
Mumpung Senin, jangan lupa Vote nya yaaa ...
****
Abi menepati janjinya kepada Quin. Abi pulang lebih cepat dari yang Quin pinta. Quin juga sudah menghubungi Mama Kesya untuk menemani Nafi di apartemen.
"Titip kakak ipar ya, Ma." Ujar Quin kepada sang mama dan mengecup kedua pipi Mama Kesya.
"Iyaa, pasti lah menantu Mama di jagain."
"Aku pergi dulu ya, Kakak ipar."
"Salam buat Mbak Anggel ya."
"Okey ...."
Quin dan Abi pun meninggalkan apartemen Veer.
"Kamu gak mandi dulu?"
"Mandi sama kamu boleh?" Goda Abi.
"Abi, jangan becanda." Ujar Quin dengan wajah memerah.
Abi hanya terkekeh dan mengikuti Quin yang masuk kedalam apartemen mereka. Tak butuh waktu lama untuk Abi membersihkan diri. Selama Abi membersihkan diri, Quin menyiapkan coklat hangat untuk Abi dan menghidangkannya dengan beberapa cemilan yang tadi siang sempat di buatnya bersama Nafi.
"Wangi coklat,"
Quin menoleh saat mendengar suara bariton Abi.
"Aku siapain coklat hangat untuk kamu." Quin menarik kursi untu Abi duduki.
Abi duduk dan Quin berdiri di samping Abi.
"Cobain cake nya. Ini kakak ipar yang buat. Tadi aku mengajari nya membuat cake."
"Benarkah?"
"Hmm,"
Quin menunggu Abi untuk meminum coklat hangatnya, namun Abi malah memandangi coklat tersebut kemudian menoleh kearahnya.
"Kenapa?" tanya Quin bingung.
"Ada yang kurang deh kayaknya."
Quin mengernyitkan keningnya, Quin memandang kearah hidangan yang tersedia. Ah, Quin lupa jika Abi menyukai minuman air putih hangat.
Quin bergegas mengamb gelas dan menuangkan air putih hangat kedalam gelas.
"Ini, Maaf ya aku kelupaan."
Abi masih menatap kearah Quin. Quin kembali mengerutkan keningnya.
"Kenapa lagi? kamu gak suka coklat hangat?"
Seingat Quin, Abi pernah meminta di buatkan coklat hangat saat dirinya juga sedang menikmati minuman favorit nya itu.
"Ada yang kurang." Ujar Abi membuat Quin semakin penasaran.
"Apa?"
"Abi ...." Quin terpekik saat Abi dengan cwpat memundurkan kursinya dan menarik tubuh Quin hingga terduduk di atas pangkuannya. Quin mengerjapkan matanya.
"Sempurna." Ujar Abi sambil tersenyum manis. Tangan Abi juga menahan pinggang Quin untuk tak bergerak.
Abi meraih gagang mug dengan tangan kirinya. Kemudian ia menyesap coklat hangat tersebut.
"A-abi, lepasin aku. Jadi kamu bisa minum dengan tangan kanan."
"Ide bagus, gimana kalo kamu yang pegangi gelasnya dan membantu aku meminum coklat hangat nya."
Quin membelalakkan matanya. Jantung Quin semakin berdegup kencang. Quin berharap jika Abi tak mendengar degupan jantungnya.
"Ayo lah, aku mohon." Pinta Abi dengan nada manja.
Quin meraih mug tersebut dan meminumkannya kepada Abi.
"Sangat sempurna." Ujar Abi sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Quin.
Dapat Abi lihat pipi Quin yang sudah merona. Dan Abi menyukai hal itu.
"A-abi, cepat habiskan. A-aku rindu Anggel." Ujar Quin dengan gugup.
__ADS_1
"Tergantung kamu. Kan kamu yang nyuapi aku minum."
Sebenarnya Quin sangat nyaman dengan posisinya saat ini. Namun Quin masih merasa malu dan gugup. Quin pun kembali menyodori mug tersebut hingga menempel ke bibir Abi. Abi pun meminum dengan perlahan hingga habis.
Quin tersenyum dan meletakkan gelas Mug di atas meja. Namun detik selanjutnya Quin terkejut karena Abi menarik wajahnya dan mencium bibirnya.
Quin yang awalnya membuka mata pun perlahan menutup matanya. Baru saja Quin menutup matanya dan ingin menikmati ciuman Abi yang masih terasa coklat. Tapi Abi sudah melepaskan ciumannya. Quin lagi-lagi kecewa, dan Abi menyadarinnya. Abi sengaja melakukannya. Abi ingin Quin menyadari perasaannya saat Abi menghentikkan ciuman mereka. Tapi Quin terlali keras kepala hingga tetap tak ingin mengatakan perasaannya.
"Kenapa cemberut? kamu kecewa karena aku melepaskan ciuman kita?"
"Hah? si-siapa yang kecewa? aku gak kecewa. Aku hanya kesal karena kamu menciumku, di saat kita sedang terburu-buru."
"Ooo, jadi kamu mau aku melakukannya di saat kita sedang tak terburu-buru gitu? biar bisa melakukannya lebih lama?"
Wajah Quin semakin memerah.
"A-aku tidak mengatakan itu."
Quin berdiri di saat merasa tangan Abi mengendur.
"Ayo cepat, keburu malam." Ujar Quin sambil meninggalkan Abi yang masih tertawa melihatnya.
*
"Quin ... hiks ..."
Anggel langsung menghambur kedalam pelukan Quin.
"Ada apa An? apa yang terjadi?"
Anggel semakin mengeratkan pelukannya. Quin melihat kesekeliking kamar. Hanya ada Anggel sendiri di dalam kamar. Perasaan Quin pun benar, jika telah terjadi sesuatu kepada aunty kecilnya itu.
Quin melirik kearah Abi, seolah berbicara melalui matanya. Abi tersenyum dan mengangguk mengerti. Tanpa kata, Abi keluar dari kamar inap Anggel.
Quin menuntun Anggel ke brankar nya.
"Hei, ada apa? apa ada masalah besar?"
"Hiks ... Mami, Mami ...."
"Tante kenapa?"
"Mami tau hubungan aku dan Lana. Mami gak setuju dengan hubungan aku dan Lana ... hiks ... Yang buat aku makin kesel, Mami nge-hina latar belakang Lana."
"An, ceritakan apa yang terjadi."
Anggel pun menceritakan semuanya. Hingga Mama Puput juga melarang hubungan mereka.
"An, apa kamu akan menyerah?"
"Apa yang bisa aku lakukan Quin? hiks ... Aku adalah di pihak yang terlemah."
"Kamu gak ingin menolak perjodohan ini?"
"Kamu tau, Quin. Kamu yang paling tau. Aku tak bisa mencintai orang lain selain Lana."
Quin mendesah. Seharusnya dari dulu Lana menyadari perasaanya.
*
Sepanjang perjalanan, Quin menatap kosong kearah luar jendela. Abi menyadari jika ada sesuatu yang berat sedang terjadi.
Abi menghentikan mobilnya di pinggir jalan, di dekat penjual tahu Sumedang. Quin menolehkan kepalanya kepada Abi.
"Aku ingin tahu Sumedang."
Quin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Quin turun dari mobil dengan Abi yang membukakan pintu nya.
Abi terlihat menikmati tahu Sumedang yang tersajikan, tapi tidak dengan Quin. Abi sudah menghabiskan dua piring tahu Sumedang, tapi Quin satu piring pun tak habis.
"Abi, aku udah kenyang."
Abi pun membayar makanan mereka dan kembali masuk kedalam mobil. Abi melihat Quin masih dalam mode sedih.
"Aku selalu berada di pihak kamu." Ujar Abi membuat Quin menoleh kearahnya.
Quin langsung memeluk tubuh Abi yang memang mencondong kearah nya.
"Hiks ... semua karena aku ... hiks ... aku yang salah ... hiks ... seharusnya mereka bahagia jika tidak ada aku."
"Hei, apa yang kamu katakan? aku gak mau mendengarnya. Mereka akan tetap bahagia, karena ada nya kamu." Abi mengusap punggung Quin untuk menenangkannya.
"Gak, hiks ... andai saja aku gak ada, Lana akan mencintai Anggel."
__ADS_1
"Heii, sstt ... kamu gak boleh bicara seperti itu Quin. Ini semua udah takdir. Jika kamu tak ada, maka aku juga tak ingin berada di dunia ini."
"Hikks ... Abi ... hiks ..."
"Menangis lah, setelah kamu tenang, baru kamu cerita ke aku."
Sudah 30 menit Quin menangis dalam pelukan Abi. Quin pun merasa dirinya sudah sedikit tenang.
"Abi, Mama dan Oma Mega melarang hubungan Anggel dan Lana. Penyebab nya karena aku. Karena Lana berkali-kali pernah melamar aku."
Quin menceritakan apa yang menjadi benaknya saat ini. Abi mendengarnya tanpa menjeda ucapan Quin.
"Kamu ingin bertemu Lana?"
Quin menganggukkan kepalanya. "Lana gak boleh nyerah dengan cinta nya. Lana harus bisa membahagiakan Anggel yang selama ini mencintai nya dengan tulus."
"Aku mengerti, Ayo ...."
Abi pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen Lana. Dengan setia, Abi menemani Quin menemui Lana. Bagi Abi, kebahagiaan Quin di atas kebahagiaannya.
Quin sedari tadi menekan bel di apartemen Lana, namun tak ada yang membukanya. Quin mencoba memasukkan password, namun ternyata Lana telah mengganti password Aparatemen nya.
Quin menghela napasnya berat.
"Mungkin Lana berada di rumah Tante Puput." tebak Abi.
Quin menoleh, ia tersenyum dan memeluk suami nya itu.
"Kamu memang pintar." Quin menyadari jika dirinya memeluk Abi, hingga akhirnya Quin melepaskan pelukannya dan tersenyum kiku.
"Ki-kita kesana?"
"Kamu tunjuk arah jalannya ya, aku gak tau di mana rumah Tante Puput." Ujar Abi sambil mencuil hidung Quin.
Quin menganggukkan kepalanya. Quin kembali merona di saat Abi meraih jari jemarinya dan menggenggamnya dengan hangat.
*
"Quin? Abi?"
"Ma," Quin mencium punggung tangan Mama Puput, begitupun dengan Abi.
"Ayo masuk."
Mama Puput pun mempersilahkan Quin dan Abi untuk duduk di ruang keluarga.
"Ma, Lana ada?" Tanya Quin.
"Ada, di kamarnya. Bentar ya, Mama panggilin."
Mama Puput pun memanggil Lana di kamarnya.
"Quin, Bi." Tegur Lana sambil mendudukkan tubuhnya di sofa single.
"Keluar yuk ..." ajak Quin.
"Malas."
"Aku masu sampein pesan Anggel." Ujar Quin dengan nada pelan.
Lana menatap Quin dan Abi bergantian. Ia menghela napasnya kemudian mengangguk.
"Tunggu sebentar."
Tanpa Quin bilang pun, Mama Puput tau jika kedatangan Quin pasti berhubungan dengan Anggel. Biarlah, Mama Puput juga ingin tahu seberapa besar cinta Lana kepada Anggel.
Tak ada di dunia ini yang tak ingin melihat anaknya bahagia bersama orang yang di cintainya.
Note:
Hai, di sini aku mau jelasin. Kalo kalian bingung dengan alurnya yang lebih terfokus kepada Zein dan Lana. Dari awal aku udah bilang, kalo di sini juga akan membahas tentang perjalanan cinta Zein dan Lana. Jadi, sebelum masalah Quin dan Abi yang sebenarnya di munculz aku mau kelarin kisah Zein dan Lana. Yang sabar yaaa .....
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1