KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 65


__ADS_3

Gagal lagi..


Veer harus harus kembali menghela napasnya. Kalo ini bukan karena Nafi yang berteriak histeris, melainkan tamu bulan Nafi yang tiba-tiba saja datang tanpa di undang.


" Maaf yaa.." Nafi merasa bersalah, padahal ia sudah mempersiapkan dirinya.


Veer tersenyum dan membelai wajah Nafi,


" Gak masalah, bukan salah kamu kok."


Veer mengecup bibir Nafi singkat. Nafi tersenyum dan memeluk tubuh Veer, yang di balas kembali oleh Veer.


" Kita tidur yaa... kamu pasti lelah, karena hampir seharian berdiri tadi."


" Iyaa,"


.


.


Quin membuka matanya dan merenggangkan ototnya. Quin terdiam, perlahan tangannya naik menyentuh bibirnya. Ingatan tadi malam seakan kembali berputar.


" Ayoo, mau aku gendong atau jalan sendiri?"


" Jalan sendiri aja, emangnya aku anak kecil apa." gerutu Quin saat Abi menawarkan diri untuk mengantarnya ke kamar.


Abi memegang pinggang Quin, karena jalan Quin yang masih sedikit pincang.


" Makasih..." Ujar Quin saat mereka sudah tiba di depan kamar Quin.


Abi mengangguk dan tersenyum.


Quin membuka pintu kamarnya, namun gerakannya terhenti saat Abi menyebut namanya. Quin pun berbalik dan menatap Abi.


Abi perlahan melangkah maju, di sentuh ya wajah Quin, dan dengan cepat Abi mendaratkan ciumannya di bibir Quin. Quin membelalakkan matanya, tubuhnya membeku, sehingga Quin hanya bisa menerima ******* singkat yang di berikan oleh Abi.


" Manis, aku suka." Abi membelai bibir Quin yang basah karena ulahnya.


Quin masih membeku,


" Quin.." Panggil Abi kembali.


Abi tersenyum di saat melihat Quin menatapnya dengan ekspresi lucu.


" Kalo kamu begini, jangan salahkan aku jika kembali mencium mu."


Satu detik.. dua detikk.. tiga detik ..


Quin membolakan matanya, dengan gerakan cepat ia menutup mulutnya dengan tabgan kanannya, sedangkan tangan kirinya mendorong tubuh Abi, sehingga Abi mundur selangkah. Quin buru-buru masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu dengan kencang.


Di luar kamar, Abi tersenyum dan terkekeh.


" Kamu lucu Quin, bagaimana bisa aku tak jatuh cinta dengan kamu." monolog Abi sebelum meninggalkan kamar Abi.


Quin memejamkan matanya, kemudian ia menggelengkan kepalanya menghapus ingatannya pada kejadian tadi malam.


Quin menangkup wajahnya yang terasa memanas.


" Apaan sih, huuff... Quin, santai Quin... santai.. cuma kecupan singkat aja. waktu itu bahkan pernah lebih dari ini, dan kamu masih bisa santai." Quin mengatur napasnya dan mensugesti dirinya untuk bersikap tenang dan tak terjadi apapun antara dirinya dan Abi.


" Huuff.... huuff... huuf... kamu bisa Quin, kamu pasti bisa.. Cayoo.."


.


.


" Astaghfirullah.." Quin terkejut saat ia membuka pintu kamar, ternyata Abi sudah berdiri di sana dan siap ingin mengetuk pintu.


Quin mengerjapkan matanya, sedangkan Abi menampilkan senyum terbaiknya.


" Ayoo.."


" kemana?"


" Ke KUA"


Quin membelalakkan matanya,


" Tapi kita sarapan dulu, buat isi tenaga, biar kamu sanggup terima kenyataan, kalo sebentat lagi kita akan menikah."


" Apaan sih.."


" Ayoo..." Abi langsung meraih jari jemari Quin, dan menggenggam nya dengan lembut.


Abi sudah mempersiapkan sebuah rencana pagi ini, yang mana akan membawa Abi dan Quin benar-benar menuju KUA.


.


.


" Pagi pengantin Baru.." Goda Quin saat melihat Veer dan Nafi di meja makan, menunggu kehadiran yang lainnya.


" Waaah, tu tangan di kasih lem, Ampe gak lepas?" Veer kembali menggoda Quin.


Quin baru sadar jika tangan nya dan tangan Abi masih saling bertautan.


" Eehh, apaan sih.. Gak di lepas"


" Yang genggam kan kamu." Abi menunjukkan jari jemarinya yang memang masih bertautan dengan jari jemari Quin, dengan posisi jari Quin masih memeluk jari jemari Abi.


Seketika Quin langsung melepaskan tangannya, dan rasa panas langsung terasa di pipi Quin.

__ADS_1


" Ehemm.. ehemm..." Lagi, Veer menggod Quin.


" Bakal ada pesta lagi nih.." Seru Fatih yang memang selalu heboh, sifat heboh yang menurun dari sang Papi.


" Pesta rambut mu. Gue rebonding deh tu entar rambut." Kesal Quin.


Yang lain hanya tertawa menanggapi ucapan Quin, termasuk Lana.


" Kalo Lo perlu bantuan buat gosok rambut kriting Fatih, bilang sama aku aja Quin."


" Boleh lah tu, bisa di atur. Ca, kamu mau ikut gosok rambut kritingnya Fatih?"


" Boleh Mbak, kalo bisa sekalian sama bulu tangan dan kaki nya."


" Bulu dada gak Ca?" Goda Zein.


" Semua aja kalo perlu, semua bulu.." Tambah Raysa.


" Kalo semua buku aku di gosok, ntar gak ada lagi buli yang glitikin kamu." Ujar Fatih dengan wajah mesumnya kepada Raysa.


Raysa mencibirkan bibirnya dengan tatapan jijik melihat Fatih.


" Udah ah, kalian dari kecil asik berantam aja. Jodoh baru tau." Timpal Papi Gilang.


" Loh, kan emang dari dulu Fatih minta bawa pulang Ica kerumah Pi,"


" Iihh, ogah gue pulang sama Lo." Raysa bergidik jijik mendengar ucapan Fatih.


Kembali, terdengar tawa yang menggelegar. Raysa dan Fatih memang selalu saja berdebar jika mereka bertemu, entah kapan mereka terlihat berbaikan, mungkin tidak pernah?


Quin bernapas lega, setidaknya semua orang tidak lagi menggodanya. Seluruh keluarga makan dengan diam, terkadang hanya terdengar celotehan Lana dan Fatih, yang memang tak bisa diam mulutnya di mana pun mereka berada, kecuali tidur dan saat sedang benar-benar serius dengan pekerjaan mereka.


Sarapan pagi ini terasa hangat, di tambah lagi Veer dan Nafi terlihat sangat mesra, bahkan mereka mengumumkan akan berangkat ke Korea dalam beberapa hari lagi.


Papa Danu sebenarnya tak setuju, karena saat ini di Korea sedang musim dingin, namun Veer mengatakan jika bulan madu kali ini sekalian pertemuan bisnis Nafi dengan klien nya. Papa Danu pun dengan berat hati memberikan izin. Tapi tetap mengingatkan Veer untuk tak lupa membawa jaket penghangat tubuh untuk Nafi, dan tidak membiarkan Nafi kedinginan di sana.


" Aku harap sepulang dari sana, kalian memberikan keponakan yang lucu untuk ku" Ujar Quin dengan girang.


" Butuh proses Quin."


" Maka dari itu, percepat prosesnya." Quin mengedipkan matanya kepada Nafi, sedangkan Nafi sudah menangkup wajahnya yang memanas.


" Kamu membuatnya malu Quin." Ujar Veer yang membelai lembut Nafi dengan lembut.


" Aaa, romantisnya..." Seru Quin, Kayla, Anggel, dan Raysa berbarengan.


Abi memperhatikan seluruh keluarga yang berkumpul. Di ruangan ini juga terdapat Kakeknya Andreas dan Aunty Risma beserta sang suami.


Abi menarik napas, dan membuangnyabseacra perlahan. Mungkin ini saat yang tepat, dan juga hal gila yang akan Abi lakukan. Semua ini demi Quin, demi menjadikan Quin sebagai istrinya.


Ting...Ting...Ting...


Abi berdiri sambil mengetuk gelas kaca itu dengan sendok, untuk mengambil perhatian semua orang.


Sekali lagi, Abi menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Abi sudah siap dengan konsekuensi yang akan di tanggung nya saat ini, salah satu nya kemarahan Quin.


" Semuanya, Kakek, Om, Tante, dan seluruh keluarga yang saya hormati. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya meminta restu kepada Om Arka dan Tante Kesya, untuk merestui pernikahan saya dan Quin dalam Minggu ini."


Hening,


Kakek Farel dan Kakek Andreas masih menatap Abi tanpa berkedip. Begitupun dengan Papa Arka, tidak dengan mama Kesya yang sudah menoleh kearah Papa Arka, dan menyentuh lengan kokoh suami nya itu.


Veer, Arash, Abash, dan juga yang lainnya menatap Abi dengan ekspresi yang tak terbaca.


Quin sudah menatap Abi dengan tajam. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jari nya memutih.


" Gila " Umpatnyan pelan.


Veer yang pertama kali menghela napas.


" Berikan alasannya, kenapa kamu ingin menikahi Quin di luar jadwal yang sudah di tentukan?"


" Aku mencintai Quin, dan aku tak ingin kehilangan orang yang spesial seperti Quin."


Abi menjawab dengan mantap dan tegas. Veer menaikkan sudut bibirnya.


" Quin__"


" Gak, Quin gak setuju. Semua sudah diatur. Sebulan setelah pesta pernikahan Veer."


Papa Arka menghela napasnya. Sesuai perkiraan Papa Arka, jika Quin menolak untuk mempercepat pernikahan mereka. Sebelumnya, Abi sudah menemui Papa Arka semalam, setelah Abi mengantarkan Quin ke kamarnya.


Abi mengatakan jika dirinya akan kembali ke German dalam dua Minggu lagi. Karena ada pekerjaan di perusahaan sang kakek yang membutuhkannya. Abi takut, jika dirinya akan lama di sana, untuk itu Abi meminta mempercepat pernikahan mereka, karena Abi tak ingin jauh dari Quin, dan kehilangan wanita seperti Quin.


Papa Arka mengatakan semua keputusan ada di tangan Quin.


Papa Arka masih memandang wajah Abi yang tak gentar untuk mundur. Terlihat Abi masih dengan pendiriannya.


" Quin, aku mohon. Menikahlah dengan ku." Abi berlutut di hadapan Quin, dengan sebuah cincin kuno yang terlihat sangat cantik.


Aunty Risma menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. Cincin itu, cincin yang Abi persembahkan untuk Quin, adalah cincin dengan batu permata yang langka dan tak ternilai. Cincin milik almarhumah sang ibu. Di mana ibu Abi berpesan, untuk memberikan cincin tersebut kepada wanita yang ingin Abi jadikan pendamping hidupnya.


Aunty Risma tersenyum dalam tangisnya, ia ingat sekali, saat Abi melamar Anita, Bukan cincin itu yang Abi berikan, melainkan cincin lain yang sudah Abi pesankan untuk Anita.


Kakek Andreas juga ikut meneteskan air matanya saat melihat cincin tersebut.


Dada Quin bergemuruh, ia tak tahu harus berkata apa. Quin harus mengundur pernikahan ini, sampai Quin mempertemukan Abi dan Anita.


Semua menunggu jawaban Quin dengan perasaan berdebar dan harap-harap cemas.


Quin menggigit bibirnya, ia menoleh kepada sang Mama. Terlihat wajah sang Mama memancarkan kebahagiaan dan menganggukkan kepalanya, meminta Quin untuk menerima lamaran Abi.

__ADS_1


Mata Quin beralih kepada sang Papa, Papa Arka hanya memberikan senyuman tipisnya, dan itu artinya Papa Arka menerima semua keputusan Quin.


Quin menoleh kearah Kakek Farel, kakek pun menganggukkan kepalanya untuk Quin menerima lamaran Abi.


Quin menarik napasnya dalam, ia menatap Abi yang masih berlutut di hadapannya.


" Abi, maafin Aku, aku gak bisa terima lamaran kamu saat ini." Quin menghembuskan napasnya pelan. " Berdiri lah Abi."


Terlihat wajah kecewa dari Kakek Andreas, kakek Farel, Mama Kesya, auty Risma, Oma Laura, dan yang lainnya.


Abi tersenyum miring, ia berdiri perlahan, sepertinya ia akan menggunakan rencana ke dua. Rencana licik dan gila nya.


" Kakek, Om, Tante, dan semua nya. Tolong maafin Abi. " Setelah membungkukkan sedikit tubuh nya , Abi berbalik menghadap Quin.


Ia tersenyum kepada Quin yang masih menatapnya dengan kesal.


" Aku mencintai mu, Quin."


Abi menundukkan wajahnya, tangan Abi emnahan tengkuk Quin, dan dengan hitungan detik, bibir Abi sudah mendarat di bibir Quin. Quin membelalakkan matanya, tak hanya Quin, Mama Kesya, para Oma dan Opa, serta yang lainnya juga sudah menutup mulut mereka dengan mata yang membesar.


Tidak dengan Papa Arka dan Veer yang sudah mengeraskan rahangnya dan mengepal tangannya, siap untuk mendaratkan tinjunya di wajah Abi.


Quin mendorong kuat tubuh Abi, Quin berdiri dan langsung mendaratkan sebuah tamparan di pipi Abi.


Plaak...


Jantung Quin sudah berdebar kencang, air matanya jatuh tanpa mampu ia tahan.


" Dasar brengsek."


Plaaakk...


Tak hanya sekali, Quin mendaratkan kembali tamparannya ke pipi Abi. Abi tersenyum dan menatap Quin dengan hangat.


Buug...


Praaang....


Abi tersungkur dengan hitungan detik, dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Abi mengusap sudut bibirnya dengan ibu jarinya, kemudian Abi kembali berdiri dengan senyumnya.


Veeerr..


Yaa Veer.. Veer yang mendaratkan bogem mentahnya. Baru saja Veer mengangkat kembali tangannya untuk kembali mendaratkan tinjunya di wajah Abi, Veer terkejut dengan perlakuan Abi yang berlutut di hadapannya.


" Pukul Aku, Veer.. Pukul Aku.. Tapi ku mohon, restui aku untuk menikahi Quin secepatnya."


Abi berlutut dan memohon kepada Veer. Veer terlihat mengeraskan rahangnya, hingga ia kembali ingin memukul Abi, namun di hentikan oleh Papa Arka.


Veer memandang wajah papa Arka.


" Urus semua surat-surat nya, lusa Quin akan menikah dengan Abi."


Veer menatap Papa Arka dengan tak percaya, begitu pun dengan Quin.


" Papa..." lirih Quin.


Papa Arka berdiri dan meninggalkan ruangan yang saat ini menjadi sangat menegangkan.


" Papa... Quin mohon, hiikkss..." Quin sudah mengejar Papa Arka dan menahan tangan beliau.


" Papa.. hiikksss.. Quin mohon, Katakan pada Quin, Papa bercanda kan.. Papa gak serius kan dengan keputusan Papa.. hikss.."


Papa Arka membelai rambut Quin dengan sayang. " Ini keputusan yang terbaik Quin. Papa harap, kamu bahagia."


Papa Arka mendaratkan ciumannya di kening Quin, kemudian Papa Arka berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


" Ma, hikkss.." Mama Kesya yang berdiri di belakang Quin pun langsung memeluk sang putri.


" Ma, hikkss.. Bilang sama Papa, hikkss... Quin belum siap menikah... hikkss..."


Mama Kesya membelai rambut panjang Quin dengan sayang.


" Mama coba bicara dengan Papa ya.."


Quin merelai pelukannya, Mama Kesya menghapus air mata Quin. Di kecupnga kedua mata sang putri, dan terakhir mengecup kening Quin dengan sayang.


Quin hanya membeku di tempat, di saat yang lainnya satu persatu meninggalkan ruangan, hingga tersisa Veer, Nafi, Lana, Abash, Arash, Fatih, Zein, Kayla, Raysa, dan juga Anggel.


Abi masih dengan posisi nya yang berlutut. Quin berbalik dan menatap benci kepada Abi. Benci karena Abi telah dengan berani menciumnya di hadapan semua orang.


Quin berjalan cepat, dan menarik kerah baju kemeja yang Abi kenakan.


" Brengsek kamu Abi, dasar brengsek.. hikss.. " Quin memukul-mukul Dada Abi, hingga Quin pun ikut terduduk di lantai.


" Hikkss... aku benci kamu Abi, hikkss... AKU BENCI KAMUU..." Pekik Quin.


Abi meraih tubuh Quin dan memeluknya, "Maafin aku, Aku melakukannya karena aku tak ingin kehilangan kamu Quin. Aku tau, kamu ingin membatalkan pernikahan ini, maka dari itu, aku berusaha untuk mempercepat pernikahan ini. Aku mencintai mu, Quin. Aku sangat mencintai mu."


" Hikks... Aku gak percaya sama kamu, dan aku gak cinta sama kamu.. Hikks..."


" Kamu tak perlu mencintai aku, cukup kamu menerima cinta yang aku berikan. Karena aku akan mencintai mu selamanya."


" Dasar buaya... hikkss.. keong racun, ular berbisa... hikkss... lelaki kardus... " Maki Quin sambil memukul dada Abi.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2