
"Kok senyum-senyum? kenapa?" tNaya Abi saat melihat sepanjang jalan pulang Quin tersenyum sendiri.
"Kamu tau gak, Ica itu dulu benci banget sama Fatih. Tapi Ica selalu mengandalkan Fatih di setiap momen. Lucu kan, dan saat Fatih ingin melamarnya dulu, Ica selalu menolak, siapa sangka kalo sekarang mereka benar-benar sudah bertunangan. Perjuangan Fatih seakan tak sia-sia."
"Emang beneran sedari kecil Fatih udah suka sama Ica?"
"Bukan dari kecil, Tapi sedari Ica lahir, Fatih udah minta Ica untuk di bawa pulang. Bahkan kata Bunda, Fatih sering banget bilang kalo udah besar dia mau nikahnya sama Ica."
"Waah, gak nyangka kalo sebentar lagi impiannya bakal jadi kenyataan."
"Iyaa, mungkin kalo Ica lagi gak dalam masa ngabdi, udah nikah deh mereka."
"Iyaa, eh, kamu ada liat gak calon suaminya Anggel tadi?"
"Yang pake kaca mata dan behel gigi?"
"Huum, masa sih Oma Mega beneran mau jodohi Anggel dengan dia."
"Loh, kenapa emangnya? anaknya kan baik dan pintar. Apa karena penampilannya?"
"Ya bukan gitu, tapi ... hmm.... mendekati itu sih. Bukannya aku nilai seseorang dari penampilannya, tapi ... ah, aku susah ungkapinnya, takut jatuhnya jadi menghina penampilan seseorang."
Abi tersenyum mendengar ucapan Quin. Memang bagaimana alasannya pun, sudah pasti semua itu menjurus ke penampilan Martin.
*
"Hanya sebentar Mi, Boleh ya?" Pinta Anggel kepada sang Mami untuk berbicara dengan Lana.
"Hmm, baiklah, hanya sebentar. Nanti kamu pulangnya di antar Martin ya."
"Iya." jawab Anggel lesu.
Anggel menatap Lana yang tengah berbincang dengan Lucas. Anggel menarik napasnya kemudian ia memberanikan diri untuk mendekati Lana yang sedari tadi memang menghindari nya.
"Na, boleh aku bicara sama kamu sebentar?" tanya Anggel sambil merem*s-rem*s jari jemarinya.
Lana menoleh ke arah Anggel dan melirik kearah Lucas.
"Selesaikan apa yang belum terselesaikan." Ujar Lucas sambil menepuk bahu Lana dan pergi meninggalkan Anggel dan Lana.
"Mau ngomong apa?"
"Gak di sini,"
Lana pun mengikuti Anggel untuk berada di taman hotel. Anggel duduk di slaah satu bangku taman, begitupun dengan Lana yang duduk di sebelah Anggel.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Lana setelah di landa keheningan beberapa menit lalu.
"Hmm," Anggel menghela napasnya pelan.
"Apa kamu benar-benar akan menyerah?" tanya Anggel.
"Untuk?"
"Apa kamu akan membiarkan aku menikah dengan Martin? aku gak cinta dengan dia, aku cuma cinta sama kamu."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Aku bisa apa, An? di satu sisi hati Mama tersakiti karena hubungan kita. Dan di satu sisi Oma Mega mengancam akan mengakhiri hidupnya jika aku nekad membawa kamu lari. Lalu aku harus apa? Apa aku akan membiarkan dua hati seorang ibu terluka karena keegoisan ku? Apa kamu tega melihat Mami kamu mengakhiri hidupnya karena tak merestui hubungan kita?" tanya Lana dengan suara yang terdengar pilu.
Anggel sudah terisak mendengar alasan Lana. Sepertinya harapan Anggel kepada Lana benar-benar berakhir. Lana tak akan memperjuangkannya karena tak ingin melukai hati dua wanita yang selalu di hormati ya dan di sayangi nya.
"Baiklah, aku rasa aku sudah memiliki jawaban apa yang harus aku lakukan."
"Lupakan aku, belajarlah mencintai Martin."
Anggel tersenyum miring. Melupakan Lana? setelah usahanya yang gagal untuk melupakan Lana dan sekarang Lana menyuruhnya untuk melupakannya lagi? Apa Lana tau bagaimana rasanya sulit untuk melupakan?
"Tentu, aku akan melupakan kamu dan berbahagia dengan Martin." Ucap Anggel dengan kesal.
"Ah ya, ada yang mau aku katakan."
"Apa?"
"Seminggu lagi aku akan berangkat ke India. Salah satu produser disana mengajak ku bekerja sama. Dan aku menerima nya. Aku akan lama di sana, mungkin saat kamu menikah, aku gak bisa hadir."
Anggel menatap Lana dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Air mata Anggel terus mengalir membasahi pipinya. Anggel menghapus kasar air mata itu, dan mencoba tersenyum.
"Semoga sukses."
Setelah mengatakan itu, Anggel pergi meninggalkan Lana yang masih terduduk di kursi taman.
Andai saja Anggel tahu jika Lana sedari tadi menahan dirinya untuk tidak memeluk dirinya. Lana menahan hasratnya untuk tak menghapus air mata yang mengalir di pipi Anggel, merengkuh tubuh ringkih yang terlihat lemah. Memberikan kehangatan kepada wanita yang di cintai nya, namun Lana tak bisa melakukan hal itu, karena ia telah berjanji kepada Oma Mega untuk membuatkan Anggel bahagia dan membuka lembaran baru.
Lana menatap langit gelap yang tak berhias bintang. Mungkin malam ini akan kembali hujan.
"Aku harap kamu bisa bahagia, An. Aku mencintai kamu, selalu." lirih Lana menatap langit dan membayangkan wajah Anggel yang tengah tersenyum manis.
*
"Quin, Abi, kalian gak jadi berangkat besok?" Tanya Papa Arka.
Memang pertunangan Raysa dan Fatih sudah berlalu beberapa hari lalu. Quin dan Abi lupa untuk memberi kabar kepada Papa Arka dan Mama Kesya bahwa Keberangkatan mereka kembali di undur.
"Enggak Pa, Awalnya Quin ingin menghadiri pertunangan Ica, tapi sekarang Abi malah harus hadiri acara launching berlian yang akan berlangsung Minggu depan." jelas Abi.
"Oh, berlian langka itu ya." Papa Arka menoleh kearah kiri dan kanan. Memastikan jika tak ada orang lain yang ada di sampingnya. Papa Arka menyuruh Abi untuk mendekat.
"Papa pesan satu ya, untuk Mama. jangan bilang-bilang Quin, Papa mau kasih kejutan untuk Mama."
"Beres Pa."
"Apa nya yang beres?" Tanya Mama Kesya yang baru tiba di meja makan sambil membawa sarapan nasi goreng spesial ikan teri dan sosis tas permintaan si bungsu Shaka.
"Oh, tentang perusahaan, Ma." Ujar Papa Arka dan memberi kode kepada Abi untuk tetap diam.
"Ma, Quin dengar Kayla mau di jodohi ya?" Tanya Quin yang baru tiba di meja makan.
__ADS_1
"Iya, "
"Siapa yang mau di jodohi?" Tanya Veer yang juga baru bergabung bersama Nafi.
"Kayla. Mama juga baru di kabari tadi malam."
"Kapan Ma?"
"Acaranya nanti malam."
"Nanti malam?" pekik Quin.
"Iya,"
"Kok tiba-tiba?"
"Mama juga gak tau, katanya sih Ila yang minta di jodohi. Padahal sebelumnya perjodohan itu pernah di tolak oleh Ila."
Quin merasa ada yang tak beres. Setau Quin, Kayla belum mau menikah dalam waktu dekat ini. Lagi pula, Kayla memiliki hubungan dengan Zein, lalu kenapa ia menerima perjodohan yang pernah datang kepada nya? Benar-benar ada sesuatu yang tak beres ini. Sepertinya Quin harus menghubungi Zein untuk menanyakan hal ini.
"Kok ngelamun? mikirin apa?" Bisik Abi.
Quin menggelengkan kepalanya. Tak mungkin ia mengatakan apa yang dipikirkannya kepada Abi, apalagi di hadapan orang tua nya.
*
"Makasih ya, udah antar Aku." ujar Quin sambil terkekeh.
Bagaimana tidak, klinik Abi dan Quin bersebelahan, namun Abi mengantar Quin hingga masuk kedalam ruangannya.
"Sama-sama."
Abi menatap Quin tanpa berkedip.
"Kenapa?"
"Boleh aku cium kamu?"
Quin kembali terkekeh, "Tumben, biasanya main nyosor aja."
"Angsa kali nyosor."
Quin dan Abi pun tertawa. Perlahan tawa Abi memudar, matanya menatap Quin dengan sendu, hingga akhirnya Abi mendaratkan bibirnya di kening Quin, kedua mata, hidung, dan terakhir berlabuh di bibir Quin.
Quin mengalungkan tangannya di leher Abi, sehingga Abi merengkuh pinggang Quin dan mengikis jarak di antara mereka. Abi melepaskan ciumannya sesaat, namun ia kembali menempelkan bibirnya kepada bibir Quin. Seolah tidak ada hari esok atau nanti untuk melanjutkannya. Di tambah lagi Quin yang juga membalas ciuman Abi yang mana membuat Abi betah berlama-lama memainkan bibirnya di bibir Quin.
"Hah ... hah ... hah ... ka-kamu harus ke klinik kan?" ujar Quin sambil terengah karena baru saja melepaskan ciumannya.
"Hmm, tapi rasanya aku berat sekali meninggalkan kamu. Aku takut kamu pergi jauh dari aku." Abi mengubur Quin dalam pelukannya.
"Aku gak akan kemana-mana. Aku akan tetap berada di sini." Ujar Quin di dalam pelukan Abi.
"Quin, aku mencintai kamu. Sangat."
Tak ada jawaban dari Quin. Quin hanya mempererat pelukannya hingga ponsel Abi berbunyi.
"Oke, saya kesana sekarang." Ujar Abi kepada orang yang ada di seberang panggilan.
"Ada pasien kucing ingin melahirkan. Anaknya sudah mati di depan pintu keluar."
"Ya udah, kamu cepat bantu sana. Sayang dia pasti kelelahan."
"Iya ..."
Cup ...
Abi kembali mencuri kecupan dari bibir Quin
"Dasar angsa, main nyosor aja." Ujar Quin sambil bersemu merah.
"Abisnya bikin nagih." Ujar Abi sambil memamerkan sederet gigi putihnya.
Setelah kepergian Abi dari ruanganya, Quin memegang jantungnya yang berdegup kencang.
"Quin, mau sampai kapan kamu meragukan perasaan Abi?" Tanya nya pada diri sendiri.
*
"Apa? kapan?" Tanya Zein di seberang panggilan.
Quin sengaja menspeaker panggilannya karena ia sedang menuang adonan cake kedalam cup-cup ukuran sedang.
"Nanti malam acaranya, Kamu di mana?"
Terdengar Zein menggeram di seberang sana.
"Aku lagi di Surabaya, ada meeting penting. Kenapa Ila bisa sampai menyetujui perjodohan itu?" lirih nya.
"Aku gak tau, eng ... Apa ini ada hubungannya dengan ucapan Oma?" Tanya Quin ragu kepada Zein.
"Ucapan Oma? ucapan apa?" tanya Zein penasaran.
Quin seolah menyadari jika dia baru saja keceplosan berbicara yang tak seharusnya ia katakan kepada siapapun. Karena itu bukan urusan Quin. Tapi, sebenarnya itu juga mengganggu pemikiran Quin.
"Eng, itu ... bukan apa-apa."
"Katakan Quin, jangan buat aku penasaran." Ujar Zein yang terdengar dingin.
"Hmm, baiklah." Quin pun mengatakan apa yang Oma katakan kepada Lana. Quin takut jika Kayla merasa diri nya tak pantas bersanding dengan Zein yang kaya raya. Selama ini Kayla sengaja menyembunyikan hubungan nya dengan Zein karena ia merasa tak pantas bersanding dengan Zein yang memiliki segalanya.
"Oma bilang begitu kepada Lana?" tanya Zein gak percaya.
"Tapi aku dengar Oma sudah meminta maaf kepada Mama Puput. Tapi tetap saja hubungan Anggel dan Lana tetap tak di restui."
"Huuff, sepertinya aku harus kembali segera mungkin ke Jakarta." Ujar Zein mantap.
"Bagaimana dengan rapatnya?"
"Kayla adalah masa depan ku dan calon ibu dari anak-anak ku. Tak akan ku biarkan Kayla menjadi milik orang lain."
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata penutup, Zein pun memutuskan panggilannya.
Quin menghela napasnya, kenapa masalah sekaan terus saja datang, padahal percintaan orang tua mereka tak seribet ini. Apa karena mereka jatuh cinta dengan orang-orang yang berada di lingkup hidup mereka?
Quin kembali menghela napasnya.
"Kenapa?" Tanya Abi yang sudah berada di belakang Quin.
Quin terkejut saat merasakan sebuah tangan kekar memeluk ya posesif.
"Abi, ngagetin deh."
Abi terkekeh. "Wangi banget, kamu lagi buat apa, My Quin?"
"Ooh, diagonal cake. Kamu mau?"
"Tentu."
"Tapi belum mateng sabar yaa.."
"Baiklah." Abi semakin mempererat pelukannya di perut Quin dan menyandarkan dagu nya di bahu Quin.
"Abi, aku susah gerak loh."
"Hmm, tapi aku suka begini."
"Manja banget sih."
"Gak papa, yang penting cuma sama kamu manja nya."
"Iih, gombal."
Cup ...
"Tuh kan, nyosor lagi." Ujar Quin sambil memegang pipinya yang baru saja di kecup oleh Abi.
Abi menurunkan tangan Quin yang ada di pipinya, memeluk tubuh Quin bersama dengan tangan Quin. Quin yang sedari tadi menoleh kearah Abi menutup matanya dan membiarkan Abi mencium kembali bibirnya. Setidaknya hanya ini yang bisa Quin berikan kepada Abi, sebelum ia benar-benar yakin dengan perasaan Abi kepadanya dan memberikan mahkota yang sesungguhnya.
"Waah, pantes aja di larang masuk kedapur."
Suara bariton yang sangat Quin dan Abi kenali tiba-tiba terdengar dan mengejutkan mereka berdua. Sehingga adegan bebek nyosor pun terhentikan.
Abi melepaskan pelukannya dna membiatkan Quin mundur beberapa langkah di belakang nya. Abi tersenyum melihat wajah Quin yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Kakak Ipar." Sapa Abi.
"Kenapa jadi kikuk gini?" Tanya Nafi yang baru muncul di belakang Abi.
"Ada adegan 18+ tadi." jawab Veer.
"Maksudnya?"
"Itu, *****-*****" ujar Veer sambil memperagakan tangannya.
"Veer." pekik Quin tak suka.
Nafi terkejut, kemudian ia terkekeh saat mengerti apa yang di maksud sang suami di saat melihat wajah Quin yang merona.
"Eh, wangi banget." Nafi berjalan menuju oven.
"Quin, apa ini udah Mateng?"
Quin ikut melihat kearah Oven. "Sudah."
"Aku ingin mencoba nya, bolehkan?" Tanya Nafi dengan manja.
"Oke kakak ipar."
Quin mengambil diagonal cake cup yang sudah Mateng Dan menyajikannya di piring. Baru saja Quin meletakkan cake tersebut, Nafi sudah langsung mengambil tisu dan mencomotnya panas-panas.
"Emm, enak banget." Seri Nafi.
"Kita makan di ruangan aja ya." Ajak Quin.
Nafi mengangguk dan mengikuti langkah Quin sambil mencubit cake yang masih ada di tangannya dan terus berseru nikmat.
"Quin, ini benar-benar nikmat."
Veer melongo saat melihat Nafi sudah memakan 5 cake tanpa henti.
"Ini memang nikmat." Ujar Abi menyetujui ucapan Nafi.
"Quin, apa masih ada? aku ingin memakannya di rumah. Memakannya lagi dan lagi. Aku ingin memakannya terus menerus seolah tak bisa berhenti." Ujar Nafi dengan mulut penuh.
"Tentu."
Veer menatap heran kepada Nafi. Tak biasanya Nafi berbicara dengan mulut penuh. Apalagi memakan cake sebanyak itu. Biasanya Nafi akan memakan secukupnya saja, tapi ini?
"Veer, cobain deh. Kamu pasti bakal ketagihan." Ujar Nafi sambil menyuapi Veer.
"Enak kan?" Ujar Nafi.
"Iya, lumayan."
"Iih Veer, ini enak tau. Enaka banget. Kamu ih lidahnya perlu di periksa deh. Enak begini di bilang lumayan. Ini enak banget tau." Ujar Nafi sambil mengerucutkan bibirnya.
Quin Terkikik melihat Nafi mengambil kepada Veer.
Eh tunggu, kenapa Nafi terlihat manja begini yaa? biasanya kan dia malu-malu gitu!
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF