
Seluruh tamu undangan yang mengikuti prosesi ijab qabul pun sudah berkumpul di ballroom. Walaupun masih menggunakan dekorasi dan pelaminan yang sama. Tetap saja pernikahan Quin dan Anggel adalah pernikahan termegah. Secara ucapan cindera mata yang mereka berikan adalah sebuah gelang yang terbuat dari emas
putih dan ada ukiran foto Abi dan Quin, serta foto Anggl dan .... emm, kira-kira siapa ya? udah kesel belum? He .. he.. he..
Dengerin ijab qabulnya aja yah biar tau siapa yang nikah dengan Anggel.
Pria tampan yang memakai pakaian jas nikahnya pun berjalan dengan di dampingi kedua orang tuanya. Nafi yang melihat pengantin pria nya pun sampai menutup mulutnya terkejut hingga meneteskan air matanya.
“Sayang, dia?”
“Iya, Dialah calon suami Anggel.” Ujar Veer sambil mengusap puggung sang istri yang semenjak kehamilannya ini sering sekali tersentuh dan bersedih.
Didalam kamar, Quin, Kayla, dan Raysa pun menatap Anggel dengan iba. Terlihat aura penuh kemarahan yang terpancar dari wajahnya.
“An, kamu harus melupakan Lana. Mungkin memang Martin lah jodoh kamu.” Ujar Quin mencoba menghibur Anggel.
“Kamu lihat pernikahan Aku dan Abi. Awalnya sama sekali aku tak mencintai Abi, tapi setelah Aku menikah dengannya, Aku jatuh cinta kepadanya. Bahkan aku sangat mencintainya saat ini. Mungkin hal itu juga akan berlaku kepada kamu.”
“Tidak Quin, jelas cerita kita berbeda. Kamu dikhianati, sedangkan aku tak direstui. Aku dan Lana saling cinta, tapi kami terhalang oleh restu. Hiks ... bagaimana aku bisa melupakan Lana, jika selama ini dia tak pernah menyakiti aku? Aku gak bisa membenci dia, aku gak bisa Quin. Hiiks ...” Anggel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kayla dan Raysa sudah ikut menangis. Mereka ikut merasakan apa yang Anggel rasakan. Setidaknya mereka pernah hampir berada di posisi itu.
“Martin pria yang baik, dia pasti bisa membuat kamu jatuh cinta dengannya.”
“Jika pria yang baik, seharusnya dari awal dia tak perlu bersandiwara dengan berdandan wajah buruk rupa. Aku kesal jika dianggap hanya memandang seseorang dari fisiknya. Walaupun setampan apapun dia, tetap saja aku gak cinta. Kamu tau kan Quin, aku cintanya Cuma dengan Lana.”
Quin memeluk Anggel yang masih menangis. “Kamu harus kuat, kamu harus kuat An.”
“Hiks ...” Anggel menangis sehingga membuat riasannya sedikit berantakan.
Tak berapa lama Desi masuk dan memberi tahu jika sebentar lagi ijab qabul akan di mulai.
“Anggel gak ikut turun melihat prosesi ijab qabulnya?” tanya Quin.
“Tidak, kita di suruh menunggu di sini.”
Desi tersenyum manis kepada Anggel, ia merasa iba melihat Anggel yang menangis dalam pelukan Quin, namun apalah daya, kode etik untuk tak memberi tahu sebuah rahasia harus di pegang teguh oleh Desi.
“Kak An, jangan nangis lagi, ntar make up nya luntur jelek loh.”
“Biarin.” Jawab anggel dengan ketus.
“Kak, lihat aku.” Desi menangkup wajah Anggel untuk menghadap kearahnya.
" Kalo Kak Anggel nangis, kakak akan terlihat lemah dan itu membuat Martin senang melihat kekalahan kakak. Dan kakak juga menunjukan kepada tante Puput dan juga Kak Lana, jika kakak itu lemah dan hanya bahagi bersama dengan kak Lana. Kakak akan di remehi Kak, jadi kakak harus tunjukkan kepada mereka, kalo kakak itu
adalah wanita yang kuat dan tegar. Menikah dengan Martin bukanlah sesuatu yang akan membuat dunia kakak kiamat.”
“Bener tu, An, kata Desi.” Ujar Quin.
“Iya An, kamu harus semangat. Tunjukkan kalo kamu itu wanita tangguh, bukan wanita lemah. Kalo kamu lemah gini, Martin bisa semena-mena dengan kamu.” Ujar Kayla.
“Ia kak An, kakak kakak harus semangat. Harus bangkit dari keterpurukan. Tunjukkan pada dunia, terutama Martin dan kak Lana. Jika kakak adalah perempuan yang tak bisa di anggap remeh.”
__ADS_1
“Semangat Anggel.” Seru Quin, Kayla, Raysa, dan Desi.
Anggel menarik napasnya dan memantapkan kembali kepada dirinya, jiak ia bukanlah wanita yang lemah. Anggel akan tunjukkan kepada Martin, jika ia menikahi wanita yang salah, karena mulai sekarang hidup Martin akan sengsara di bawah kekuasaaan Anggel.
Begitu pun untuk Lana, pria brengsek yang berani-beraninya mencuri ciuman nya semalam setelah menghilang tanpa kabar dan tak ada penjelasan tentang hubungan mereka yang terasa menggantung, serta janjinya untuk memperjuangkan hubungan mereka.
Anggel akan buat Lana menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita cantik dan hebat seperti dirinya.
Anggel memanggil tim make up dan meminta untuk merapikan kembali make up nya. Namun Anggel meminta make up yang terlihat bagaikan malaikat namun mematikan. Make up Anggel pun terlihat natural, namun Anggel meminta lipstik berwarna merah menggoda untuk memberikan kesan bahwa Anggel bukanlah wanita yang lemah.
*
Dalam ruangan ballroom,
Opa Bram sudah berjabat tangan dengan seorang pria yang akan menjadi suami sang anak.
“Saya terima nikah dan kawinnya Anggelina Bramansyah dengan mahar tersebut dibayar tunai.”
“Saah ...”
“Alhamdulillah ...”
Mama Puput pun berpelukan dengan Oma Mega. Akhirnya, mereka bisa menyatukan dua insan yang tengah jatuh cinta.
Pak penghulu pun meminta kepada pihak keluarga untuk membawa pengantin wanitanya.
Jo dengan bersemangat berjalan menuju ruang pengantin dan memanggil pengantin wanita yang cantik itu untuk menemui suaminya.
*
“Cantik, kamu gak akan terkalahkan, An.” Seru Quin dan memeluk Anggel.
Kayla dan Raysa pun ikut memeluk Anggel, memberikan kekuatan kepada Anggel bahwa dia bisa menghadapi semuanya ini. Allah gak akan memberikan ujian kepada hambanya, jika hambanya itu tak mampu melewati ujian tersebut. Hanya orang-orang terpilih saja yang akan di berikan ujian sebesar gunung dan seluas lautan.
Terdengar suara pintu di ketuk. Desi pun membuka pintu dan langsung membalas senyuman Jo yang terlihat sangat tampan.
“Apa pengantin wanitanya sudah siap untuk keluar dan bertemu dengan suami tercintanya?”
“Tercinta dari hongkong.” Gerutu Anggel dan menatap tajam kearah Jo yang terkekeh mendengar jawabannya.
“Kamu siap, An?” tanya Quin.
Anggel menarik napasnya dan menghembuskannya secara perlahan. Ia ulangi gerakan itu hingga lima kali, setelah merasa sedikit tenang, Anggel pun menganggukkan kepalanya.
Quin dan Kayla berjalan di samping Anggel. Sedangkan Desi bertugas merapikan gaun yang terjuntai panjang di belakang. Raysa bertugas membawa cincin yang akan di pakaikan di jari manis suami Anggel.
Suara gemuruh dan bisik-bisik pun mulai terdengar saat Anggel telah muncul dan berjalan di karpet merah. Anggel melihat kearah Nafi yang menangis sesenggukan tapi di bibirnya terukir senyum. Anggel pun membalas senyuman Nafi namun tetap dengan aura yang tak bersahabat.
Anggel mengernyitkan keningnya di saat melihat Mama Puput duduk di sebelah sang Mami. Di mana kursi itu seharusnya di duduki oleh mertuanya. Wajah Anggel semakin berubah saat melihat sosok Martin yang berdiri bersama dengan keluarga yang lainnya.
Jika Martin berdiri di situ, lalu yang menjadi suaminya siapa?
Tak hanya Anggel, Quin, Kayla, dan Raysa pun terkejut saat melihat Marti berdiri di barisan keluarga.
__ADS_1
Perlahan Anggel melihat kearah meja akad nikah. Di sana sosok tubuh tinggi tegap yang sangat Anggel hafal sileut tubuhnya sedang duduk membelakanginya. Perlahan pria itu pun berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap Anggel.
“Lana?” Pekik Quin, Kayla, dan Raysa bersamaan.
Desi hanya terkekeh melihat wajah terkejut serta ekspresi yang di keluarkan dari Quin, Kayla, dan Raysa.
“Kamu sudah tahu?” bisik Raysa.
Desi hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum.
“Kode etik?”
“Yups ..” jawab Desi dengan santai.
“Kamu akan mendapakan kemarahan kak Anggel.”
“Aku serahkan hukuman itu kepada Lana.” Desi terkikik geli saat mengingat Lana memohon kepadanya untuk tak membocorkan kejutan ini. Desi mengatakan jika ia mendapatkan hukuman dari Anggel, maka Lana yang harus menanggung akibatnya. Lana pun setuju yang penting rahasianya tetap aman.
Lana mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan istri tercintanya itu.
Istri?
Ah, menyebutnya sebagai istri membuat hati Lana semakin berbunga-bunga.
“Dasar b*jingan.” Bisik Anggel dengan mata berkaca-kaca dan aura yang tak ramah sambil menerima uluran tangan Lana.
Lana tersenyum hangat untuk menenangkan Anggel. Bukannya makin tenang, Anggel malah semakin kesal dan menekan punggung tangan Lana dengan kukunya.
Lana memejamkan matanya merasakan sakit tertusuk yang di berikan oleh istrinya itu. Lana terima hukuman apapun dari sang istri.
“Aku membenci mu.” Desis Anggel.
“Dan aku sangat mencintai kamu.”
Anggel dan Lana telah selesai memubuhkan tanda tangan di buku nikah mereka. Saat fotografer menyuruh menunjukkan buku nikah mereka kearah kamera, Anggel kembali berbisik kepada Lana.
“Aku akan membuat perhitungan kepada mu.”
“Dan aku akan menghitung berapa kali pelepasanmu.”
Anggel semakin geram, namun dalam hatinya Anggel benar-benar bahagia, karena orang yang menjadi suaminya adalah orang yang ia cintai selama ini.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF