
Jatuh cinta kepada Quin adalah satu anugra terindah yang Abi dapatkan. Abi sudah berjanji kepada dirinya dan hatinya, bahwa apapun yang terjadi, dan sampai kapan pun, Abi tak akan pernah melepaskan genggaman tangannya dari Quin.
Quin tersenyum di saat Abi melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya. Jantung Quin juga berdegup kencang, ia menoleh kearah Abi yang sudah menutup matanya.
"Tidur lah," Ujar Abi dengan mata tertutup.
Quin mengangguk dan menutup matanya. Quin dan Abi tertidur di bawah matahari yang bersinar dan hembusan angin yang sejuk. Rasa lelah yang beberapa hari ini mereka rasakan seolah perlahan menguap di bawa angin yang menghembus menyapa kulit Abi dan Quin.
Entah berapa lama mereka tertidur, tiba-tiba saja Quin merasa kedinginan dan semakin meringkuk. Abi yang merasakan pergerakan Quin pun semakin memeluk tubuh Quin. Abi sebenarnya juga merasakan jika angin yang berhembus terasa dingin dan menusuk kulit. Namun enggan untuk membuka mata, karena terlalu nyaman dengan posisi nya saat ini.
Terdengar di telinga Abi seperti suara gemuruh, namun Abi tak menghiraukannya, hingga Abi merasakan tetesan air jatuh membasahi pipinya.
Abi terkesiap dan membuka matanya, benar saja, hari yang terang sudah menjadi gelap karena hujan yang sangat lenat terlihat menuju ke arah mereka. Abi langsung membangunkan Quin.
"Quin, bangun. Mau hujan. Kita pindah ke dalam yuk.." Ajak Abi.
Karena Quin masih enggan membuka matanya, Abi pun berinisiatif menggendong Quin, hingga Quin terkejut dan membuka matanya.
"Abi, kenapa? Aa ..." Quin terkejut saat hujan yang lebat langsung membasahi tubuh mereka. Abi pun berlari sambil menggendong Quin.
Sesampainya di bawa kebun anggur, Quin meminta Abi untuk menurunkannya.
"Abi, turunin aku."
"Gak papa, aku kuat kok gendong kamu sampai ke dalam."
"Abi ..." Pekik Quin.
Abi menghentikan langkahnya, kemudian ia memandang wajah Quin yang mohon untuk minta diturunkan. Abi pun akhirnya mengalah dan menurunkan Quin.
Abi terkejut saat Quin menariknya kembali kebawa deras nya hujan. Abi menahan tubuhnya agar tak tertarik oleh Quin. Quin pun melepaskan tangannya dan berlari ke bawah derasnya hujan.
"Abii ... sini ..." Panggil Quin sambil berteriak
Abi menggeleng, Abi memperhatikan Quin yang merentangkan tangannya dan sengaja membiarkan hujan membasahi nya. Quin pun berloncat-loncat dan memutar tubuhnya. Kemudian Quin menari seolah dengan gerakan kakinya yang seolah tengah berdansa.
Quin pun menoleh kearah Abi yang masih setia memandangi nya dengan tersenyum. Quin menghampiri Abi dan menarik tangannya lagi.
"Ayoo ..." Paksa Quin.
Abi pun akhirnya mengalah dan ikut main hujan-hujanan bersama Quin. Ada sesuatu yang menggelitik di hati Abi. Sebelumnya Abi tak pernah bermain hujan seperti ini.
Setiap sisi tangan Quin memegang sisi tangan Abi. Perlahan Quin bergoyang ke kiri dan kekanan, dan terdengar suara merdunya bernyanyi.
Spent 24 hours, I need more hours with you
You spent the weekend getting even, ooh
We spent the late nights making things right between us
But now it's all good, babe
Roll that back wood, babe
And play me close
'Cause girls like you run 'round with guys like me
__ADS_1
'Til sun down when I come through
I need a girl like you, yeah yeah
Girls like you love fun and, yeah, me too
What I want when I come through
I need a girl like you, yeah yeah
Yeah yeah yeah, yeah yeah yeah
( Abi tertawa saat melihat Quin mencoba menggodanya. Quin memutar tubuhnya, sehingga membuat Abi memeluknya dari belakang. Quin masih bernyanyi sambil menggerakkan tubuh kekiri dan kenanan, sehingga Abi perlahan mengikuti gerakan Quin.)
I need a girl like you, yeah yeah
Yeah yeah yeah, yeah yeah yeah
I need a girl like you
I spent last night on the last flight to you
Took a whole day up trying to get way up, ooh
We spent the daylight trying to make things right between us
( Quin membalikan tubuhnya, melingkarkan tangannya di leher Abi, dan Abi pun meletakkan tangannya di pinggang Quin. Masih dengan bergerak ke kiri dan ke kanan, dengan Abi yang juga ikut bernyanyi bersama Quin.)
But now it's all good, babe
Roll that back wood, babe
'Cause girls like you run 'round with guys like me
'Til sun down when I come through
I need a girl like you, yeah yeah
Girls like you love fun and, yeah, me too
What I want when I come through
I need a girl like you, yeah yeah
Yeah yeah yeah, yeah yeah yeah
I need a girl like you, yeah yeah
Yeah yeah yeah, yeah yeah yeah
I need a girl like you, yeah yeah
I need a girl like you, yeah yeah
I need a girl like you
Abi meraih tangan Quin, dan membuat tubuh Quin berputar di bawah lengannya. Quin merentangkan tangannya satu lagi, kemudian ia kembali berputar dan berakhir menubruk tubuh tegap Abi.
__ADS_1
Quin tertawa, begitupun dengan Abi. Lalu kemudian tawa mereka pudar seacra bersamaan, dengan mata yang masih saling memandang. Perlahan, Abi mendekatkan wajahnya, dengan jantung yang berdebar kencang, bibir Abi pun menempel sempurna di bibir Quin.
Quin mempererat pegangan tangannya di leher Abi, saat Abi menarik pinggang Quin untuk semakin menghilangkan jarak antara mereka. Abi mengis**p dan ******** atas dan bawah bibir Quin, begitu pun dengan Quin yang juga membalas ciuman Abi. Tanpa peduli dan merasa jijik karena air hujan yang masuk kedalam mulut dan berpindah ke mulut yang lainnya.
Abi melepaskan ciumannya di saat merasa Quin mulai kehabisan napas. Deru napas mereka saling memburu, membuat dada Quin yang tercetak karena baju nyanyang basah, terlihat naik turun, begitu pun dengan Abi.
Abi menyatukan kening mereka, menatap wajah Quin yang sudah bersemu merah.
"I love you, Quin. I love you." Bisiknya dindwoan wajah Quin.
Quin merasa dada nya saat ini sudah di penuhi oleh bunga-bunga. Ia tak tahu harus berkata apa, sedangkan Abi terlihat menunggu balasan dari Quin.
"A ... A-aku mandi dulu,"
Quin melepaskan dirinya dari Abi dan berlari memasuki apartemen, meninggalkan Abi yang tersenyum dan tertawa melihat wajah Quin yang malu-malu. Abi tau, walaupun Quin tak mengatakannya, tapi Abi tau, jika Quin mulai mencintai nya.
"Quuinn ... Aku mencintai mu ..." Teriak Abi dan merentangkan kedua tangannya membiarkan hujan semakin membasahi tubuhnya.
Quin memegang dada nya yang mana terdapat jantungnya yang sedang berdetak sangat cepat. Perlahan tangan Quin naik hingga menyentuh bibir nya. Ia tersenyum dan memejamkan matanya, membayangkan ciumannya dengan Abi. Ciuman yang sangat romantis, ciuman yang selama ini ingin Quin rasakan, dan akhirnya kesampaian. Lamunan Quin pun buyar karena tiba-tiba suara Abi membuatnya terkejut.
"Kenapa belum mandi? atau kamu tunggu aku untuk mandi bareng?" Tanya Abi sambil tersenyum dan melangkah mendekati Abi.
"Berdiri di situ, jangan mendekat." Quin memberi peringatan dengan wajah yang bersemu merah.
"A-aku gak tau di mana kamar kamu." Lirihnya.
Abi terkekeh, "Di atas, dan kamu akan langsung menemukan kamar Aku."
Quin menoleh arah tangga, kemudian ia berlari kecil menjauhi Abi. Abi terkekeh melihat tingkah Quin yang sangat menggemaskan.
Hah, andai saja Quin sudah siap. Fikirnya.
Quin membersihkan dirinya, kemudian ia teringat jika dirinya tak membawa pakaian ganti. Eem, itu bukan masalah sebenarnya, karena Quin bisa memakai pakaian Abi. Tapi? bagaimana dengan pakaian dalamnya? Quin melupakan hal terpenting itu. Ini karena dirinya sangat senang jika hujan sudah turun, dan sudah lama sekali Quin gak mandi hujan seperti ini. Seingat Quin, terakhri kali ia mandi hujan sebelum Veer menikah.
Quin pun mencuci pakaian dalamnya dengan menggunakan shampo, kemudian ia menjemur nya di besi tempat biasa handuk di jemur.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Quin pun memakai kimono handuknya dan membelit rambunya dengan handuk, Quin pun berjalan keluar dari kamar mandi.
"Sudah?" Tanya Abi yang melihat Quin keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono dan handuk di kepalanya. Membuat fikiran kotornya menguasai kepalanya saat ini. Abi menelan ludahnya dengan kasar.
"Hmm, kamu jangan lupa keramas. Habis mandi hujan, kata Oma, kalo habis hujan-hujanan, harus keramas, biar gak sakit kepala nantinya."
"Tentu Quin, tentu aku keramas, karena jaguar ku sudah ingin memuntahkan laharnya." Batin Abi.
Abi pun berjalan ke kamar mandi dengan cepat, ia takut jika tak bisa menahan hasratnya, dan menerjang Quin saat ini juga. Sedang kan Quin belum siap untuk memberikan haknya.
Abi mengatur napasnya saat sudah berada di dalam kamar mandi, namun matanya menangkap kacamata dada Quin dan juga penutup segitiga Bermuda nya terjemur di sana. Abi menghela napasnya kasar dan mulai menurunkan celana nya sekaligus.
Abi harus melemaskan Jaguarnya yang sudah meronta-ronta.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF