
Veer, Quin, Zein, Kayla, Lana, dan Fatih pun sudah berada di halaman belakang rumah Papa Arka.
" Empuusss, masih ingat sama aunty.." Kayla mengelus wajah Empus yang penuh bulu.
Empus yang sedang rebahan pun bangkit dan mendorong tubuh Kayla yang sedang jongkok, hingga Kayla terduduk dan hampir tertidur di lantai jika Zein tidak berada di belakangnya.
Empus dengan santainya merebahkan kepanya dipangkuan Kayla..
" Makasih.." Cicit Kayla yang tidak mampu memandang wajah Zein.
" Kak Zein, ayo ke sini.." Quin memanggil Zein yang masih menahan tubuh Kayla.
Tidak ada yang curiga dengan kondisi mereka, karena pada dasarnya mereka sedari kecil memanglah akrab, bahkan kayla, Zein, dan Anggel sedari kecil tidak bisa di pisahkan. Mereka seperti sudah kembar tiga saja.
" Yaa..." Zein menyahut Quin, namun matanya masih melihat kearah Kayla.
" Hati-hati Ila, " Zein meremas sedikit bahu Kayla.
' Kak Zein, bisakah kamu tidak melakukan ini?' batin Kayla..
Veer yang tengah sibuk membalikkan daging dan paprika panggang pun mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara Quin yang berseru Dramatis.
" Huwaaa .... cantik banget kakak ipaar..." Quin langsung menggandeng Nafi yang baru saja tiba.
Veer tidak berkedip sedikit pun melihat Nafi. Hanya menggunakan blus berbahan rajut, dan rok pendek yang menampilkan kaki jenjangnya.
" Haii semua.."
" Haaiii Nafi..."
Quin membawa Nafi untuk berkenalan dengan Zein dan Kayla. Sedangkan Lana dan Fatih, Nafi sudah berkenalan saat acara makan malam keluarga besarnya.
" Zein, Selamat bergabung di keluarga Nafi." ujar Zein mengulurkan tangannya.
" Nafi, Makasih.."
" Aunty cute mana?" Tanya Quin kepada Zein. Zein menunjuk Kayla dengan dagunya.
Nafi langsung memeluk lengan Quin kuat, dan menggelengkan kepalanya.
" Ayoo, tidak apa-apa.."
" Gak Quin, aku takut.."
" ayo laah.. ada aku kok.."
" Quin.." suara Veer mengintruksi Nafi dan Quin.
Veer meraih pinggang Nafi, dan merapatkan tubuhnya. " Nafi tidak mau, jangan di paksa Oke.. " Terdengar akan sirat ancaman di sana.
" Okee..." Quin menoleh ke arah Kayla. "Kayla..." Quin melambai memanggil Kayla.
" Empus, Aunty kesana dulu yaa.." Seakan mengerti, Empus mengangkat kepalanya dan berpindah ke tempat lain.
" Haii..." Kayla tersenyum manis.
" Hai, aku Nafi.."
Bukannya membalas uluran tangan Nafi, Kayla lebih memilih untuk memeluknya. " Selamat datang dan selamat bergabung. Aku Kayla."
Rasa gugup yang Nafi rasakan perlahan memudar. Zein dan Kayla menerimanya dengan hangat. Begitupun dengan yang lainnya.
Veer memberikan potongan daging ke pada Nafi..
" Makasih.."
" Ciee...ciee.ciee..romantis bangeet..... sepertinya sebentar lagi bakal ada keponakan nih.." Ujar Fatih yang mulutnya sebelas dua belas dengan Lana.
" Jaga omongan kamu Fatih ." tegur Veer.
Fatih dan Lana pun tertawa terbahak-bahak.
" Oh ya, kay. Kamu udah baca kontrak yang aku kasih?" Tanya Lana.
" Kontrak?" Beo Veer, Zein, dan Quin.
" Iyaa.. Aku ingin Kayla menjadi guru musik di entertainment ku."
" Waahh... bagus itu Kay, aku dukung." Ujar Quin memberikan semangat.
" Akan aku fikirkan lagi.."
" Secepatnya yaa, atau kamu ragu mengambil keputusan karena takut CLBK Dengan ku?" Lana mengedipkan matanya sebelah.
uhukk...uhukk..uhukk...
Quin memberikan air minum kepada Zein.
__ADS_1
" Tidak, aku hanya belum menemukan waktu yang cocok untuk mengajar di kampus dan tempat les "
" Ahh, sayang sekali. Padahal aku berharap itu terjadi, bahkan aku masih menyimpan surat cinta mu "
" Maaf, sudah mengecewakan mu"
Kayla hanya tersenyum tipis. Sudah mengenal sifat kepedean yang tinggi dari Lana, dan Kayla sebenarnya menyesal pernah mengirim surat cinta kepada Lana. Tapi apa boleh buat, itu terjadi saat mereka duduk di bangku SD. Katakanlah, Lana cinta monyetnya Kayla.
" Dasar Kadal. "
" Quin, kamu cemburu?"
" Apa kau bosan hidup? aku hanya tidak suka kau menggoda Aunty-aunty ku. "
" Aunty?" Beo Nafi..
" Kayla ini adik se Ayah dengan Mama Kesya " bisik Veer.
Nafi membolakan matanya, yang benar saja. Setelah Anggel, yang selaku sepupu dan juga auntynya secara tak langsung, sekarang hadir Kayla yang memang sangat garis keras keturunannya sebagai Tante.
" Santai saja, jangan membuat aku merasa telihat sangat tua, umurku dan Veer sama." Ujar Kayla yang melihat kegugupan dan keterkejutan di wajah Nafi.
" I-iyaa.. Aunty.."
" Eiitss, call me Kayla, oke.."
" I-iyaa.. ka-kayla.."
Malam semakin larut, angin juga berhembus sedikit kencang.
" Sepertinya besok akan hujan.." Gumam Quin.
" Kak Zein, sudah coba hubungi Anggel, kenapa dia lama sekali?"
" Akan aku hubungi.." Zein pun meraih ponselnya, dan menghubungi Anggel.
" An, di mana kamu?"
"........."
" apa? baiklah, kakak kesana.."
"......."
" Gak masalah, Keselamatanmu yang utama."
" Anggel kenapa?" tanya Quin panik.
" Mobilnya mogok. Sudah menghubungi montir, tapi belum datang juga.." Zein berdiri.
" Kamu mau kemana?" Tanya Lana.
" Menjemput Anggel."
" Ini acara penyambutan kamu dan Kayla, biar aku aja.." Lana berdiri dan menyuruh Zein kembali duduk.
" Zein, kirimkan aku posisi Anggel." Ujar Lana sebelum pergi. Zein pun langsung mengambil ponselnya dan mengirim posisi Anggel sekarang.
Nafi mengusap kakinya yang terasa dingin. Dan tanpa di sangka-sangka, Veer membuka jaketnya dan meletakkannya di atas pangkuan Veer.
" Pakailah, jika tidak ingin hipotermia kamu kambuh "
Nafi tercengang, dari mana Veer tau?.
Seolah seperti bisa membaca fikiran Nafi, Veer pun kembali berbisik.
" Aku tau semua tentang diri kamu. Alasan kamu takut bulu, karena kamu tanpa sengaja pernah melindas satu keluarga kucing yang berada di bawah mobil kamu. Iya kan?" Mata Veer masih menatap lurus kemata Nafi,
" Iyaa .."
" Dan aku juga tau, trauma apa yang kamu alami, sehingga selalu menjadi mimpi buruk dalam hidupmu."
Mata mereka bertemu, Nafi terkejut mendengar pernyataan Veer, bagaimana dia bisa tau?. Nafi ingin bertanya, tapi suara kakek mengambil perhatian mereka.
" Apa kakek mengganggu?"
.
.
Lana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di mana Anggel berada. Lana memicingkan matanya saat melihat seorang pria sedang menarik Anggel dan memaksanya.
" Lepaasiinn...kita udah putus Adit, jadi jangan pernah temui aku lagi.. aku gak Sudi berhubungan dengan pria brengsek seperti kamu.. "
" An, Aku gak mau putus sama kamu. Pokoknya kamu harus jadi milik aku.."
" Lepaasiinn..aku gak mau ikut kamu. lepasiin aku bilang.. aaw..." Anggel meringis saat tubuhnya di hempas ke kap mobil bagian depan.
__ADS_1
" Okee, kalo kamu gak mau dengan cara lembut, aku bisa melakukannya dengan cara kasar.."
" Adiihmmppp...Lepssmmpp..." Anggel berusaha melepaskan dirinya dari terkaman pria bernama Adit, Yang tak lain adalah kekasihnya, eem.. mantan kekasihnya, karena sudah dua hari ini Anggel memutuskan hubungan mereka.
" Brengssekkkkk"
Bugg.....
Adit langsung tersungkur saat setelah tubuhnya di tarik paksa. Dengan wajah yang penuh amarah, Lana langsung menghampiri Adit dan memukulnya lagi. Adit kewalahan karena pukulan bertubi-tubi dari Lana.
" Lana.. udah..." Anggel menarik lengan Lana yang masih ingin memukulnya.
Lana berbalik dan melihat wajah Anggel yang sudah berderai air mata.
" Kamu gak papa?" Lana menangkup wajah Anggel.
Anggel menganggukkan kepalanya, " aku gak papa"
Bugg...
tepat saat Anggel mengatakan dirinya tidak apa-apa, saat itulah satu pukulan mendarat di wajah tampan Lana.
" Lanaa.." Pekik Anggel..
" Kau,, dasar pelacur.." Adit sudah mengangkat tangannya untuk menampar Anggel, namun gerakan Lana yang lebih cepat membuat Adit kembali terhuyung.
" Brengsek.. dasar biadap.." Lana kembali memukul Adit lebih brutal dari sebelumnya, hingga mobil polisi datang dan menahan mereka.
Anggel langsung memberikan rekaman video yang ada di mobilnya, saat polisi ingin membawa Lana, dan membuat Lana menjadi tersangka pemukulan.
Polisi mengangguk mengerti, dan melepaskan Lana. serta membawa Adit yang menjadi tersangka pelecehan.
Lana dan Anggel juga ikut kekantor polisi untuk memberikan laporan yang pastinya akan memberatkan Adit.
" Kamu gak papa?" Anggel melihat sudut bibir Lana yang berdarah. Saat ini mereka berada di dalam mobil.
" Aku gak papa, kamu?"
" Hikkss... " Anggel tidak mampu lagi menahan air matanya.
Lana meraih tubuh Anggel, dan memeluknya. Anggel pun menumpahkan tangisnya dalam pelukan Lana.
.
.
" Quin.."
" Gak.. pokoknya aku gak setuju Veer ."
" Ayoo lah, kamu hanya perlu bertemu untuk makan malam saja."
" Veer... kamu tau aku kan? aku gak mau ada perjodohan dalam hidup aku Veer. "
" Demi kakek Quin, ini permintaan kakek."
" Veer, "
" Quin..."
Nafi, Kayla, Fatih, dan Zein hanya mampu melihat perdebatan antar dua saudara kembar itu.
Tadi, saat mereka tengah asik menikmati pesta, kakek datang dan mengatakan jika lusa kakek sudah menjadwalkan makan malam dengan temannya, dan itu bertujuan untuk memperkenalkan Quin dengan cucu temannya. Jelas saja Quin menolak, karena Quin tidak mau kehidupan pernikahannya atas dasar perjodohan. Apalagi menyangkut tentang bisnis.
" Apa kamu punya alasan untuk menolak? Gak Quin, kamu tidak memilki alasan apapun untuk menolak" Veer memandang wajah sang kembaran yang terlihat kesal. " Atau lebih baik kamu terima Lana, dan katakan pada kakek jika kamu bersedia menikah dengan Lana, hanya itu satu-satunya jalan untuk menggagalkan perjodohan ini."
Tidak.. itu tidak mungkin Quin lakukan. walaupun apa yang di katakan Veer benar, bahwa Lana satu-satunya jalan untuk menghentikan perjodohan ini, tapi tetap Quin tidak akan melakukan hal itu. itu sama saja Quin menyakiti perasaan Anggel, dan memanfaatkan perasaan Lana. Quin tidak mau itu terjadi.
" Ngaauuunng.."
Perhatian Quin teralihkan oleh suara Empus. Dan, entah mengapa ide gila muncul di kepala Quin..
" Aku punya kekasih, dan aku akan mengenalkannya kepada kakek. "
Veer, Nafi, Zein, Kayla, dan Fatih terkejut mendengar perkataan Nafi. Apa benar Quin punya kekasih? tapi kenapa mereka tidak mengetahuinya?. Terutama Veer.
Setelah mengatakan itu Quin pun pergi meninggalkan taman, menuju kamarnya.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.
__ADS_1