
Sudah 20 hari Puput menghilang dan belum ada kabarnya. Orang utusan Arka, Fadil, dan Gilang sudah mencari ke pulau yang Kesya maksud, juga mencari ketempat-tempat terpencil lainnya.
Di sebuah pulau yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan, Seorang wanita bernama Tari sedang menggendong bayi mungil berjenis kelamin laki-laki, yang di beri nama Fadil Maulana.
" Lana, anaknya Bunda. Ganteng banget sih udah mandi" Ujar Tari yang baru saja memandikan bayi nya dan menciumi wajahnya yang masih harum bedak bayi.
" Kakak ikut ke kuburan?" Tanya Hayat, saat masuk kedalam kamar Tari.
" Lana sama siapa?"
" Biar Hayat yang jaga, kebetulan Hayat lagi datang bulan"
Tari memberikan Lana kepada Hayat, Tari meraih kerudung yang akan di gunakannya untuk menuju ke pemakaman. Setelah berhasil bertahan 2 Minggu, Mawar akhirnya menghembuskan napas terakhirnya, setelah berpesan kepada Tari, untuk menjaga anaknya. Mawar menyerahkan bayi yang berumur 17 hari itu kepada Tari.
Tari memandang gundukan tanah yang masih merah dan basah. ' Semoga amal ibadah mu di terima di sisi Allah, mawar.'
Setelah membaca doa, para pelayat pun meninggalkan gundukan tanah yang masih basah itu. Tari masih berdiam diri di situ, dengan posisi berjongkok sambil mengelus nisan yang baru saja di tancapkan.
" Aku berjanji, akan menjaga Lana seperti anak ku sendiri. Dia tidak akan kehilangan seorang sosok ibu. karena aku akan ada sebagai ibunya." Ujar Tari sambil mengelus Nisan tersebut.
Di rumah sakit yang terkenal dan ternama, Fadil akhirnya di perbolehkan pulang setelah menjalani perawatan insentif selama 20 hari lebih.
Fadil tidak langsung pulang, dia menyuruh supirnya untuk ke rumah Puput terlebih dahulu. Namun usahanya tetap sia-sia, juga belum kembali. Fadil meminta izin untuk memasuki kamar Puput, dan Mama Lena pun mengizinkan.
Fadil memperhatikan keseluruhan kamar Puput, hingga mata Fadil jatuh ke sebuah gambar pulau kecil. Pulau yang pernah Kesya sebutkan namanya. Pulau K. Batin Fadil berkata, apa Puput benar ke pulau ini? Tapi seluruh anak buah Arka sudah mencarinya.
Fadil akhirnya memutuskan untuk menemu kesya. Untuk meyakinkan apa gambar pulau ini adalah pulau K yang di maksud oleh Kesya.
Kesya memperhatikan gambar yang di berikan Fadil. " Iya, ini pulau K, dari mana kak Fadil dapat?"
" Kamar Puput."
" Kita sudah mencarinya di sana, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Puput."
Sasa meletakkan minuman untuk Fadil, dan ikut bergabung. " Bisa aja kan dia menyamar?" Ujar Sasa yang sebenarnya hanya asal sebut aja.
Fadil seolah memiliki insting Kuat jika Puput berada di pulau itu, dan apa yang di katakan Sasa ada benarnya.
Fadil meraih ponselnya, dan menghubungi Arka. " Siapin keberangkatan gue ke pulau K, gue tunggu kabarnya sekarang".
Fadil memutuskan panggilannya secara sepihak.
Di sisi lain, Arka menatap ponselnya dengan geram. " Dasar sekretaris gak ada akhlak. Bisa-bisanya nyuruh Bos besar."
Namun Arka tetap saja menekan-nekan ponselnya, dan menghubungi orang kepercayaannya untuk mengurus keberangkatan Fadil ke pulau K.
Fadil berdoa, semoga dia menemukan belahan jiwanya. Untuk menuju pulau K, Fadil harus menyeberangi lautan dengan menggunakan Boat kecil.
" Tuan, di sini tidak ada penginapan. Tuan mau menginap di mana?" Tanya seorang nelayan yang mengantarkan Fadil menyeberang ke pulau K.
" Di mana saja, kalo bisa, apakah saya bisa tinggal di rumah bapak? Saya akan membayarnya"
" Tapi tuan, rumah saya kecil."
" Tidak apa, Yang penting saya bisa menemukan calon istri saya"
Saat di tengah laut tadi, Fadil menceritakan tujuannya ke pulau K ini. Dan nelayan bernama Adi itu pun merasa kasihan. Memang di pulau K ini tidak menyediakan penginapan, karena pulau K memang bukan tempat wisata. Dan jika ada wisatawan yang ingin datang, mereka akan menginap semalam, dan itupun harus membangun tenda.
" Mari Tuan, maaf rumah kami kecil" Ujar Adi.
" Tidak apa-apa pak, saya sudah sangat bersyukur sekali karena bapak mengizinkan saya untuk tinggal di sini"
Fadil menatap kantong plastik yang di bawa oleh Adi tadi. Fadil sempat mengernyitkan keningnya, Dari awal dia datang, hingga menjelang tidur, tidak terdengar suara tangis bayi. Kantong plastik itu masih terletak di ruang tamu, Kantong plastik yang berisi Pampers bayi dan susu.
' Mungkin ada warga yang menitipkan nya' batin Fadil.
Fadil tidur di kamar yang berukuran sangat kecil. Bahkan hanya cukup untuk satu tempat tidur lajang, dan sebuah meja berukuran 40x 50cm.
Kamarnya memang tidak menggunakan AC atau pun kipas angin, tapi udara laut yang sejuk, menembus papan kayu yang menjadi dinding kamarnya. Demi kamu Put, apapun akan aku lakukan.
__ADS_1
Di tempat lain, jantung puput tiba-tiba saja berdebat dengan kencang. Tari yang sudah gelisah dari sore, karena jantungnya masih saja berdebar. Apa dia terkena serangan jantung? Baiklah, besok dia akan memeriksa ke *mantri di pulau ini.
* perawat yang membuka praktek.
" Kak Tari, Pak Adi sudah tiba di rumahnya, apa kak tari mau Hayat yang mengambil perlengkapan Lana?"
" Boleh, tolong kamu ambilkan ya"
Hayat pun melangkahkan kakinya ke rumah Adi, yang berjarak 5 rumah dari rumahnya.
" Assalamualaikum"
Fadil yang duduk di ruang tamu pun keluar, dan melihay ada gadis manis yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
" Walaikumsalam, oh Hayat, Mau ambil pesanan Kak Tari?"
Hayat menganggukkan kepalanya, namun matanya masih menatap Fadil tanpa berkedip.
Adi yang melihatnya langsung saja mengipas-ngipas tangannya di depan mata Hayat.
" Mata mu itu di jaga"
" Ehh, maaf pak. Habisnya ganteng banget. Siapa ya?"
" Ooh, ini__"
" Hayat, cepetan, Kak Tari nungguin susunya. Lana udah nangis itu" Teriak Irul.
" Iya bang, ini aku mau pulang. Pak Adi, makasih ya. " Hayat pun bergegas berlari menuju rumah nya.
Fadil menatap anak yang bernama Hayat itu. "Kenapa banyak sekali belanjaannya? Apa di sini tidak ada yang menjualnya?"
" Di sini, kalo belanja kebutuhan seperti itu memang sering nitip dengan kami para nelayan. Karena di sini susah mendapatkan barang-baranh sepeti itu. Biasanya sih kami sering cuker, alias cuci kering lalu di pakai. Fadil mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Jadi Tuan Fadil mau cari istrinya dari mana dulu?"
" Saya juga kurang tau pak. Oh ya, ini saya ada bawa fotonya. " Fadil menunjukkan fotonya kepada Pak Adi. " Apa bapak pernah melihat wanita ini?"
Fadil menyimpan kembali ponselnya. Hari ini Fadil berencana keliling pantai, mana tau bertemu dengan Puput.
Di rumah Hayat, Hayat tengaj bercerita kepada Tati, tentang Pria tampan yang berada di rumah Pak Adi. Ada desirin yang menjalar ke dada Tari. " Emang namanya siapa?"
" Gak tau Kak, tadi gak sempat tanya" Tari pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Hayat, namun fikirannya berkelana entah di mana.
Sudah 3 hari Fadil berada di pulau K, dan dia juga sudah berkeliling pantai, hingga menunjukkan foto Puput kepada warga sekitar. Namun tidak ada yang pernah melihatnya. Fadil pulang selepas magrib, dia solat di sebuah balai pengajian.
" Sepertinya mau hujan" Fadil mempercepat langkahnya, gerimis pun mulai turun.
" Tuan Fadil ya, yang tinggal di rumah pak Adi?" Tanya seorang anak laki-laki yang menjegal langkah Fadil barusan.
" Iya, "
" Saya Irul, tetangganya pak Adi. Tadi Pak Adi berpesan untuk menyuruh bapak ke rumah kami, Pak irul sedang pergi ke kampung. Ada saudaranya yang meninggal, besok baru balik."
" Oh, ya sudah kalo begitu" Fadil mengikuti pria yang Fadil tebak berumur 20 tahun itu.
" Assalamualaikum. Masuk Tuan"
Fadil membuka sendalnya, dan masuk kerumah Irul.
Deg..
Jantung Fadil tiba-tiba saja berdetak cepat saat pertama kali menginjak rumah ini. Fadil menyisir seluruh rumah, berharap menemukan sesuatu yang di rindukannya.
" Loh, kok tamunya Pak Adi ke sini?" Tanya Hayat.
" Iya, malam ini Tuan Fadil menginap di sini. Pa Adi sedang pulang kampung."
Hayat jadi salting, dan masuk kembali ke kamar Tari.
__ADS_1
" Kenapa?" Tanya Tari yang melihat wajah Hayat bersemu merah.
" Itu kak, tamu nya Pak Adi menginap di sini. Orangnya ganteng banget." Ujar Hayat malu-malu.
Tari hanya menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah Hayat yang malu-malu sepertu itu.
Hayat keluar kamar saat di panggil oleh ibunya untuk makan malam.
" Kak Tari mana?" Tanya Ibu Siah.
" Kak Tari lagi tiduran Lana. Sepertinya bebraoa hari ini Lana rewel."
" Ya sudah, ibu antar makanan ke kamar dulu ya. Jangan sampai Kak Tari telat makan. Tuan Fadil, harap di maklumi ya lauk nya, kami tinggal di pinggir laut, jadi makanannga ya selalu ikan. Harap di maklumi"
" Iya buk, Terima kasih. Ini saja saya sudah sangat bersyukur sekali"
Ibu Siah mengantarkan makanan kekamar Tari, dan tak berapa lama kembali ke dapur, dan ikut makan bergabung dengan yang lain.
" Tuan fadil tidur di ruang tamu gak papa kan? Tidurnya bareng Irul" Tanya ibu Siah.
" Gak pa-pa buk, saya di mana aja bisa tidur kok"
Tari yang mendengar suara seorang pria asing, menajamkan telinganya, namun sayangnya suara itu tidak terdengar lagi. Tari kembali sibuk dengan melipat kalian Lana yang masih dalam keranjang.
Fadil menatap foto Puput sebelum tidur. Hari ini dia sangat lelah, karena berjalan kaki mencari keberadaan Puput.
" Pacar Tuan Fadil?" Tanya Irul.
" Calon istri"
" Cantik, tapi kenapa tuan Irul di sini?"
" Dia menghilang, dan katanya dia sangat ingin pergi ke pulau ini."
" Banyak wisata datang dan pergi, tapi sepertinya Irul belum pernah melihat wanita ini."
Fadil merasa semakin gelap dan tidak mendapatkan cahaya apapun untuk menemukan Puput.
" Kamu berapa bersaudara?"
" Kami hanya dua bersaudara. Irul anak pertama, dan Hayat anak ke dua"
Fadil mengernyitkan keningnya. " Lalu yang bernama Kak Tari?"
" Oh, kak Tari itu pendatang. Karena tidak ada tempat tinggal, jadi ibu menyuruh Kak Tari tinggal di sini dengan Kami"
Seperti menemukan titik terang, Apakah Tari itu Puput?.
" Kamu yakin, jika kak Tari itu, bukan wanita di foto ini?" Fadil kembali menunjukkan fotonya.
" Bukan, Kak Tari kulitnya gelap, dan juga memakai kacamata. Rambutnya juga pendek bergelombang dan berwarna coklat kepirangan."
' Bisa jadi itu Puput, yang sedang menyamar. seperti kata Sasa' Batin Fadil dan semakin mendapatkan titik cerah.
Ooweekk oweekk oweekk..
Fadil dan Irul menatap kearah kamar yang mengeluarkan suara tangis bayi.
" Anak siapa?" Tanya Fadil dengan rasa takut. Takut jika orang yang di curigainya bukanlah Puput.
" Anak Kan Tari"
Jleebbs... Pupus sudah harapan Fadil. Kemana lagi Fadil harus mencari Puput. Ya Allah, berilah petunjuk mu.
Hai readers..
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.