KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 93


__ADS_3

Quin melihat wajah Arumi yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Wajah nya seolah mengatakan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya. Berteman dengan Arumi cukup lama, membuat Quin mengenal Arumi luar dan dalam. Quin sebenarnya sudah sangat yakin, jika Arumi dari awal tak bersalah. Namun, seluruh anggota keluarganya melarang Quin untuk bertemu dengan Arumi. Maka dari itu, Quin secara tak sadar menghindari Arumi dan tak ingin bertemu dengannya selama ini.


Mama Kesya, Papa Arka, Quin, dan Abi sudah duduk di hadapan Jamal dan Arumi, dengan berbataskan meja di antara mereka. Terlihat jelas di mata Abi, jika Jamal menatap genggaman tangan Quin dan dirinya yang sedari awal masuk tadi tak lepas. Rahang Jamal mengeras, menatap tak suka kepada Abi, seolah mengatakan jika dirinya cemburu. Abi tersenyum miring di saat mengingat betapa bodohnya Jamal melepaskan berlian yang sangat berharga. Tapi Abi bersyukur, jika tida, mungkin Abi tak akan pernah mengenal berlian indah yang sudah menjadi istrinya saat ini.


"Jamal, Tante sudah tau kamu putra dari Paula."


Terlihat Jamal menoleh kearah Mamakesya dengan tatapan mengejek. Kemudian ia beralih kembali menatap Quin dan Abi.


"Jamal, Tante harus jelaskan semuanya kepada kamu. Apa yang kamu dengar dan mungkin apa yang kamu lihat, tidak seperti yang kamu fikirkan." Mama Kesya mencoba membuka pembicaraan kembali kepada Jamal yang sedari tadi masih menatap kearah Abi dan Quin dengan tatapan tak suka.


Jamal menoleh dan tersenyum miring kepada Mama Kesya. "Kesalahpahaman yang seperti apa?"


Bahkan untuk memanggil Mama Kesya dengan sebutan Tante pun, Jamal merasa muak.


"Dengar, Tante dan Om tidak pernah memberikan ancaman kepada Mama kamu saat di penjara. Bahkan Tante tak memperpanjang kasusnya, namun Mama kamu harus tetap menjalani hukuman, karena telah membuat Tante keguguran saat itu. Bukan sekali Jamal, tapi dua kali."


"Cih, bilang saja Tante ingin menjelek-jelekkan mama saya. Lagi pula, itu setimpal dengan apa yang Tante lakukan kepada Mama. Tante juga pernah ingin menggugurkan kandungan Mama bukan? untungnya aku masih hidup sampai sekarang."


"Tidak Jamal, Tante tidak pernah melakukan hal itu. Bahkan, Tante tidak pernah bertemu dengan Mama kamu setelah kejadian itu." Ujar Mama Kesya dengan suara yang lirih.


"Kejadian yang mana? Kejadian saat anda mengajak Papa saya lari di hari pernikahannya? iya? Dan karena itu papa saya meninggal karena mengikuti keinginan bodoh mu itu, dasar wanita murahan."


"JAGA MULUT KAMU, JAMAL." teriak Papa Arka dengan suara yang menggelegar.


Quin sampai terkejut dan meremas lengan Abi dengan tangan nya yang bebas. Tak pernah Quin mendengar dan melihat Papa Arka semarah ini.


Jamal terlihat tak takut dan semakin meremehkan mama Kesya.


"Kenapa? Kau kira aku takut sama kau? cih, Tidak. Aku tak takut pada siapapun. Lagi pula, Aku tau masa lalu kalian. Perempuan murahan ini merayu mu bukan dengan tubuhnya."


"TUTUP MULUT MU, BAJINGAN." ujar Papa Arka sambil berdiri dan menatap nyalang kepada Jamal.


Jamal tertawa mengejek, ia menatap Papa Arka dengan tatapan yang merendahkan.


"Aku tak menyangka, jika seleranya sangat rendahan Tuan Raja Arkana Moza."


Plak ...


Sebuah tamparan mendarat di pipi Jamal.


Semua orang di ruangan tersebut diam saat Arumi menampar Jamal dengan kuat. Bahkan tangan Arumi sampai memerah.


"Sudah ku katakan, Jangan pernah merendahkan Tante Kesya dan Quin. Karena yang salah di sini kamu, bukan mereka."


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Jamal menatap marah kepada Arumi.

__ADS_1


"Tanyakan semua kebenarannya kepada Mama mu. Bagaimana bisa orang yang sudah magi dan di kubur bisa hidup kembali?"


"Kamu sepertinya harus benar-benar aku masukan kedalam rumah sakit jiwa."


"Kamu yang gila Jamal." Teriak Arumi dengan air mata yang mengalir.


Arumi merasa perutnya sakit saat dirinya berteriak, namun ia menahannya. Semua orang menatap heran kepada Arumi, apa yang Arumi ketahui?


"Bukankah aku pernah menyuruhmu untuk membongkar kuburan Mama mu? Apa dia ada di sana atau tidak? Atau saat ini dia sedang tertawa bahagia di suatu tempat? katakan, apa kamu sudah melakukannya."


"Arumi, jangan buat aku marah kepada mu. Sudah aku katakan, aku tak mungkin membongkar kuburan Mama ku."


"Kenapa? karena kamu takut jika beliau Taka da di sana?"


"Arumi." Bentak Jamal.


Arumi mundur lima langkah dari Jamal. Memberinya jarak kepada suami nya itu.


"Dengar, aku harus katakan semuanya kepada Quin. jika kamu hanya ingin membalaskan dendam Mama mu kepada Tante Kesya."


"Aku akan mengatakan semuanya.'


"Apa? katakan, katakan jika aku ingin membunuh mereka. katakan. Dan aku memang akan membunuh salah satu dari mereka. Biar mereka tahu artinya kehilangan. Kehilangan orang yang paling berarti di hidupnya." Ujar Jamal.


"Bukan urusan mu, pecundang."


Abi tersenyum miring. "Pecundang? ha..ha.. Aku atau kamu yang pecundang?"


Jamal menggeram dan menatap Abi dengan marah. Ia sudah ingin maju danemukul Abi, namun suara Abi dan sebuah map yang ada di tangannya membuat Jamal menghentikan langkahnya.


"Jika kau ingin memukul ku, sebaiknya kau baca dulu semua berkas ini."


Jamal mengambil map yang di lempar abi keatas meja. Jamal membuka Map itu dengan kasar, matanya mulai menari di atas tulisan-tulisan yang mana perlahan membuat raut wajah Jamal berubah. Terkadang terlihat marah, terkadang terlihat kesal, terkadang terlihat menyedihkan, bahkan terlihat jika dirinya menyesal. Namun, ego Jamal menghasut fikirannya untuk tidak percaya dengan apa yang di bacanya.


"Cih, aku tau, kau pasti ingin membohongi ku."


"Baiklah, jika kau tak percaya. Aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk mencari ibumu. Jadi, nikmati lah pertemuan kalian kembali."


Abi menyuruh orang untuk membawa Paula kehadapan Jamal.


"Mama." Lirih Jamal.


"Dasar anak bodoh, seharusnya kau bunuh dia secepatnya." Geram Paula kepada Jamal.


Jamal selama kehilangan kekuatan kakinya untuk menopang tubuhnya. Tenggorokan Jamal terasa kering, bahkan ludah Jamal terasa pahit. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa orang yang mati bisa hidup kembali?

__ADS_1


Jamal mengangkat pandangannya, menatap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. Bahkan, wajahnya semakin cantik karena mendapatkan perawatan. Baju yang dikenakannya pun juga baju yang bagus.


"Ma, kenapa mama berbohong kepada ku?" Tanya Jamal dengan lirih. Bahkan saat ini mata Jamal sudah berkaca-kaca.


"Karena aku ingin kau segera membunuhnya." Ujar Paula sambil menatap Quin dan Kesya bergantian dengan tajam.


"Lalu kenapa bukan Mama sendiri yang membuatnya? Kenapa mama harus berbohong kepada aku?" Pekik Jamal dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Dalam fikiran Jamal, Jamal merasa apa yang tertulis di dalam map itu adalah benar. Jika selama ini dirinya hanya sebuah alat untuk di manfaatkan. Jika tebakan Jamal benar, maka dirinya akan masuk penjara setelah Mama kesya terbunuh, ataupun Quin. Mama Paula akan menikmati hidupnya dengan bahagia. Dengan semua harta yang di milikinya atas nama ayahnya, Rian.


"Aku tak akan membunuh mereka." Ujar Jamal menatap kearah Paula.


Paula geram mendengar ucapan Jamal, dan dirinya saat ini sudah terpancing emosi karena pengawal Abi menyeretnya dengan paksa. Sehingga rasa bencinya kepada Mama Kesya semakin bertambah.


"Bunuh mereka Jamal. Bunuh." Teriak Paula.


"Aku tidak mau." Jawab Jamal dengan hati yang sakit.


Paula melihat pistol di saku pengawal Abi. Kemudian ia tertawa dan mencari cara untuk merebut pistol tersebut.


"Haa... ha.. ha.. Dasar anak bodoh. Kau fikir kau siapa? Aku bisa membunuh mereka, tapi aku tak mau mengotori tangan ku. Seharusnya kau berterima kasih karena telah aku lahiran. Bahkan kau bukan darah daging Rian. Kau anak haram, kau tau. Kau itu anak haram. Anak Haram." Teriak Paula sehingga membuat semua orang di sana menatap iba kepada Jamal.


Jamal merasa kakinya semakin lemas, namun ia tak ingin terlihat lemah. Jamal tak menyangka, jika apa yang tertulis di kertas itu juga benar, bawah dirinya bukan anak kandung dari Rian Setiawan. Itu tandanya, dirinya bukan keturunan dari keluarga Setiawan. Jamal merasa dunianya seakan sudah hancur.


Melihat semua orang lengah, Paula mendorong tubuh pengawal yang sedang memeganginya dengan kuat, dan mengambil pistol yang ada di saku pengawal tersebut.


"Kalian harus mati." Teriak Paula, dan ..


Dor ...


Dor ...


"Aaakkkkh ..."


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2