KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 68


__ADS_3

" Hai Rapunzel !!!"


Suara bariton itu membuat jantung Quin berdegup semakin kencang.


Perlahan Quin menarik sudut bibirnya dan menampilkan gigi putih dan rapi nya.


" He..he..he.."


Quin melirik kearah Papa Arka yang sudah menatapnya tajam. Quin pun menampilkan senyum manisnya, namun aura Papa Arka yang dingin dan menakutkan belum juga berubah. Quin menelan ludahnya kasar di saat tatapan Papa Arka semakin tajam. Senyum Quin pun perlahan memudar, Quin meremas gaunnya.


Quin melirik kearah Fatih yang sudah di jewer oleh Papi Gilang. Fatih meringis kesakitan dan meminta ampun.


" Papi, Salah Quin.. Jangan sakiti Fatih.." Mata Quin sudah berkaca-kaca saat melihat Fatih kesakitan.


Papi Gilang terpaksa melepaskan telinga Fatih. Fatih mengelus telinganya yang terasa panas dan sudah memerah.


" aawwwhh..... sakit..." rintih Fatih.


Tak berapa lama Terdengar suara rintihan dari dua pria dewasa.


" Aaww... Opaa... sakiit opaa...aww...aaw..."


Zein dan Lana meringis sambil memegangi telinga mereka, karena Daddy Bara menjewer telinga mereka sambil menyeretnya kearah Papa Arka.


Mama Puput, Mami Mili, Mami Vina, dan Mama Kesya hampir saja pingsan dengan ulah anak-anak mereka


" Bunda... ampun bunda... Ica gak ikutan.. Ica cuma meramaikan saja Bunda.. Ampun bunda.." Raysa meringis saat Bunda Sasa menjewer telinganya.


" Omaaa, ampun... Omaaa sakit..." Ujar Kayla dan Anggel yang telinganya di jewer oleh Oma Shella.


Quin meringis melihat pemandangan yang membuatnya merasa bersalah.


Kayla, Anggel dan Raysa sudah mengelus telinganya yang terasa panas, dengan wajah tertunduk.


Fatih, Lana, dan Zein juga sudah berbaris sambil mengelus telinganya.


" Maaf.." lirih nya menatap saudara yang sudah menjadi sahabat-sahabatnya itu.


Suara pengawal Papa Arka mengintruksi semuanya, bahwa tuan Kadi sudah berada di ruang nikah.


Papa Arka menghela napasnya sekali lagi.


" Quin, Papa tanya sama kamu, apa kamu siap menikah dengan Abi?"


Gantian jantung Abi yang berdegup dengan kencang, Abi menatap Quin penuh harap. Sedangkan Quin menatap Mama Kesya yang terlihat sangat kecewa dengan perbuatannya ini.


Quin pandangi satu-satu orang yang di sayangnya. Mama Kesya sudah berpelukan dengan Oma Laura. Kakek Farel juga memberikan tatapan dengan penuh harapan untuk Quin menjawab 'Iya'.


Quin memandang kearah Veer, dan kembarannya itu memberikan anggukan, untuk Quin menjawab ' Iya'. Quin teringat akan perkataan Mama Kesya.


' Sayang, Jika kamu ragu, sebut namanya, dan tutup mata kamu. Jika dia hadir di dalam bayangan mata kamu, maka hati kamu juga akan berdetak dengan cepat merasakannya.'


Quin pandangi wajah Abi, hingga iris mata mereka bertemu. Quin menatap kembali kearah Papa Arka, Mama Kesya, Oma Laura, Kakek Farel, Oma Shella, Opa Roy, Bunda Sasa, Daddy Bara, dan juga lainnya.


Quin menarik napas pelan, dan di hembuskannya.

__ADS_1


Quin menyebut nama Abi dalam hati, kemudian iya menutup matanya perlahan.


Deg.


Tangan Quin bergerak menyentuh dada nya. Perlahan mata Quin terbuka, dan menatap kearah Abi. Mata Quin berkaca-kaca, entah karena apa.


" Bismillahirrahmanirrahim, Quin bersedia menikah dengan Abi." Ujar Quin sambil menatap kearah Abi.


" Alhamdulillah..." Seru semua nya mengucap rasa syukur.


Mama Kesya sampai meneteskan air matanya.


.


.


" Saya terima nikah dan kawinnya Syaqila Az-Zahra Moza binti Raja Arkana Putra Maharaja Moza dengan Mas kawin cincin berlian dan seperangkat alat sholat di bayar tunai."


Sah.... Sah... Sah...


" Alhamdulillah.."


Satu tetes air mata Quin terjatuh, Di peluknya Mama Kesya yang berada di sampingnya.


" Ma.. Hikkss..."


Mama Kesya mengelus punggung Quin, kemudian di relainya pelukan Quin, di tangkupnya wajah Quin, dan di kecupnya kening Quin dengan sayang.


Dengan di dampingi Kayla dan Anggel, Quin berjalan menuju ke sebelah Abi. Karena saat Abi mengucapkan ijab Qabul, Quin tak berada di sebelah Abi. Memang sudah tradisi keluarga Opa Roy, jika pengantin wanita berada di tempat lain saat ijab Qabul.


Quin duduk di sebelah Abi, ia tersenyum sangat manis kepada Abi, begitupun dengan Abi. Quin meraih tangan Abi yang terulur, dan mencium punggung tangan Abi dengan khidmat, sedangkan tangan Abi yang lain menyentuh kepala Quin.


Quin dan Abi pun mulai menyalami kedua orang tua. Quin berlutut di hadapan sang Papa, kemudia ia meminta maaf dan terisak. Papa Arka tak kuasa menahan air matanya, hingga akhirnya air mata itu pun terjatuh di pipi Papa Arka. Papa Arka meraih bahu Quin, di peluknya tubuh Quin dengan penuh cinta, Papa Arka merelai pelukannya, di tangkupnya wajah Quin dengan tatapan sayang. Papa Arka mendaratkan kecupan hangat di kening Quin.


" Papa berdoa, agar kamu bahagia selamanya bersama Abi."


" Amiin.."


Abi berlutut dan mencium tangan Papa Arka, Meminta maaf dan juga meminta doa restu untuk pernikahannya dengan Quin.


" Jangan pernah menyakiti nya, Abi. Papa percayakan anak ku kepada mu. Quin adalah permata hati ku, jaga dia, jangan sakiti hati nya. Limpahi dia dengan cinta, dan sayangi dia dengan segenap jiwa. Jika satu tetes saja air mata Quin terjatuh, karena kamu menyakitinya, kembalikan dia kepada Ku. Dan jangan pernah meminta nya."


" Abi janji, Abi akan mencintai Quin sepenuh hati Abi. Abi akan memberikan semua cinta Abi untuk Quin. Abi mohon, tegur Abi jika Abi salah, bimbing Abi jika Abi mulai salah arah, tuntun Abi, jika Abi mulai gelisah."


Papa Arka tersenyum, Berharap semoga Abi bisa membuat Quin jatuh cinta kepadanya. Papa Arka menangkup pipi Abi, dan mengecup kening Abi dengan sayang."


" Ma, hikkss... Maafin Quin...hikks.."


Mama Kesya menangkup wajah Quin.


" Quin harus bersikap dewasa ya. Hikss.. Mama... hiks..." Mama Kesya tak sanggup berkata-kata. Putri semata wayangnya saat ini telah berstatus istri orang. Mama Kesya pun hanya bisa menarik tubuh Quin dan memeluknya dengan tangis.


" Mama sayang Quin.. Hikks..." Mama Kesya mencium seluruh wajah Quin.


" Ma, mohon doa restunya." Ujar Abi yang sudah mencium punggung tangan Mama Kesya."

__ADS_1


" Tolong jaga Quin, jangan sakiti dia. Hanya itu permintaan Mama, hikksss.."


" Abi janji, Abi akan menjaga Quin dengan sepenuh jiwa Abi. Abi akan memberikan cinta dan sayang berlimpah ruah untuk Quin."


" Mama percaya, semoga rumah tangga kalian selalu rukun dan tentram. "


Quin juga mencium punggung tangan Kakek Andreas, serta aunty Risma yang sebagai wali Abi, Di susul oleh Abi.


" Ingat Bi, Kamu yang mengambil keputusan untuk menikahi Quin, jadi kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan. Jangan pernah kamu berani-berani menyakiti Quin, walaupun itu seujung kukunya. Maka kakek yang akan membuat perhitungan kepada kamu."


" Iya kek, tegur Abi, jika Abi mulai salah."


Abi beralih ke aunty Risma. " Ingat Bi, kamu gak akan menemukan wanita seperti Quin lagi. Bahkan Anita tak sebaik Quin.


" Iya Aunty, Abi tau. Maka dari itu Abi tak ingin kehilangan Quin.


Acara akad nikah pun selesai. Seluruh keluarga juga sudah memberikan selamat kepada Quin dan Abi.


Abi meraih ponselnya yang diberikan oleh asistennya. Abi sedikit menjauh dari kerumunan, untuk menerima panggilan penting dari salah satu klien nya. Karena dua Minggu lagi Abi akan memegang alih perusahaan Kakak Andreas.


Quin yang haus pun meraih jus jeruk yang terletak di meja prasmanan. Quin juga mencicipi beberapa cake di sana, hingga tanpa sadar bibir Quin belepotan oleh coklat.


Cekreek..


Quin menoleh dan mendapati Abi yang baru saja memotretnya menggunakan ponsel pintarnya. Abi terkekeh melihat penampilan Quin cemong.


" Apa?" Tanya Quin melihat Abi dengan sedikit merajuk.


Abi memperlihatkan foto yang ada di ponselnya.


" Iih, Abi, hapuss.."


" Gak mau, kamu lucu di sini.."


" Abi, hapus gak?"


" Gaak.."


Quin melangkah maju dan meraih ponsel Abi, sedangkan Abi mundur-mundur sambil meninggikan ponselnya. Quin yang kesusahan akhirnya sedikit mendorong tubuh Abi, sehingga membuat Abi terjatuh. Abi meraih pinggang Quin, sehingga Quin juga ikut terjatuh di atas Abi


Praaang...


Terdengar suara pecahan gelas yang ditangan Quin. Sehingga semua mata tertuju kepada sumber suara. Mereka langsung di kejutkan oleh pemandangan yang lagi-lagi membuat pipi merona.


Yupss.. Quin jatuh berada di atas Abi, dengan bibir mereka yang saling menempel.


" Waaah... kayaknya ada yang gak tahan buat malam pertama.." Celetuk Fatih..


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2