KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 194


__ADS_3

Pagi ini suasa rumah di hebohkan dengan keadaan kakek yang tiba-tiba saja drop. Quin sudah menangis sesenggukan di dalam pelukan Veer.


"Quin, tenang," bisik Veer sambil mengusap punggung sang kembaran.


"Kakek, hiks ..."


Abi masih membantu Lucas dan Opa Bram untuk memeriksa keadaan kakek Farel. Fatih langsung menghubungi Papi Leo yang berada di luar kota untuk segera kembali ke Jakarta.


"Tuan, ambulance sudah datang," ujar pengawal memberitahukan kepada Papa Arka.


"Baik."


Papa Arka pun mengatakan kepada Lucas untuk memindahkan Kakek Farel ke mobil Ambulance.


"Quin, kamu harus kuat," bisik Veer.


"Kakek, hiks .. kakek, Veer," ujar Quin dengan menangis tersedu-sedu.


"Kakek pasti baik-baik saja. Percayalah." bisik Veer.


Setelah kakek Farel di bawa ke rumah sakit, seluruh keluarga pun ikut menyusul ke rumah sakit.


Abi menggendong Quin dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di rumah sakit, kakek Farel langsung di tangani oleh oleh dokter-dokter profesional yang telah siap siaga di rumah sakit saat mendengar jika Kakek Farel akan di bawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Abi mendorong kursi roda Quin masuk ke dalam rumah sakit dan melewati koridor menuju ruangan ICU.


Mama Kesya sedari tak melepaskan genggaman tangannya dari Oma Laura, hingga saat ini, Mama Kesya terus memeluk mertuanya itu.


Setelah satu jam memerika keadaan kakek Farel, Lucas dan Opa Bram pun keluar dari ruang tersebut.


"Gimana keadaan Papi?" tanya Oma Laura kepada Opa Bram.


"Mi, saat ini kakek dalam kondisi koma. Kami para dokter memprediksi jika waktu kakek tidak akan lama lagi," ujar Opa Bram dengan air mata yang mengalir.


"Ya Allah, Pi," lirih Oma Laura dengan tubuhnya yang tiba-tiba lemas.


"Mi, Mas, Mami," Mama Keysa memanggil Papa Arka.


Papa Arka langsung berlari dan menggendong tubuh oma Laura yang telah melemah.


"Tekanan darah Mami menurun," ujar Opa Bram dan menyuruh Lucas untuk memberikan cairan melalui infus untuk Oma Laura.


Sudah tiga jam berlalu, keadaan Kakek Farel juga belum menunjukkan kondisi yang lebih baik.


"Quin, kita istirahat di kamar ya," bujuk Abi.


"Gak mau, aku mau di sini, temani kakek," ujar Quin dengan suaranya yang parau.


"Quin, kamu juga harus menjaga kesehatan, sayang," bujuk Abi.

__ADS_1


"Aku masih mau di sini, Mas," rengek Quin.


Abi menghela napasnya pelan. "Quin, kamu harus ingat. Di dalam sini ada bayi yang harus kamu jaga kesehatannya," ujar Abi sambil mengusap perut Quin.


Quin ikut mengusap perutnya dan melirihkan permintaan maaf kepada anak yang ada di dalam kandungannya itu.


"Maafin, Mama sayang," lirih Qun.


"Kita istirahat ke kamar ya," ajak Abi lagi yang kali ini di angguki oleh Quin.


Di dalam kamar, sudah ada Anggel dan juga Kayla yang sedang beristirahat karena kondisi tubuh mereka yang juga tiba-tiba melemah karena mendengar kabar tentang kakek Farel.


Perasaan baru semalam mereka melewati waktu tertawa bersama dengan kakek Farel. Bahkan Kakek Farel sempat menggoda Sifa untuk memilih antara Abash atau Arash.


Dan juga, Kakek Farel juga meminta kepada Lucas untuk segera menikah yang berakhir kembali dengan penolakan dari pria dingin dan keras kepada itu.


"Quin baik-baik aja kan?" tanya Bunda Sasa yang sedang menjaga Anggel.


"Iya, Bun." jawab Abi.


Abi menggendong Quin ke atas tempat tidur.


"Mereka biar Bunda yang jaga. Lagi pula ada Sifa dan Raysa d sini," ujar Bunda Sasa.


"Iya, Bun. Abi keluar dulu ya," pamit Abi dan kembali ke ruang ICU.

__ADS_1


Di luar ruang ICU, Lucas terus menatap lantai dengan tatapan kosong sehingga Fatih menepuk pundaknya.


"Seharusnya gue menjawab iya dan menyetujui permintaan kakek," lirih Lucas dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


__ADS_2