KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 163 " Duda tekor"


__ADS_3

Puput mendapatkan pesan lagi dari Ando. Sebenarnya Puput sudah malas membalas pesannya, bahkan beberapa kali Puput mengabaikan pesan dan panggilan masuk dari Ando. Tapi kali ini Puput seperti seakan terjebak, Nomor tak di kenal menghubunginya, dan ternyata pemilik nomor tersebut adalah Tante Ana.


" Maaf ya ganggu kamu" Ujar Tante Ana ramah.


" Iya Tante, gak pa-pa"


Saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran, dan tak berapa lama pelayan datang dengan membawakan pesanan makanan yang telah di sebelah oleh Tante Ana sebelumnya.


" Emm, Tante kalo Puput boleh tau, ada apa ya Tante mengajak Puput ketemuan?"


" Kita makan dulu ya, setelah ini baru kita bahas."


Puput terpaksa tersenyum, padahal dalam hati dia merasa gusar dan tidak enak perasaan. Makan siang pun selesai, dan Puput tidak sabar ingin tahu apa tujuan Tante Ana mengajaknya bertemu.


" Jadi begini, Calon istrinya Ando ingin bertemu dengan kamu"


Puput mengernyitkan keningnya, apa dia tidak salah dengar? Untuk apa calon istrinya Ando ingin bertemu dengannya? Ah, mungkin ingin mengucapkan rasa terima kasih karena telah membantu Ando menyiapkan pesta kejutan untuknya.


" Oh ya Tante? Memangnya calon istri Ando sudah berada di Indonesia?"


Tante Ana hanya menjawab pertanyaan puput dengan tersenyum.


" Kamu mau kan, temui calon istrinya Ando? Saat ini dia sedang berada di rumah yang akan mereka tempati" Ujar Tante Ana lembut.


" Tapi Tante, saya tidak bisa sekarang, kerjaan saya sedang menunggu" Tolak Puput, entah kenapa Puput merasakan perasaan yang tidak nyaman kali ini, tidak seperti biasanya.


" Tante mohon, Lusa adalah pernikahan Ando. Jadi Tante mohooon sekali sama kamu, ikut Tante ya"


" Tapi Tante"


" Cuma sebentar kok, Tante janji"


Puput menghela napasnya pelas, kemudian dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tante Ana merasa sangat senang, akhirnya Puput mau bertemu dengan calon istrinya Ando.


Di sisi lain, Duda tengah berbahagia, cintanya di terima oleh Lena. Jodi ikut merasakan kebahagiaannya, bagaimana tidak, Duda saat ini membelikan Jodi sekotak Pizzia, untuk mereka santap berdua. Hah, itu namanya bukan beliin untuk Jodi, tapi makan bareng kalee.


" Wah, lagi ada yang happy nich kayaknya" Ujar Arka yang tiba-tiba saja sudah berada di taman belakang kantornya, di mana Jodi dan Duda memang sering menghabiskan waktu di sana.


" Biasa Bos, Ada yang baru jadian" Ujar Jodi sambil melirik Duda dengan tatapan menggoda.


" Ooh, jadi ceritanya cuma Jodi aja nih yang di traktir, saya enggak?"


" Hah, Bos mau saya traktir? Yakin Bos?" Tanya Duda tak percaya.


" Ck, jadi kedekatan kita hanya sampai di desa kamu aja? Tidak ingin kamu lanjutkan hingga ke sini?" Ujar Arka dengan nada yang terdengar sedikit merajuk.

__ADS_1


Duda dan Jodi sudah ingin menyemburkan tawanya, mendengar suara Bos nya yang merajuk seperti itu, pastinya selain dengan Kesya.


" Bos mau saya traktir di mana?" Tanya Duda memberanikan diri. Padahal dalam hati dia sedang berdoa agar tempat yang di sebutkan oleh Bos nya itu bukan di restoran mewah.


" Bagaimana kalo makan Pizzia nya langsung dari tokonya?" Tawar Arka.


Duda mengurut dada nya, ada rasa lega karena Bosnya tidak meminta ke tempat yang mewah.


" Baik Bos, kita berangkat sekarang?"


" Nanti, saat makan siang. Saya mau ada rapat ini sebentar lagi"


" Trus? Bos kenapa di sini?"


" Emangnya gak boleh? Ini kan Kantor saya"


" Maaf Bos, saya Khilaf"


" Hmm, Ya sudah. Sampai jumpa nanti siang"


" Siap Bos" Ujar Duda dan Arka bersamaan.


Duda tercengang saat melihat pesanan Arka. Tidak, bukannya tercengang karena pesanannya banyak untuk di makan di tempat, melainkan di bungkus untuk di bawa pulang. Pizzia dengan ukuran Jombo, telah siap sebanyak 7 Kotak, kemudian Arka juga memesan beberapa minuman Bersoda.


Duda sudah menelan ludahnya susah payah, ini sih ceritanya dia bakal nyetok mie instan selama seminggu, karena menunggu gajian yang akan muncul seminggu lagi, bahkan dia harus meminjam kepada Jodi seperti nya, Ya tau sendiri kan uang Duda yang gajinya banyak itu ke mana.


Dengan tangan gemetar, Duda mengeluarkan dompetnya dari saku celananya, dan dengan tangan yang masih bergetar, duda mengeluarkan kartu kreditnya. Dia menelan ludahnya saat melihat nominal yang tertera hingga mencapai 3 juta lebih itu. Yang benar saja, apa Bos nya ini sedang memerasnya?


Arka sudah menahan senyumnya saat melihat wajah sendu dari Duda. Tidak tau saja Duda, jika Bos nya itu sedang mengerjai nya. Setelah transaksi pembayaran selesai dan pesanannya telah siap, Arka menyuruh Duda dan Jodi membawa kotak-kotak tersebut. Sudah lah Duda yang bayar, Dia pula yang ngangkut kotaknya. Hadeeww..


" Oh ya, Pacar kamu siapa?" Tanya Arka pura-pura tidak tahu. Padahal Arka tahu jika selama ini Duda sering sekali menggoda salah satu karyawan istrinya itu.


" Eem, Itu Bos.. Eemm"


" Eemmm siapa?"


" Lena Bos"


" Lena? Lena pegawainya Kesya?"


" I-Iya Bos"


" Sempat-sempatnya kamu menggoda karyawan toko Kesya. seharusnya saya pesan lebih banyak lagi tadi"


Duda hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jodi sudah menahan senyumnya.

__ADS_1


Arka menyuruh Duda untuk menuju toko kue milik istrinya tercinta itu. Sebelumnya Arka sudah menyuruh Kesya untuk menutup tokonya, untuk merayakan hari jadian Duda dan Lena. Kesya pun setuju.


" Kok sepi Ya Bos?" Tanya Duda.


Namun tidak ada jawaban dari Arka. Arka melangkahkan kaki nya masuk kedalam toko. Terlihat Kesya yang tengah sibuk dengan lembaran-lembaran kertas di meja cafe, ada Bara dan Sasa di sana.


Arka langsung menghampiri sang istri dan mendaratkan ciuman di kening, kemudian di bibirnya.


" Iih Mas, apaan sih. Malu tau sama Mas Bara" ujar Kesya setengah berbisik yang masih di dengar oleh Sasa dan Bara.


" Kan udah HALAL sayang, jadi boleh dong cium di mana aja" Ujar Arka sambil melirik kearah Bara dengan menekan kata Halal.


Sasa sudah membuang wajahnya kearah lain, karena merasa malu mengingat kejadian saat di rumah Kesya, yang terpergok oleh Arka dan Kesya.


Bara sudah mendengus kesal, lihaat saja, jika si mungilnya itu sudah menerima cintanya, Bisa Bara jamin, jika dia akan segera menikahi mungilnya itu, dan akan membalas Arka. Bara menatap tajam kearah arak, kemudian dia beralih kearah Sasa.


" Mungil, aku mau gitu juga"


" Mas, aku aduin ya ke Mami" Teriak Kesya.


" Aduin aja dek, Biar cepat-cepat di kawinin sama si Dia" Tunjuk Bara ke arah Sasa.


" Iih, Ogah gue" Ujar Sasa dan berdiri dari duduknya.


" Mau kemana? Sini aja mungil"


" Mau pipis, kenapa?"


" Boleh ikut?"


Tlaakk.


Kesya menyentil kepala Bara.


" Makasih Bos ku yang cantik. Lain kali timpuk aja pake kursi"


" Kamu yakin?" Ujar Kesya dengan nada menggoda.


Sasa mengerjapkan matanya cepat, kemudian dia menepis tangan Bara dan berlari kecil kearah dapur.


Kesya dan Arka sudah terkikik melihat tingkah Sasa. Suka, tapi masih malu.


..** Hai readers...


Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...

__ADS_1


Terima kasih. Salam KesAr.


__ADS_2