KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 49


__ADS_3

"Gimana? Nemu cincin yang cocok kan?" Tanya Oma Laura saat Quin dan Abi baru saja sampai rumah.


" Iya Oma, Nemu kok."


" Alhamdulillah, Oma gak sabar lihat kamu segera menikah."


Quin hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Oma Laura.


" Abi, makan malam di sini ya." Pinta Mama Kesya.


" Eng, Sa___"


" Iya, makan malam di sini aja, Quin masak. Ya kan Quin?"


Quin seakan tersedak oleh ludah nya sendiri. Apa saat ini dia sedang di jebak? ha..ha..ha.. sepertinya iya, Lihat saja wajah Mami Kesya dan Oma Laura, mereka mengulum senyum nya.


Ok fix, sepertinya Quin memang harus masak. Kakek sudah berikan tatapan lasernya.


" Om Abi, tunggu ya. Aku mau masak dulu." Ujar Quin dengan manis, namun tak dengan sorotan matanya.


Abi kelagapan saat Quin memanggilnya dengan sebutan Om. Namun berbeda dengan Mama Kesya dan Oma Laura, yang mana tersedak oleh ludah mereka sendiri.


" Mi, kok kayak aku sama Mas Arka dulu yaa?" Bisik Mama Kesya.


" Buah jatuh gak jauh dari pohonnya. Tapi ya emang Quin dan Abi jarak umur nya jauh. Sama seperti kamu dan Arka."


Kemudian, dua wanita beda generasi itu pun tertawa pelan sambil melirik kearah Abi penuh arti.


Kakek mengajak Abi mengobrol, sedangkan Mama Kesya dan Oma Laura berada di dapur, bersama Quin.


" Mama senang, kamu semakin akrab dengan Abi."


Quin menoleh, kemudian dia bergumam. "Terpaksa."


Mama Kesya mengerutkan keningnya.


" Kamu gak tertarik sama Abi?"


Quin menggeleng.


" Kenapa?"


" Karena Quin takut jatuh cinta." Jawab Quin dalam hati.


Quin menggigit bibirnya, tak ingin mengatakan apa Yang ada di dalam hati nya. Syukurlah Mama Kesya tak lagi bertanya, Karen Quin yakin jika sang Mama sangat mengerti apa yang di rasakannya.


" Suatu hari nanti, saat kamu jatuh cinta, kamu akan merasakan dunia kamu berubah, dan kamu hanya memikirkan dirinya saja."


" Ma, apa Papa pernah menyukai wanita lain selain Mama?" Lirih Quin.


Mama Kesya menggeleng. " Kata Papa, Oma dan Papi Vano, Kalo Mama adalah cinta pertamanya Papa."


Quin tersenyum, Quin tau betapa cintanya Papa Arka kepada Mama Kesya, begitu pun sebaliknya. Tak pernah sekalipun Quin mendengar orang tua nya bertengkar hebat, Quin ingin merasakan cinta seperti Papa Arka, tapi, Quin harus membuang keinginan itu, pria yang akan menikah dengannya masih mencintai orang lain.

__ADS_1


Acara memasak pun selesai, Quin naik ke kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Mama Kesya sudah menyuruh Abi dan Kakek untuk bergabung ke meja makan.


Abi celengak celinguk mencari seseorang.


" Quin lagi mandi, bentar lagi juga turun." Ujar Mama Kesya seolah tau jika Abi sedang mencari Quin.


Veer dan Nafi baru saja kembali saat Quin menuruni tangga.


" Waahh, Yang mulai bucin." Goda Quin kepada sang kembaran.


Veer hanya mengacak rambut Quin.


Abi yang melihat itu merasa sangat hangat berada di dalam keluarga Quin. Abi sendiri tidak memiliki adik, jadi dia hanya pewaris tunggal dari keluarganya.


Abi memandang cincin yang melingkar di jari nya. Tadi kakek sempat bertanya dengan cincin itu, Abi mengatakan jika itu adalah milik sang Ayah.


" Cincin yang bagus." Ujar Veer.


Abi langsung menoleh kearah Veer, dan melihat Veer seakan tak suka dengan hal itu.


Papa Arka memimpin membaca doa makan, sebelum mereka menikmati hidangan yang tersaji.


" Abi, cobain deh cah kangkungnya. Ini Quin yang masak." Ujar Oma Laura.


Abi pun mengambil cah kangkung, dan betapa terkejutnya Abi, jika ternyata masakan Quin sangatlah enak. Padahal hanya cah kangkung, tapi Rasanya sangatlah nikmat. Berbeda dengan masakan yang pernah Abi makan.


" Ini sangat enak, benar-benar enak" Puji Abi.


" Cobain juga capcai nya, kesukaan Veer, tapi Quin yang masak. Udang saus tiramnya juga Quin yang masak"


Usai makan malam, Quin mengajak Abi ke taman belakang. Tadi Abi bilang ingin melihat Empus.


" Aku gak nyangka, kalo kamu suka dengan hewang-hewan buas."


" Hmm, tapi beberapa hari ini aku mimpi gak enak, jika aku akan berpisah dengan mereka."


" Aku rasa mimpi mu akan jadi kenyataan,'


" Maksud mu?'


" Quin, Empus perlu kehidupan yang sesuai dengan alamnya. Dia butuh hutan untuk berkembang."


" Aku tau, tapi aku belum siap untuk berpisah."


Quin mengelus buku Empus yang lembut dan terawat. Abi melihat jika Quin sangat menyayangi Empus, bahkan bisa Abi tebak, jika hewan yang paling Quin sayang adalah Empus.


.


.


" Veer, coba lihat." Nafi menunjuk kearah Abi dan Quin yang masih mengelus Empus di taman belakang. Yang mana dari kamar Veer, dapat melihat pemandangan tersebut.


Veer mendekati Nafi, dan merangkul pinggangnya.

__ADS_1


" Lihat cara Abi memandang Quin, apa Abi mulai menyukai Quin?"


" Entah lah, Terkadang isi kepala pria tidak bisa di tebak."


" Sama seperti kamu."


" Tentu, karena aku pria."


" Pria Nyebelin." Nafi mengerucutkan bibirnya.


" Nyebelin? Kamu yakin?"


"Hmm.. Nyebelin, tapi aku suka." wajah Nafi merona saat mengatakannya.


Veer mendaratkan ciuman di bibir Nafi. Bibir itu sudah menjadi candu bagi Veer. Veer melepaskan ciumannya saat Nafi menahan tangannya yang sudah berhasil menelusup ke dalam bajunya.


" Maaf, Aku belum siap.."


" Kita akan melakukannya perlahan, sampai kamu siap." Bisik Veer dan memeluk Nafi.


" Terima kasih, aku akan berusaha agar cepat sembuh."


" Aku akan selalu menemani mu"


Nafi memeluk tubuh Veer, bolehkan Nafi merasa beruntung karena bisa mencintai seorang Veer? dan di cintai oleh Veer?


.


.


Acara pertunangan Abi dan Quin pun tinggal sehari lagi. Cincin pertunangan sudah di antar ke rumah Abi. Gedung Moza yang di jadikan tempat pertunangan dan juga konferensi pers tentang pernikahan Veer dan Nafi, dan juga menampilkan identitas Quin yang sebenarnya, sudah di persiapkan oleh pihak EO.


" Quin, coba pake gaun ini?"


Nafi sangat bersemangat memilihkan gaun untuk Quin. Gaun sebelumnya yang sudah dipilih Quin beberapa hari lalu, yiba-tiba saja kebesaran. Untuk itu, Quin harus kembali mencoba gaun yang baru.


" Terlalu terbuka Naf."


" Maaf, aku lupa kalo kamu gak suka pakaian terbuka. " Nafi merasa bersalah karena memilihkan baju yang tidak sesuai dengan selera Quin.


" Coba yang ini?' Anggel dan Kayla yang juga ikut datang ke butik, membantu Nafi mencarikan Quin gaun.


" Kekecilan yang itu, aku coba yang ini." Ujar Quin mengambil gaun dari tangan Kayla.


Quin mencoba gaun tersebut, dan sangat pas di tubuhnya. Tanpa Qui ketahui, jika Abi batu saja tiba karena harus kembali memfitting baju nya kembali.


" Cantik" Gumam Abi saat tirai terbuka dan menampilkan Quin.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2