KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 25


__ADS_3


Vikram Zein Bramansyah / Zein


Pria berumur 25 tahun itu sedang menjalani proses untuk siap menduduki jabatan sebagai CEO. Zein adalah keponakan Dari Anggel, namun karena Kayla, Quin, dan yang lainnya memanggil dengan sebutan kak Zein, Anggel pun ikut memanggil Zein dengan embel-embel Kak. Zein memiliki kisah cinta yang cukup unik dan sedikit rumit, nantikan kisahnya yaa..


_____


Zein menatap Kayla yang tengah mengobrol ceria bersama Anggel dan Quin. Walaupun sesekali Kayla mencuri pandang ke arah Zein, tapi tidak membuat fokusnya berbicara dengan Quin dan Anggel buyar..


" Jadi kakek ingin menjodohkan kamu?" Kayla menutup mulutnya, hal yang paling dibenci oleh Quin, akhirnya terjadi.


" Heum, " Quin sebenarnya ingin mengatakan jika kakek dan Oma menyarankan untuk menerima Lana, namun demi menjaga perasaan Anggel, Quin lebih memilih diam.


.


.


"Hai kakak ipar.." Quin mengejutkan Nafi yang baru saja turun.


" Qila, eh Quin, kamu mengejutkan ku.."


" Benarkah? Maafkan aku.. Oh yaa, kalo kamu ingin memanggilku Qila, silahkan. "


Nafi tersenyum. " Kamu baru pulang?"


" Heum, ada acara di rumah Oma."


" maaf, karena tidak bisa hadir tadi."


" Gak masalah, lain kali kamu harus ikut gabung. Akan aku kenalkan dengan Aunty kecil ku dan Zein."


" Kamu pasti bahagia banget yaa, dikelilingi orang-orang yang tulus sayang sama kamu."


Quin tersenyum, " Kamu akan mendapatkannya."


Nafi tersenyum. Ingatannya kembali saat makan malam keluarga, yang mengumumkan jika Nafi telah menjadi istri Veer. Nafi sempat di buat bingung dengan silsilah dikeluarga mereka. Bagaimana Nafi tidak bingung, jika Mama Kesya menikah dengan Papa Arka, sedangkan Mami Vina menikah dengan Papi Vano, yang mana Papi Vano adalah keponakan dari Papa Arka. Dan Mama Kesya adalah adik dari Mami Vina, Lalu bagaimana seharusnya dia memanggil, maka dari itu Nafi ikut memanggil dengan sebutan Mami dan Papi. Begitupun dengan Bunda Sasa dan Daddy Bara. Nafi senang, jika seluruh keluarga Veer menerimanya dengan hangat dan baik, andai saja dirinya dan Veer saling mencintai, mungkin pernikahan mereka akan terasa sangat indah.


Kalian tau, semenjak kejadian Veer menuduh Nafi mencium dirinya, Nafi seakan menjaga jarak dengan Veer, bahkan Nafi hanya menjawab apa yang ditanyakan oleh Veer saja, dan tidak berniat untuk bertanya balik.


" Kamu kenapa belum tidur?"


" Aku..." Nafi tersenyum canggung.


" Kamu lapar?" Tebak Quin, dan Nafi menganggukkan kepalanya.


" Ayoo, aku buatkan makanan." Quin menarik tangan Nafi.


Quin memasak nasi goreng untuk mereka berdua, Nafi terus memuji masakan Quin yang sangat enak di mulutnya, dan ini akan menjadi makanan favorit bagi Nafi.


" Kamu tidak ingin belajar memasak, Nafi?"


" Eemm, seb-sebenarnya aku ingin, tapi aku malu.."


" Kenapa?"


" Karena aku tidak pernah memasak, bahkan memegang pisau pun aku gak bisa, Qila."


" Tenang saja, Kamu punya mertua yang sangat handal, di jamin kamu pasti akan pintar masak"


" Tapi aku malu.." Nafi menundukkan kepalanya. " Bagaimana jika masakanku tidak enak?, dan dia tidak menyukainya," Nafi memelankan suaranya, lebih mirip seperti bergumam, tapi bukan Quin namanya jika indera pendengarannya tidak tajam. Bahkan kucing kentut pun Quin mampu mendengarnya.


Quin menatap wajah sendu Nafi. Tiba-tiba saja terlintas ide untuk mengerjai Nafi.


" Veer, apa kamu akan memakan masakan Nafi, jika masakannya gosong?"


" Qilaaa.." Tegur Nafi, dan langsung panik. Nafi membalikkan tubuhnya dan ternyata zonk. tidak ada Veer di sana.


Qila tertawa melihat wajah panik Nafi. " Kamu menyukai Veer?" Tebak Qila.


" Ap--apa? Tidak, aku tidak menyukainya."


Oh Nafi, mulut dan ekspresi wajahmu sungguh bertolak belakang. Lihatlah, wajahmu sudah memerah karena malu.


" Kamu tidak bisa membohongi ku Nafi, kamu menyukai Veer. Sejak kapan?"


" Qilaa..." Wajah Nafi bersemu merah.


" Katakan, aku akan menyimpan rahasia mu, dan aku bisa membantumu untuk menaklukkan hati Veer."


Terlihat binar di mata Nafi. " Benarkah?"


" Heum, tapi kamu harus jujur kepada ku. Katakan, sejak kapan kamu menyukai Veer."

__ADS_1


Nafi melihat keadaan sekelilingnya, takut jika Veer benaran datang, atau ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Setelah merasa sepi, Nafi pun bercerita sejak kapan dia menyukai Veer, dan membuat dirinya membenci Veer. Namun, beberapa hari ini, perasaan mencintai Veer kembali timbul, tapi Nafi tidak ingin mengatakan itu cinta, terlalu dini untuk mengatakan jika itu cinta, katakanlah jika perasaan ini hanya sekedar mengagumi saja.


" Baiklah, yang pertama yang harus kamu lakukan adalah belajar memasak. Karena Veer menyukai wanita yang pintar memasak. Banyak wanita yang datang dan menyodorkan makanan kepada Veer, namun sampai saat ini belum ada makanan yang bisa membuat lidahnya jatuh cinta."


" Mereka yang pintar memasak saja, tidak bisa menyentuh hati Veer, bagaimana dengan aku?" wajah Nafi berubah sendu.


" Tenang aja, aku bakal bantu kamu buat naklukkin hati Veer." Quin mengedipkan matanya sebelah.


.


.


" Dari mana?" Nafi tersentak kaget saat Veer tiba-tiba menegurnya.


" Eem, da-dari dapur.."


" Ngapain?"


" Aku lapar.." Nafi memilin piyama tidurnya.


Veer bangkit, dan mendekati Nafi yang masih berdiri mematung.


" Ayoo.."


" Kemana?"


" Katanya lapar.."


" Udah kenyang, tadi Quin memasakkan nasi goreng."


" oooo.." Veer kembali ke sofa, dan merebahkan tubuhnya. " Tidur laah, sudah larut malam."


" Iya.."


.


.


Quin sedang membantu Mama Kesya menyiapkan Sarapan pagi ini, namun tak berapa lama Nafi menghampiri kitchen set itu.


" Ma, "


" Pagi sayang,"


Pergerakan Mama Kesya langsung berhenti. Apa dia tidak salah dengar? Menantunya yang tak pernah kedapur ingin membantunya pagi ini?.


" Kamu bisa membawa ini kemeja makan kakak ipar." Quin memberikan sepiring pergedel yang baru saja di gorengnya.


Veer yang melihat Nafi membantu membawakan sarapan, tersenyum tipis. Apa Veer mulai ada hati dengan Nafi? Entahlah, beberapa Minggu bersama dengan Nafi, membuat Veer sedikitnya mengenal sifat asli Nafi. Sifat yang bertolak belakang dengan apa yang di bicarakan oleh orang-orang.


Quin memperhatikan jari Nafi dan Veer bergantian. Cincin rumput itu masih melingkari jari manis mereka.


" Veer, apa kamu tak punya uang? hingga tidak mampu membeli cincin berlian untuk Nafi?"


Uhukk..uhukk.uhuk...


Veer memberikan air putih kepada Nafi, dan mengusap punggung Nafi pelan.


" Makasih " Cicit Nafi Dengan gugup.


" Ini hanya pernikahan sementara, jadi akan mubazir membuang uang untuk membeli cincin, lagi pula itu terlalu menonjol, dan membuat paparazi itu curiga. Benarkan Nafi?"


" Ehh? Ekhemm. Be-benar. sebaiknya nya seperti ini, jadi tidak ada yang tau."


Quin mengangguk-anggukkan kepalanya. Quin tau, jika ada guratan kecewa di wajah Nafi, tapi dia berusaha untuk tegar dan tersenyum.


Setelah selesai makan, Nafi juga ikut membantu membereskan meja, walaupun dengan arahan dari Quin. Mama Kesya tersenyum lebar, filling Mama Kesya tidak salah, jika Nafi adalah anak yang baik, berbeda dengan apa yang orang bicarakan. Buktinya Quin bisa sangat akrab dengannya.


" Ngaaaauunnngg..."


Nafi membulatkan matanya saat melihat kucing besar itu berjalan mendekat kearahnya.


"Aaaaa.... veeerr.." Nafi berlari kearah Veer yang hendak menaiki tangga, dengan cepat Nafi loncat dan melingkarkan kakinya di tubuh Veer, serta mengalungkan tangannya di leher Veer.


" Veer , tolong aku.. aku takuut.." Navi sudah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Veer.


Deg..


Veer membeku, hingga suara Quin menyadarkannya.


" Empuuss.. kenapa sayang?"


" Ngauung.."

__ADS_1


" Mau kenalan dengan Mama Nafi?"


" Aku bukan mamanya" Celetuk Nafi.


Quin terkekeh. " Veer, sepertinya kamu harus membantu Nafi mendekatkan dirinya dengan Empus.."


" Kenapa aku?"


" Karena kamu suaminya, dan kamu libur hari ini. Berbeda dengan aku yang seorang pengusaha. pengusaha kue.." Quin menaik turunkan alisnya.


" Quin benar, kamu harus membuat Nafi tidak takut lagi dengan Empus.." Tambah Papa Arka.


Veer memutar bola matanya malas. " Turun.." titah Veer sambil menepuk punggung Nafi..


" Tidaak, aku takuut.."


" Tenanglah, ada aku.."


" Tidaak..."


Veer membuang napasnya kasar. " Bawa Empus kebelakang."


Quin pun mengikuti perintah Veer.


Veer menggendong Nafi seperti anak koala, dan membawanya duduk di sofa.


" apa yang kamu takuti?"


" Aku takut, ba-bagaimana jika dia memakannku."


" Dia tidak akan memakanmu, tenanglah.. Ayoo.."


" Aku geli.."


" Geli??"


" Geli dengan bulunya.."


Veer terima, seolah memikirkan sesuatu. "Baiklah.."


Veer bangkit, dan tak berapa lama mengambil Shal bulu milik Quin.


" Aaaa..." Nafi berteriak dan terjatuh dari sofa.


" Aaw.., Veer, ja-jaauh kan bulu ituu.."


Veer menyeringai.. Dia perlahan mendekati Nafi dengan membawa shal bulu itu.


" Veer, menjauh.."


Mama Kesya hanya geleng-geleng kepala melihat kejahilan Veer, Mama Kesya pun mengikuti Papa Arka untuk bersantai di halaman belakang.


" Veer, "


" Ayoo lah, ini hanya shal.."


" Tapi itu bulu, Veer.. Aah.."


Veer mendapatkan tangan Nafi, dan langusng melilitkan shal bulu itu.


" Veer, lepaskan.."


" Ayo lah Nafi, ini sangat lembut, cobalah.."


" Veer.."


Nafi menyentak tangannya hingga terlepas dari tangan Veer. Nafi melepaskan shal itu dengan bergidik geli, kemudian Nafi langsung berlari ke kamar.


" Hiikss..."


Veer membeku, apa setakut itu dia dengan bulu? Veer fikir dia hanya bercanda mengatakannya, agar tidak di kenalkan dengan Empus. Veer merasa bersalah.


" Nafi.."


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2