
Praaang...
Terdengar suara pecahan gelas yang ditangan Quin. Sehingga semua mata tertuju kepada sumber suara. Mereka langsung di kejutkan oleh pemandangan yang lagi-lagi membuat pipi merona.
Quin mengerjapkan matanya, saat menyadari jika dirinya menindik tubuh Abi, dengan bibir mereka yang saling menempel. Quin membolakan matanya saat sudah menyadari posisi mereka yang sangat tidak menguntungkan dirinya. Dengan cepat Quin berdiri dan menjauhkan dirinya dari Abi.
" Ciee, malu-malu dia.." Goda Fatih
Wajah Quin sudah merona, ia pun membuat alasan untuk mengganti pakaiannya yang terasa tak nyaman.
" Emm, Quin ganti baju dulu."
Quin pun berlari pelan menuju tangga.
" Pelan-pelan Quin, jangan lari."
Abi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sekarang, semua orang sudah menatapnya dengan tatapan berbeda-beda.
" Sepertinya kamu juga harus mengganti baju kamu." Ujar Mama Kesya sambil menunjuk baju yang di kenakan Abi sudah terkena noda coklat.
" Ahh, iyaa.."
Abi berdiri, kemudian ia bingung mau ke mana. Apa ia ke kamar Quin? atau ke kamar mandi? Namun pakaian Abi masih berada di dalam mobil. Sekali lagi, Abi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Pergilah ke kamar Quin, Nanti pelayan yang akan mengantarkan baju kamu." Titah Papa Arka yang melihat kebingungan di wajah Abi.
Abi pun tersenyum dan berjalan pelan sambil menggaruk tengkuknya. Saat Abi baru menaiki satu tangga, Abi menghentikan langkahnya kemudian berbalik.
" Eem, kamar Quin yang sebelah mana yaa?"
Seluruh anggota keluarga terkekeh, tak menyangka bisa melihat wajah merona Abi yang sangat lucu. Bahkan Aunty Risma sampai meneteskan air matanya Sakin lucunya melihat tingkah Abi yang malu-malu. Tak ingatkah dia saat aksi nekad nya mencium Quin di hadapan semua orang?
Aunty Risma juga mengingat, bagaimana Abi untuk pertama kalinya berlutut di hadapan orang lain. Dan itu hanya untuk meminta restu kepada Veer dan Papa Arka. Aunty Risma yakin, jika Abi benar-benar sangat mencintai Quin.
.
.
Tok..Tok.. tok..
Terdengar suara sahutan dari dalam, Abi pun menekan handle pintu hingga pintu bercat putih itu terbuka.
Abi termanggu saat melihat Quin masih menggunakan tangtop berwarna putih, dan celana legging nya. Quin sudah melepaskan pakaiannya, dan saat ini ia tengah melepaskan aksesoris yang ada di kepalanya. Quin belum menyadari siapa yang masuk kedalam kamarnya.
" Mbok, bantuin buka ini dong." Ujar Quin yang tidak menatap kearah pintu.
Quin berfikir, jika yang masuk kedalam kamarnya adalah Mbok Jijah, yang sebelum nya Quin meminta untuk mengantarkan es batu kedalam kamarnya.
" Mbok.." panggil Quin lagi saat tidak mendapatkan sahutan apapun dari Mbok Jijah.
Quin pun berbalik dan menoleh, ia membolakan matanya saat melihat ternyata Abi yang tengah berdiri dengan menatapnya tanpa berkedip.
", Kamuu..." Pekik Quin.
Dengan cepat Quin menarik selimut yang ada di atas tempat tidur, menutup tubuhnya yang terbalut oleh pakaian serba ketat tersebut.
" Ngapain kamu masuk ke sini?"
Seakan baru saja mendapatkan kesadarannya, Abi pun mengerjap, dan ia langsung kikuk dengan keadaan yang menimpa dirinya.
" Emm, Aku.. Aku mau.."
__ADS_1
Tak berapa lama pintu kembali di ketuk. Abi menoleh kearah pintu, dan membuka nya.
" Tuan Abi, Nona Quin."
Pengawal yang di utus untuk membawa koper Abi pun memberi hormat.
" Terima kasih." Ujar Abi mengambil alih koper tersebut.
" Tuan dan Nona di tunggu secepatnya di bawah." Ujar pengawal itu sebelum meninggalkan kamar Quin.
Abi menutuo kembali pintu kamarnya.
" Kenapa harus ke kamar aku?" Tanya Quin jutek.
" Eemm, Papa yang nyuruh aku ke kamar kamu."
Quin mencebikkan bibirnya, " Kenapa kamu gak nolak?"
" Kenapa harus nolak? Kamu kan istri aku? Kalo gak tidur di sini? Aku tidur di mana?".
" Di kamar Empus."
Quin pun berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.
Abi menghela napasnya, melihat tubuh Quin yang sangat seksi membuat dirinya tak bisa bernapas. Bukan hanya dirinya, bahkan Jaguarnya pun juga ikut merasa sesak.
" Aaw..."
Terdengar rintihan dari kamar mandi, Abi pun bergegas mengetuk pintunya, mengecek apa yang terjadi kepada Quin.
" Quin, kamu baik-baik aja?"
" Yaa.. Aah.." Quin kembali meringis.
" Ngapain kamu masuk?" Pekik Quin dengan kesal.
" Aku takut kamu kenapa-napa"
Abi melihat Quin yang kembali meringis dan kesusahan karena saat melepaskan aksesoris yang ada di kepalanya. Abi pun mendekat dan berniat untuk membantu Quin.
" Mau apa kamu?"
Tanpa bicara, Abi mengangkat tangannya dan membantu Quin melepaskan satu persatu aksesoris Yang ada di kepalanya, hingga tidak ada lagi yang menjepit tiap helai rambut Quin. Dan selama itu, Quin memperhatikan wajah Abi dari balik kaca.
" Sudah .."
Tak ada reaksi apapun dari Quin, Ia masih tenggelam menatap wajah Abi. Abi pun menoleh menatap Quin, Saat ia melihat bola mata Quin menatap ke arah kaca, perlahan Abi menolehkan kepalanya, hingga mata mereka bertemu.
Deg..
Deg..
Deg..
Entah jantung siapa yang berdetak sangat cepat, yang pasti keduanya seolah tenggelam dengan tatapan mata mereka.
Abi meraih bahu Quin, dan menghadapkan Quin untuk mengarah kearahnya. Mata Quin dan Abi masih saling bersitatap, perlahan tangan Abi menyentuh pipi Quin, wajah Abi juga semakin mendekat, hingga napas Abi menyapu kulit wajah Quin.
" Quin... Abi... cepatlah, seluruh keluarga sedang menunggu."
Terdengar suara teriakan dari luar yang Quin kenali. Abi pun menghentikan aksinya, ia mengecup kening Quin, sebelum meninggalkan Quin di dalam kamar mandi.
__ADS_1
" Cepat lah, semua orang sudah menunggu."
Abi menutup pintu kamar mandi, dan di saat itu lah Quin seakan bisa bernapas.
" Huuff... Quinn.. Ayolah.. Jangan terbawa suasana. Atau kamu akan menyesal..."
.
.
Terlihat seluruh keluarga sudah berkumpul. Abi dan Quin juga sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian resmi namun masih terlihat santai.
Mama Kesya tersenyum saat melihat kehadiran Quin dan Abi Yanga bersamaan.
" kalian pasti lapar, Ayoo.."
Mama Kesya mempersilahkan Abi dan Quin untuk duduk. Makan siang pun di mulai dengan pembacaan doa makan yang di pimpin oleh Veer.
.
.
Quin benar-benar lelah. Tak hanya tubuh, fikirannya pun juga terasa lelah. Hari ini adalah hari yang berat Quin rasa. Karena hari ini, status Quin sudah berubah menjadi Nyonya Abi. Nama belakang Quin yang dari keluarga Moza, berubah menjadi keluarga Setyo.
Huuff..
Quin kembali menghela napasnya, entah yang keberapa kali ia menghela napas dengan kuat. Mungkin jika sekali lagi Quin menghela napasnya, kemungkin lantai yang Quin pihak bisa saja retak.
" Kamu sudah mau tidur?"
Abi baru saja keluar kamar mandi, dengan rambut nya yang basah. Quin menatap wajah Abi dengan mulut yang sedikit terbuka. Entah kenapa, Quin merasa Abi terlihat seksi.
Jika kalian berfikir kalo Abi keluar kamar mandi dengan tubuh half naked, maka maaf, jika aku mengecewakan kalian. Abi sudah berpakaian, dengan menggunakan kaos oblong dan celana pendeknya.
" Quin.." Abi kembali memanggil nama Quin saat tak mendengar jawaban dari wanita yang baru saja menjadi istri nya itu.
" Hah? Oh yaa..." Quin berdehem pelan.
" Ka-kamu tid__"
" Tenang saja, untuk malam ini aku akan tidur di sofa, jika kamu tak nyaman dengan keberadaan ku."
Quin menghela napasnya pelan. Abi berjalan kearah tempat tidur, di mana Quin sedang duduk di tepi ranjang.
Abi mengecup kening Quin, sebelum ia mengambil bantal dan guling.
" Selamat malam." Ucapnya dengan lembut dan terasa hangat.
Quin menatap punggung Abi, terlihat jika Abi juga kelelahan hari ini. Quin menatap Abi hingga pria itu memposisikan dirinya, mencari tempat ternyaman dan menutup matanya.
" Selamat tidur." Ujar Quin dengan suara yang pelan.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.