KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 39


__ADS_3

Seluruh keluarga bernafas lega saat mendengar jawaban Quin, jika dirinya setuju untuk menikah dengan Abi. Dengan syarat, jika pernikahan mereka hanya keluarga yang tau.


Kakek Farel dan Kakek Andreas yang telah sadar pun bernapas lega. Walaupun mereka harus kecewa dengan persyaratan yang Quin Ajuin.


" Kamu baik-baik saja dengan keputusan mu?" Veer mencoba membaca fikiran Quin.


" Apa ada cara untuk ku menolak?"


Veer sudah siap membuka mulutnya, namun Quin lebih cepat berkata. " Tanpa harus menikahi Lana?."


Veer hanya bisa menghela napasnya.


" Jangan jatuh cinta dengannya Quin."


" Aku tau, dan aku rasa kamu tau aku Veer, bahwa aku bukan orang yang gampang untuk jatuh cinta."


" Yaa, aku percaya dengan mu."


Quin kembali menatap bintang di langit. Yaa, saat ini Quin dan Veer sedang berada di atap rumah sakit.


.


.


" Ma, Quin cari sarapan dulu ya.."


" Kamu yakin sayang? wajah mu terlihat pucat. lagi pula Veer dan Nafi akan kesini."


" Hanya kurang tidur, tapi Quin butuh menghirup udara pagi."


" Baiklah, jangan terlalu jauh cari sarapannya yaa.."


Quin mendaratkan ciuman di pipi Mama Kesya. Kali ini Quin tidak memakai maskernya, dia hanya ingin menjadi Qila, bukan menjadi Quin. Quin pun membawa langkah kakinya menuju penjual lontong yang berjualan di dekat rumah sakit.


Quin, Mama Kesya, Papa Arka, dan Abi menginap di rumah sakit. Jika kalian bertanya mana Abi dan Papa Arka. mereka sedari solat subuh tadi belum juga kembali.


" Mbak, lontongnya pake telur bulat sama pergedel satu ya, "


" Iyaa Mbak, minumnya apa?'


" Teh panas saja."


Pelayan itu pun membuat pesanan Quin. Quin memainkan ponselnya, dan tidak menghiraukan orang yang memandangnya dengan pujian, atau...


" Eh, tu cewek yang di video kemarin kan?, simpanannya Anak dan bapak."


Entah kenapa Quin yang sedang fokus ke ponselnya memasang telinganya, untuk mendengar percakapan dari dua wanita yang juga ikut menikmati sarapan lontong pagi ini. Yang sepertinya omongan mereka di tujukan untuk dirinya.


" Iyaa, sayang ya, cantik-cantik mau aja jadi simpanan. "


" Hooh, namanya juga butuh duit."


" Iih, aku mah gak mau. Apalagi sampai anak dan bapak di embat juga.."


Quin yang mulai jengah menatap kearah dua orang tersebut. Dua wanita itu langsung membungkam mulutnya dan fokus dengan ponsel mereka masing-masing.


" Ini mbak pesanannya."


" Makasih.."


Quin menikmati sarapannya. Ponsel Quin berdering, menampilkan nama Abi. Quin hanya melirik ponsel tersebut tanpa berniat untuk mengangkat panggilan dari Abi.


" Berapa Mbak?"


" 20 ribu aja Mbak."


Quin memberikan uang pas, dan kemudian dia pergi. Quin yang sedang membalas pesan dari Veer pun tidak melihat jika di hadapannya ada orang lain, sehingga Quin menabrak orang tersebut.


Praang...


" Maaf.."

__ADS_1


Quin meraih ponselnya dan juga ponsel milik orang yang di tabraknya. Quin melihat video yang tampil di layar ponsel milik orang yang di tabraknya.


" Dari mana Anda dapat video ini?" Tanya Quin dengan menahan emosinya.


" Da-dari pesan group "


" Bisa kirimkan ke saya?"


Orang yang Quin tabrak mengirimkan video tersebut melalui bluetooth.


Quin mengambil posisi duduk di salah satu bangku yang ada di koridor rumah sakit. Quin menonton video yang berdurasi 4 menit itu.


Air mata Quin seketika jatuh, " Jadi ini alasan Papa memaksa aku menikah?"


Quin menggenggam ponselnya dengan kuat. Dengan menahan amarahnya, Quin melangkah dengan cepat menuju ruangan Kakek. Sesampainya di ruangan Kakek, Quin melihat pintu ruangan yang tidak tertutup rapat, Quin mendekat dan mendengar percakapan Mama dan Papa.


" Papa yakin ini keputusan yang terbaik untuk Quin?"


" Iya Ma, hanya menikahkan Quin, dan memberitahu kepada media status Quin sebenarnya, maka orang-orang tidak akan menggunjingnya."


" Mama memang tidak ingin Quin merasakan apa yang Mama rasakan dulu, di tuduh dan di permalukan, tapi Mama kurang setuju dengan keputusan Papa menikahkan Quin."


" Ma, apa Mama punya cara lain?. Cepat atau lambat, status Quin akan terungkap. Papa mau, status Quin terungkap dengan cara yang hormat, bukan karena kontroversi."


" Tapi tidak dengan membohongi Quin dengan penyakit Papi dan Tuan Andreas. Itu hanya akan menekan Quin, dan membuat Quin merasa bersalah."


Quin yang mendengar pembicaraan Papa Arka dan Mama kesya menutup mulutnya.


" Jadi ini semua hanya tipu muslihat?"


Mama kesya dan Papa Arka terkejut dengan munculnya Quin.


" Quin, Papa bisa jelaskan."


" Baik, Quin dengarkan. Sekalian, Quin minta penjelasan dengan video ini. Apa asal rencana ini karena bermula dari video ini?"


" Dari mana kamu dapat video ini?" Papa Arka menatap Quin dengan tatapan penuh tanya.


Papa Arka membuang napasnya dengan pelan dan panjang.


" Kamu tau, persaingan di dunia bisnis saat ini sungguh mengerikan, orang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Termasuk membuat video itu."


Video yang berisi Quin mencium pipi Papa Arka, dan memeluknya, serta Veer mencium kening Quin dan memeluknya. Video yang bertujuan untuk menjatuhkan Veer dan Papa Arka, namun secara tak langsung menjelekkan nama Quin. Yang mana judul dari video tersebut adalah 'Keluarga Moza, Ayah dan Anak menjadikan pembantu mereka sebagai simpanan. Apa mungking King of Moza juga menjadikan pembantu tersebut sebagai simpanannya juga?'. Di akhir video tersebut menampilkan Quin yang tersenyum manis kepada Kakek Farel sambil memapahnya berjalan.


" Papa tidak ingin mereka menjelekkan kamu dan merendahkan kamu Quin. Papa tidak peduli dengan nama baik Papa, begitu pun dengan Veer. Kami hanya memperdulikan kamu, hanya kamu. Untuk itu Papa mau kamu menikah, agar statusmu bisa terungkap."


" Kenapa harus menikah Pa?, Quin siap jika status Quin harus terbongkar, tanpa harus menikah." Quin sudah menitikan air matanya.


" Karena mereka akan mengincar kamu untuk menjatuhkan Veer, dan perusahaan Moza. Bukan perusahaan yang kami fikirkan, akan tetapi keselamatan kamu." Papa Arka menjeda ucapannya.


" Tidak ada yang bisa menyentuh milik keluarga Setyo, maka dari itu Papa ingin kamu menikah dengan Abi."


" Untuk itu kalian membuat drama tentang penyakit Kakek?"


Papa Arka menundukkan wajahnya, menarik napas, dan menganggukkan kepalanya.


" Apa Abi tau masalah ini?"


Sekali lagi, Papa Arka menganggukkan kepalanya. Quin mengepalkan tangannya, dan menghapus air matanya kasar.


" Quin benci Papa." lirih Quin dengan air mata yang berderai.


" Quin, maafin Papa.."


Quin keluar dari ruangan dan membawa kakinya berlari. Panggilan dari Abi pun tidak di hiraukannya.


" Quin.."


Abi menarik lengan Quin, dan menghentikannya. Quin menatap Abi dengan murka.


" Kau kasihan dengan ku?, karena itu kau setuju untuk menikah dengan ku?"

__ADS_1


" Quin.."


" Apa? Tertarik? kau? tertarik dengan ku?, cih.. Sebaiknya kau simpan rasa ketertarikan mu itu, karena aku tidak akan pernah jatuh dalam pesonamu, Tuan Abimana."


Quin menghempas tangan Abi, dan kembali melangkah cepat menuju lift yang terbuka dan menutupnya dengan cepat.


Quin benar-benar tidak memperdulikan orang di sekitarnya.


" Veer, bukankah itu Quin?" Nafi menunjuk kearah Quin yang berlari keluar dari lobi rumah sakit.


" Kenapa Abi mengejarnya?"


Veer yang sedang memarkirkan mobilnya, dengan cepat mematikan mesin mobil dan keluar, berusaha mengejar Abi dan Quin, namun Veer terlambat, karena Quin dan Abi sudah naik kedalam taksi yang di stop oleh Quin.


.


.


" Quin, kita bisa bicarakan ini baik-baik."


" Berhentilah mengikuti ku Abi." pekik Quin di dalam taksi.


Supir taksi sampai melirik kearah spion, dan bergidik ngeri saat melihat sepasang kekasih yang tengah berantam itu. Semoga tidak terjadi KdR dalam taksi, batin supir taksi tersebut.


.


.


Abi terus mengikuti Quin, hingga ketempat latihan pemanah.


" Hai Qila.." Sapa resepsionis


Quin hanya tersenyum tipis dan melewati resepsionis itu. Quin yang memang pelanggan setia di tempat pelatihan memanah pun langsung mengambil busur dan anak panahnya. Quin juga tidak memperdulikan manager yang menyapanya.


Abi masih terus mengikuti Quin dan menunggu Quin hingga menyelesaikan memanahnya. Abi menghela napas, saat Quin menambah waktu memanahnya. Sudah 3 Jam Quin terus memanah, tanpa istirahat dan juga meminum seteguk air. Abi juga sudah melihat jika berkali-kali Quin mengurut Bahunya, serta lehernya. Abi tidak bisa biarkan Quin terus memanah dengan keadaan seperti itu, karena itu akan membuat cedera otot-otot bahunya.


" Quin hentikan."


Quin tidak memperdulikan peringatan Abi.


" Quin.." Abi meraih lengan Abi.


" Don't touch me Mr. Abimana." Ujar Quin menatap tajam Abi.


" Quin, kamu akan melukai dirimu sendiri."


" Apa peduli mu?" Pekik Quin. " Sebaiknya kau pergi, dan jangan pernah muncul di hadapanku. aku membenci mu Abi.. Aku muak dengan orang bermuka sepertimu, Aku benci kamu.."


Mata Quin sudah berderai dengan air mata dan memberontak melepaskan pegangan tangan Abi.


" Quin.." Abi membentak Quin hingga Quin terdiam dan hanya sesenggukan.


" Hikss.."


Abi memeluk Quin, dan membiarkan Quin menangis dan membasahi baju yang di kenakan oleh Abi.


" Maafkan aku, tapi ini semua demi kebaikanmu."


" Huaa....aaaa...hikkss...huaaaa....."


Quin hanya menangis, dan membiarkan Abi memeluknya.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2