
Lana yang sedari sore tak meninggalkan rumah Oma Shella pun, menatap kearah rumah Oma Mega dari balkon lantai 2. Lana terkejut saat melihat seorang pria yang berkaca mata dan memakai pakaian yang mirip sekali dengan artis komedi yang baik hati itu.
"Yang bener aja Oma?" Lirihnya.
Lucas dan Fatih yang juga penasaran denga. calon suami Anggel pun juga ikut melihat.
"Bwahahhaha ..." Tawa Lucas dan Fatih pun pecah.
"Kalah saing Lo." ejek Lucas.
Fatih mengangguk-anggukan kepalanya. Betapa senangnya bisa melihat sahabat sekaligus saudara nya itu terlihat menderita.
"sahabat laknat kalian." Cetus Lana dan masuk kedalam rumah. Fatih dan Lucas pun ikut masuk kedalam dengan masih menertawakan Lana.
"Kenapa?" tanya Bunda Sasa yang penasaran dengan kedua putranya itu, yang sedari tadi tak berhenti tertawa.
"Lana kalah sama replika salah satu artis komedi ternama, Bunda."
Bunda Sasa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol sang putra.
*
"An, kamu ajak Martin ngobrol dulu ya." Titah Oma Mega.
Anggel hanya menurut dan mengajak Martin mengobrol di pinggir kolam.
"Kamu suka renang?" Tanya Martin.
"Hmm," Anggel hanya bergumam menjawab pertanyaan Martin.
"Aku juga, lain kali kita renang bareng ya."
Anggel menaikkan sudut bibir atasnya, akrena merasa jijik dengan Martin.
"Kamu kuliah jurusan apa?" Tanya Martin yang ingin mengenal Anggel lebih dekat.
"Pertanian."
"Loh, bukannya kamu dokter ya?"
"Dah tau gue dokter, ya jelas lah gue kuliah di kedokteran." cetus Anggel dengan kesal.
Martin hanya terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Martin pun mencoba bertanya hal lain, hingga dirinya akhirnya memutuskan untuk menceritakan tentang dirinya saja.
Anggel sempat kagum dengan prestasi Martin yang terbilang luar biasa, di tambah lagi Martin adalah lulusan terbaik di universitas terhebat dan terkenal di Negara Inggris tersebut. Namun penampilannya sangat tidak mendukung dengan prestasinya.
Makan malam telah usai, Anggel terkejut saat mengetahui jika pernikahan dirinya dan Martin akan di langsungkan sebulan lagi.
"Martin senang bisa menjadikan Anggel sebagai istri Martin." Ujarnya kepada Oma Mega.
Mami Vina yang melihat Martin pun hanya menggigit bibirnya untuk menahan tawanya.
Keluarga Martin pun berpamitan kepada keluarga Oma Mega.
"Aku pulang ya An, nanti aku boleh kan telfon-telfon kamu?" Ujar Martin.
"Hmm ..."
Martin meraih tangan Anggel dan mencium punggung tangannya. Anggel langsung menarik cepat tangannya dan menyembunyikannya di belakang punggungnya sambil mengelap belas kecupan dari Martin.
Tanpa mereka ketahui, jika Lana sudah menggeram dan mengepalkan tangannya melihat pemandangan itu.
*
"Mami yakin mau jodohi Anggel dengan Martin?" Tanya Mami Vina kepada Oma Mega
"Kenapa? Martin anak yang baik, pintar, lulusan terbaik di universitas terkenal di Inggris.".
"Tapi Mi,"
"Pokoknya keputusan Mami udah bulat. Bulan depan Anggel akan menikah dengan Martin."
"Kenapa gak tunangan dulu Mi?" Tanya Mami Vina.
"Kelamaan, Mami juga pingin gendong cucu dari Anggel."
Setelah mengatakan itu Oma Mega melangkah pergi meninggalkan Mami Vina, Anggel, dan Opa Bram yang masih berada di sana.
"Pi, Anggel gak suka sama Martin." Ujar Anggel dengan mata berkaca-kaca.
"Hmm, itu karena kamu belum mengenalnya. Nanti kamu pasti juga akan suka sama Martin. Hanya butuh waktu lebih lama untuk bersama saja."
Setelah mengatakan itu, Opa Bram pun meninggalkan Mami Vina dan Anggel yang masih berada di ruang tamu.
"Mi, " seru Anggel dengan air mata yang sudah menggenang.
Mami Vina pun langsung memeluk Anggel hingga Anggel menumpahkan tangisnya di dalam pelukan Mami Vina.
*
Di sisi lain, Oma Rosa sudah mempersiapkan kejutan untuk sang putri. Oma Rosa pun menghubungi teman nya yang ingin di jodohkan kepada Kayla. Oma Rosa mengajak temannya untuk bertemu dan membahas tentang perjodohan tersebut.
__ADS_1
"Oke, besok kita bertemu ya. Kita bahas lebih lanjut." Ujar Oma Mega yang di dengar oleh Kayla.
"Siapa Ma?" Tanya Opa Nazar yang baru saja selesai bertadarus dan sempat mendengar Oma Rosa menghubungi seseorang.
"Itu loh Yah, teman aku yang mau jodohi anaknya dengan Kayla. Kemarin Kayla udah setuju untuk di jodohkan, jadi ya udah aku mau ngomongin perjodohan itu sama dia besok."
Opa Nazar melihat kearah sang putri yang menundukkan wajah dengan mimik wajah yang sedih.
"Ma, Yah, Ila ke kamar dulu ya."
"Iya sayang."
Opa Nazar menatap kepergian Kayla hingga tak terlihat lagi.
"Ma, emangnya Mama benar-benar mau jodohin Ila sama anak teman Mama?"
"Iih, Ayah kepo deh." Oma Rosa mencuil hidung Ayah Nazar.
"Tidur yuuk, nanti Mama bilangin satu rahasia."
Opa Nazar pun mengikuti sang istri menuju kamar mereka.
Di dalam kamar, Kayla menatap kearah langit dari jendel kamarnya.
"Semoga keputusan ku ini benar."
Kayla menutup matanya dengan bersamaan jatuhnya air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata Kayla.
*
"Quin,"
Quin menoleh dan mendapati Abi yang tersenyum merekah sambil membawa sebuket bunga.
"Untuk kamu."
"Untuk aku?" ulang Quin.
"Hmm, aku sendiri yang merangkai bunganya. Kamu suka?"
"Masa sih? kamu yang buat buket nya?"
"Iyaa, kamu suka?"
"Hmm, suka. Makasih ya." Quin mencium bunga-bunga yang mengeluarkan aroma yang sangat wangi dan nikmat.
"Quin, Aku mau ngajakin kamu makan malam di luar, Kamu mau?"
"Di restoran."
"Baiklah, sesuai permintaan kamu. Kali ini, aku gak akan buat kamu malu." Ujar Quin sambil mencuil hidung Abi.
"Aku gak masalah kalo kamu makan trus minta kobokan."
Quin membulatkan matanya, kemudian mereka tertawa bersama.
"Kamu masih ingat aja."
"Setiap menit bahkan detik bersama kamu, Aku akan selalu mengingatnya. Apalagi saat pertemuan pertama kita."
"Iih, pasti kamu ingat bagian aku mukulin kamu kan."
Abi terkekeh. "Kamu salah. Saat itu aku melihat kamu sedang melihat-lihat ular, kemudian berpindah ke hewan yang lain, terus ke monyet-monyet lucu itu. Aku melihat kamu sedikitpun tak takut dengan semua hewan yang ada di sana." Abi membenarkan rambut Quin yang berada di wajahnya.
"Kamu tau, sesaat aku sempat terpukau dengan senyum kamu. Tapi saat melihat kamu begitu bar-bar, aku jadi sedikit illfil."
"Dasar pembohong."
"Aku serius, tapi aku kembali terpukau oleh mu, karena kesederhanaan kamu, kebaikan hati kamu, bahkan selera kamu yang sangat merakyat. Aku menyukai semua kesederhanaan yang terdapat pada diri kamu. Kamu membuat aku tersadar, bahwa makanan lezat itu bukan hanya dari tempat dan harganya, namun juga bisa di dapat dengan harga yang sangat terjangkau."
Abi menangkup wajah Quin. " Terima kasih, karena kami udah hadir dalam hidup aku."
Abi mengecup kening Quin lama dengan sayang.
"Aku mencintai kamu, Quin." bisik Abi setelah melepaskan ciumannya.
Quin tersenyum dan memeluk Abi dengan posesif. Sampai detik ini, Quin belum juga memberikan jawaban tentang balasan cintanya kepada Abi. Quin masih butuh waktu yang sedikit banyak, atau Quin masih ingin melihat reaksi Abi di saat ia bertemu dengan Anita. Apakah Abi akan meninggalkan Quin, atau Abi menepati janjinya untuk tetap berada di samping Quin.
*
Quin sudah bersiap dengan dres yang cantik dan jangan di tanya lagi berapa harga nya pastinya duit author gak akan mampu membeli dress tersebut. Quin membawa semua rambut nya kedepan melalui bahu kanannya. Telinga kirinya yang terlihat di hiasi oleh anting-anting yang sederhana namun harganya fantastis. Quin juga memakai jepit rambut di bagian rambut kirinya, jepit rambut yang terlihat cantik namun harganya luar biasa mengejutkan bagi rakyat jelata seperti author.
Quin kembali melihat penampilannya di cermin, ia tersenyum di kala melihat penampilannya sudah oke.
"Quin," Abi yang baru masuk langsung terpukau oleh penampilan Quin yang terlihat sangat cantik.
Quin tersenyum dan berjalan kearah Abi. Quin melambaikan tangannya didepan wajah Abi ketika melihat Abi tidak juga mengedipkan matanya.
"Hei, kenapa bengong begitu?" tanya Quin sambil terkekeh.
"Kamu cantik."
__ADS_1
Wajah Quin merona mendapatkan pujian dari Abi. "Kita pergi sekarang?"
"Sure."
Quin menggandeng lengan Abi dan menemui Mama Kesya dan Papa Arka.
"Cantik banget anak Mama, mau kemana?" Tanya Mama kesya yang juga terpukau oleh penampilan Quin.
"Abi ngajak makan malam di luar, Ma."
"Ooh, ya udah kalo gitu. hati-hati ya nyetirnya." Ujar Mama Kesya kepada Abi.
"Iya Ma, kami pergi dulu ya." Abi mencium punggung tangan Mama Kesya dan Papa Arka, begitu pun dengan Quin.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
*
Quin benar-benar terpesona dengan apa yang Abi berikan untuknya. Abi membawa Quin makan malam romantis di salah satu hotel mewah milik keluarga Moza yang terdapat restoran yang terkenal dengan chef handalnya.
Restoran ini tak pernah sepi dari pengunjung kelas atas. Abi sebenarnya ingin menyewa seluruh restoran hanya untuk makan malam romantis bersama Quin, namun Veer memberikan nasehat kepada Abi, jika Quin gak suka sesuatu yang terlalu berlebihan. Quin lebih suka berbaur dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Aku fikir kamu bakal sewa satu restoran." Quin terkekeh.
"Tadi nya aku mau melakukan hal itu, tapi aku urungkan, karena informasi yang aku dapat, kamu gak suka sesuatu yang berlebihan."
"Kamu memilih keputusan yang tepat. Tadi nya aku pasti akan merasa bosan jika suasananya terasa sepi. Tapi, kamu benar-benar membuat tempat duduk kita menjadi sorotan dengan dekorasi yang kamu buat."
Abi terkekeh, " Aku hanya ingin membuat kamu terpukau. Dan aku berhasilkan?"
"Yaa, kamu berhasil."
Quin dan Abi memesan makanan mereka. Sambil menunggu pesanan makanan mereka tiba, Abi pun mengobrol bersama Quin, di mana Quin tertawa mendengar cerita Abi. Hingga pelayan datang dan mengantarkan pesanan makanan untuk Quin dan Abi.
Quin dan Abi menikmati makan malam mereka yang terasa begitu romantis.
"Kita nginap di sini ya malam ini." Bujuk Abi.
"Aku ikut apa kata kamu aja." Ujar Quin dengan wajah merona.
Abi pun memesan kamar presiden suite. Kamar yang termahal di hotel ini.
"Quin, mau berdansa dengan ku?" Tawar Abi saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Quin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Abi langsung memutar musik untuk menemani mereka berdansa.
"Quin, aku mencintai kamu, dan aku gak akan pernah bosan untuk mengutarakannya."
setelah mengatakan itu, Abi menunduk dan mencium bibir Quin yang menggoda. Quin perlahan menaikkan tangannya dan mengalungkannya di leher Abi. Quin juga membalas ciuman yang Abi berikan.
*
Acara pertunangan Raysa dan Farhan pun akhirnya tiba. Raysa terlihat sedih di hari bahagianya.
"Aku mencintai Fatih, hiks..." Adu Raysa kepada Quin di saat dirinya tak henti-hentinya menangis saat para MUA ingin mendandaninya.
Quin memeluk Raysa, hingga Fatih masuk dan mengambil alih Raysa. Quin menatap kepada Fatih dan Raysa yang saling mencintai tetapi seakan ada jurang dalam yang memisahkan mereka.
Quin pun berinisiatif mengajak beberapa MUA keluar dan membiarkan Fatih bersama Raysa.
"Sayang,"
Quin menoleh dan mendapati Abi sedang berjalan kearahnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Abi saat melihat wajah Quin terlihat sedih.
"Hmm, Ica dan Fatih saling mencintai, tapi seolah ada jurang di antara mereka. Yang buat aku heran, jika Ica mencintai Fatih, kenapa Ica harus setuju bertunangan dengan Farhan?"
"Mereka masih bertunangan, kita akan mencari tahu nanti jika ada sesuatu yang tak beres."
"Iyaa,
Setelah drama tangis menangis dan sempat ada adegan menegangkan di acara pertunangan Farhan dan Raysa. Abi tetap setia berada di samping Quin dan memeluk Quin dengan erat di saat melihat Farhan menarik Raysa dengan kasar. Belum lagi terjadi perkelahian dengan pengawal Farhan yang mana membuat Quin semakin terisak.
Siapa yang menyangka, setelah drama yang dibuat oleh Farhan, ternyata pertunangan malam ini menjadi pertunangan Raysa dan Fatih. Betapa bahagia seluruh keluarga melihat Fatih akhirnya berhasil membuat Raysa berlabuh kepadanya.
Quin berdoa, semoga keajaiban cinta juga terjadi kepada dirinya, Anggel, Lana, Kayla, dan Zein.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1