesah di saat ia sendiri yang harus melakukan rapat penting di korea. Gak lama sih, cuma dua mingguan paling cepat, atau bisa lebih cepat lagi dari itu. Tapi yang membuat Abi berat untuk pergi adalah Quin. Abi tak ingin berpisah dari Quin walaupun hanya sesaat.


Kepergian mereka ke Jerman saja rela Abi batalkan di karenakan Quin yang memang belum siap untuk berangkat ke sana. Abi mengacak rambutnya frustasi di saat ia berfikir akan tinggal berjauhan dengan Quin. Atau ia ajak saja Quin untuk ikut bersamanya? Tapi bagaimana jika Quin menolak? Abi kembali mengacak rambutnya dan menggeram pelan.


"Kenapa?" Tanya Quin yang baru saja selesai berpakaian dan berdandan.


"Hmm? tak apa, hanya pekerjaan yang menumpuk." ujar Abi dengan tersenyum tipis.


Quin pun duduk di sebelah sang suami, dan mengusap lengannya dengan lembut.


"Apa ada masalah? Katakan saja, walaupun aku tidak bisa membantu, setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik untuk kamu."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Hmm ... kayakan, apa yang mau kamu ceritakan?"


Abi merangkul bahu Quin dan menarik tubuhnya untuk bersandar di dada nya.


"Aku ada pekerjaan di Korea, dan aku ingin kamu ikut bersamaku. Tapi ...." Abi memandang wajah Quin dengan sendu.


"Tapi Apa?"


"Aku takut tak punya waktu untuk kamu. Karena pekerjaan ku sangat padat di sana, dan harus selesai dalam kurun waktu maksimal tiga minggu, tapi aku akan berusaha untuk membuatnya menjadi dua minggu."


"Kalo aku ajak Anggel ke sana boleh? Jadi aku ada teman untuk shopping."


"Anggel? bukannya dia harus praktek?"


"Hmm ... Anggel kemarin telfon aku. Dia curhat tentang Lana dan menangis. Ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa dirinya kan menikah dengan orang yang tak di cintainya. Jadi dia ingin menyendiri. Dari pada Anggel pergi entah ke mana, bukankah lebih baik dia pergi bersama kita?"


"Kamu benar, aku tidak masalah. Tapi kamu jangan tidur sama Anggel ya, aku mau kamu tidurnya sama Aku."


"Dasar genit."


"Aku mohon, mau ya."


"Baiklah, tapi jangan macem-macem." Ancam Quin.


"Gak macem-macem, cuma satu macem aja. Cium dan peluk."


"Itu dua macem udah."


Abi terkikik melihat Quin mengerucutkan bibirnya. Abi pun memeluk Quin dan mengecup pucuk kepalanya dengan berkali-kali dengan sayang.


*


"Uweek .... Uwweeekk ...." Nafi yang baru saja memasukkan sepotong roti kedalam mulutnya tiba-tiba langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan nya lagi.


Veer dengan setia mengusap punggung Nafi dan memegang rambutnya yang tergerai.


"Aku pingin cake rasa kopi. Yang kaya semalam boleh juga. Pokoknya apapun yang beraroma kopi ataupun berasa kopi." rengek Nafi kepada Veer.


Veer menuntun Nafi kembali ke ruang makan.


"Minum dulu tehnya sayang. Biar enakan." Ujar Mama Kesya seraya memberikan segelas teh hangat kepada Nafi.


"Ma, ada kopi gak?" tanya Nafi dengan nada yang manja.


Mama Kesya mengerjapkan matanya mendengar permintaan Nafi.


"Kamu mau kopi?"


"Iya Ma, pingin banget minum kopi." Ujar Nafi dengan bergelayut manja.


Papa Arka awalnya terkejut melihat Nafi manja begitu, tapi kemudian Papa Arka tersenyum di saat mengingat jika menantunya itu sedang hamil muda.


"Baiklah, tunggu sebentar ya."


"Aku ikut boleh Ma? Mama ajarin aku buat kopi."


Mama Kesya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mama kesya merangkul menantunya yang manja itu ke dapur.


"Nafi mana?" Tanya Quin saat sudah bergabung dengan Papa Arka, Veer, Arash, dan Shaka."


"Di dapur lagi buat kopi sama Mama."


Quin pun membulatkan bibirnya seraya berkata 'OO'.


Tak berapa lama Nafi datang bersama Mama Kesya dari arah dapur dengan memegang secangkir kopi.


"Enak banget ini, Ma."


"Iya sayang, pelan-pelan minumnya, masih panas itu."

__ADS_1


"Iya Ma."


Quin menatap Nafi dengan mulut terbuka. Setau Quin, Nafi tak menyukai Kopi. Saat Nafi memakan cake buatannya pun Quin sempat terkejut karena Nafi memakannya denganlahap. Tapi itu cake yang beraroma kopi, berbeda dengan kopi beneran. Apa setiap orang hamil memang memiliki keunikan seperti ini? Quin tersenyum di kala membayangkan bagaimana jika dirinya hamil nanti. Apa Abi akan menjadi suami siaga seperti suami Papa Arka, Papa Fadil, dan Daddy Bara?


Quin refleks mengelus perutnya yang rata, dan itu semua tertangkap oleh Abi. Abi pun mencondongkan tubuhnya kearah Quin, dan berbisik di telinga nya yang mana membuat wajah Quin panas dan merona.


"Kamu lagi bayangin kalo sedang hamil anak-anak kita nanti?"


Quin perlahan mengalihkan pandangannya kepada Abi. Terlihat jika Abi sedanng tersenyum nakal dan menggodanya.


"Duduk dan diamlah di situ. Aku tidak membayangkan apapun." Ujarnya dengan wajah yang semakin merona.


"Benarkah? Atau kamu sudah ingin jika ada buah cinta kita di sini?" bisik Abi sambil menyentuh perut rata Quin. Yang mana mengantarkan gelenyar aneh di tubuh Quin.


"Jangan menggoda ku, atau aku tak akan ikut ke Korea dengan mu." Ancam Quin dan itu berhasil membuat Abi kembali ke tempatnya.


"Apapaun akan aku lakukan agar kamu ikut bersama ku." Ujar Abi sambil mengedipkan matanya sebelah.


*


Quin sudah menghubungi Anggel dan mengajak nya untuk pergi bersamanya. Anggel tentu saja langsung menyetujui nya, karena liburan adalah hal yang Anggel butuhkan sekarang. Dan saat ini pun Anggel sudah langsung meluncur ke toko kue milik Quin.


"Baiklah, nanti akan aku kabari lagi kamu."


"Baiklah, aku tunggu kabar dari kamu." Anggel merebahkan dirinya di sofa.


"Apa Lana ada menghubungi mu?" Tanya Quin penasaran.


"Tidak, bahkan dia telah memblokir semua aksesnya tentang ku."


"Benarkah? apa kamu mau aku menghubungi nya?"


"Tidak perlu, entah kenapa aku saat ini merasa sangat marah kepadanya. Aku sangat membencinya, dia mengatakan jika dia mencintai aku tapi apa yang terjadi? bahkan untuk memperjuangkan aku saja dia tidak." Ujar Anggel dengan kesal.


"Lana sudah berusaha, apa kamu sudah berusaha untuk membujuk Tante?"


Anggel terdiam, Quin benar. Lana telah mencoba beberapa kali untuk meyakinkan Oma Mega, tapi hasilnya tetap sama. Apa dirinya sudah berusaha keras untuk meyakinkan sang Mami? Tidak, Anggel selama ini hanya memberontak untuk menolak perjodohannya dengan Martin.


Tapi Anggel merasa jika dirinya berjuang saat ini, semua nya terasa sia-sia, karena Mama Puput sudah mengirim lamaran kepada seorang gadis untuk Lana. Mungkin sudah nasib Anggel untuk tidak bersatu dengan Lana.


"Akkhhh...."


Anggel menggeram dan mengacak rambutnya, yang mana membuat Quin terkejut dan menatapnya dengan heran. Wanita yang ada di hadapan Quin saat ini bukanlah wanita yang biasanya ia kenal. Wanita yang ada di hadapan Quin bagaikan orang lain yang menyerupai Anggel. Anggel tak pernah berpenampilan acak-acakan seperti ini, bahkan Anggel selalu terlihat modis di antara dirinya, Kayla, dan Raysa.


"Sebegitu frustasinya kah kamu An?" Lirih Quin.


"Kamu dulu pernah mengalaminya, Quin. Aku hanya mengingatkan kalo kamu lupa." Ujarnya dengan dingin.


"Waah, lihatlah. Aku sampai tak mengenal wanita yang dudukdi hadapanku ini. Apa kamu melewati kuburan dan lupa untuk mengucapkan salam?"


Anggel menatap Quin dengan jengkel. "Ya, dan ketika hari sudah gelap, aku akan terbang ke pohon dan menakuti mu."


"Uuuhh, aku takut."


Anggel mencebikkan bibrinya, namun tidak dengan Quin yang sudah tertawa terbahak-bahak.


 


 


Yuukkk..


follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2