KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
149 " Jatuh ketimpa Bos"


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Kesya langsung berisitirahat. Awal kehamilannya ini membuat dirinya merasa cepat lelah. Sedangkan Arka sudah menyuruh Duda untuk membeli mie instan.


Arka meremas mie instan tersebut seperti apa yang Duda lakukan, menuang bumbunya, dan mengocoknya. Sepeti ada sesuatu yang terasa seru dan mengasyikkan saat melakukan hal itu. Duda mulai memanjat pohon, dan diikuti oleh Arka. Dengan bersusah payah, akhirnya mereka sampai ke dahan yang kokoh dan mampu menahan bobot tubuh mereka.


" Mau ngapain kamu?" Tanya Arka saat melihat Jodi ikut memanjat.


" Manjat Bos"


" Jangan, nanti takutnya kalo rame patah dahannya"


" Gak akan Bos, tenang aja.." Jodi pun tidak mengindahkan larangan Arka, dia tetap naik dan duduk di dahan yang lain.


Mereka saat ini sedang berada di atas pohon jambu, dan kebetulan sekali pohon jambunya sedang berbuah.


" Ternyata makan Mie instan seperti ini enak juga ya" Gumam Arka yang masih di dengar oleh Duda dan Jodi.


" Bos gak pernah?"


Arka menggelengkan kepalanya.


" Bos, jika jambu ini di cocol ke dalam mie, nikmat juga loh"


Arka mencoba apa yang Jodi lakukan. Arka memetik satu buah jambu air yang besar dan terlihat sudah masak, Arka membersihkannya di baju, kemudian mencocolnya. Arka bergumam tak jelas karena mulutnya penuh dengan jambu.


" Wah, ternyata enak juga ya.. Ada kriuk - kriuknya.. " Arka memetik lagi jambu tersebut, dan mencocolnya lagi. Hingga entah jambu keberapa Arka memakannya.


Duda dan Jodi ikut senang, melihat Bos nya yang unik itu merasa senang.


Kesya terbangun, dan tidak mendapati Arka di sebelahnya. Di lihatnya jam di ponselnya, sudah pukul setengah 6 sore, sebenar lagi magrib, Kesya bangun dan membersihkan dirinya.


Kesya ingin menanyakan kemana suaminya itu, namun suara tertawa dari luar membuatnya tau di mana keberadaan suaminya. Kesya mengikuti arah sumber suara, dan betapa terkejutnya Kesya saat melihat sang suami sedang nangkring di atas pohon.


" Mas" Panggil Kesya dengan sedikit berteriak.


" Sayang" Dengan polosnya Arka melambai-lambaikan tangannya. tanpa melihat wajah Kesya yang sudah memerah karena kesal.


" Ya ampun Mas, nanti kalo kamu gak bisa turun gimana? Udah ayokk, turun sini, udah mau magrib"


" Iyaa sayang"


" Duda, cepat turun ambil tangga" Titah Arka.


" Bos, gimana saya mau turun? Bos di bawah saya"


" Jodi, cepat ambil tangga"


Jodi yang memang berada di dahan yanh berhadapan dengan Arka pun dengan sigap dia turun, Terlihat enteng di mata Arka.


Jodi menanyakan keberadaan tangga kepada pak Rojak, tapi ternyata tangga yang berada di rnah pak Rojak sudah kapok dan patah. Tetangga di sekitaran rumah pun tidak ada yang memiliki tangga, biasanya mereka juga pinjam dengan pak Rojak.


" Gimana ni Bos, gak ada tangga nya" Teriak Jodi dari bawah.


" Yang benar kamu Jodi, kamu cari lah di mana gitu?" Ujar Arka panik.


" Tetangga di sini tidak ada yang punya tangga, seringnya juga minjam di sini" Ujar pak Rojak kepada Arka.


" Duda gimana ini?" Gelisah Arka.

__ADS_1


" Tenang Bos, tinggal turun aja"


" Enteng banget Lo bilang tinggal turun"


" Ya tinggal turun aja emang Bos, langkah naik, sama seperti langkah turun. Si coba dulu Bos, kalo gak di coba, mana bisa"


Duda memindahkan posisi tubuh nya kedahan yang berada di hadapan Arka. Matahari sudah mulai turun, di mesjid pun sudah terdengar suara ngaji, petanda jika akan masuk waktu magrib, dan gerimis mulai turun dengan deras, membasahi dahan-dahan pohon, membuatnya menjadi licin.


" Pelan-pelan Bos, Licin"


" Iya, ini juga udah pelan-pelan" Ujar Arka kesal karena dari tadi dia susah mendapatkan celah untuk turun. "Kenapa naiknya gamoang, tapi saat turun susah gini sih" Gerutu Arka.


Duda sudah sampai di bawah, Arka pun menyusul, namun naas, kaki Arka terpeleset dan terjatuh.


Buukk..


" Awwww"


Untungnya tidak jauh jatuhnya, jadi tidak terlalu fatal. Namun Arka jatuh menimpa Duda, hingga Arka tertidur di atas tubuh Duda.


Arka berdiri, namun pinggangnya terasa sakit, Arka di bantu dengan Jodi dan kesya, sedangkan Duda di bantu dengan Ami dan Lehah.


" Sepertinya pinggang Nak Arka terkilir, Duda juga terkilir itu kaki dan pinggangnya" Ujar pak Rojak.


" Jadi gimana pak?"


" Sehabis magrib kita bawa ke tempat pak lekman."


Setelah solat magrib, Jodi memopoh tubuh Arka dengan di bantu Kesya masuk kedalam mobil, kemudian memopoh tubuh Duda dengan di bantu Ami masuk kedalam mobil. Pak Rojak dan Ami menyusul ke rumah Pak lekman. Sedangkan Ibuk dan Lehah menyiapkan makan malam di rumah.


" Wah, ada pak Rojak, masuk" titah Pak lekman ramah. " Ada apa ini?"


" Begini__" Pak Rojak pun menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Arka dan Duda.


" Ya sudah, buka bajunya dan berbaring di sini"


Duda yang pertama mendapatkan penanganan, Jodi membantu Duda, dan duduk di sebelah Duda karena permintaan Duda. Gak tau aja Jodi, penderitaannya juga akan segera di mulai.


" Aaaahhhhh" Teriak Duda dan Jodi bersamaan.


Pak lekman mengurut pinggang Duda, sedangkan Duda meremas anu nya Jodi, karena Duda sembarangan menggapai apa yang bisa di gapainya. Tangan Duda dipindahkan oleh Jodi ke Pahanya, namun lagi-lagi Duda berteriak dan di susul oleh Jodi, karena Duda mencengkram paha Jodi dengan kuat. Bagaimana tidak sakit, jika mereka yang selalu setiap hari berlatih bela diri, sudah di pastikan jika cengkraman itu sangat kuat.


Duda di suruh duduk, karena pinggangnya sudah di urut, sekarang bagian kaki duda yang di urut, Jodi ingin pergi dari samping, duda, namun gerakan Duda yang memiting leher Jodi, membuat Jodi harus kembali menahan sakit, bahkan rambut Jodi sudah di Jambak oleh Duda. Cakaran pun mendarat mulut di pipi Jodi. Sial banget nasib mu Jodi.


Kesya sudah sesenggukan melihat Duda kesakitan. Padahal Arka sudha menyuruhnya keluar bersama Ami, namun kesya menolak karena tidak ingin meninggalkan Arka.


Setelah Duda selesai, Giliran Arka yang di urut, Ami sudah keluar karena Arka harus membuka bajunya, Arka meminta Jodi yang berada di sampingnya, Arka tidak ingin menyakiti istrinya jika dia sedang menahan sakit.


" AAAKHHHHHHH " Teriakan Arka menggema bersama suara Jodi.


Arka meremas pinggang Jodi, sehingga kulit di pinggangnya terasa perih. Tapi Jodi harus menahannya, Demi si Bos.


Kesya masih sesenggukan, padahal sudah 15, menit yang lalu Arka selesai di urut.


" Udah sayang, pinggang Mas udah gak pa-pa kok. Ini udah bisa di gerakin gini" Ujar Arka.


" Mak--maka nya hiikkss... kalo gak bisa hiksss manjat.. hiikkss jangan sok-sokan Hiikss.."

__ADS_1


" Iya sayang, Mas minta maaf ya.." Arka memeluk Kesya yang masih sesenggukan. Sedangkan Pak lekman, Ami, Pak Rojak tersenyum melihat pemandangan yang sangat romantis secara live di mata mereka. Mereka pun tersipu malu, karena sebelumnya tidak pernah melihay adegan romatis secara live. Bermesraan dengan istrinya aja di depan anak-anak, mereka malu. Kalo Duda dan Jodi sudah biasa melihat pemandangan yang membuat jiwa jomblonya bergejolak tinggi.


Sesampainya di rumah, Ami memperhatikan gerak gerik Jodi yang seperti menahan sakit. Duda sudah beristirahat setelah selesai makan malam, begitu pun dengan Arka dan Kesya.


Ami melihat Jodi yang tengah bersusah payah mengobati pinggangnya yang memerah seperti bekas cakaran.


" Biar Ami bantu" Ujar Ami mendekat ke arah Jodi.


Jodi menganggukkan kepalanya dengan kikuk. Awal melihat Ami, Jodi sudah jatuh hati kepadanya, namun itu semua tidak mungkin. Bukan karena Duda yang tidak akan merestui hubungan mereka, tetapi akan sangat egois bagi Jodi, jika memperistri Ami, karena mau tak mau Ami harus ikut ke kota bersama Jodi, dan di desa ini akan kehilangan dokter yang berhati mulia seperti Ami. Jodi tidak ingin membuat banyak hati kecewa demi perasaannya.


Jodi membuka bajunya, Terlihat Ami menelan ludahnya susah payah, karena melihat tubuh tegap dan kotak-kotak Jodi. Wajah Ami sudah memerah saat dirinya mengobati pinggang Jodi. Bagian pipi Jodi juga terdapat cakaran dari Duda, Ami mengobati pipi Jodi. Jodi tak henti-hentinya memandang wajah Ami yang ayu. Hingga mata mereka bertemu dan terkunci beberapa saat, hingga Ami dan Jodi mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara.


" Ekheemm"


" Eh, Abang udah bangun?" Ujar Ami kikuk.


" Hmm"


" Abang mau apa? Biar Ami buatin"


" Jahe "


" Sebentar ya, Bang Jodi mau juga?"


" Boleh" Jawab Jodi grogi karena mendapatkan pandangan tajam dari Duda.


Sepeninggalan Ami, Duda duduk dekat Jodi.


" Gue gak larang buat Lo suka sama Ami. DNA gue rasa dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Lo. Gue cuma mau bilang, jangan curi Ami dari masyarakat di desa ini" Uahr Duda sendu.


" Gue tau, gue gak akan keluar dari batas gue"


" Makasih Jod, Lo emang sahabat sebahagia dan sependerita gue"


" Bisa aja Lo"


" Tapi, makasih dan sorry ya soal yang tadi" Duda memandang ke arah 'Anu ' nya Jodi.


" Sialan Lo, Otong gue masih nyeri ni"


" Mau gue suruh Ami obatin?"


" ****** "


Duda tertawa melihat wajah Jodi tersipu malu. Mereka bercanda berdua menikmati segelas jahe buatan Ami, dengan di temani gerimis malam.


" Bapak cuma mau bilang, malam ini malam Kliwon" Setelah mengatakan itu, pak Rojak masuk.


Duda dan Jodi berpandangan, detik selanjutnya mereka merasa bulu kuduk nya merinding, dan dengan cepat masuk kedalam rumah.


Pak Rojak tertawa pelan, seorang anak tetap lah anak-anak, walaupun mereka sudah dewasa.


** Hai readers...


Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...


Terima kasih. Salam KesAr.

__ADS_1


__ADS_2