
Arka menatap pria yang berada di hadapannya dengan tajam.
" Serendah itu kah dirimu? Cih, dasar lemah"
" Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan" Ujar pria yang di hadapan arka itu dengan sombong.
" Kau tidak bisa mengancam ku dengan menyentuh milikku. Jika sekali saja kau berani menyentuh milikku, maka kau akan tau akibatnya."
" Ha..ha..ha.. Yang kemarin itu baru permulaan, aku bisa melakukan sesuatu yang lebih parah dari itu"
Arka mengepalkan tangannya, tetapi wajah nya masih terlihat tenang dan dingin.
"Cih, Apa hanya itu yang bisa kau perbuat?"
Drrrtt....
Pria yang di hadapan Arka mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya, saat melihat kode dari Arka.
" KAUUU, Dasar Bed*bah" Umpat pria itu.
" Haa.. Haa.. Aku hanya mengikuti permainan mu" Arka berdiri dan meninggalkan pria yang bersamanya, tapi sebelum benar-benar pergi, Arka mengancam pria itu.
" Kau berurusan dengan orang yang salah. Aku bisa melakukan apa pun, bahkan hingga otak pintar mu itu tidak sanggup untuk menerkanya. Sekali lagi kau menganggu istri ku, atau keluarga ku. Kau akan menyesal. Kau bilang ini baru permulaan? Yaa, ini memang permulaan, tapi kau yang akan kalah. Bermainlah secara adil. Jika kau tidak ingin menyesal"
Arka pun pergi meninggalkan pria itu. Yaa, pria yang di temui oleh Arka adalah Bimo. Pria yang menyuruh preman-preman itu menyerempet mobil yang di kendarai oleh Kesya. Bimo memang terkenal suka bermain curang, tetapi Bimo memilih lawan yang salah. Arka terkenal jujur dan hampir tidak memiliki musuh, walaupun banyak saingannya yang ingin menjatuhkannya. Tetapi Arka yang memang sudah terkenal dingin dan tidak mengenal ampun kepada musuh yang berani melukai miliknya, maka mereka akan mundur secara perlahan.
" Apa kau akan mundur?" Ujar seorang wanita yang tiba-tiba duduk di hadapan Bimo.
" Aku tidak ingin dia melukai anak ku"
" Kau fikir dia akan berani melukai anak mu? Ck, dia tidak akan pernah melukai anak mu"
" Kau tidak mengenalnya, Dia bisa melakukan apapun jika sudah menyangkut miliknya."
" Dasar lemah, sia-sia aku mempercayaimu" Ujar wanita itu dan pergi meninggalkan Bimo.
" Dasar pel*cur" desis Bimo.
Wanita itu pergi meninggalkan Bimo setelah menyiram wajah Bimo dengan air yang berada di hadapannya.
__ADS_1
" Aku akan menggunakan mu tanpa sepengetahuan mu." Gumam Bimo menatap tajam kearah wanita itu.
Di tempat lain, Kesya sedang uring-uringan, karena Arka sudah sejam belum juga memberikan kabar. Dan Arka melarangnya untuk keluar rumah untuk beberapa saat ini, walaupun mengikuti Arka ke kantor.
" Mi, lagi pain?" Tanya Kesya yang melihat Mami Laura sedang memilih koleksi DVD miliknya.
" Ini, Mami kepingin nonton film Hum saath-saath Hain."
" Film baru?"
" Bukan, Film lama. Tapi seru gitu filmnya. Lagunya juga enak- enak banget."
" Okey, Key ke dapur dulu ya, buat jagung meletup dan minuman"
" Jagung meletup?"
"Hehehe.. Popcorn maksudnya Mi"
Kesya pun melangkahkan kaki nya ke dapur, dan mencari bahan yang ingin di eksekusi. Dengan bantuan Art, Kesya menyelesaikan masakannya dengan cepat.
" Udah mulai Mi?" Tanya Kesya saat sudah duduk di samping Mami Laura.
" Tunggu kamu. Oh ya, ini ceritanya sedih juga. Tapi kamu jangan nangis seperti kemarin yaa"
Di kantor, Gilang tidak habis fikir dengan jalan fikiran Arka.
" Lo yakin rencana kita ini bikin si Bimo gak akan macem-macem?" Tanya Fadil.
" Lo tenang aja, gue udah mikir semuanya matang-matang. Bimo bukan tandingna gue" Ujar Arka.
" Tapi bagaimana jika dia nyelakai Kesya lagi?"
" Berani dia sentuh milik gue, gua bakal hancurkan dia sampai ke akarnya" Desis Arka tajam.
" Oh ya, gue dapat kabar, Milea gak lagi di London."
Mendengar kata Milea, Arka menghentikan kegiatannya. Berfikir sejenak dan menyambar jas dan kunci mobilnya.
" Mau ke mana Lo?"
__ADS_1
Arka tidak menjawab Fadil, Arka langsung melangkah meninggalkan Fadil dengan pertanyaan yang mengelilingi kepalanya.
Arka terus mencoba menghubungi seseorang. Tetapi panggilannya selalu di luar jangkauan. "Di mana kamu Milea" gumam Arka.
Arka pulang ke rumah, dan mendapati Kesya yang tengah menangis sesenggukan.
" Sayang, Kamu kenapa?" Ujar Arka sambil meraih tubuh kecil sang istri.
" Mas, ini aku nonton film India bareng Mami. Ceritanya bagus, tapi ada sedihnya. hikss.. Di sini, mengingatkan aku dengan Ibu. Harta gak akan pernah di bawa mati. Dan Harta gak akan bisa buat kita bahagia. Hanya keluarga dan kasih sayang lah yang bisa buat kita bahagia, dengan segala yang apa kita punya hiks.." Jelas Kesya sambil sesenggukan.
Mami Laura tersenyum dan mengelus rambut Kesya yang berada dalam pelukannya. Ada sesuatu yang menghantam hati Arka, saat mendengar Kesya mengatakan harglta bukan segalanya. Arka sebenarnya ingin menyerah dengan tender besar yang sedang di hadapinya. Tetapi tender ini berpengaruh dengan pemasukan perusahaannya, yang di mana Arka harus menafkasih ribuan karyawannya. Semua kehidupan karyawannya tergantung dengan keputusan Arka. Arka menghela napasnya, dan mengecup pucuk kepala Kesya.
Arka membersihkan dirinya, fikirannya bercabang. Ada Kesya yang harus dia jaga dari musuhnya, dan Milea....
Drrtt...drrrtt...
Ponsel Arka berdering, Kesya menoleh dan milihat nama yang memanggilnya. 'My sweety'.
Kesya mengerutkan keningnya membaca nama yang membuat panggilan kepada Arka. ah, mungkin itu nama Mbak Mega. Begitu fikir Kesya. Tak lama ponsel Arka kembali berdering, sedangkan Arka masih berada di dalam kamar mandi. Nama yang sama, Kesya ragu ingin mengangkatnya atau mengabaikannya. Kesya fikir jika itu adalah panggilan penting, karena sudah 3 kali ponsel Arka berdering. Akhirnya Kesya memberanikan diri mengangkat ponsel Arka.
" Maaf ya kak, Mili gak kasih kabar ke kakak kalo Mili sudah kembali ke indo."
Tangan kesya bergetar, itu bukan Mbak Mega. Terdengar suara Arka sedikit berteriak memanggil Kesya, meminta Kesya mengambilkan handuknya. Dengan segera Kesya memutuskan panggilan, dan menghapus riwayat panggilan. Dengan tangan bergetar dan jantungbyanb berdegup kencang, Kesya mengambil handuk dan memberikannya kepada Arka.
Arka menahan tangan Kesya yang terulur memberikan handuk dengannya. Dengan perlahan Arka menarik tangan Kesya, dan menuntunnya masuk ke kamar mandi. Arka mencium bibir Kesya dengan lembut, tetapi Kesya tidak membalasnya. Fikiran Kesya saat ini tidak bersama Arka, melainkan kepada si penelpon yang bernama Mili.
.
.
.
.
.
Teman-teman semua, mari kita berdoa agar saudara kita yang terkena musibah banjir, di berikan kelapangan dan kesabaran. Dan mari kita berdoa agar banjir cepat surut. Ayoo, ingatkan kepada diri kita masing-masing untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kalo bukan kita, siapa lagi!!
Dukung terus ya cerita author.
__ADS_1
LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..
Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..