KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 140


__ADS_3

Tap ... Tap ...


Akh ...


Dua pengawal yang berada di belakang Abi dan  Jo pun jatuh pingsan, Abi dan Jo sudah siaga untuk keluar, namun mereka di hadang oleh dua pria yang berbadan besar. Jo sudah menodongkan pistolnya untuk melindungi Abi, namun.


Greeekk ...... Pusshh .....


 Tiba-tiba sebuah kaleng meluncur di kaki Jo dan langsung mengeluarkan asap tebal yang menyesakkan.


“Tahan napas.” Ujar Jo dengan wajah yang ia tutupi dengan mantel.


 Bugh ... Akh ...


Seseroang memukul Jo dan pingsan, begitu pun dengan Abi.


 “Bawa mereka ketempatnya masing-masing.” Titah Anita kepada dua pengawalnya.


 “Siap Nona.”


Abi, Jo, dan kedua pengawal pun di bawa ke kamar yang terpisah.


Abi di ikat di sebuah kursi di dalam kamar mewah bersama Anita, sedangkan Jo, dan dua pengawal lainnya di kurung di sebuah gudang tanpa jendela dengan tangan terikat ke belakang.


 “Semua sudah terikat dengan kencang, Nona.”


 “Bagus, kalian boleh kembali berjaga.” Ujar Anita kepada kedua pengawalnya tersebut.


 Ya, Anita hanya memiliki dua pengawal, tapi rencana yang Anita lakukan dapat melumpuhkan lawannya. Anita tersenyum penuh kemenangan sambil menatap kedua pintu yang ada di dalam kamarnya.


 *


“Kamu punya rencana Des?”


Desi menoleh kearah pria yang duduk di sebelahnya. Di adalah Lana. Ya, Saat mengetahui Anggel ikut bersama Quin dan Abi ke Korea, Lana sengaja memata-matainya hanya untuk menatapnya dari jauh dan melepaskan rindu.


Pria yang sering di lihat oleh Jo pun adalah Lana, Jo sengaja mendiamkan dan hanya memberi tahu kepada Desi saja. Agar Desi tidak membongkar samaran Lana di depan Anggel. Lana memang di suruh me jaga jarak dengan Anggel oleh Mama Puput. Maka dari itu Lana pun menututi nya, apalagi Lana telah mengikat seorang gadis dari anak  sahabat sang Mama. Sudah pasti Lana menyetujuinya tanpa bantahan, mengingat betapa baiknya Mama Puput yang mau mengurus dan membesarkan dirinya dengan penuh cinta bagaiakan anak sendiri.


 “Gak ada, hanya kekuatan aja yang bakal di kerahi.”


“Tumben? Biasanya kamu selalu memiliki strategi.”


 “Hmm, aku gak bisa mikir kalo kakak sedari tadi terus-terusan bertanya tentang Anggel. Sebaiknya kakak diem.”


 Lana langsung menatap kearah luar jendela dan membiarkan Desi memikirkan jalan keluarnya.


 Mobil yang mereka tumpangi pun akhirnya berhenti di sebuah rumah yang gak terlalu besar dan terpisah dari rumah yang lain. Halaman yang tak berapa luas pun membuat Desi langsung bisa melihat situasi keadaan yang terlihat sepi.


 “Pak, kami butuh bantuan anda.” Ujar Desi kepada sang supir.


 *


 Dua pengawal Anita yang sedang berjaga di halaman rumah yang terdapat gazebo tanpa atap berjalan kearah pintu pagar di saat ada seseorang yang menekan bel pintu rumah bos mereka.


 Pak Supir pun tersenyum dengan ramah dan bertanya apa benar ini rumah orang tua Song joong ki. Ada sebuah paket yang ingin di antar.


 Kedua pengawal Anita saling berpandangan dan mereka pun langsung mengusir supir suruhan Desi. Pak supir pun langsung pergi tanpa perlawanan dengan wajah sedih, tanpa kedua pengwal Anita ketahui jika Desi dan Lana telah masuk ke halaman rumah mereka dengan meloncati pagar dari sisi yang lainnya.


“Sepi, masa iya pengawalnya Cuma dua?.” Bisik Desi kepada Lana di mana mereka sedang bersembunyi di semak-semak.


 “Des, banyak semut, hajar terus yuukk, gatel nih badan  ...”


“Ya udah, kakk keluar duluan mancing mereka.”


 Desi mendorong tubuh Lana hingga kelaur dari persembunyian mereka.


 “Semangat.” Ujar Desi dengan mengepalkan kedua tangannya dan di tujukan kepada Lana dan kembali bersembunyi untuk memantau.


 “Sialan lo,” gerutu Lana kepada Des.


 Lana pun membenarkan mantelnya dan berjalan kearah dua pengawal Anita yang belum menyadari kehadiran Lana.


 “Woy ...” tegur Lana dengan suara yang lantang.


 Kedua pengawal Anita pun menoleh dan langsung bersiaga memasang kuda-kudanga. Tanpa aba-aba langsung menghajarnya.


 Desi hanya menonton pertandingan tersebut sambil melihat apa ada lagi pengawal yang ikut menghajar Lana. Bukan hal yang sulit bagi Lana untuk mengalahkan kedua pengawal tersebut. Yaa, walaupun Lana mendapatkan pukulan beberapa kali di wajah dan perutnya. Desi masih menonton dan membiarkan Lana melumpuhkan dua


pengawal tersebut.


 Desi bertepuk tangan di saat Lana berhasil melumpuhkan kedua pengawal tersebut sendirian.


“Sialan lo, bengek gue tau.” Gerutu Lana.


Desi pun berjalan mendekat dan menepuk bahu Lana. “Jagoan, tapi lemah.”


 “Maksdu lo?”


“Lemah dengan cinta.” Ujar Desi sambil terkikik.

__ADS_1


“Sialan Lo.” Kesal Lana dan menoyor kepala Desi.


 “Aaak, “ Desi mengerucutkan bibirnya kesal karena kepalanya di toyor oleh Lana. Hal yang di benci oleh Desi.


 Desi langsung menyeret tubuh satu pengawal yang sudah tak berdaya masuk kedalam rumah, satu lagi Lana yang menyeretnya.


 “Duh, makan apa sih nih orang, berat banget.” Gerutu Lana saat menyeret pria tersebut masuk kedalam rumah.


 “Huuff, “


 Desi melihat kesekeliling rumah, satu kamar terlihat lantai bawah, sedangkan terlihat satu kamar di lantai atas.


 “Dasar perempuan iblis.” Pekik Abi yang terdengar oleh Desi dan Lana.


*


Anita memandang wajah Abi yang masih tertutup matanya, ia membelai wajah Abi dengan perlahan.


“Kamu masih tampan, bahkan tambah semakin tampan. Bagaimana bisa aku melepaskan kamu.” Anita mengecup kedua mata Abi dan menyatukan hidungnya.


 Anita berjalan ke dekat sofa kamarny ayang terdapat meja. Anita meraih satu botol obat, di mana berisi obat penyubur kandungan. Anita meminum obat tersebut dan beralih meraih obat perangsang di botol satunya. Anita tersenyum miring berbalik menghadap Abi.


Abi mengernyitkan keningnya di saat mencium aroma ynag tajam dari balsem.


“Kamu sudah bangun sayang?”


Abi terkejut di saat melihat wajah Anita begitu dekat dengannya. Abi menggerakkan tubuhnya, namun seluruh tubuhnya terikat dengan tali yang di ikat dengan sangat kuat.


“Lepaskan aku, brengsek.” Maki Abi.


“Stt ..stt ..sst.. aku pasti akan melepaskan kamu, karena kita akan bersenang-senang hari ini, sayang.”


“Mimpi kamu, aku gak akan pernah mengkhianati istri ku.”


 “Ahh, itu sangat menyakitkan hati ku. Tapi mau gimana lagi, sepertinya sebentar lagi kamu akan mengkhianati dirinya, bahkan di akan meninggalkan kamu untuk selamanya.”


 “Aku gak akan biarin Quin pergi dari aku.”


 “Benarkah? Kita lihat saja, apa Quin mu itu masih mau bertahan dengan pria brengsek yang telah bercumbu dengan mantan kekasihnya? Dan aku penasaran, sebesar apa kamu sanggup menahan godaan dari ku.”


 Abi berdecih di saat Anita membuka kimono berbahan satinnya, dan menampilkan tubuh seksinya yang hanya terbalut lingerie hitam yang sangat kontras dengan kulit putih Anita. Pakaian dengan belahan dada rendahdan menampilkan sebagian daging kenyal itu sengaja Anita kenakan, di tambah dalaman bagian bawah yang ia


kenakan bermodel g-string, di mana hanya menutupi sedikit bagian depan dan membiarkan bok*ng mulusnya membayang dari pakaian tipisnya itu.


 Anita berjalan mendekati Abi dengan memegang satu pil obat yang siap ia masukkan ke dalam mulut Abi.


Abi langsung menatap horor dengan apa yang sedang di pegang oleh Anita, sekuat mungkin Abi akan menutup mulutnya.


Abi tak bergeming, ia tetap menutup mulutnya rapat-rapat.


 “Buka mulut mu Abi,”


Abi masih mengatup bibirnya dengan semakin kuat, bersamaan dengan Anita yang mencoba membuka mulut Abi dengan memaksakan jari  nya untuk masuk kedalam mulut Abi.


 “Sialan. Kamu harus meminum obat ini Abi.” Pekik Anita.


Anita tak kehabisan akal, ia memang wanita cerdik, namun sayang kecerdikkannya di salah gunakan olehnya karena di butakan oleh cinta.


Anita memiting kepala Abi dan memencet hidung nya sekuat tenaga agar Abi membuka mulutnya.


Abi menahan napasnya hingga wajahnya pun memerah, namun Abi ynag tak kuat lagi menahan napasnya akhirnya kalah dan membuka mulutnya. Dengan gerakan cepat Anita memasukkan obat perangsang kedalam mulut Abi dan langsung meminumkan air kepada Abi agar obat tersebut tertelan olehnya.


 “Hah .. kamu sungguh tangguh Abi, aku harap, kamu akan lebih tangguh saat di atas ranjang.” Anita menyeka keringatnya di dahi dan tersneyum manis kepada Abi.


Reaksi obat yang di berikan Anita hanya butuh satu menit untuk Abi merasakan sensasi gairahnya.


 “Dasar perempuan iblis.” Maki Abi dengan suara lantangnya.


Anita membuat reaksi terkejut saat mendengar ucapan Abi.


“Kakek mu yang membuat aku menjadi iblis, di ayang menutup akses untuk aku bertemu denganmu. Dan aku rasa begitu pun sebaliknya, kakek sialan mu itu yang membuat kamu tak bisa menemukan aku ABI.” Pekik Anita dengan kesal dan napas yang memburu.


 Anita menarik napasnya, ia berjalan mendekat Abi dan duduk di atas pangkuan Abi dengan kakinya yag terbuka lebar.


 Abi memalingkan wajahnya di saat Anita mendekatkan wajahnya dan menempelkan dadanya di dada bidang Abi.


 “Ayo lah saang, obat itu sudah mulai bereaksi.” Anita berusaha mencium Abi, namun seberusaha mungkin Abi menghindar di sisa kesadarannya yang hampir terbawa arus gairah dari obat tersebut.


Krekk ... krekk ... kree ...


 “Buka pintunya.” Pekik Desi dari luar kamar.


Anita menatap kearah pintu, “Brengsek,”


 Anita menjambak rambut Abi dan langsung mencium bibir Abi dengan ganas.


“Kita harus menyelesaikan ini sayang, sebelum gadis itu berhasil mmebuka pintunya.”


 Anita bangkit dari pangkuan Abi dan berlutut di hadapan Abi. Abi yang masih dengan kesadarannya yang tersisa sedikit lagi menatap sayu kearah Anita, sambil meminta tolong dengan suara yang lirih dan berat.

__ADS_1


“Aku kan melepaskanya.” Anita tersenyum manis.


 Braak ... Brakk ... Brakk ...


Anita sudah berhasil menurunkan resleting celana Abi, ia menyentuh sesuatu yang mulai mengeras di dalam sana. Anita mengelusnya dengan lembut dan memberikan sensai yang menggelitik agar Abi semakin ter*ngsang dengan perbuatannya.


“Ahh ...” Satu desaahan lolos dari mulut Abi yang mana membuat Anita tersenyum senang.


 BRAAAK .....


 Sedikit lagi, ya ... Sedikit lagi Anita berhasil mengeluarkan jaguar milik Abi, namun pintu itu sudah terbuka dan menampilkan dua orang yang menatapnya dengan tajam.


 Desi berjalan cepat dan langsung menarik rambut Anita dengan kuat sehingga Anita meringis kesakitan.


 “Akkh ....”


Anita meraih gelas kaca yang ada di atas meja dan menghantamkan gelas kaca tersebut ke kepala Desi dengan kuat hingga pecah.


 “Aww ...” Desi meringis di saat merasakan perih di keningnya. Desi melihat ada darah di atangannya, dengan emosi yang memuncak Desi menejang Anita hingga tersungkur dan menghajar Anita tanpa Ampun.


 Lana menoleh kearah Abi yang sudah terlihat tak lagi dalam kesadarannya. Tatapan Abi sudah terlihat sayu dengan keringat yang membsahi tubuhnya.


“Huuf, hampir aja lo di perkosa. Apa kata dunia jika seorang Abimana Setyo Subekti di perkosa? Bisa gempar dunia bisnis.” Ujar Lana sambil menarik resleting celana Abi.


 “Besar juga pisang lo.”


Lana melirik kearah Desi yang terlihat emosi menghajar Anita.


 “Des, hentikan, kamu bisa membunuhnya.” Pekik Lana.


 Desi menghentikan pukulannya dengan napas yang memburu. Desi bangkit dan meninggalkan Anita yang sudah terduduk lemas dengan darah yang mengalir dari bibir dan hidungnya.


Tanpa Desi duga, Anita bangkit dan menjambak rambut Desi.


Kraak ...


 “AAAAAA .....”


Terdengar suara tulang yang patah dan di susul dengan teriakan memekakkan telinga.Lana ternganga melihat pemandangan tersebut, yang mana hanya dengan sekali putar saja Desi mampu membuat bahu Anita patah.


 *


Desi menendang pintu kamar yang berada di lantai satu, terlihat Jo dan dua pengawal lainnya yang sudah sadar namun masih dalam keadaan lemas.


“Aku tau, kamu pasti akan datang.” Lirih Jo kepada Desi di saat ia membantu Jo berdiri.


Jo mengernyitkan keningnya di saat melihat Abi yang terus saja mencoba untuk mencium Lana dengan terus melirihkan nama Quin.


“Sialan lo Bi, gue masih normal.” Pekik Lana yang terus menghindar dari ciuman Abi.


 “Quin, aku mencintai mu .. Aku mencintai mu .. “ lirih Abi dan terus berusaha untuk mencium Lana.


Jo terkekeh melihat pemandangan tersbeut.


Sesampainya di hotel, Lana langsung menghilang agar Anggel tak mengetahui keberadaannya. Abi pun di papah oleh Jo dan satu pengawal mereka.


 “Ada apa ini?” tanya Anggel saat mereka baru saja ingin keluar kamar untuk mencari udara segar bersama Quin.”


“Ular itu membuat Abi meminum obat perangsang.”


 “Apa?” pekik Quin dan Anggel bersamaan.


 “Mau di bawa kemana dia?” tanya Quin saat melihat Jo mau membawa Abi masuk kedalam kamarnya.


“Quin, quin, aku mencintai kamu, aku mencintai kamu...” Ujar Abi sambil memonyongkan bibirnya dan memberontak untuk berlari kearah Quin.


Quin menghela napasnya di saat melihat tangan Abi yang sengaja di borgol agar tak melawan Jo dan pengawal.


“Masukkan kedalam kamar ku.” Titah Quin.


 “Quin, apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Anggel panik.


“Apa lagi? Pastinya membuat suami ku yang brengsek itu sadar.”


 “Quin, kamu tau, itu sangat menyakitkan kamu, apalagi kamu belum pernah----“ Anggel melirik kearah Jo, Desi, dan pengawal yang berada di sana.


 “Tenang saja, aku bisa mengatasinya.” Ujar Quin sambil tersenyum manis.


**


Yuukkk.. follow IG ku..


 IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


 Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2