KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 115


__ADS_3

Makan siang telah berlalu beberapa menit lalu, Veer dan Nafi baru saja turun dan duduk di meja makan. Art yang bekerja untuk keluarga Moza pun langsung menyiapkan kembali makan siang untuk Veer dan Nafi.


"Waah, yang baru nyetak adik." Goda Quin yang baru saja keluar dari dapur.


"Quin, mulutnya ...." tegur Veer.


Quin hanya terkekeh dan meminta maaf dengan gerakan bibir. Quin ikut bergabung dengan Veer dan Nafi di meja makan.


"Kamu belum makan?" Tanya Veer.


"Udah, cuma aku mau dekat kamu aja. aku mau bilang kalo aku lagi sedih." Ujar Quin sambil menunjukkan wajah sendu nya.


"Masih sedih? Minggu depan kamu juga udah berangkat nyusul Empus."


"Gak mau, aku mau di sini dulu sampai pertunangan Ica."


"Emang Abi setuju."


"Gak tau, belum tanya juga sama Abi. kalo Abi gak setuju, aku merajuk." Ujar Quin sambil melipat kedua tangannya di dada.


Abi yang mendengar percakapan Veer dan Quin pun terkekeh.


"Jadi ada yang mau merajuk dengan aku?" Tanya Abi sambil mengelus kepala Quin dengan sayang.


Quin membeku dengan wajah yang merona. Veer sudah terkikik melihat Quin seperti itu. Sudah bisa Veer tebak, jika kembarannya saat ini sedang jatuh cinta.


"Ka-kamu udah lama di sini?" tanya Quin gugup


"Baru aja kok. Kamu mau makan lagi?"


"Enggak, cuma pingin temani mereka aja."


Abi pun ber-o ria. "Jadi kamu mau merajuk sama aku?" tanya Abi lagi.


"Eng, itu ...."


Quin melirik kearah Veer dan Nafi yang sedang menikmati makan siang mereka.


"Sebaiknya kalian bicarakan hal ini berdua." Ujar Veer memberi saran.


Abi pun mengajak Quin ke taman belakang. Di mana terdapat hamparan berbagai macam bunga yang sangat indah. Abi menyuruh Quin duduk di gazebo, sedangkan Abi duduk di sebelah Quin.


"Kamu mau ngomongin apa?" tanya Abi membuka percakapan.


"Abi, bisakah kita tak jadi pergi ke German?"

__ADS_1


Abi menaikkan alisnya sebelah. "Kenapa?"


"Eeng, Minggu ini Raysa bertunangan, aku ingin menghadirinya. Dan lagi ...."


"Dan lagi?"


"Aku belum siap ke sana."


Abi meraih tangan Quin, menggenggamnya kemudian mengecupnya.


"Kamu tak ingin mencoba lembaran baru dengan ku?" Tanya Abi, "Apa kamu belum mempercayai cinta aku kepada kamu?"


Abi menatap lekat kearah Mata Quin.


"Buk-bukan begitu, tapi ...."


Quin. menghela napasnya. "Ya, aku belum percaya akan cinta kamu. Jujur, aku takut jika Anita kembali dan kamu akan berpaling dari nya."


Quin menatap jauh kearah bunga-bunga yang tengah bermekaran dengan warna-warna cantik nya.


"Aku takut, jika kamu akan kembali kepada nya dan meninggalkan aku. Abi, kamu tau? aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Namun yang aku dapatkan hanyalah sebuah pengkhianatan. Aku takut jika aku akan jatuh cinta sama kamu, dan kamu melakukan hal yang sama."


"Kamu mau nyamain aku sama dia?" Ujar Abi dengan nada yang terdengar tak merasa senang dengan ucapan Quin.


"Bukan gitu. Aku gak maksud menyamakan kamu sama dia. Kalian berbeda, tapi ...."


Quin mencebikkan bibirnya, "Dasar gombal.'


"Aku serius Quin." Ujar Abi sambil menggenggam tangan Quin.


Quin menatap lekat kearah mata Abi, mencari kebohongan di sana. Namun Quin hanya menemukan ketulusan dari mata Abi.


Quin menghel napasnya pelan. "Maukah kamu berjanji? jika sampai saat di mana aku meyakini jika aku mencintai kamu. Maukah kamu tetap terus meyakinkan perasaan aku jika kamu tak akan pernah mengkhianati ku?"


Abi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Aku juga akan bersedia untuk tidak meminta hak ku, sampai kamu benar-benar yakin dengan aku."


Quin tak percaya dengan apa yang Abi katakan. Benarkah Abi tak akan meminta hak nya sampai dirinya benar-benar siap?


"Kamu harus mulai untuk membuka hati kamu, untuk mempercayai aku." Abi menangkup pipi Quin.


Quin menganggukkan kepalanya sambil menatap kedalam mata Abi. "Aku percaya kamu."


Abi tersenyum, kemudian ia mengecup kening Quin dengan sayang.


"Bolehkah aku mencium mu?" Tanya Abi dengan menatap kearah bibir Quin yang selalu membuatnya candu.

__ADS_1


"tumben, biasa nya kamu gak pernah minta izin buat ci-hhmmmppp."


Kata-kata Quin pun tenggelam dengan ciuman mesra yang Abi berikan kepada nya.


"Untung udah halal." Ujar Abash yang tanpa sengaja melihat Quin dan Abi berciuman di saat dirinya yang ingin bersantai menenangkan fikirannya yang saat ini sedang di penuhi oelh seorang wanita biasa namun sangat cerewet. Membuatnya kesal namun di saat bersamaan juga dapat menghibur nya.


*


Malam di mana pertemuan Anggel dengan seorang pemuda yang sudah di jodohkan dengan dirinya pun tiba. Oma Mega telah menyiapkan hidangan yang sangat lezat, bahkan Oma Mega membeli salah satu rancangan terbaik milik Mami Ara.


Dengan hati yang kesal dan terpaksa, Anggel pun mengikuti kemauan sang Mami. Anggel sengaja memasang wajah tak ramahnya, ini adalah salah satu bentuk dari rasa protesnya. Namun Anggel tak berani untuk berbuat lebih, karena Mami Mega mengancamnya dengan nyawa nya sendiri. Anggel mana mungkin tega membiarkan sang Mami terluka karena dirinya. Anggel akan merasa bersalah dan akan selalu di hantui dengan rasa bersalah nya.


"Mami harus menepati janji Mami. Izinkan Anggel bertemu dengan Lana untuk terakhir kali nya sebelum pernikahan Anggel terlaksana." bisiknya kepada sang Mami di saat mereka sedang menanti kedatangan tamu agung tersebut.


"Tentu, di malam pertunangan Ica, Mami izinkan kamu untik berbicara dengan Lana. Tapi ingat, jangan pernah berfikiran untuk kabur bersamanya, atau Mami akan menghancurkan karir Lana sebelum Mami mengakhiri hidup Mami."


Anggel mendengus kesal mendengar ancaman sang Mami.


Sebuah mobil mewah pun memasuki perkarangan rumah Oma Mega.


"Tersenyumlah, jangan cemberut seperti itu. Kamubm terlihat sangat tua."


"Biarain." Lirih Anggel yang pastinya tak akan di dengar oleh Oma Mega.


*


Anggel menatap pria berkacamata yang ada di hadapannya saat ini. Bahkan Fatih yang berpenampilan asal dengan rambut gondrongnya pun masih terlihat sangat tampan. Benarkah Mami nya ini akan emnikahkan dirinya dengan seseorang yang terlihat seperti kutu buku?


Anggel tak bisa membayangkan malam pertamanya bersama sang pria yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya itu. Yang benar saja, yang ada mereka hanya menghabiskan malam pertama dengan membahas tentang buku-buku yang tiba-tiba saja terasa membosankan bagi Anggel.


"Anggel, kenalin ini namanya Nak Martin." Ujar Oma Mega.


"Hai, aku Martin." Ujar pria berkacamata dan berbehel tersebut.


Anggel rasanya ingin sekali tak pernah terlahir kedunia jika ia harus menikah dengan pria yang bernama Martin itu. Dengan penampilan yang memakai kemeja lengan pendek, celana di atas perut, bahkan memakai tali Jojon di kedua bahunya karena takut akan celananya melorot.


'Oh Mami, yang benar saja ini? apa Mami tak salah memilihkan seorang pria untuk menjadi calon suaminya?' batin anggel.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2