
Quin sudah membersihkan wajahnya dengan pembersih wajah yang jangan di tanya berapa harganya itu. Yang jelas duit Author gak akan cukup membelinya.
“Kamu udah mau tidur?” tanya Abi yang mana melihat Quin sudah siap untuk tidur, padahal masih pukul 10 malam.
“Iya, cuaca dingin gini bingin aku ngantuk dan lapar. Dari pada aku makan tengah malam lebih baik aku tidur.”
“Kenapa emangnya kalo kamu makan tengah malam?”
“Emm, aku takut gemuk. Ntar kamu gak suka lagi sama aku.”
“Mau kamu gemuk, kurus, dan gak cantik lagi sekali pun, aku tetap akan cinta sama kamu.”
“Gombal terus, ntar kalo udah gemuk dan gak cantik lagi, kamu cari yang lain?”
“Ak berani bersumpah, jika aku mencari yang lain, maka aku jamin hidup aku gak akan bahagia.”
“Ssst ....” Quin menutup bibir Abi dengan jari telunjukknya.
“Aku gak mau kamu bersumpah seperti itu.”
“Aku hanya ingin kamu percaya bahwa aku benar-benar mencintai kamu.”
“Aku percaya.” Quin tersenyum. ‘Aku akan percaya sama kamu sampai aku bertemu dengan wanita itu, sampai aku melihat jika benar antar kamu dan Anita sudah selesai. Dan Aku akan memberikan mahkota ku kepada mu.’ Batin Quin sambil menatap dalam ke mata Abi.
“Katanya kamu ngantuk? Sini aku peluk.”
Quin pun beringsut untuk masuk kedalam pelukan Abi. Abi menepuk-nepuk pelan lengan Quin, hingga wanitanya itu masuk kealam tidur dan terlelap dengan nyenyak.
Abi memastikan jika Quin sudah terlelap dalam tidurnya, perlahan Abi turun dari tempat tidur dan meninggalkan Quin sendirian di dalam kamar.
Abi harus pergi dan menemui seseorang untuk membicarakan hal penting. Abi harus menemui orang tersebut.
*
“Mbak, masih kesal aja wajahnya.” Ujar Desi yang ikut masuk kedalam selimut dan memainkan posnelnya.
“Kesal banget tau gak sih, tu Batalapea ngapain juga ikut nyusul ke sini.”
“Tuan Martin kan ada pertemuan di sini Mbak, makanya dia kesini, dan juga sekalian jumpain Mbak.”
“Ih, males banget tau jumpa sama tu orang. Bikin bete tau gak”
Desi hanya menggelengkan kepalanya. Ia menaruh ponselnya keatas meja nakas dan merebahkan tubuhnya yang tadi dalam kondisi duduk menjadi berbaring.
“Tidur Mbak, besok harus menggunakan tenaga ekstra untuk kesal.”
“Ya, kamu benar. Aku harus tidur dengan nyenyak agar besok aku memiliki tenaga untuk menghadapi Betalapea itu.”
Desi tersenyum, ingin ia beritahukan kepada Anggel sebuah rahasia yang akan membuatnya klepek-klepek, namun rahasia tetaplah rahasia. Kalo kata Jarjit, rahasia yang sudah di beri tahu bukan lagi menjadi sebuah rahasia. Jadi biarkanlah semuanya menjadi rahasia. Hi ... hi .. hi ...
Anggel pun menyusul Desi yang sudah memeluk guling dan memejamkan matanya. Namun, detik selanjutnya ia kembali membuka matanya.
__ADS_1
“Des, kenapa nasib gue apes banget ya? Apa mungkin aku kurang sedekah kali ya?”
Desi tersenyum mendengar ucapan Anggel. “Mbak lagi di uji aja kok. Yang penting Mbak harus percaya kalo Mbak adalah jodohnya Kak Lana.”
“Gimana aku mau percaya? Kalo Lana nya aja gak perjuangin aku. Bahkan dia memblokir semua akses komunikasi dengan ku. Hah ... nasib ... Nasib, mengapa begini ... Baru pertama bercinta, sudah menderitaaaaa ..aaaa.....”
Desi terkikik di saat mendengar Anggel berdendang lagu dangdut.
“Sejak kapan Mbak bisa nyanyi dangdut?”
“Sejak patah hati. Banyak banget lagu dangdut yang cocok dengan kondisi aku.”
“Contohnya?”
“Mau makan, teringat pada mu ... mau tidur, teringat pada mu ... Lagi boker pun teringat pada mu ... Oh Lana brengs*eeekkkkkk ....”
Pecah tawa Desi mendengar lagu yang fenomenal namun ujungya di karang sendiri liriknya oleh Anggel.
“Brengs*k tapi cinta ya Mbak.”
“Tu dia, huuff ... Sayangnya bukan dia yang jadi suami aku. Kalo Lana yang jadi suami aku, bakal aku hukum dia. Aku kurung dia di kamar selama sebulan penuh.”
“Mau ngapain Mbak?”
“Mau aku siksa.”
“Yakin mau siksa? Ntar Mbak lagi yang tersiksa.”
“Emang kalo ngelakuin itu pertama kali sakit banget ya?” tanya Anggel penasaran.
“Lah Mbak, mana aku tau. Aku juga belum ngerasain. Coba tanya Mbak Quin deh, mungkin dia udah pernah ngerasain, secara tau sendiri gimana Mas Abi memperlakukan Mbak Quin semnejak di sini. Gak liat sekitar tau gak buat cium-cium.”
“Kamu gak pingin?”
“Pingin apa?”
“Pingin cium Jo lah.”
“Ya gak lah mbak, Aku lagi kerja mana mau aku pacaran. Kalo udah gak kerja, mungkin kami akan melakukannya.” Ujar Desi dengan malu-malu.
“Mbak sendiri gimana? Pernah ciuman gak sama Kak Lana?”
“Hah, kamu nanyanya kebangetan deh. Ya pernh lah, pingin lagi malahan, tapi mau gimana? Yang jadi suami aku bukan Lana.” Ujar Anggel dengan sendu.
Desi hanya tersenyum dan mengelus lengan Anggel dengan lembut. “Yang sabar ya Mbak.”
“Hmm, apa lain mau di bilang coba selain sabar.”
“Tidur Mbak yuk, biar bisa melupakan beban hari ini.”
“Yuk lah.”
__ADS_1
Desi dan Anggel pun kembali menutup matanya dan berangakt ke alam mimpi.
*
Abi menatap pintu kamar yang ada di hadapannya. Setelah menghela napasnya pelan, Abi pun menekan bel untuk memanggil atau membangunkan seseorang yang berada di dalam sana.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu tersebut pun akhirnya terbuka, Abi langsung saja masuk kedalamnya di saat si pemilik kamar membuka pintunya dengan lebar saat melihat kedatangan Abi yang di depan kamarnya.
“Aku tau kalo kamu sudah mengetahui jika Anita berada di sini dan bekerja sama dengan Mr. Kim.”
Jo tersenyum miring sebagai tanda dari jawabannya.
Ya, orang yang di jumpai Abi adalah Jo. Jo adalah orang yang tepat untuk melindungi Quin dari wanita yang dulunya sangat manis namun berubah menjadi ular berbisa demi mewujudkan ambisinya.
Abi yang mendapatkan kabar tentang perubahan Anita pun merasa kasihan. Sempat terfikir oleh Abi jika dari dulu ia mengatakan statusnya yang sebenarnya kepada Anita. Mungkin Anita akan tetap bersamanya dan tetap menjadi gadis manisnya yang penurut. Namun semua nya sudah menjadi takdir bagi dirinya dan Anita. Mereka memang tak di takdirkan untuk bersama. Bahkan saat ini Abi merasa jika dirinya sangat beruntung karena telah bertemu dengan Quin. Hidup Abi lebih terasa berwana dan ceria. Banyak hal baru yang Abi dapatkan dari Quin, yaitu hidup dengan
kesederhanaan dan saling berbagi.
“Aku mau kamu terus awasi Anita, jangan sampai ia melukai Quin sedikit pun.”
“Lalu, bagaimana dengan perasaan kamu ke Anita? Apa kamu diam-diam akan melakukan hubungan gelap?”
Abi tersenyum miring. “Aku gak akan menjalinkan hubungan apapun dengan Anita. Semuanya sudah berakhir, termasuk perasaan aku kepadanya. Semuanya sudah brakhir semenjak aku mulai mencintai Quin.”
“Benarkah?”
Jo berdiri dan mengambil sebuah amplop di atas nakas tempat tidurnya.
“Bagaimana dengan ini? Apa ini yang di sebut sudah mengakhiri semuanya dan tak akan menjalin hubungan apapun?”
Abi mengambil amplop coklat yang di berikan oleh Jo. Ia membuka amplop itu dengan penasaran. Saat melihat isi dari amplop tersebut, Abi membolakan matanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“Jo, ini tak seperti yang kamu firkikan.” Elak Abi.
Note : Jangan lupa mampir ke novel baru ku.
TWINS A and MISS CERISIS.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1