
" Apa tak bisa mengetuk pintu sebelum masuk?" Kesal Veer .
" Waahh, sejak kapan aku harus mengetuk pintu kamar?" Quin memberikan cengiran menggoda.
" Ekhem.. Nafi butuh privasi, dan dia pasti tidak akan nyaman dengan sifat kamu yang seenaknya masuk kedalam kamar orang lain."
" Oh yaa.. Lalu bagaimana dengan mu? aahh, apa seorang suami kerjanya menguntit istri? Bukannya kalian sudah sah? Jika kalian ingin melakukannya sah-sah saja kan?"
" Apa kamu gila? Nafi bukan tipe ku.."
" Aku akan pegang kata-kata mu. Jika kau sampai jatuh cinta dengan Nafi, kau harus menuruti tiga permintaan ku." Quin menyeringai licik. " Dan aku bertaruh, jika kau akan jatuh cinta dengan Nafi.. " Quin keluar kamar setelah menjulurkan lidahnya kearah Veer
" Dasar menyebalkan. Lihat saja, aku tidak akan pernah jatuh cinta dengan Nafi." Veer mengikuti Quin keluar kamar, dan membiarkan Nafi sendiri dengan segala kicauannya.
" Bagaimana Empus? Apa dia menyukai naf" Veer masuk kekamar Quin dan langsung merebahkan diri di kasur.
" Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu? Aku butuh privasi." Ujar Quin dengan meniru gaya Veer berbicara.
" CK, katakan.."
" Kenapa? kamu sangat penasaran? sepertinya" Quin menggoda Veer.
" Hanya penasaran. Apa salah?"
" Tidak.."
" Lalu?"
" Empus menyukai Nafi."
" Benarkah? Apa secepat itu?"
" Hmm, Tanya saja Mama jika tidak percaya."
" Tidak perlu, aku percaya." Veer menarik selimut menutupi setengah tubuhnya.
" Kenapa kamu tidur di sini? Sana? Ke kamar istri mu" Lagi, Quin dengan nada menggodanya.
" Kami tidak masalah jika tidur berpisah. Yang penting tinggal satu atap."
" Aneeh... Sudah nikah, tapi malah milih tidur berpisah. Apa kamu takut Khilaf?" Quin menaik turunkan alisnya.
" Apaan sih, udah.. aku ngantuk.."
Quin masih membelai anak-anak Popo yang baru lahir. Popo dan anak-anaknya tidur bersama Quin.
Nafi sudah selesai membersihkan dirinya dan mengenakan piyama tidur yang terletak dibatas tempat tidur. Suara dengungan Auman masih terdengar di telinga Nafi. Nafi parno, takut jika-jika singa putih itu masuk kedalam kamar dan memakannya saat dirinya tertidur. Nafi bergegas mengunci pintu kamarnya.
" Huuff..."
Nafi berjalan kearah jendela, kepalanya rasanya seakan ingin pecah, karena menahan malu di depan keluarga Veer tadi.
" Iisshh, kenapa pake acara pipis segala sih.. Lagian, siapa juga yang gak bakal takut jika berhadapan dengan singa. Qila memang gila.. Eh, apa harus memanggilnya Quin yaa? Ah, pokoknya aku kesal dengan Qila, bisa-bisanya dia merahasiakan jika dirinya adalah Quin yang sebenarnya." Nafi terus menggerutu hingga membuka tirai jendela..
" Aaaaaa....." Nafi berlari kencang naik keatas tempat tidur.
Bagaimana Nafi tidak takut, jika ada seekor ulat yang sangat besar berada di balkon kamarnya..
" Tolooongg...ada ulaaar.... Qilaa...Veer.... Aaaaa... tolong aku... tolong...."
Nafi membungkus dirinya dalam selimut.
Di kamar sebelah, Quin seakan mendengar suara teriakan Nafi..
" Veer, apa itu suara Nafi?"
Veer yang baru saja menutup matanya kembali memaksa mata itu untuk terbuka. Terdengar samar di telinga Quin dan Veer suara teriakan Nafi yang meminta tolong.
" Ular?" Beo Veer dan Nafi bersamaan.
" Emang ada ular di rumah?" Tanya Veer yang memandang Quin dengan seksama.
Quin menelan ludahnya. " Mampus aku Veer."
Quin loncat dari tempat tidur dan berlari kearah kamar Nafi, yang di susul oleh Veer.
" Nafi,, buka pintunya..." Teriak Quin.
Quin berusaha membuka pintu, namun terkuci dari dalam.
" Nafii, buka pintunya.." Veer berteriak lebih kuat.
" Veer.. tolong aku.. ada ular... aaa...."
Mama Kesya dan Papa Arka yang mendengar kegaduhan pun ikut melihat apa yang terjadi. Begitupun dengan Abash.
" Ada apa ini?" Tanya Papa Arka.
" Eemm, itu.. anu..." Quin meremas tangannya.
Quin boleh memelihara hewan apa saja, kecuali ular. Karena Mana Kesya sangat geli dengan hewan melata yang jalannya lenggang lenggok seperti nodel itu.
" Eemm... itu.."
" Veeerr, cepetan.. aku takut.. ularnya besar Veer.."
" Ular?" Beo Papa Arka.
__ADS_1
Quin menunduk merasa bersalah. " Maaf.."
" Quiin__"
" Pa, sebaiknya kita selamatkan dulu Nafi." Mama Kesya menahan amarah Papa Arka.
" Abash, ambil kunci cadangannya."
" Iya Pa"
Quin menundukkan kepalanya, takut akan kemarahan sang Papa.
" Minggir Mas." Abash membuka pintu kamar Nafi.
Ceklek..
Nafi yang melihat pintu terbuka, dan menampilkan Veer di sana, langsung berlari kearah Veer dan memelik Veer..
Deg..
"Veer, aku takut.. hiks... aku takut.."
" Tenang Nafi, kamu aman sekarang.."
" Aku mau pulang.. hikss.. aku takut.. hikss.. "
" Kamu tenang ya.. Nafi.. Nafi..." Veer merasa tubuh Nafi terkulai lemas.
" Bawa ke kamar kamu Veer." Titah papa Arka.
Veer langsung menggendong tubuh Nafi yang sudah terkulai lemas.
Quin masuk kekamar setelah Mama Kesya, Papa Arka, Veer dan Nafi meninggalkan kamar.
" Kenapa bawa pulang ular, Quin?" Tegur Abash.
" Besok ada kontes, jadi aku pingin ikut." Quin menundukkan wajahnya.
" Kan bisa titip di klinik."
" Ada banyak kucing, Dokter Rafa tidak mau kucing-kucing itu stres karena melihat ular."
" Hmm, ya udah.. Minta tolong Lana buat jagain sampai besok. Setelah kontes, langsung balikin ke habitatnya."
Sebenarnya yang Kakak dan adik siapa sih, ke apa Quin seolah adiknya Abash ya..
Quin mengambil ular tersebut, dan memasukkannya kembali kedalam tempatnya.
" Sepertinya tidak dikunci dengan kuat saat setelah memberikan makan."
" Mungkin.. " Quin masih lesu, karena setelah ini di jamin Papa Arka akan marah besar dengan Quin.
Quin duduk dikursi tunggal, sambil meremas jemarinya, dan menundukkan kepala.
" Kamu tau kan Quin, kalo ular dilarang masuk di rumah ini.."
" Iya Pa.. Maaf.."
Perawat yang menjaga kakek turun dan menghampiri Papa Arka.
" Nona Nafi hanya shock. saya sudah meresepkan vitamin untuk Nona."
" Baiklah, maaf telah mengganggu waktu istirahat kamu. Sebaiknya kamu kembali. Terima kasih.."
" Sudah tugas saya Tuan. Saya permisi."
" Kamu dengar Quin, malam ini sudah 2 kali dia ketakutan. Yang pertama, karena Empus, dan yang kedua karena ular."
" Hikkss.. maafin Quin.."
" Ya sudah, jangan diulang lagi yaa.. "
" Iya Ma.."
Abash duduk disebelah Quin, dan memeluknya.
Tak berapa lama Lana datang. "Assalamualaikum"
" Walaikumsalam. "
" Abash yang hubungi Kak Lana,"
" Lana, tolong kamu simpan sebentar yaa ular milik Quin."
" Iyaa Om."
Papa Arka dan Mama Kesya pun beranjak ke kamar Veer.
" Apa yang terjadi?" Tanya Lana keheranan.
Quin pun menceritakan apa yang terjadi, termasuk tentang pernikahan Nafi.
" Jadi Veer sudah menikah? Dengan Nafi? Wooww.."
" Bukan itu yang penting, tetapi sebaiknya kamu bawa ular itu pergi sekarang."
" Baiklah, apa imbalannya."
__ADS_1
" Kamu ingin mati?"
Lana menyengir, kemudian mengambil ular dan membawanya pergi. Demi Quin, padahal Lana baru saja sampai satu jam yang lalu dari Kalimantan, ada konser artis dari entertainment nya di sana, dan Lana ikut mendampingi.
Lana mengambil box yang berisi ular piton tersebut.
" Traktir aku makan siang, besok." Lana mengedipkan matanya sebalah.
" Menyebalkan.. Kau yang bayar.." Teriak Quin..
" Dasar sultan kere.."
Quin memeletkan lidahnha. Abash ikut mengantar Lana hingga ke teras. Quin naik ke lantai dua dan mendatangi kamar Veer. Mama Kesya dan Papa Arka sepertinya sudah kembali ke kamar, karena Quin tidak melihat mereka lagi.
" Bagaimana Nafi?" Quin memeriksa denyut nadinya.
Kalian tau, Quin ini pernah masuk kuliah kedokteran, namun saat harus melakukan pembelahan pada kelinci, Quin menangis karena merasa tidak tega. Untuk itu kuliah Quin terhenti, dan cita-cita Quin untuk menjadi seorang dokter seperti Anggel pun pupus.
Veer hanya memperhatikannya Quin memeriksa kembali keadaan Nafi. Quin menyelimuti Nafi kembali.
" Maafkan aku. " Quin menunduk di hadapan Nafi.
" It's okey.. " Veer meraih tubuh Quin dan memeluknya. Quin menangis di pelukan Veer.
Nafi mengerjapkan matanya, rasa pusing langsung menyerang kepalanya, Nafi pun meringis.
" Kamu sudah sadar?"
Quin kembali memeriksa keadaan Nafi. "Aku butuh air gula."
" Akan aku ambilkan."
Quin memegang tangan Nafi. "Maafkan aku." Mata Quin kembali berkaca-kaca.
" Hei, jangan menangis. itu bukan masalah. Kau hanya tidak terbiasa. Dan yaa... walau itu sangat menakutkan. "
" Kamu tidak marah Nafi?"
Nafi tersenyum dan menggeleng. " Kamu sahabat aku, aku tau kamu tidak melakukannya dengan sengaja."
" Hikkss.. kamu sangat baik, Veer sangat bodoh tidak melihat kebaikkan mu." Quin memeluk Nafi.
" Itu tidak perlu, kebaikan ku tidak untuk di pamerkan."
" Nafi, kamu sudah sadar sayang?" Mama Kesya langsung menghampiri kamar Veer saat Veer mengatakan jika Nafi sudah sadar.
" I-iya Ma."
" Alhamdulillah, Quin, kamu sudah meminta maaf?"
" Sudah Ma."
" Maaf jika Nafi menjadi merepotkan semuanya."
" Tidak, ini semua memang kesalahan Quin yang ceroboh. Di rumah ini memang banyak hewan peliharaan Quin, kecuali ular. Karena Mama juga takut dengan ular."
" Ini Quin." Quin meraih gelas yang di berikan Veer.
" Minumlah, supaya kadar gula mu naik."
" Terima kasih.."
" Habiskan yaa.."
Nafi menghabiskan air gula tersebut. " Sangat manis.." Nafi berusaha mengambil air mineral di atas nakas. Veer membantu Nafi emngambil air.
" Terima kasih.." Nafi langsung menghabiskan air mineral tersebut.
" Kalo begitu kamu istirahat ya.." Ujar Mama Kesya.
" Eem, bolehkah aku tidur bersama Quin?"
" Sebaiknya jangan, karena terkadang Empus sering masuk kedalam kamar Quin."
Nafi langsung menelan ludahnya kasar.
" Sebaiknya kamu tidur bersama Veer. Lagipula kalian sudah menjadi suami istri. Jadi Mam rasa tidak masalah jika kalian sekamar.."
" Tapi, Ma.."
" Tidak baik jika suami istri tidur berpisah Veer."
" Tapi kami__"
" Veer, sebaiknya dengarkan Mama kamu. Ini demi tanggung jawab kamu sebagia suami, dan demi kenyamanan Nafi juga."
Veer dan Nafi saling memandang. Jika Raja dan Ratu sudah memutuskan, bukannya tugas sebagai pangeran mengikuti perintah.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
Jangan lupa komennya yaa.. Biar makin semangat..
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.