KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 151 " Hujan-hujanan"


__ADS_3

Setelah mendengar cerita tentang Kesya dan Arka. Ami dan Lehah terkagum-kagum dengan dua sosok Yangs ednag berada didepannya. Cinta datang tanpa di duga-duga.


Saat ini mereka sedang menikmati bekal yang di bawa oleh Buk Siti, Kesya, dan Lehah. Walaupun sederhana, tetapi terasa nikmat karena makannya di pinggir sawah, dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi.


" Yank, sulangi ya, Tangan Mas bau lumpur"


Pak Rojak dan Bum Siti tersenyum melihat Arka yang sangat manja dengan Kesya. Bagaimana tidak, usaha Arka untuk meluluhkan hati Kesya tidaklah mudah. Bisa di katakan Arka ini termasuk pria bucin akut.


" Iya Mas Iyaa, " Kesya mengambil nasi dan lauk, kemudian menyuapi Arka dengan tangannya.


Makan langsung dari tangan sangatlah enak, apalagi pakai sambal terasi, ikan asin, dan ikan goreng. Di tambah suasananya yang wuiihh, adem seger khas bau sawah. Nikmat yang luar biasa.


" Mas, tadi Mami telpon"


" Oh ya, trus?"


" Katanya Mas cocok jadi CEO petani"


Arka terkekeh mendengar mendengarnya. "Mami itu ada-ada aja"


" Sepertinya mau hujan" Ujar Pak Rojak.


Arka menatap Duda dan Jodi, tersenyum misterius dari bibir Arka. Duda dan Jodi juga sudah tersenyum penuh arti menanggapi senyuman Arka.


" Kenapa? Kok senyum-senyum?" Tanya Kesya


" Ada deh" Ujar Arka sambil mencuil hidung Kesya.


Tak berapa lama, rintik-rintik hujan pun mulai turun, semakin lama rintik hujan itu semakin lebat. Duda sudah menghubungi temannya untuk menjemput istri Bos besar. Dengan berbekal topi, Kesya di payungi oleh Arka untuk naik ke mobil pick up milik teman Duda.


"Mas mau ngapain?" Tanya Kesya saat melihat Arka tidak naik.


Arka mengecup bibir Kesya sekilas, sehingga semua orang memalingkan wajahnya. Entah lah, wajah Kesya sudah memerah karena malu.


" Mas mau mandi hujan, kamu tunggu Mas di rumah ya" Sekali lagi Arka mendaratkan ciuman di kening.


Wajah Kesya sudah persis seperti kepiting rebus, belum lagi mendapatkan tatapan menggoda dari Lehah dan Ami.


Mobil yang di tumpangi Kesya pun sudah melaju. Arka, Duda, dan Jodi pun menikmati mandi hujan bersama. Mereka berlari dan menikmati setiap tetesan yang jatuh membasahi tubuhnya. Arka teringat, dulu waktu kecil dia pernah di marahi karena mandi hujan. Namun karena kebandelannya, Arka selalu mencuri-curi waktu. Bahkan dia dan Fadil sering meminjam motor temannya demi merasakan hujan yang jatuh. Tapi ini sungguh berbeda, Mandi hujan berkeliling kampung tanpa menggunakan alas sendal. Dan apa kalian tau, Duda mengajarkan Arka untuk mengatakan 'Kuluk-kuluk hujan deras', yang mana berharap agar hujan semakin deras, dan mereka semakin menikmati bermain hujan.


Sepanjang jalan mereka berteriak dan bercanda bersama. Warga yang lewat dan melihat tingkah ketiga pria dewasa itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sesampainya di rumah, Kesya sudah berkacak pinggang karena melihat ketiga pria dewasa itu bertingkah seperti anak-anak. Ketiga nya langsung terdiam saat melihat kilatan api di mata Kesya. Mereka kompak berjalan seperi anak yang takut dinmarahi ibu nya.


" Bos, Nona Kesya mirip dengan Ibuk yang mau marahi anak nya" Bisik Duda.


Mereka berjalan pelan dan menunduk setelah berada di depan Kesya.


" Sayang, jangan marah yaa" Lirik Arka sambil mencuri-curi pandang ke arah Kesya.


Duda dan Jodi sudah saling lirik karena tidak menyangka jika Bos nya yang terkenal dingin dan tidak takut dengan siapapun bisa tunduk dengan istrinya.


" Kamu ini Mas, udah tua juga, masih juga main-main hujan" Kesal Kesya. " Kalo kamu sakit dan masuk angin gimana? "


Arka hanya bisa meringis mendengar gerutuan sang istri tercinta.


" Udah, mandi bersih dulu sana, jangan lupa keramas, trus ganti baju" Kesal Kesya dan masuk kedalam rumah.


Tak berapa lama Kesya keluar dengan membawa 3 handuk dan melemparkannya kepada Arka, Duda, dan Jodi. Kemudian kesya kembali masuk kedalam dengan wajah yang kesal.


Arka,Duda, dan Jodi saling melirik, kemudian mereka tertawa.


" Jangan tertawa, cepat mandi" Teriak Kesya dari dalam.


Sontak mereka langsung terdiam dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Untungnya di rumah Duda ini kamar mandinya ada 2, Yang satu ada di dalam rumah, dan yang satu lagi kamar mandi terbuka. Duda dan Jodi menuju ke kamar mandi di belakang yang terdapat di luar rumah bagian dapur.


" Kalian mandi bersama?" Tanya Arka.


" Iya Bos"

__ADS_1


" Saya ikut"


Duda dan Jodi saling berpandangan, kemudian dengan kikuk mereka ikut masuk kedalam kamar mandi menyusul Bos nya.


" Gimana cara nya ambil air di dalam sumur ini?" Tanya arka kebingungan.


Duda mencari keberadaan sumur, tapi tidak ada.


" Gimana mandinya kalo gak ada air?" Tanya Arka sambil lacak pinggang.


Jodi dan Duda saling pandang, kemudian mereka tertawa.


" Ha..ha.. ha.., susah memang kalo Horang khayah" Duda berjalan menuju pompa besi manual.


Duda mulai menaik turunkan gagangnya, tak berapa lama keluar lah air.


" Wahh, ajaib sekali ini" Takjub Arka.


Duda dan Jodi sudah tertawa terbahak-bahak.


" Bos, duduk di situ, biar saya pompa"


Arka pun mengikuti perintah Duda. Arka sungguh bahagia saat air keluar dari lobang besar yang mirip keran air itu. " Apa begini rasanya mandi air terjun?" Ujar Arka.


" Begitu lah Bos."


" Di sini tidak ada air terjun?"


" Ada Bos, tapi jauh, harus lewati hutan sekitar 2 jam jalan kaki."


" Wah, jauh juga ya. Tapi ini sudah mirip air terjun"


" Duda, saya mau coba pompa." Arka pun mengambil alih gagang tersebut dan memulai menaik turunkannya.


" Seperti olah raga, seru banget ini.. Ha..ha..ha.."


" Sudah hampir sejam, tapi belum selesai. Bisa masuk angin mereka lama-lama. Lehah, coba kamu panggil Abang kamu, sudahi mandinya'


" Baik buk"


Kesya sudah kesal karena ternyata Arka masih betah bermain air. Tak berapa lama Lehah kembali dengan menggelengkan kepalanya.


" Katanya sebentar lagi Buk"


" Aduh, anak-anak itu. Sudah tua kok susah di bilangin. Masuk angin baru tau rasa"


"Biar Kesya aja yang panggil Buk"


" Jangan lupa pakai payung ya nak, masih gerimis. Gak baik ibu hamil kena hujan"


" Iya buk"


Kesya mengambil payung, dan berjalan kearah kamar mandi.


" Mas, udahan mandinya" Panggil Kesya sambil menggedor pintu.


" Sebentar lagi sayang" Teriak Arka dari luar.


Kesya mulai geram.


BRUUKKM BRUUKK BRUKK


" Selasaikan mandinya dalam hitungan ke sepuluh, atau Aku dobrak pintu ini" Teriak kesya kesal.


Kebetulan pintunya terbuat dari seng dan kayu, jadi tidak susah untuk Kesya mendobraknya. Terdengar suara krusuk-krusuk dari kamar mandi. Kesya pun mulai menghitung.


" Satu.."


" Iya sayang, sebentar"

__ADS_1


" Dua... Tiga... Empat.. Lima.."


" Iya sayang.. Ini udah mau siap" Teriak Arka..


" Enam... Tujuh... Delapan... Sembila__"


Kreekkk...


Dengan wajah Cengir Arka menunjukkan wajahnya.


Kesya menatap tajam kearah Arka, kemudian kearah Duda dan Jodi. Baru kali ini mereka melihat betapa mengerikannya tatapan Kesya.


" Masuk" Bentak Kesya.


Seperti anak kecil, mereka pun menurut dan berbaris masuk kedalam rumah. Lehah dan Ibuk sudah tersenyum menahan tawa, ternyata walaupun cantik, tapi kalo sudah marah bisa sangat mengerikan.


Kesya menyusul Arka kedalam kamar. Kesya menatap Arka dengan melipat kedua tangannya.


" Sayang, jangan marah lagi ya.. Nanti dedek twinnya ikut jadi pemarah." Ujar Arka mendekat ke arah Kesya dan ingin memeluk Kesya, namun Kesya menepis tangan Arka.


" Salah siapa Mas? Kamu itu ngeselin ya"


Mata Kesya dudha berkaca-kaca, Arka langsung saja meraih tubuh Kesya dan memeluknya.


" Iyaa, iyaa, maaf yaa, jangan marah yaa sayang. Maafin Mas ya" Ujar Arka sambil mengelus punggung Kesya untuk menenangkannya, dan mengecup pucuk kepala Kesya berkali-kali.


" Aku takut kamu sakit Mas. Karena kamu kan tidak pernah main hujan-hujanan hiks.." Uajr Kesya sambil menangis.


" Iya sayang, makasih ya udah khawatirin Mas. Maafin Mas ya"


Kesya menganggukkan kepalanya, Arka pun mengurai pelukannya.


" Kita keluar yaa" Ujar Arka sambil menghapus air mata Kesya.


Kesya menganggukkan kepalanya.


Duda dan Jodi sudah duduk manis dan menundukkan kepalanya saat melihat Kesya keluar dari kamar bersama Arka. Kesya hanya melirik kearah dua orang tersebut, kemudian berlalu meninggalkan mereka.


Jodi dan Duda sudah menahan napas mereka sedari tadi, setelah Buk Bos pergi, mereka pun menghela napas lega dan mengelus dada.


" Kenapa?" Tanya Arka.


" Buk Bos kalo marah mengerikan" Bisik Duda dan terkikik bersama Arka dan Jodi.


" Aku masih dengar" Teriak Kesya dari dapur.


Langsung saja Arka, Duda, dan Jodi terdiam. Tak berapa lama Kesya datang dengan membawa 3 gelas yang berisi air jahe panas.


" Habisin" Ujar Kesya.


Arka, Duda, dan Jodi langsung saja mengambil satu gelas dan mulai meminumnya.


" Ah panas" Ujar mereka bertiga sambil menggosok lidah dan bibirnya yang terbakar.


Kesya sudah menyeringai licik. Arka, duda, dan Jodi langsung menelan ludahnya kasar.


" Minum" Ujar Kesya dingin.


Dengan menelan ludahnya kasar, Arka dan Jodi meniup-niup air yang berada di gelas. Namun Duda malah menuangkan Air tersebut ke piring alas gelas. Duda meniupnya dan meminumnya perlahan. Lalu tersenyum manis kearah Kesya.


Arka dan Jodi mengikuti apa yang dilakukan Duda, dan kemudian tersenyum manis kearah Kesya. Kesya sangat kesal, dan kemudian meninggalkan 3 pria kekanak-kanakan yang sudah membuatnya kesal.


Arka, Duda, dan Jodi saling pandang. Kemudian Arka dan Jodi memberikan jempol kepada Duda. Duda pun tersenyum bangga dengan memainkan kerah bajunya. Ha..ha..ha..


** Hai readers...


Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...


Terima kasih. Salam KesAr.

__ADS_1


__ADS_2