
Tok ... tok ... tok ... tok ...
pintu yang di ketok dengan terburu-buru dan kuat membuat Abash geram. Abash berdiri dan membuka pintu tersebut.
"Ada apa?" Ujar nya dengan tegas.
"Maaf Tuan muda, Nona Nafi dan Nona Anggel dalam bahaya."
Semua orang yang berada di dalam ruangaan tersebut langsung berdiri.
"Lindungi Quin dan Mama Kesya." Titah Papa Arka kepada Abi.
Mama Kesya dan Quin pun langsung berpelukan. Abi menutup pintu setelah Papa Arka dan Abash keluar. Opa Roy memilih bersama dengan Abi.
*
Dua jam sebelum kejadian.
Setelah perdebatan panjang antara Raysa dan Fatih, di sinilah mereka sekarang. Di mana Raysa dan Fatih telah membuat janji dengan Desi.
"Ca." Sapa Desi menghampiri Raysa dan Fatih dengan bersembunyi-sembunyi.
"Gila Lo Des." Marah Fatih kepada Desi.
"Aku gak punya cara lain lagi Bang, ini yang terbaik. Filling ku mengatakan hal ini. Makanya aku minta Mbak Nafi dan Mbak Anggel berada di kamar yang sama. Selain Ica, gak ada yang bisa aku percaya."
"Tapi ini sangat berbahaya. Lo bilang kan kalo kalo mereka membawa senjata tajam?"
"Ini satu-satu nya cara untuk menangkap mereka."
"Aku gak setuju."
"Fat, kamu harus percaya sama aku dan Desi."
Fatih menoleh kearah Raysa, ia meremas rambutnya sendiri dan menggeram. Tatapan Raysa mengatakan jika dirinya tak akan mundur dari rencana yang Desi rancang.
"Aku gak habis fikir dengan kalian berdua."
"Abang doain kami, semoga rencana aku berhasil."
"Pasti aku doain, karena aku gak mau kalian terluka."
Desi tersenyum, begitupun dengan Raysa.
"Jadi, Abang ikut dalam rencana?" Tanya Desi.
"Kamu fikir aku akan membiarkan kalian terluka? Tidak akan pernah."
Seorang pria yang terbilang cukup manis datang dengan berjalan sangat gagah.
"Apa kita mulai sekarang?"
"Tentu." Ujar Desi kepada pria yang bernama Jordan, yang biasa di sapa dengan Jo.
Jod adalah anak pertama dari Om Jodi dan Aunty Ara. Jo tersenyum kepada Raysa, sehingga dirinya mendapatkan tempelengan dari Fatih.
"Senyum aja gak boleh." Ujar Jo sambil mengelus rambutnya.
"Kesal gue." Ujar Fatih dengan tak ramah.
__ADS_1
Raysa dan Desi sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian pasien rumah sakit. Mereka masuk kedalam fentilasi udara yang berada di plafon rumah sakit.
"Kebanyakan nonton film barat Lo Des " Gerutu Fatih saat dirinya sedang merangkak menyusuri ruang sempit tersebut.
"Gak ada salahnya kali bang, yang penting dapat ilmunya."
Desi mengikuti alur yang berada di dalam peta rumah sakit. Hingga mereka menemukan celah bercahaya itu. Dengan kepintarannya yang tak lupa membawa obeng, dia membuka baut-baut tersebut dengan cepat. sehingga terbuka lah pintu keluar mereka.
Desi merekatkan cangkang ke dalam lubang fentilasi yang terbuat dari aluminium tersebut untuk menahan bobot tubuh mereka untuk turun dengan menggunakan tali.
Desi orang yang pertama turun, kemudian Raysa, Fatih, dan terakhir Jo. Jo memutuskan tali tersebut dengan sekali hentakan tarikan. Pintu terbuka dan menampilkan Lana yang terkejut dengan kehadiran 4 manusia di dalam kamar mandi.
"Ngapain kalian di sini?" Tanya nya tak suka.
Desi langsung menyuruh Lana diam, dan dengan di ikuti Desi dan Raysa yang keluar dari kamar mandi, Fatih dan Jo pun setia berada di belakang mereka.
"Ada Apa?" Tanya Veer yang juga terkejut dengan kehadiran Desi dan Raysa yang sudah memakai pakaian rumah sakit.
"Kami akan menggantikan Non Nafi dan Mbak Anggel berbaring di sana." Ujar Raysa.
"Untuk?"
"Desi memilki firasa buruk untuk malam ini, setidaknya kita harus bergerak cepat."
"Lalu, mereka mau di pindahkan bagaimana?" Tanya Lana.
"Untuk malam ini bersembunyi dulu di kamar mandi."
"Waah, ngaco Lo Des."
Desi tersenyum. Veer yang mengerti arti senyuman itu pun mengangguk setuju. Desi tidak akan melakukan pekerjaan tanpa rencana yang matang. Sekarang Veer tau, kenapa alasan Desi meminta Nafi dan Anggel berada di ruangan yang sama.
"Gak ada waktu Bos, gendong saja."
Nafi yang baru terbangun terkejut dan merasa ketakutan dengan kehadiran Desi, Raysa, Fatih, dan juga Jo. Nafi pun meremas tangan Veer.
"Tenanglah, mereka adik-adik ku."
Nafi menganggukkan kepalanya, ia harus percaya kepada Veer. Veer menggendong Nafi dan membawa nya menuju kamar mandi. Desi langsung berbaring di tempat tidur.
"Kamu bisa berdiri kan?" Tanya Veer, Nafi pun mengangguk.
Veer turunkan Nafi dan membuka kemejanya. Veer berikan kemejanya kepada Jo, DNA Jo segera memakainya. Fatih dan Lana sudah duluan berganti pakaian.
Lana langsung menggendong Anggel yang tertidur.
"Ada?" Tanya Anggel yang terkejut saat sudah berada di dalam gendongan Lana. Lana menyuruh Anggel diam dan melirik kearah Raysa.
"Tenang Mbak, jangan panik."
"Ica?" Lirih Anggel.
Raysa langsung berbaring di atas brankar sedangkan Fatih duduk di sisi kiri Raysa.
Veer, Lana, Anggel, dan Nafi sudah masuk kedalam kamar mandi. Veerm mencari pintu rahasia yang di siapkan oleh Desi. Namun, gerakannya tertahan saat mendengar suara pintu kamar inap Nafi dan Anggel terbuka dengan perlahan.
Di luar kamar, Fatih sudah mengerut kesal tentang ide gila Desi. Raysa yang berbaring menghadap kiri pun hanya mampu memandang wajah Fatih yang mulutnya berkomat Kamit
Raysa dan Desi kompak berbaring menghadap kiri agar wajah mereka tak terlihat oleh anggota si Riki. Begitupun dengan Fatih dan Jo yang merebahkan kepalanya di atas brankar. seolah-olah mereka sedang tertidur.
__ADS_1
Derap langkah pelan terdengar oleh mereka semua. Jo yang memiliki insting bisa menebak berapa pasang kaki yang masuk ke dalam kamar. Jo memberi kode ke pada Desi dengan menggerakkan jari nya yang menggenggam tangan Desi.
Ada 5 orang yang masuk, Desi tak habis fikir, sebenarnya Riki ini siapa?
Saat derap langkah tersebut semakin dekat kearah desi, Jo, Fatih, dan juga Raysa. Mereka sudah memasang ancang-ancang untung menyerang balik.
"Now" Teriak Desi.
mereka semua bangkit dan mulai melumpuhkan mangsa mereka. Raysa sempat melirik kearah Fatih yang melawan dua orang sekaligus. Raysa tak percaya dengan aoa yang di lihatnya, Fatih nya tak seperti Fatih yang biasa nya dia kenal.
"Ica awas ..." Teriak Desi.
Sreeet ..
"Akkh ..."
*
Papa Arka melihat 4 orang yang sudah tertangkap dan di lumpuhkan oleh Fatih, Raysa, Jo, dan Desi.
"Kalian tak apa?" Tanya Papa Arka kepada Nafi dan Anggel.
"Kami gak papa Pa." Jawab Anggel dengan sesenggukan.
Papa Arka bernapas lega, namun salah satu anaknya terluka karena misi berbahaya yang tak di ketahui oleh nya ini. Papa Arka pun berlari keruang gawat darurat.
*
Bugh ... bugh ..
Terdengar pintu Yang di paksa untuk terbuka. pintu yang di fasilitasi dengan keamanan canggih itu akhirnya terbuka oleh sebuah ledakan. Mungkin dari sebuah tembakan.
Mama Kesya dan Quin sudah berpelukan sambil menangis. Opa Roy melindungi dua orang berharga nya itu. sedangkan Abi bersiap untuk melawan orang yang membobol pintu tersebut.
Bugh ...
Satu pukulan mendarat ke wajah si pria yang masuk dengan menodongkan senjata. Dengan gerakan cepat Abi merampas senjata tersebut dan kembali menodongkannya..
Dor ... Dor .. Dor..
"Akh .."
" Abi ..." Teriak Quin dan ingin berlari kearah Abi.
Untungnya Mama Kesya memeluk Quin dengan erat. Begitupun dengan opa Roy.
Tangis Quin pecah saat melihat Abi tertembak.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.
__ADS_1